Merawat Kebhinekaan

Sesungguhnya kebenaran yang diajarkan dalam masing-masing agama adalah kebenaran yang sama. Akan tetapi dalam kenyataannya kebenaran itu menjadi berbeda karena pandangan, pengalaman dan penafsiran yang berbeda-beda pula. Sebagaimana diilustrasikan dalam susastra Wrehaspati Tattwa tentang kisah Tiga Orang Buta Yang Sedang Meraba Gajah.

Diceritakan ada tiga orang buta yang ingin mengenal gajah, kemudian kepada tiga orang buta tersebut diberi kesempatan untuk meraba gajah, selanjutnya setelah mereka meraba kemudian mereka disuruh menceritakan bagaimana bentuk gajah itu. Orang buta yang pertama memegang belalai gajah, lalu ia disuruh menceritakan bagaimana bentuk gajah itu. Dengan suara lantang orang buta pertama mengatakan bahwa bentuk gajah itu seperti ular, kemudian orang buta kedua juga diberi kesempatan yang sama untuk memegang gajah, kebetulan yang dipegang adalah telinga gajah lalu iapun disuruh menceritakan bagaimana bentuk gajah itu.

Dengan tidak kalah semangatnya orang buta kedua mengatakan bahwa gajah itu seperti kipas. Selanjutnya orang buta yang ketiga juga diberi kesempatan yang sama untuk memegang gajah, secara tidak sengaja yang dipegang adalah kaki gajah lalu ia disuruh menceritakan bagaimana bentuk gajah itu. Dengan sangat yakinnya orang buta ketiga itu mengatakan bahwa gajah itu seperti tiang.

Berdasarkan pengalaman ketiga orang buta itu, kemudian timbul pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu apakah mereka salah dalam menyimpulkan bahwa bentuk gajah itu seperti ular, kipas dan tiang? Tentu saja mereka tidak salah, mereka itu semuanya benar sesuai dengan apa yang mereka rasakan atau alami langsung ketika mereka diberi kesempatan memegang gajah. Bagi orang normal yang bisa melihat secara langsung dengan matanya bentuk gajah yang sebenamya itu seperti apa tentu akan merasa sedikit geli ketika mendengar pendapat dari ketiga orang buta tersebut yang menyebutkan bentuk gajah itu seperti ular, kipas dan tiang.

Bila direnungkan kesalahan ketiga orang buta tersebut, justru karena mereka tidak memahami atau menyadari kebutaannya. Bukankah umat beragama sering melakukan kekeliruan seperti apa yang dilakukan oleh ketiga orang buta tersebut? Mengakunya saja umat beragama tetapi perilaku sehari-hari yang ditunjukkan sangat jauh dari nilai-nilai agama. Semestinya setiap umat beragama harus berani bersikap kritis untuk mengkritisi ajaran agama yang dia-nutnya. Sebagaimana Maharsi Vasistha menyatakan: "yukti yuktam upadeyam wacanam balakad api, anyat trinam iva jywa api uktam padma janma". "Walaupun kata-kata itu datang dari seorang bocah kecil, tetapi jika kata-katanya masuk akal, maka harus diterima dan menolak kata-kata yang tidak masuk akal walaupun dinyatakan datang dari Yang Kuasa".

Sikap kritis dan jujur sangat penting dimiliki oleh setiap umat beragama sebab sesungguhnya sikap kritis dan jujur itu dapat menjauhkan manusia dari segala konflik. Manusia sebagai mahluk paling mulia yang dianugerahi pikiran untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah seharusnya menggunakan kemampuan pikirannya itu dengan baik. Namun dalam kenyataannya sering sekali manusia itu saling hancur-menghancurkan karena fifnah agama.

Kerap sekali ada kata-kata atau kalimat yang datang dari kelompok agama tertentu yang menyatakan bahwa hanya agama merekalah sebagai agama wahyu sedangkan agama lainnya adalah agama buatan manusia atau agama budaya. Bagaimana pengetahuan yang irasional seperti itu telah mencekoki pikiran manusia? Penanaman pengetahuan irasional yang menyatakan bahwa ada dua agama, yaitu agama langit dan agama bumi, atau agama wahyu dan agama buatan manusia, hal tersebut sesungguhnya merupakan racun rohani yang menciptakan manusia membeci manusia lainnya tanpa alasan yang cerdas. Secara spiritual penanaman kebencian kepada sesama manusia melalui cara membenci ajaran agama lain yang tidak dianut merupakan proses pembodohan yang paling berbahaya.

