Mengendalikan Kemarahan

Kemarahan (Krodha) adalah merupakan salah satu musuh utama dari enam musuh (Sad Ripu) yang ada di dalam diri manusia. Dalam hidup ini setiap orang tidak luput atau terhindar dari marah contohnya Resi Wiswamitra yang dikenal menerima wahyu Gayatri Mantra beliau pernah dikuasai marah sehingga yoga atau tapa beliau harus diulang lagi atau dengan kata lain ketika tapa samadhi beliau sudah mencapai tingkat tinggi harus turun lagi level bawah gara-gara dikuasai kemarahan. Terlebih kita manusia biasa, kadang kita memang dihadapkan pada suatu keadaan yang memancing emosi sehingga menyebabkan kita menjadi marah entah masalah tersebut timbul didalam rumahtangga, dalam lingkungan sosial, di lingkungan kerja atau yang lainnya. Terutama dilingkungan rumahtangga kita sering sekali dihadapkan pada situasi ataupun benturan entah itu dengan pasangan kita, dengan anak-anak kita.

Ada yang mengatakan bahwa masa grehasta atau berumah tangga adalah masa untuk menuai sancita karmaphala/karma masa lalu kita, karena biasanya permasalahan-permasalahan hidup akan muncul banyak pada saat kita berumah tangga bukan berarti tahap hidup lainnya tidak ada permasalahan, namun permasalahan umumnya lebih banyak ketika kita berumahtangga. Sehingga permasalahan-permasalahan yang timbul dalam rumahtangga sering memicu emosi kemarahan kita. Marah itu memang kadang diperlukan kalau tujuannya untuk perbaikan misalnya untuk mendidik anak atau staf/karyawan.

Terkadang kita sering melihat seseorang yang cepat marah atau temperamental kadang juga kita melihat orang yang agak jarang marah atau sabar. Semua itu tergantung dari watak atau karakter seseorang. Watak dasar akan terbawa sejak lahir hasil dari karma kehidupan masa lalu dan dipoles dengan pendidikan dari lingkungan serta pengalaman hidup maka akan membentuk karakter seseorang. Dalam kitab Nitisastra disebutkan bahwa salah satu ciri kelahiran dari neraka (neraka cyuta) adalah orang yang suka marah-marah.

Dalam masyarakat sering kita dengan ungkapan bahwa kalau orang suka marah umurnya pendek. Mungkin hal itu benar adanya bila kita kaitkan pada suatu penelitian yang menyatakan bahwa mahluk hidup yang napasnya lebih pendek maka umurnya lebih pendek begitu juga sebaliknya. Sehingga ungkapan tersebut bisa jadi benar karena kalau seseorang sedang marah biasanya nafasnya pendek bahkan ada yang sampai tersengal-sengal. Umumnya bisa kita dikuasai kemarahan maka sering dianjurkan untuk menarik nafas panjang dengan tujuan agar marahnya cepat reda.

Kemarahan juga salah satu penghambat kemajuan sadhana spiritual, jadi kemarahan tersebut perlu dikendalikan, mungkin memang gampang diwacanakan tapi sulit dilaksanakan sekali lagi itu tergantung memang pada karakter dan kemauan serta usaha kita. Ada yang dengan gampang mengendalikan ada yang begitu sulit dan membutuhkan perjuang yang cukup panjang. Namun demikian bukan berarti tidak bisa.

Untuk mengendalikan marah bisa diupayakan dengan melakukan kegiatan sadhana spiritual secara rutin setiap hari apapun bentuknya, misalnya bhajan, Japam, Namasmaram, ataupun Meditasi. Bhajan (melantunkan kidung suci) adalah merupakan bhojan atau makanan jiwa, sedangkan dengan Japam atau namasmaram (mengulangulang nama Tuhan dengan terus mengingat-Nya) akan mampu menguatkan jiwa menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan sedangkan meditasi sangat efektif untuk mentrasformasi sifat-sifat negatif yang ada dalam diri seseorang termasuk sifat marah tersebut.

Jadi lakukanlah Sadhana spiritual secara rutin, serius dan teratur perlahan tapi pasti maka kita akan mampu mengendalikan kemarahan ataupun sifat-sifat negatif yang ada dalam diri kita.

Source: Ni Nym Sri Suyasni Pura