Mengendalikan Nafsu Seks, Menurut Ajaran Hindu

ADA tiga kebutuhan hidup manusia yang paling menonjol yaitu kebutuhan biologis, sosiologis, dan filosofis. Tiga kebutuhan tersebut saling melengkapi. Kebutuhan biologis seperti makan, minum, dan hubungan seks. Tiga kebutuhan biologis itu tidak bisa lepas dengan kebutuhan sosiologis dan filosofis. Jika pemenuhan kebutuhan biologis tidak berdasarkan aspek sosiologis dan filosofis, manusia bisa diidentikkan dengan hewan.

Agama Hindu mengajarkan agar umat Hindu mengarahkan tujuan hidupnya pada empat tujuan hidup yang disebut Dharma, Artha, Kama, dan Moksha. Kama adalah dorongan hidup atau keinginan yang harus diwujudkan berdasarkan Dharma dan Artha. Swami Satya Narayana Kama menjadi salah satu tujuan hidup bukan berarti hidup ini mengikuti keinginan atau hawa nafsu. Kama sebagai tujuan hidup untuk mengubah Kama itu dari Wisaya Kama menuju Sreya Kama. Dari dorongan hidup untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu (wisaya) beralih secara bertahap menuju Sreya Kama untuk membangun keinginan untuk dekat dengan Tuhan berdasarkan kasih sayang dan keikhlasan.

Kama dalam Katha Upanisad diumpamakan bagaikan kuda kereta. Tentunya kalau kuda kereta itu sehat dan kuat akan sangat baik untuk menarik kereta. Asalkan kuda yang kuat dan sehat itu patuh pada tuntunan tali kekang yang dikendalikan kusir. Tali kekang diumpamakan pikiran, kusir kereta diumpamakan kesadaran budi. Libido seksual adalah salah satu ekspresi kama. Untuk memenuhi libido seksual harus diikuti arahan pikiran dan kesadaran budi seperti kuda yang demikian patuh pada arahan tali kekang yang dikendalikan kusir.

Pikiran dan kesadaran budi itu akan dengan kuat mengarahkan dorongan seksualitas jika pikiran dan kesadaran budi itu dicerahkan ajaran suci sabda Tuhan. Tentang pemenuhan libido seksualitas itu para Resi Hindu telah menghasilkan ajaran sastra yang dilahirkan dan sabda suci Weda. Ajaran tentang pengendalian seks itu dituangkan dalam berbagai pustaka. Dalam pustaka Sanskerta ada kitab Kama Sutra. Dalam lontar di Bali ada berbagai pustaka yang mengajarkan bagaimana norma pengendalian seksualitas. Tentang pengendalian li¬bido seksualitas itu dalam pustaka Sanskerta banyak diuraikan dalam pustaka Kama Sutra. Pustaka Kama Sutra merupakan pustaka seksologinya Hindu. Dalam kepustakaan Hindu di Bali ada beberapa pustaka yang menguraikan tentang etika dan teknik pengendalian libido seksualitas.

Dalam khazanah pustaka tentang seksologi ada lontar Sanggama Sasana, Cumbana Sesana, Smara Krida Laksana, Rukmini Tatwa, Resi Sambina, Rahasia Sanggama, Stri Sesana, Wadu Laksana, Usada Smar-atura, Prasi Dampati Lalangon dan lain-lainnya. Prinsip teknik pengendalian libido seksualitas itu adalah menguatkan rasa ketuhanan dengan konsep Smara Ratih. Maksudnya dalam hubungan seks suami istri agar senantiasa dilakukan bagaikan hubungan Dewa Smara dengan Dewi Ratih. Hubungan seks yang dikendalikan kesadaran rasa ketuhanan yang kuat itulah yang disebut Yoga Senggama dalam lontar Resi Sambina. Jadinya hubungan seks yang dikendalikan kesadaran rasa ketuhanan yang kuat adalah salah satu praktik yoga untuk mencapai peningkatan spiritual, karena kesadaran rasa ketuhanan yang kuat itu akan menonjolkan berekspresinya kasih sayang dalam hubungan seks.

