Menjadi Wayang di Tangan Dalang Semesta

Tasmat tvam uttistha
Yaso labhasva
Jitva satran bhunksva
Rajyam samrddham mayaivaite nihatah
Purvam eva nimitta-matram bhava savya-sacin
(Bhagavad-gita 11.33)

SRI BHAGAVAN bersabda, "Aku adalah Sang Kala, Sang Waktu yang berkembang tanpa batas, Penghancur seluruh alam semesta, dan saat-saat ini Aku hadir di sini dengan tujuan untuk menghancurkan semuanya. Seluruh ksatria yang hadir di sini berada di pihak musuhmu, tanpa bertempur denganmu pun mereka tidak akan ada yang hidup lagi. Oleh karena itu, bangkitlah untuk bertempur dan capailah kemuliaan, dan setelah mengalahkan musuh nikmatilah kerajaan yang gemah ripah loh jinawi, subur sejahtera. Mereka semua ini jauh-jauh sebelumnya sudah Aku binasakan. Wahai Savyasaci Arjuna, jadikanlah dirimu sebagai alat di tangan-Ku."

Yudhisthira dikenal sebagai rajanya dharma. Ia bahkan dalam bercanda pun bukan menghindari berbohong tetapi Yudhisthira TIDAK berbohong. Ia sepenuhnya berada dan menempatkan dirinya dijalan dharma. Oleh karena itulah ia menjadi kepercayaan 101 % Sang Mahagurunya. Seorang Mahaguru militer "number one" di seluruh dunia pada zaman itu, Drona Acarya menaruh kepercayaannya kepada seorang muridnya seratus satu persen alias melebihi batas orang boleh menaruh kepercayaan. Tentu saja kebijaksanaan seorang Mahaguru Militer level dunia seperti itu patut "dipertanyakan". Akan tetapi, keteguhan Yudhisthira pada Kejujuran Sejati mengalahkan "kebijaksanaan" dan "niti" (political policy) dari seorang Mahaguru maha hebat.

Yudhisthira juga merupakan titisan dari Dewa Dharma, Dewa Kebenaran dan Kejujuran. Ia sepenuhnya berada di jalan kejujuran dan kebenaran Sejati yang tanpa bingkai desa (tempat), kala (waktu), dan patra (orang, individu, kelompok). Atas tingkah laku dan perbuatannya yang senantiasa berada di dalam jalan dharma maka ia dijuluki Dharmaraja, yaitu Sang Raja Kebenaran dan Kejujuran Sejati. Dalam sejarah, selain Dewa Kebenaran dan Yudhisthira, tidak ada lagi yang "berani" mempergunakan nama atau julukan Dharmaraja.

Itulah seorang Yudhisthira, Sang Dharmaraja atau di Bali sangat terkenal dengan nama Dharmawangsa, keturunan orang-orang teguh di jalan dharma.

Arjuna tidaklah seperti sang kakak (Yudhisthira), khususnya dalam kejujuran dan kebenaran. Akan tetapi, ia dikenal sebagai orang yang sangat patuh dan pasrah pada Sri Krsna. Ia siap melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Sri Krsna, bahkan di dalam medan perang Kuruksetra ia mematuhi perintah Sri Krsna untuk membunuh saudara-saudara, guru-guru yang dihormati serta dipujanya dan lain-lain yang membela pihak yang jahat (Kaurava), itu pun dilakukan oleh Arjuna. Lebih jauh lagi, ketika Sri Krsna memerintahkan Arjuna untuk melepaskan anak panahnya kepada Ksatria Agung Karna justru pada waktu Karna sedang berusaha keras untuk mengangkat roda keretanya yang sedang masuk lumpur. Arjuna terkenal sebagai Ksatria Sejati, ia sangat pantang membunuh musuh yang sedang tidak bersenjata atau tidak sedang siaga tempur. Akan tetapi, karena diperintahkan oleh Sri Krsna maka Arjuna melakukannya. Ia pun membunuh Karna yang sedang tidak dalam keadaan siap tempur, yang juga adalah kakaknya sendiri.

Itulah seorang Arjuna, seorang yang sangat sederhana tetapi sangat patuh pada perintah Sri Krsna yang adalah kawan dan sekaligus Gurunya.

Bliagavad-gita bukanlah kitab suci yang (hanya) mengajarkan kebaikan dan/atau kebaikan yang hanya berada pada tingkatan sattva-guna. Bhagavad-gita tidak seperti sejumlah kitab-kitab lainnya yang "menjanjikan" kesenangan-kesenangan dunia seperti harta-benda, nama, dan kepuasan-kepuasan duniawi lainnya, melainkan Bhagavad-gita dipenuhi oleh "manik-manik emas" dalam level Suddha-sattva (kebaikan murni) atau visuddha-sattva (kebaikan sangat murni). Bhagavad-gita tidak mengarahkan orang kepada pencapaian surga-surga melainkan pada arah sangkan paraning dumadhi, yaitu tujuan puncak dari hidup manusia di dunia ini. Untuk itu. Bhavagad-gita tidak ada urusan dengan Sang Yudhisthira yang Dharmaraja dan berada mantap di dalam sifat sattva-guna tetapi belum berada di dalam tingkat Sud-dha atau visuddha-sattva.

Ketidaksiapan Sang Dharmaraja untuk menjadi Wayang alias "direct tool" (alat kerja langsung) di tangan Dalang Semesta, Ida Hyang Parama Iswara dibuktikan oleh kejadian di medan perang Kuruksetra. Pada waktu itu, ketika Sri Krsna memerintahkan Bhima membunuh gajah bernama Asvatthama, Krsna meminta agar Bhima berteriak lantang bahwa ia sudah berhasil membunuh Asvatthama. Bhima walau sempat ragu untuk berbohong, namun ia pun melakukannya. Drona Acarya yang sedang sibuk menghadapi musuh dengan pedang saktinya tebas kanan dan tebas kiri, mendengar suara sayup-sayup yang menyatakan bahwa putra kesayangannya, Asvatthama sudah terbunuh, maka Drona pun menjadi kaget setengah mati.

