Menggagas Sekolah Pemimpin Hindu

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang dirancang sedemikian rupa, yakni tempat di mana anak-anak dididik, dibina, dikembangkan, dan dide-wasakan, setelah dididik dalam lembaga pendidikan informal, yakni keluarga.

Sebagai organisasi pembelajar (learning organization) lembaga pendidikan sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai jenjang pendidikan tinggi, demikian pula lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya seharusnya mampu melahirkan manusia-manusia pembelajar. Manusia pembelajar dimaksudkan di sini adalah orang yang menempatkan aktivitas belajar dalam totalitas skema kehidupanya. Bukan sebatas skema sekolah atau studi di Perguruan Tinggi, apalagi hanya menjelang ujian catur-wulan, ujian semester, atau ujian akhir. Ketika lembaga pendidikan sekolah mampu melahirkan manusia-manusia pembelajar dan tidak hanya terbatas pada anggota komunitas sekolah, komunitas universitas, dan komunitas lembaga-lembaga pelatihan lainnya, maka ketika itu pula akan tercipta masyarakat pembelajar (learning society) dalam makna yang sesungguhnya.

Membentuk manusia pembelajar semacam ini, tidak bisa dilakukan secara instan atau jika memainjam gagasan Ritzer disebut McDonaldisasi/Coca-Colanisasi. Akan tetapi harus dilakukan melalui sebuah proses evolusi kesadaran, dan diperlukan waktu yang cukup panjang untuk mencapainya. Akan tetapi pada kenyataannya banyak lembaga pendidikan sekolah dewasa ini yang terjebak pada ideologi McDonaldisasi, yakni lembaga pendidikan yang mencetak peserta didik secara instan. Ketika lembaga pendidikan sekolah terjebak pada apa yang disebut ideologi McDonaldisasi, maka hampir dapat dipastikan lembaga pendidikan (sekolah) semacam itu, tidak akan dapat menghasilkan manusia-manusia pembelajar dalam makna yang sesungguhnya, apalagi mencetak kader-kader pemimpin yang mempunyai pandangan visioner.

Pandangan visioner dimaksudkan adalah pandangan jauh ke depan, yakni pandangan yang melebihi batas-batas pemikiran orang kebanyakan. Mereka yang tergolong ke dalam kelompok ini jarang sekali tergoda untuk melakukan hal-hal demi hasil yang bersifat instan, mengejar target jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Untuk bisa menghasilkan manusia-manusia seperti ini, maka perlu digagas sebuah lembaga pendidikan (sekolah) yang dapat menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang ke depannya bisa menjadi embrio pemimpin-pemmpin yang visioner. Hindu sebagai agama yang bersumber pada ajaran Pustaka Suci Weda, sesungguhnya sangat berpotensi untuk mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan (sekolah) yang ke depannya mampu menghasilkan calon-calon pemimpin yang visioner sebagaimana dimaksud pada uraian sebelumnya, yang bisa pula dikatakan sebagai sekolah pemimpin Hindu.

Menggagas sekolah pemimpin Hindu ke depan bukanlah isapan jempol belaka, sebab sebagaimana ditulis I Wayan Suja dalam bukunya "Tafsir Keliru terhadap Hidu" (1999:v) bahwa sesungguhnya Weda telah diwahyukan Tuhan dalam kurun waktu yang sangat lama, sehingga Hindu tumbuh dan berkembang sebagai sebatang pohon raksasa yang bermula dari sebutir biji. Ia tumbuh dan berkembang senafas dengan kekuatan ajarannya mengakar pada hati para pengikutnya. Ia terpelihara melalui amalan umatnya dan telah teruji melalui pengalaman. Atas dasar itu, bangun agama yang diajarkannya mirip sebuah bangunan raksasa yang berdiri tegak mencakar langit dengan pondasi yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran.

Artinya, kebenaran akan ajaran Weda bersifat terbuka bagaikan sebuah gedung yang mencakar langit yang dapat dipandang, dilihat, atau dicermati oleh siapa saja umat manusia di muka bumi ini. Artinya, Weda itu merupakan suatu sistem yang bersifat terbuka yang memberikan kebebasan bagi umatnya atau siapa saja yang ingin membuktikan kebenaran ajarannya. Dalam mencermati kebenaran ajaran Weda, umat manusia mesti menggunakan logikanya dengan cara berpikir secara nalar. Misalnya, Weda itu sendiri menyerukan "walaupun seribu Weda menyatakan bahwa api itu dingin, hendaklah jangan dipercaya". Sebab pada realitasnya, di manapun dan kapan pun api itu pasti panas. Seruan Weda tersebut jelas mengisyaratkan kepada umatnya, agar mempelajari, memahami dan mengamalkannya dengan tidak melepaskan diri dari kaidah-kaidah logika.

Demikian halnya dengan sistem pendidikan sekolah, selain harus mendasarkan diri pada keyakinan akan kebenaran yang diajarkan oleh agama yang bersumber pada ajaran kitab suci yang bersifat terbuka (baca:Weda), sistem pendidikan sekolah juga tidak bisa meng-abaikan kebenaran yang diperoleh melalui kebenaran logika dengan pendekatan interpretative (penafsiran). Namun, dalam realitasnya penafsiran umat terhadap suatu ajaran agama sering bersifat subjektif. Misalnya, dalam menafsirkan ajaran agama bagaikan menatap langit yang ada di atas kepalanya. Artinya, langit yang dilihat paling tinggi adalah yang ada di atas kepalanya, sementara langit yang ada dibagian lainnya akan tampak sangat rendah baginya.

Mereka tidak akan pernah mau mengerti bahwa langit itu hanya satu, dan tinggi rendahnya langit terjadi karena keterbatasan penglihatannya sendiri (Suja, 1999:vi). Ketika sekolah itu dibangun dengan landasan keterbukaan, dalam arti kurikulumnya terbuka (tidak ada hidden kuriculum), sistem manajemennya terbuka, dan proses pembelajaran di ruang kelas juga bersifat terbuka, sebagaimana sifat dari ajaran suci Weda, maka niscaya sekolah tersebut akan dapat berkembang menjadi lembaga pendidikan yang nantinya mampu menghasilkan calon pemimpin-pemimpin bangsa yang visioner, yakni pemimpin yang dapat mengayomi, melindungi, dan mensejahterakan rakyatnya.

Oleh: I Ketut Suda, Guru Besar Sosiologi Pendidikan UNHI
Source: Wartam, Edisi 20, Oktober 2016