Kuatnya ekspresi dan eksistansi kasih sayang dalam hubungan seks akan membangun kehidupan lahir batin yang seimbang. Dengan menguatkan kesadaran rasa ketuhanan dalam melakukan hubungan seks maka akan muncul perilaku seks yang etis dan romantis. Hubungan seks yang erotis dan sadistis akan dapat dihindari. Tidak akan ada hubungan seks yang dapat dilakukan kalau tidak berdasarkan kasih sayang. Dengan demikian seorang laki-laki tidak mungkin melakukan perkosaan pada pasangan jenisnya yang tidak dicintai dan disayangi dan yang tidak menyayanginya. Libido seksualnya tidak akan bangkit kalau tidak dengan pasangan yang saling mencintai dan saling menyayangi.

Sangat berbeda dengan hubungan seks yang dilakukan semata-mata untuk mengumbar hawa nafsu berahi. Meskipun lawan jenisnya meronta-ronta menolak hubungan seks tersebut tetap saja akan dilakukan mereka yang hanya membutuhkan seks berdasarkan gejolak hawa nafsu. Mereka yang hatinya digelapkan gejolak nafsu berahi tidak akan mamandang kedudukan lawan jenisnya. Apakah lawan jenisnya itu istri atau orang lain, ipar, apakah anak di bawah umur bahkan hewan sekalipun, asalkan nafsu seksnya tersalurkan bagi mereka sudah dapat mencapai kepuasan. Berbagai pustaka Hindu tentang seksologi mengajarkan bahwa melakukan hubungan seks hendaknya mengingat pada berbagai dewa yang hadir dalam tiap hubungan seks.

Menurut lontar Rsi Sambina tiap melakukan hubungan seks hendaknya merapalkan mantra-mantra tertentu. Lontar Rsi Sambina menyatakan mantra utama yang amat baik dirapalkan adalah Bija Mantra dan mantra-mantra permohonan lainnya. Tujuannya, agar hubungan seks itu mencapai hasil untuk kebaikan dan kebenaran seperti kehamilan, kesehatan, dan kepuasan rohani dalam bercinta kasih. Dalam pustaka Hindu tentang seksologi itu dinyatakan tiap berhubungan badan seperti saat berciuman, berpelukan sampai bersanggama hendaknya senantiasa menghadirkan dan memuja dewa-dewa tertentu manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Ini artinya dalam melakukan hubungan seks jangan sampai lupa diri terjebak pada kakuasaan hawa nafsu atau Wisaya Kama, Hal itu dapat mejerumuskan pasangan pada seks yang erotis bahkan bisa mangarah pada seks yang sadistis. Hubungan seks yang berkualitas adalah hubungan seks yang dilakukan dengan pengendalian rohani yang kuat bagaikan jalannya kereta yang ditarik kuda yang sehat dan kuat tetapi patuh pada kendali kusir dengan tali kekangnya.

Ini artinya kedudukan nafsu dalam hubungan seks bagaikan kuda yang sehat dan kuat tetapi tetap patuh pada kendali tali kekang yang dikendalikan kusir. Hubungan seks hanya baik dilakukan kalau berdasarkan pertimbangan rohani bukan sekadar karena bergejolaknya libido seksual. Hubungan seks barwajah ganda. Ada hubungan seks dilakukan karena munculnya gejolak berahi yang sampai mengubun-ubun. Hubungan seks yang demikian dapat menimbulkan dosa dan bahkan dapat mengganggu kasehatan lahir batin. Ada hubungan seks yang dilakukan berdasarkan tuntunan rohani. Hubungan seks yang demikian akan dapat memberi keturunan yang baik, kesehatan badan, kepuasan rohani juga kepada pasangannya. Menurut kekawin Nitisastra seseorang baru dianggap layak memikirkan tentang hubungan seks setelah berumur setidak-tidaknya 20 tahun.

Dalam kekawin Nitisastra dinyatakan sebagai berikut: Smara Wisaya wang puluhing ayusa. Agar manusia tidak terjebak nafsu seks yang menggebu-gebu.

Source: Drs. Ketut Wiana, MAg, l Koran Tokoh, Minggu 14 September 2008