Merawat Iman

Beranalogi dengan sebuah rumah, jika dibiarkan kosong, cepat ataupun lambat pasti akan dipenuhi debu. Debu yang kian banyak akan menebal, lalu ruangan menjadi kotor, lembab, pengap dan berbau. Dalam keadaan demikian, tanpa diundang akan datang dan berdiam berbagai jenis binatang, mulai jangkrik. laba-laba, kecoak, lipan, kalajengking. tikus dll. Semakin lama rumah dengan ruang-ruangnya dibiarkan kosong, kotor dan berbau. pelan tapi pasti aura manusia sebagai penghuni awal mulai pudar dan menghilang, diganti dengan masuknya energi astral, berdaya magis atau mistis. Ditandai dengan munculnya makhluk gaib (hantu/setan), bahkan kemudian menghuni rumah kosong tersebut. Jadilah rumah yang semula dihuni manusia menjadi rumah hantu. Mengembalikannya menjadi rumah/ruang bersih dan suci lagi memerlukan prosesi ritual samskara, entah itu prayascita, ulap-ambe atau pamlaspas ulang.

Demikian pula dengan “rumah” Tuhan yang tidak lain diri kita sendiri dengan ruang-ruang Dewa yang diyakini “malinggih” pada setiap organ tubuh manusia, akan sama keadaannya jika dibiarkan tanpa perawatan dan penguatan keimanan (sraddha). Rumah Tuhan dalam diri menjadi kosong, dan hampa; kehilangan aura religius dan meredupnya pancaran sinar sucinya. Konsekuensinya, tanpa disadari tampilan diri seperti bukan rupa manusia (manawa), lebih tampak dan memancarkan vibrasi asura (danawa), hingga teramat sulit terangkat menjadi sosok Dewa (madawa). Inilah yang sering disebut sebagai “manusa mawak bhuta”, bukan “Dewa mawak manusa”.

Perilakunya pun dominan mengekspresikan sifat, watak dan karakter “bhuta”, diliputi dan dipengaruhi kegelapan; gelap pikiran, gelap hati, gelap mata. dan pastinya akrab dengan dunia “hitam” (kejahatan). Mulai dari kejahatan tingkat kecil seperti berbohong, mencela orang cacad, berkata dan berbuat kasar, hingga kejahatan tingkat berat. mulai dari melakukan kekerasan terhadap sesama, bertindak diluar batas kemanusiaan, menghina bahkan menyakiti guru, aborsi, membuang bayi tak berdosa, mencuri pratima, korupsi uang rakyat, hingga satu sama lain saling bunuh, anak membunuh orang tua atau orang tua membunuh darah dagingnya sendiri, sebagaimana seringkali terdengar lewat media pemberitaan.

Demikian kira-kira gambaran jika melalaikan kewajiban merawat “rumah” Tuhan dan “ruang” Dewa dalam diri, menjadikan keimanan seseorang tidak saja kosong, dan hampa tetapi sekaligus diliputi kegelapan, sehingga selalu dihputi dan dikuasai adharma yang terpancar lewat perilaku asubhakarma, cenderung tidak baik. buruk. bahkan jahat. Menyadari akan hal itu, sudah menjadi kewajiban umat untuk setiap saat ingat merawat dan menguatkan keimanan agar tidak dibiarkan kosong atau hampa yang hanya akan menjadikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita sesat lalu berkhianat pada amanat sebagai umat yang memiliki harkat, derajat dan martabat mulia.

Hanya dengan merawat dan menguatkan keimanan, niscaya umat dapat mencapai Tuhan, sebagaimana disuratkan di dalam kitab suci Bhagawadgita, IX. 3, dan 22: “Manusia tanpa keimanan, yang mengikuti jalan ini, tidak mencapai Aku, dan kembali ke jalan dunia kernatian, menderita; dan mereka yang memuja Aku sendiri, merenungkan Aku selalu, kepada mereka, Kubawakan segala apa yang mereka tidak punya dan Kulindungi segala apa yang mereka miliki”.

Merealisasikan perawatan keimanan sebenarnya tak ubahnya seperti merawat kebun dengan beraneka tanaman berbunga. Jika dirawat dengan rutin, rajin dan disiplin hasilnya akan mudah didapat. Kebun berubah menjadi taman puspa ragam, yang pada gilirannya akan mengundang datangnya berbagai jenis makhluk indah, seperti kupu-kupu, kumbang, burung dengan kicauan merdunya. Apalagi jika berkesempatan menanam pohon cendana, bau harumnya menebar semerbak, menyebar ke sekeliling, membuat banyak orang begitu senang dan bahagia menikmati keindahan, menghirup udara segar dan mencium semerbak aroma harum bunga. Saat itulah Tuhan, para Dewa akan turun dan hadir ditengah bahkan masuk merasuk ke dalam diri, hingga menyelesup ke relung-relung imani terdalam. Menjadikan sosok umat tak ubahnya seperti Dewa nyekala, yang tentu saja terekspresi melalui pikiran dan perkataan serta perbuatannya yang selalu diliputi dharma.

Kalau saja setiap umat menyadari akan hal ini. meski di zaman Kali seperti sekarang ini, Sang Kala yang acapkali membuat kalut (pikiran), tak akan sampai menyulut perilaku semrawut tak beretika apalagi amoral. Semuanya akan bisa dikendalikan oleh kekuatan iman (sraddha) yang selalu kokoh menghadapi terpaan, gangguan, cobaan dan ujian apapun bentuk dan jenisnya, sehingga tidak mudah roboh keyakinan umat untuk selalu bhakti pada-Nya. Eksistensi manusia sebagai hamba Tuhan memang berasal dari keadaan kosong untuk akhirnya kembali lagi sepada Yang Kosong (Sunyata), tetapi tentu saja dengan cara tidak membiarkan rumah Tuhan dan ruang Dewa dalam diri menjadi kosong melompong. Sudah menjadi swadharma umat untuk tiada henti nengisi kekosongan iman (sraddha) dengan sepenuh bhakti, kepada Hyang Widhi (Tuhan), sesama insani dan segenap sumber daya alami, agar kehidupan di dunia ini berkesinambungan dalam sinergi, lestari dan harmoni tingga akhir nanti.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Koran Bali Post, Minggu Wage, 29 April 2018