'Merdeka Ragawi, Merdeka Jiwani'

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Begitu pekik kata itu membahana membelah angkasa setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebelumnya para pejuang yang berperang di medan laga melawan penjajah juga telah memekikkan kata yang sama saat bertempur. Sampai sekarang pekik kata itu juga sering memecah hening sebuah pertemuan partai. Mengapa begitu? Entahlah! Mungkin karena belum benar-benar merasa merdeka? Atau memperingatkan bahwa "kemerdekaan" itu sangatlah pentingnya? Agamawan, politikus, abdinegara, dan yang lainnya memiliki tafsir sendiri-sendiri atas kata "merdeka" itu.

Ada apa dengan kata "merdeka" itu? Tentu saja, kata itu sudah menjadi kata klise karena berulang-ulang diwicarakan. Apalagi saat bulan Agustus, di mana seluruh lapisan masyarakat memperingati hari kemerdekaan. Begitu juga setiap tanggal 10 November, saat hari pahlawan diperingati. Di Bali diperingati hari Poepoetan Badung setiap tanggal 20 September dengan meriah. Walaupun sebelumnya ada Poepoetan Jagaraga di bawah pimpinan Ida Dewata I Gusti Agung Jelantik pada 19 April 1849, Puputan Klungkung 28 April 1908, di bawah pimpinan Ida Dewata Dewa Agung Jambe setelahnya, Puputan Badung selalu diperingati lebih meriah.

Perjuangan Gadjah Mada, para Pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia, Ida Dewata I Goesti Agoeng Djlantik, Ida Dewata Dewa Agoeng Djambe, dan yang lainnya berhubungan dengan "kebebasan" yang dalam teologi Hindu terkait dengan filsafat "mahardika", merdeka ragawi, merdeka jiwani. Sebuah istilah yang berhubungan dengan hakikat mendasar dalam agama Hindu, yaitu berkaitan dengan eksistensi jati diri manusia (ragawi) (self) dan atman (jiwa) (inner self atau soul).

Di lingkaran ruang filsafati agama Hindu, mahawakya "Brahman Atman Aikyam" (Brahman dan Atman Tunggal adanya) meringkas makna asal-usul diri sejati manusia berasal dari Brahman. Dalam konteks brahmawidya (teologi tentang ke-Tuhanan Hindu), dipahami bahwa atman berupa "percikan terkecil" Brahman yang mengalami proses sublimasi sehingga berwujud. Ada proses "pengikatan" sebelum menjadi wujud nyata diri manusia (sarira).

Setiap wujud diri manusia (sesunggahnya berupa tri sarira (tiga lapis wujud), yaitu berupa stula sarira atau raga sarira (badan kasar yaitu jasmani yang terbentuk dari unsur panca maha bhuta), suksma sarira atau lingga sarira (badan halus yang terdiri dari unsur budhi, manah, dan ahamkara), dan antah ka-rana sarira (badan penyebab yaitu jiwatman). Dalam proses sublimasi itu, panca maha bhuta yang terdiri dari perthiwi (unsur padat) membentuk tulang, otot, dan daging; apah (unsur cair) membentuk darah, lendir, enzim, kelenjar keringat, dan cairan tubuh lainnya; teja (unsur panas) membentuk suhu tubuh; bayu (unsur udara atau angin) membentuk tenaga, nafas, dan udara-udara lainnya dalam tubuh; dan akasa atau ether (unsur kosong) membentuk rongga-rongga dalam tubuh. Kelimanya berasal dari panca tan matra, yaitu sabda tan matra (benih suara), sparsa tan matra (benih rasa sentuhan), rupa tan matra (benih pengelihatan), rasa tan matra (benih rasa), dan gandha tan matra (benih penciuman).

