Merawat dan Meruwat Pikiran

Cogito ergosum, demikian kata filsuf Rene Descartes yang artinya 'aku berpikir maka aku ada'. Jadi keberadaan, tepatnya kehidupan manusia ditandai dengan berfungsinya kemampuan berpikir. Tanpa berpikir, manusia dianggap "tiada", sering dianalogikan seperti "bangke majalan", tampak hidup, tetapi sebenarnya "tidak hidup", lantaran pikirannya tidak diolahfungsikan. Dikaitkan konsep Tri Pramana, itu artinya elemen pikiran (idep) yang menjadi penciri eksistensi manusia telah kehilangan daya fungsinya, sehingga yang menggerakkan aktivitas manusia lebih banyak karena unsur tenaga (bayu), lalu diwacanakan lewat suara/kata-kata (sabda), baru kemudian dilaksanakan. Boleh jadi karena begitu mekanismenya, banyak diantara kita, lebih banyak digerakkan oleh tenaga raga (fisik) dan suara lewat perkataan/wacana, dari pada dipikirkan, terutama sebelum melakukan suatu perbuatan.

Sejatinya pikiran yang disebut idep itu, jika dimanfaatkan fungsinya akan mampu menghidupkan kehidupan, sehingga idepe ngidupang, menghidupkan ide atau gagasan yang nantinya bisa berkembang, antara lain dengan cara ngadep idepe anggen ngidupang idup. Misalnya, melalui buah karya pikiran, baik dalam bentuk gagasan, konsep atau rancangan tentang sesuatu yang bisa "dijual" lalu diminati pihak lain dalam rangka memajukan peradaban lewat pembangunan manusia. Hanya saja jangan berpikir nungkalik apalagi sampai nyungsang dengan menganggap idupe ento idep-idepan idup, menganggap kehidupan ini hanya atau cuma sekedar hidup alias numpang lewat, tanpa melakukan sesuatu yang bermakna dan mengena, meski dalam tingkatan pikiran sederhana sekalipun.

Disadari, pikiran itu menjadi elemen penting bagi manusia sebagai penggerak sekaligus pengendali gerak perkataan dan perbuatan, sebagaimana disuratkan di dalam kitab Sarasamuscaya, 79-80:

"Adapun kesimpulannya, pikiranlah yang merupakan unsur yang menen-tukan; jika penentuan perasaan hati telah terjadi, maka mulailah orang berkata atau melakukan perbuatan. Oleh karena itu pikiranlah yang menjadi pokok sumbernya; Sebab pikiran itu namanya adalah sumber indriya, ialah yang menggerakkan perbuatan baik buruk itu, karena itu, pikiranlah yangpatut segera diusahakan pengendaliannya".

Diibaratkan seperti sebuah kereta, "kereta" itu sendiri sebagai badan manusia, lalu "penumpangnya" adalah partikel kehidupan atau kesadaran, sementara "sang kusir" tiada lain elemen buddhi (kecerdasan, pengendali alat indra), kemudian "tali kendali" laksana pikiran (manah), dan akhirnya "Kuda-kuda" penarik kereta itu sebagai panca-indera.

Sebagaimana layaknya perjalanan kereta, Kuda-kuda yang adalah unsur pancaindra itu acapkali berkelakuan liar dan teramat sulit dikendalikan. Itulah sebabnya peran pikiran sebagai tali kendali sangat penting dan berarti sekali. Mau dibawa kemana dan dengan cara bagaimana kereta kuda itu bergerak mencapai tujuan, peran pikiranlah yang sangat menentukan.

Mengingat pikiran itu teramat vital, maka agar perjalanan kereta tidak terjungkal akibat larinya kuda semakin liar dan binal, diperlukan usaha untuk senantiasa merawat sekaligus meruwat pikiran, sehingga tetap sehat, selalu berpegang pada amanat, tidak sampai berkhianat, nanti bisa tersesat, yang dapat membuat hidup kita sekarat. Lalu, bagaimana caranya merawat dan meruwat pikiran?. Kitab Silakrama, 20 menjelaskan dengan sederhana tetapi bermakna sekaligus mengena, yaitu:

Adbhir gatrani cudhyanti
Manah satyena cudhyati,
Widyatapobhyam bhrtatma
Buddhir jnanena cudhyati

Artinya:
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan
kejujuran, roh dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.

Ternyata merawat dan meruwat pikiran itu tidak sulit, meski sebenarnya tidak mudah juga, yaitu dengan bermodalkan "kejujuran", yang pada kenyataannya memang semakin langka ditunjukkan oleh kebanyakan orang di antara kita. Apalagi di tengah situasi dan kondisi kekinian, dimana banyak orang lebih memikirkan kepentingan diri sendiri. Semua yang dipikirkan fokus pada apa yang diinginkannya, dan ketika berhasil diperoleh, keakuan pikirannya lebih mengutamakan pemenuhan kepentingan diri pribadi dan atau keluarganya.

Inilah yang disebut dengan gaya berpikir "mi-instan": mikir serba cepat untuk mendapat apa yang menjadi kebutuhan, keperluan, keinginan dan kepentingannya. Tali kendali pikiran yang disebut juga dengan istilah 'manah' tampaknya telah menjelma menjadi anak panah, yang begitu lepas dari kendali amat susah dicegah, cepat melesat menghujam sasaran, bisa mendatangkan kebaikan berupa berkah atau anugrah, tetapi tak jarang juga mengundang keburukan dalam bentuk masalah ataupun musibah.

Di tengah situasi perkembangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kekinian yang semakin mengarah pada persaingan, pertentangan, permusuhan hingga berujung pada pertengkaran, tampaknya peran, fungsi dan manfaat berpikir dengan pikiran yang jernih dan bersih bahkan suci menjadi sesuatu yang harus dikedepankan. Jika tidak, pikiran itu akan berubah bagaikan anak panah bermata dua, bisa membawa kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan, bisa juga mendatangkan keburukan, malapetaka, masalah ataupun musibah.

Atas dasar itu, sudah sepatutnya pikiran itu senantiasa dirawat dan diruwat dengan rajin, rutin dan disiplin. Gunanya, agar alur pikir kita tidak mudah nyaplir bin sanglir, sehingga dalam memahami dan menghadapi kehidupan ini tidak salah tafsir, sebab semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas kehendak Sang Takdir - Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu puncak dari usaha merawat dan meruwat pikiran adalah menuju dan mencapai Tuhan, seperti disuratkan kitab Bhagawadgita, V.17, dan VI.20:

"Merekayang memikirkan-Nya, menyerahkan seluruh jiwa kepada-Nya, menjadikan-Nya sebagai tujuan utama, memuja hanya pada-Nya, mereka akan pergi tidak kembali, dan dosa mereka akan dihapus oleh pengetahuan itu"; "Dimana pikiran telah tenteram terkendalikan oleh konsentrasi yoga, jiwa menyaksikan jiwa maka jiwa merasa dalam bahagia, bahagia".

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Wartama, Edsisi 22, Desember 2016