Merdeka tapi Bersusila

Merdeka bersusila itu bebas dalam keterikatan dengan pengendalian diri dalam, berpikir, berkata, dan bertindak. Sentuhan dengan dunia inilah menimbulkan bermacam-macam fenomena kejiwaan dan bermacam peristiwa-peristiwa perbuatan manusia. Dunia ini demikian manariknya, demikian indahnya sehingga pikiran orang diiinabobokan melalui indriyanya, lupa akan hakekat kemanusiaannya. Menjadi kata kunci kemerdekaan bersusila itu sejatinya pengendalian dalam diri, supaya sang pribadi dapat menjadikan ia budaknya dan bukan pribadi menjadi budaknya.

Dalam Katha Upanisad I.3 disebutkan atmanam rathinam viddhi, sariram rathamtu, budhim tu saradem viddhi, manah pragraham eva ca “Ketahuilah bahwa sang pribadi adalah tuannya kereta, badan adalah kereta, ketahuilah bahwa kebijaksanaan itu adalah kusir dan pikiran adalah tali kekangnya”.

Kecenderungan masyarakat semakin merelakan dirinya terjebak dalam pola hidup konsumtif-hedonis, pendewaan materi terlalu berlebihan. Paham modern yang dianut tampak lebih bersifat westernisasi. Di tengah euphoria sain teknologi, paham mengenai penikmatan hidup, pemuasan nafsu, pengkultusan materi, berdampak pada fatologi sosial. Kemerdekaan bersusila kita harus mengetahui akar dari ketidakmerdekaan. Hambatan utama merdeka bersusila itu yaitu keinginan, sumber kuat dari segala keadaan manusia baik bahagia maupun menderita karena keinginanlah.

Bhagawadgita II.62 menyebutkan bagaimana proses terjadinya ketidakbahagiaan karena hilangnya kebijaksanaan yang menjadi akar dari segala permasalahan hidup Dhyayato visayam pumsah, sangas tesupajayate, sangat sanjayate kamah, kamat krodho bhijayat “bahwa dari kemarahan muncul kebingungan dalam diri sendiri dari kebingungan lalu kehilangan ingatan, dari hilang ingatan muncul kehancuran dari kebijaksanaan dan dari kehancuran kebijaksanaan ia akan hancur sendiri.

Derasnya arus modernisasi dengan teknologi telah mempermudah hidup namun jangan terjebak oleh nikmat teknologi, bahkan sudah terasing dan menyamakan dirinya dengan materi tersebut. Maka dari itu yang menjadi sumber sesungguhnya adalah manusia agar bisa mengendalikan diri untuk merdeka bersusila. Dalam Katha Upanisad I.4 disebutkan Indriyani hayan ahur, visayams tesu gocaram, atmendriya-mano yuktam, bhoktety ahur manisinah “Indriya-indriya kata meraka adalah kudanya, objek-objek indriya adalah jalannya, Atman yang berhubungan dengan raga, indria dan manah adalah penikmat, kata sang bijak.

Benda-benda duniawi dengan daya pikatnya sangatlah membantu kelangsungan hidup manusia namum orang yang menggap materi itu adalah segalanya, terjebak dalam nikmat materi tersebut laksana semut mati karena gula pada kenikmatan itulah sesungguhnya penderitaan. Memang hidup di dunia ini untuk memenuhi kebutuhan kama yaitu keinginan, nafsu yang mendorong orang untuk berbuat sesuatu, yang mendorong orang bergairah dan bergirang dalam hidup ini. Objek dari kama itu adalah benda-benda duniawi yang fungsinya memuaskan kama sehingga menjadikan orang nikmat merasakan hidup, tetapi dalam memenuhi tuntutan kama pada artha akan membawa orang pada kesengsaraan apabila tidak atas dasar dharma yaitu kebajikan, kebenaran, peraturan-peraturan yang mendukung orang untuk mendapatkan kebahagiaan, maka dari itu dharmalah harus menjadi pengendali dalam memenuhi tuntutan kama dan artha.

Sarasamuccaya sloka 12 menyebutkan yan paramarthanya, yang artha kama sadhyan, dharma juga lakasakena rumuhun, niyata katemaning artha kama menetan paramartha wi katemwa ning artha kama dening anasar sakeng dharma “pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma hendaknya dilakukan terlebih dahulu. Tidak dapat disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama nanti. Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma”.

Oleh: Alit Aryawati Apriltini
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017