Untuk lebih memahami betapa indahnya sebuah perbedaan maka sebagai ilustrasi dapat diberikan contoh tentang tiga orang pemuda yang hendak mau pergi ke Jakarta. Untuk bisa sampai di Jakarta, sesungguhnya ada banyak jalan atau cara yang bisa ditempuh oleh ketiga pemuda tersebut. Pemuda yang pertama menggunakan jalan darat dengan naik mobil atau bus, pemuda yang kedua menggunakan jalan laut dengan naik kapal laut dan pemuda yang ketiga berpergian lewat jalur udara dengan naik pesawat udara. Tentu bagi pemuda pertama yang menggunakan jalan darat akan melewati jalan-jalan perkotan dan jalan-jalan pedesaan, lampu merah, kemacetan itulah pemandangan yang dominan dilihat selama perjalanan.

Bagi pemuda kedua yang menggunakan jalan laut tentu yang dilihat selama perjalanan adalah lautan yang luas, suara ombak, segerombolan ikan lumba-lumba dan perpapasan dengan kapal laut lainnya. Sedangkan bagi pemuda ketiga yang menggunakan jasa udara pengalaman yang dirasakan juga berbeda seperti melihat awan bergumpal, gunung dan lain sebagainya. Kalau seandainya sekarang ke tiga pemuda tersebut bertengkar tentang apa yang mereka lihat selama perjalanan menuju Jakarta. Tentu pertengkaran mereka tidak akan pemah menemui titik temu penyelesaian. Karena masing-masing pemuda tersebut akan mempertahankan argumentasinya mati-matian sesuai dengan apa yang mereka lihat dalam perjalanan. Bahkan pertengkaran itu cenderung menghabiskan banyak energi dan merupakan pekerjaan yang sia-sia. Jelas sekali apa yang mereka lihat selama perjalanan adalah berbeda dan jangan dipaksakan agar apa yang mereka lihat harus sama.

Bukankah umat beragama sering melakukan pertengkaran seperti yang dilakukan oleh tiga pemuda tadi? Sama halnya dengan kita beragama. Tuhan menyediakan banyak macam agama untuk bisa dipilih oleh umat manusia. Marilah kita memilih agama sesuai dengan keinginan dan keyakinan kita. Agama jangan dibanding-bandingkan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya, pasti berbeda karena tiap agama mempunyai teologi masing-masing. Sebagai umat manusia kita tidak boleh menganggap agama yang kita peluk adalah agama yang paling baik dan paling sempuma, sementara kita menganggap agama orang lain sebagai agama bumi atau agama penyembah berhala.

Agama adalah sesungguhnya suatu alat untuk mengekspresikan perasaan yang agung dan halus dari diri manusia dan membuatnya melayani masyarakat. Semua itu membangkitkan segala potensi yang luar biasa yang ada pada manusia, dan dapat membuat manusia mengalami kebahagian dan kebaikan, dan dapat juga menjadi sarana kesatuan umat manusia. Amatlah menyedihkan karena agama yang memiliki pandangan yang begitu tinggi dan suci, ditafsirkan dan dilaksanakan dengan cara yang sempit dan disebarkan dengan cara yang sempit pula. Sesungguhnya apa yang diajarkan oleh agama-agama adalah segala macam kebajikan. Agama Buddha menyatakan bahwa kejujuran dan tanpa kekerasan merupakan syarat dasar untuk dapat menyingkirkan ilusi dan mencapai kemurnian dalam hidup. Menurut Agama Kristen menyatakan bahwa semua orang adalah anak-anak Tuhan dan harus memiliki rasa persaudaraan terhadap sesama. Jesus berkata, "semuanya adalah satu, karena itu bersikaplah serupa pada semua orang". Menurut Islam, semua orang merupakan anggota dari satu keluarga dalam hubungan spiritual, juga menganggap bahwa doa merupakan cara terbaik untuk mendapatkan kedamian dan rasa aman dalam masyarakat. Untuk itu marilah kita rawat perbedaan kita, kita rawat kebhinekaan kita.

Oleh: I Made Rudita, dosen STIKOM-Bali
Source: Wartam, Edisi 22, Desember 2016