Ragawi (stula sarira: self) dan jiwani (antahkarana sarira: atman: soul) sama-sama mengikatkan diri mengendalikan suksma sarira atau lingga sarira. Dalam tegangan itu antara ragawi yang dipengaruhi kegelapan (avidya) dan jiwani yang dalam "kesadaran" masing-masing mengendalikan suksma sarira mengarungi karma. Saat keduanya merasuk wujud, Pengetahuan suci (vidya), memasuki tubuh manusia yang lekat dalam kegelapan (avidya) seperti kebijaksanaan, pengetahuan praktis, setiap pengetahuan yang diajarkan Brahman Rg Veda, Sama Veda, dan Yajur Veda. Vidyas ca va avidyas ca, yac ca anyad upadesyam, sari ram brahmapravisad, rcah sama atho yajuh (Atharva Veda XI.8.23), demikian dilantunkan dalam Atharva Veda.

Namun demikian, sesungguhnya jiwani mengendalikan ragawi. Bila jiwani lengah, tiada lagi ada dalam kesadaran mutlak (tiling), maka ragawi menguasainya. Saat itu, jiwani dalam ragawi disebut dalam keadaan tiada ingat (lipya). Atharwa Veda (XI.8.30) menyebutkan bahwa "Sariram Brahma pravis at sarire-adhi praja patih". Sesungguhnya Brahman menjadi raja (penguasa), dan menjadi raja tubuh ini.

Bila demikian Jiwani sebenarnya merdeka (menguasai) atas ragawi. Persoalannya, apakah jiwani ini tidak dipengaruhi oleh kenikmatan semu ragawi! Sekali lagi, bila jiwani yang seharusnya dalam "kesadaran" mutlak karena telah diinstal dengan pengetahuan suci tentang Brahman disebut tiada ingat (lipya) saat kemerdekaannya terhadap ragawi justru "dinikmati".

Oleh sebab itu, sang raja jiwani itu seharusnya memerdekakan dirinya sehingga ragawi pun memperoleh kemerdekaannya. "Maharddika upasama tan gong krodha", bebas tenang tiada terdengar kemarahan. Demikian menurut Wirataparwa maupun Udyogaparwa.

Fenomena doktrin tentang eksistensi jiwani atau jiwatman maupun yang disebut atman yang merupakan esensi dari Brahmawidya agama Hindu mengintroduksi Upanisad merumuskan etik agama Hindu yang secara ketat melaksanakan ajaran "pembebasan" melalui tataran tapa, bhrata, yoga, dan samadhi. Tujuannya tiada lain agar mencapai mokshartham jagadhita ya ca id dharma sebagaimana diajarkan oleh agama Hindu. Tidak saja melalui proses imanensi yang ketat, namun juga menjaga kesu¬cian ragawi melalui praktek vegetarian.

Orang yang merdeka ragawi dan merdeka jiwani, dialah sesungguhnya yang disebut mahardhikayati, petapa yang mashur dan suci. Dia itulah yang disebut memperoleh kamaharddhikan, orang memiliki keunggulan, kesempurnaan, kebijaksanaan, dan kesucian diri. Dalam konteks masyarakat modern, konotasi pertapa itu bukanlah orang yang mengasingkan diri di hutan dengan segala mito dengan segala mitos yang melingkarinya. Akan tetapi, dialah yang melaksanakan etika Hindu secara penuh dan elegan, dia pula yang memiliki keunggulan, kesempurnaan, kebijaksanaan, dan kesucian diri.

Merdeka ragawi, merdeka jiwani yang diusahakan oleh pemeluk agama Hindu sebagai jalan hidup (way of life) menjadikan dirinya sebagai maharddhikayati yang memperoleh kamaharddhikan. Menurut ajaran agama Hindu, orang yang demikian itu (merdeka ragawi, merdeka jiwani), pada waktunya akan tinggal di maharddhikapada tempat tinggal (sorga) untuk mereka yang sempurna. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, pemeluk agama Hindu beruntung karena setiap bulan Agustus selalu diingatkan untuk meretrospeksi hakikat maharddhika sebagaijalan hidup. Merdeka ragawi, merdeka jiwani, terutama dari diri sendiri, sebab "ragadi musuh maparo".

Oleh: Jelantik Sutnegara Pidada
Source: Wartam, Edisi 18, Agustus 2016