Dalam batinnya 99% Drona tidak percaya terhadap teriakan tersebut karena ia mengetahui kesaktian putranya, Asvatthama yang luar biasa dan tidak sembarang musuh dapat mengalahkannya. Akan tetapi, disebabkan oleh rasa sayangnya yang berlebihan pada putranya, maka ia mulai mempercayai berita itu, lalu mulailah Drona kehilangan semangat tempurnya. Ia sangat mencintai putranya tanpa batas. Drona tidak bisa hidup tanpa putranya. Untuk memastikan berita tersebut, akhirnya ia mendatangi Yudhisthira, Sang Raja Kejujuran.

Drona bertanya lemah pada Yudhisthira, "Wahai anakku Dharmaraja..., engkau dikenal sebagai orang yang tidak pernah berbohong. Aku percaya pada apa pun yang engkau katakan karena kata-katamu pasti selalu dalam kebenaran."

Pada saat yang sama Yudhisthira melihat lirikan Sri Krsna, akhirnya ia menjawab perlahan, "Ya... benar..., Asvatthama hatohatah... (benar Asvatthama telah meningggal)", tapi pas pada saat yang sama Yudhisthira mengatakan kalimat berikutnya... Sri Krsna meminta Bhima Vrkodara untuk meniup Sangkhakala sehingga kata-kata Dharmaraja yang mengatakan "naro va..." (mungkin Asvatthama yang manusia), "kuhjaro va..." (atau Asvatthama yang gajah) menjadi tidak kedengaran karena dikalahkan oleh bunyi Sangkhakalanya Bhima.

Melihat cerita tersebut, dapat dipastikan bahwa Yudhisthira tidak mengikuti 101% perintah Sri Krsna, maka ia bukanlah 101% "alat langsung" dari Sri Krsna. Dharmaraja tereliminasi pada langkah "asvathama hatohatah naro va kuhjaro va", memang benar Asvathama sudah terbunuh, mungkin asvathama gajah mungkin pula Asvathama putranda. Oleh karena tidak "menyerah total" maka Yudhisthira gagal menjadi alat di tangan-Nya.

Sejak kejadian itu, bagaikan ular "Lipi Aon" yang biasa terbang tetapi sekali menyentuh tanah maka ia tidak bisa terbang lagi, seperti itulah kereta Dharmaraja Yudhisthira yang biasanya terbang, akhirnya tidak bisa terbang lagi, disebabkan ia tidak mau berbohong demi perintah-Nya. Menariknya, versi penuturan Dalang Wayang di Indonesia mengatakan kereta Dharmaraja tidak bisa terbang lagi justru karena Dharmaraja Yudhisthira berbohong (pada Gurunya).

Arjuna, bukan hanya disuruh berbohong oleh Sri Krsna melainkan membunuh. Krsna menyuruh Arjuna untuk membunuh para kulawarga dan Gurugana..., para guru yang ia hormati dan sembah, para guru yang membuatnya menjadi sangat hebat seperti ia berada pada waktu itu. Semua perintah Sri Krsna dilakukan tanpa tanda tanya lagi, dan di hadapan Sri Krsna ia tidak memakai "kepala"-nya lagi. Logika dan pertimbangannya dibuang jauh-jauh. Seperti dikatakan oleh Acharyashri Kamal Kishore Goswami: "Collapse your mind, open your heart", - tutup logikamu dan bukalah hatimu. Upanisad pun mewantikan dengan tegas bahwa orang tidak akan mampu merealisasikan rahasia Tuhan melalui ketajaman kecerdasan yang maha tinggi, na medhaya na bahuna srutena. Na... sama sekali tidak... medhaya... melalui kecerdasan maha cerdas... Sedangkan Arjuna mengatakan, "Wahai Sri Krsna... sisyas te'ham sadhi mam tvam prapannam, hamba adalah siswa Anda dan hamba menyerahkan diri sepenuhnya di kaki Anda. Pada akhirnya Arjuna mengatakan, "Karisye vacanam tava..., apa pun perintah Anda... hamba akan lakukan..."

Penyerahan diri total itulah yang menyebabkan Arjuna "lolos" dalam "seleksi" Tuhan untuk layak menjadi alat langsung-Nya. Sebagai pembelajaran diri sendiri, jalan atau cara apa pun yang ditempuh, patut dilakukan tanpa "sentuh kanan-kiri" apalagi sibuk mencerca serta "mengadili" jalan pendekatan diri kepada Tuhan yang dipraktikkan oleh orang lain, melainkan berusaha semaksimal mungkin meningkatkan rasa penyerahan diri kepada-Nya. Hanya penyerahan diri total yang mampu "mempertemukan" Sang Diri dengan Sumber Sang Diri, Hyang Paramatma. Hanya penyerahan diri total seperti totalitas penyerahan diri Arjuna yang akan menjadi "alasan" Tuhan memakai sebagai alat di tangan-Nya. Dan hanya inilah yang dimiliki oleh para leluhur Dharma di Bali. pencerahan diri total dengan "mantra sakti" ampuh bhakti: "Ratu Sang Hyang Wldhi Wasa..., druwenin titiang...", duhai Hyang Widhi..., mohon berkenan memiliki (kembali) dan mempergunakan diri hamba ini. Hamba berpasrah sepenuhnya pada Debu Kaki Tuhan, "ring buk-padan Palungguh I Ratu".

Oleh: Dharmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Kliwon 19 Juni 2016