Merdeka Menurut Hindu

Lwirning mangdadi madaning jana surupa guna dhana kula kulina yowana lawan tang sura len kasuran agawe wereh manahikang sarat kabeh yan wwanten wang sira sang dhaneswara surpa guna dhana kula yowana, yan tan mada maharddhikeka panggarannia sira putusi sang pinandita
(Nitisastra,IV.19).

Maksudnya : Hal yang dapat membikin orang mabuk adalah keindahan rupa, kepandaian, kekayaan, kemudaan, kebangsawanan, keberanian dan air nira, Barang siapa tidak mabuk karena semuanya itu dialah yang dapat disebut merdeka (mahardika), bijaksana bagaikan Sang Pinandita.

Merdeka itu harapan dan cita-cita setiap orang dan setiap bangsa. Cuma merdeka itu memiliki dimensi yang amat luas dan kompleks. Merdeka tidaklah dapat disamakan dengan hidup bebas tanpa batas dan tanpa tanggung jawab. Merdeka itu kebebasan yang dibatasi oleh norma-norma agar kebebasan itu diarahkan untuk menegakan kebenaran dan kebaikan disertai dengan tanggung jawab. Kemerdekaan itu hak setiap bangsa. Namun hak timbul karena kewajiban. Kemerdekaan itu tidak diperoleh tanpa melakukan kewajiban.

Dalam ajaran Hindu seperti Nitisastra IV. 19 di atas patut kembali kita renungkan bahwa keberhasilan mencapai Surupa, Guna, Dhana, Yowana, Kula Kulina, Sura dan Kasuuraan, bisa menimbulkan kemabukan atau gelap hati dan sombong. Barang siapa yang tidak mabuk atau gelap hati karena tujuh hal itu dialah yang disebut Mahardika atau Merdeka bagaikan beliau Sang Pinandita (sira putusi sang pinandita). Ini artinya kalau kita ingin disebut Merdeka maka wujudkanlah tujuh hal itu tetapi setelah terwujud janganlah mabuk atau gelap hati. Dengan demikian Merdeka itu harus membangun tujuh hal yaitu: Surupa, Guna, Dhana, Yowana, Kula Kulina, Sura dan Kasuuran.

Merdeka menurut Hindu adalah mewujudkan tujuh hal. Surupa, maksudnya keindahan fisik itu tiada lain membangun hidup sehat sehingga fisik itu menjadi Rupavarjita. Rupa artinya wujud fisik itu, Vara artinya utama dan Jita artinya unggul. Membangun kesehatan masyarakat itulah tujuan merdeka. Kalau masih puskesmas, rumah sakit dan tempat-tempat mengobati rakyat yang sakit itu penuh sesak itu artinya kita belum mampu menggunakan kemerdekaan itu sebagai untuk membangun kesehatan.

Guna artinya kepintaran atau berilmu. Tujuan dari ilmu adalah membangun sifat-sifat mulia dan baik. Karena itu Bhagawad Gita  XIV.25 menyatakan bahwa hidup bahagia dan seimbang akan dicapai kemampuan mengendalikan Tri Guna atau disebut Gunatita. Dimana keadaan Tri Guna sudah ada pada posisi yang proporsional. Artinya keadaan itu dicapai karena ilmu pengetahuan. Ini artinya kemerdekaan itu adalah membangun ilmu pengetahuan untuk digunakan mengendalikan Tri Guna membangun sifat- sifat yang baik. Wrehaspati Tattwa 21 menyatakan bila Guna Sattwam dan Guna Rajah sama-sama kuat mengendalikan pikiran, maka Guna Satwam menyebabkan orang berniat baik dan Guna Rajah menyebab orang berbuat  baik sesuai dengan Dharma. Guna Thamas pun menjadi positif mengekang perbuatan yang Adharma. Dalam Canakya Nitisastra XVII.12 dinyatakan Jnyanena muktir na tu mandenena. Artinya: Pembebasan diri dari penderitaan dengan ilmu pengetahuan bukan dengan menghias badan saja. Kalau tidak mabuk karena pintar itulah namanya Merdeka.

