Menurunnya Bhakti dan Srada Umat Hindu

Telah lama penulis amati tentang keberadaan para Pejabat Hindu apakah mereka dijajaran ABRI, Sipil bahkan di BUMN atau Perusahaan bila telah memegang jabatan potensial apakah top leader atau stafnya banyak mulai menurun, lemah Bakti dan Sradanya terhadap agamanya, dimana mereka sudah tidak datang ke Pura dalam persembahyangan, tidak ikut dalam kegiatan keagamaan, mengikuti kegiatan sosial sudah sangat kurang.

Mereka berkomentar dengan berbagai alasan diantaranya selalu ada tugas mendadak, tugas dinas, bila meninggalkan tugas dinilai tidak loyal dengan pimpinan, suasana dalam keluarga tidak harmonis enggan datang ke pura, istri cuntaka Suami juga ikut tidak ke pura, malu kepada temen yang seagama, sudah cukup bersembahyang di rumah saja. Itulah alasan-alasan yang sering diungkapkan atau terekam. Hal ini banyak terjadi pada mereka yang kawin tidak seagama yang juga mereka yang kawin seagama, bahkan umat yang belum kawin. Alasan yang diungkapkan di atas mungkin ada benarnya, tapi apa masuk akal sepanjang tahun dilanda dengan halangan yang demikian.

Mungkin para pembaca dapat renungkan atau analisa, benarkah dengan alasan demikian. Jika benar dimana letak kesalahannya? Mungkinkah pembina-pembina umat kita belum efektif, belum oftimal membina umatnya?. Ini tidak dapat dijawab dengan cepat ya atau tidak.

Kejadian-kejadian ini saya amati di tingkat daerah, apakah di tingkat pusat demikian pula adanya? Kalau dibanding dengan umat lain pejabatnya berbeda sekali, misalnya mereka sebagai Pejabat di ABRI, mereka tidak hanya loyal di kantornya, tetapi sangat loyal pula keagamaan atau kegiatan sosial. Maaf kami tidak membanding-bandingkan, akan tetapi melihat contoh yang positif yang mungkin bisa kita adopsi. Contoh lain saya sering mendengar dari umat lain seorang pejabat berkata misalnya dalam pembentukan kepanitiaan pembangunan tempat ibadahnya tolong dimasukkan nama saya dalam kepanitiaan meskipun terdaftar paling akhir. Dengan suatu keyakinan agar nanti mendapat tempat disisi Allah. Demikian pula dalam organisasi-organisasi keagamaan bahkan mereka menawarkan diri untuk menjadi salah satu pengurus.

Namun bagaimana umat kita (Hindu). Umat kita bahkan para Pejabat kita dengan berbagai alasan jangan dimasukkan nama saya dengan alasan misalnya saya banyak kesibukan, saya banyak urusan, tidak enak nanti selaku pejabat dibilang hanya mementingkan agama sepihak, atau terlalu dekat dengan sukunya sendiri. Mungkin mereka tidak berpikir dengan alasan-alasannya itu akan berpengaruh terhadap stafnya atau anggota lain. Karena mereka melihat bahwa atasannya saja alasan demikian yang punya pawer kuat, punya kewenangan untuk memutuskan kebijaksanaan. Dan juga mereka tidak aktif dalam kegiatan keagamaan, sembahyang di pura stafnya sering tidak aktif. Mereka adalah sebagai contoh yang selalu ditiru. Mungkin itu tidak disadari, atau tidak sempat mengevaluasi sakeng sibuknya mengejar karier.

Memang orang Bali yang notabene Hindu terkenal kepatuhannya terhadap disiplin, dinilai berhasil dalam memangku jabatan, namun mana yang lebih kekal jabatan atau dalam bermasyarakat. Mungkin ini tergantung niat, kalau diniatkan semua tugas dapat dicarikan jalan keluar. Penulis terkesan dengan contoh Bpk. Silalahi, Mantan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara masa Presiden Soeharto, beliau menjadi ketua Panitia pohon trang tingkat Nasional yang cukup berhasil karena sebagai ketua panitia tentu banyak loyalitasnya baik waktu maupun material untuk agamanya, sehingga membangkitkan partisipasi terhadap umatnya bahkan dukungan umat lain. Sudah banyakkah umat kita bertindak demikian? Jangan kita mengejar karier saja, secara politik kelemahan kita sudah dibaca oleh umat lain. Disadari atau tidak kehidupan keagamaan diwarnai dengan politik.

Umat kita banyak yang berhasil sebagai pengusaha baik ditingkat pusat maupun bawah. Penulis belum banyak mendengar/melihat ada umat Hindu menyumbang dalam sekala besar seperti menyumbangkan dana membangun pura umum 1 pelebahan atau mengibahkan sebidang tanahnya untuk keperluan yayasan atau umum, bukankah dalam ajaran agama kita dikatakan dalam jenis-jenis dana yang paling tinggi tingkatannya dana dalam bentuk dese/tanah. Kalau dibangding dengan umat lain kita masih sangat ketinggalan, dimana kita melihat ada pengusaha menyumbangkan mesjid yang megah dari tanah sampai siap pakai bahkan sampai biaya pemeliharaannya, atau ada pengusaha yang anak asuhnya tercatat banyak sekali. Dari pengamatan-pengamatan ini tulisan ini dapat mengingatkan kepada kita merenung dan sadar untuk merobah pola pikir. Penulis tidak fisimis tentang perkembangan agama kita karena banyak fotensi karena kemauan beryadnya sangat tinggi yaitu dibidang upakara/ritual. Hal inilah dapat dilihat bahwa umat Hindu suka berkorban hanya dalam bentuk lain. Ke depan pasti yadnya ini dialihkan dalam bentuk kemanusiaan, atau dalam bentuk seperti contoh-contoh diatas, karena hal ini merupakan bentuk manusa yadnya.

Akhir-akhir ini kita dengar para umat sudah melakukan seperti tirta yatra seperti di Jawa mengunjungi umat/saudara Hindu di Jawa yang dilanda kemiskinan, pengumpulan dompet sumbangan bencana di Poso dan lain sebagainya. Kegiatan tersebut merupakan contoh yang sangat baik. Umat kita mempunyai budaya kerja yang., rajin, sehingga disana sini berhasil di tempat transmigrasi. Umat kita tidak mau ikut-ikutan dalam berkonflik karena itu salah satu ajaran karmapala dan menjalankan ajaran agama secara tekun. Hanya saja perlu pengarahan yang lebih mengena dan ditingkatkan dan kita semua jangan suka menilai kesalahan orang, kita semua berbuat yang terbaik untuk bangsa dan agama sesuai bidang masing-masing, merobah pemikiran untuk diri sendiri.

Kita yakin umat Hindu di masa mendatang semakin baik bilamana yadnya dalam bentuk ritual dan dalam bentuk kemanusiaan, pembinaan umat atau dalam bentuk lain juga ditingkatkan. Kita mesti berbesar hati hanya saja perlu proses. Mudah-mudahan tulisan ini ditanggapi secara positif bagi saudara-saudara yang telah berbuat baik diteruskan karena pahala pasti akan diterima. Sebagai akhir kata lebih dan kurangnya mohon dimaafkan.

 

Source: I.D.K Budiarta l Warta Hindu Dharma NO. 427 September 2002