Dhana artinya mengupayakan masyarakat mampu memproleh Dhana melalui kerja berdasarkan Dharma. Dalam Sarasamuscaya 177 dinyatakan: kunang doning dhana dhinanakena, bhuktin muang daanakene. Artinya: Adapun tujuan Dhana didapatkan untuk dinikmati dan untuk di-danapuniakan. Sarasamuscaya 266 hendaknya dihindari cari uang yang Anyaya Artha uang hasil kekerasan, Pariklesa Artha uang hasil penggelapan dan Artha saking kasembahing satru uang hasil sogokan. Uang yang demikian itu menurut Sarasamuscaya 263 disebut Kasmala Artha yaitu uang ternoda. Carilah uang yang Sulabha Artha yaitu memperoleh uang dengan Dharma. Sarasamuscaya 262 menyatakan gunakan uang untuk tiga tujuan yaitu mensukseskan Dharma, Artha dan Kama (Rikasidhaning Dharma, Artha muang Kama). Itulah kriteria Dhana yang tidak membuat ; mabuk atau Mada sebagai ciri ; Merdeka.

Yowana, yaitu senantiasa punya semangat muda dan segar. Meskipun sudah berumur yang penting semangatnya yang up to date selalu melihat ke depan dalam mewujudkan kebenaran dan kebaikan dengan tepat. Yang penting tidak mabuk karena memiliki semangat yang kuat menuju jalan yang benar itu. Maksudnya bersikap Nutana dalam meyelenggarakan hidup. Melakukan pembaharuan dalam mengamalkan Dharma yang Sanatana atau kekal abadi itu. Nutana dalam bahasa Sansekerta artinya baru, muda, segar dan : membahagiakan.

Kula Kulina, membangun , keturunan yang yang mulia. Kula artinya mengabdi dan Kulina artinya mulia. Dalam hal ini yang dimaksudkan Kula itu adalah keturunan artinya membina keturunan yang mulia. Tetapi kalau berhasil tidak mabuk. Bhagawad , Gita XVI.4 menyatakan bahwa salah satu ciri orang yang memiliki kecendrungan keraksasaan (Asuri Sampad) ada yang disebut Abhijatasya artinya membangga-banggakan kebangsawanan. Ini artinya, Kemerdekaan itu salah satunya untuk membangun keluarga yang Kulina atau yang mulia. Tetapi tidak mabuk karena keberhasilan itu.

Sura maksudnya minuman beralkohol. Ciri merdeka adalah berhasil meniadakan kebiasaan mengkonsumsi minuman yang memabukan. Alkohol hanya bisa digunakan sebagai salah satu unsur obat yang bisa digunakan oleh ahli farmasi dan dokter. Alkohol bukan minuman yang dibenarkan oleh agama dan norma lainya.

Kasuuran adalah berani memperjuangkan dan membela yang benar. Dalam Negara Kerthagama ada dinyatakan syarat pemimpin itu yang disebut Catur Kotamaning Nrpati yaitu Jnyana Wisesa Sudha, Kaprahitaning Praja, Kawiryan dan Wibawa. Empat kriteria itulah dijadikan metoda menjaring pemimpin zaman Majapahit. Jnyana Wisesa Sudha artinya orang yang menguasai ilmu pengetahuan suci. Kaprahitaning Praja artinya orang yang memiliki rasa belas kasihan para rakyat. Kawiryan artinya orang yang berani menegakan pengamalan ilmu pengetahuan suci (Jnyana) untuk mensejahtrakan masyarakat (Kaprahitaning Praja). Artinya keberaniannya itu untuk menegakkan ilmu pengetahauan suci dalam membela kepentingan rakyat.

Pemimpin yang demikian itulah akan berwibawa. Wibawanya itu bukan karena atribut yang dipakainya .seperti pakaian dengan atribut kepangkatan, jabatan, mobil dinas, rumah jabatan, ajudan dan lain-lain. Wibawanya didapatkan karena karena pengabdiannya yang cerdas, berani dan bijak pada kepentingan rakyat.Itulah wibawa yang sejati yang didapatkan dari rakyat yang diangkat harkat dan martabatnya.

Source: I Ketut Wiana, Koran Bali Post, Minggu Paing, 16 Agustus 2015