Mengembangkan Sifat-sifat Kedewataan

Tejah ksama dhrtih saucam Adroha na atimanita Bhavanti sampadam daivam Abhijatasya bharata
(Bhagawad Gita XVI.3)

Maksudnya: Cekatan, suka memaafkan teguh keyakinannya, berbudhi luhur, tidak iri hati, tidak angkuh. Semuanya itu ciri dari orang yang punya kecenderungan kedewaan (Daivi Sampad).

Di dunia ini ada dua jenis kecenderungan manusia. Ada kecenderungan keraksasaan atau Asuri Sampad dan ada kecenderungan kedewataan atau Daivi Sampad. Ciri-ciri manusia yang memiliki kecenderungan Kedewataan antara lain:

Tejah artinya cekatan atau cerdas dan bijaksana. Orang cerdas tidak sama dengan orang pandai. Orang pandai itu banyak tahu ilmu, tetapi belum tentu terampil mendayagunakan ilmunya itu untuk menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kehidupanya ini. Tejah itu disamping ada faktor pembawaan lahir juga karena pengalaman dan rajin menimba ilmu serta rajin berlatih dalam mengamalkan imunya itu. Selanjutnya menjadi orang yang bijaksana artinya mampu memandang hal-hal substantif dan yang tidak substantif dari setiap persoalan yang dihadapinya. Disaming itu ada rasa kemanusiaan yang dalam mendominasi dinamika emosinya. Dengan wiweka itulah dia akan dapat bertindak bijaksana. Sikap wiweka adalah sikap yang mampu membeda-bedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang pantas mana yang tidak pantas.

Ksama artinya suka memaafkan. Untuk menjadi seorang pemaaf tidaklah begitu mudah tanpa punya wawasan yang kuat dan dalam menyangkut hal itu. Seorang akan dapat mejadi pemaaf atau Ksama Murti apabila dia punya wawasan yang dalam tentang ajaran Weda dan punya keyakinan yang kuat bahwa Tuhan itulah sutra dara Agung kehidupan ini. Kalau ada orang sampai bisa menghina atau mengecewakan kita, hendaknya diyakini Tuhan pasti tahu hal itu. Karena Tuhan maha mengetahui atau jnyana sakti.

Mengapa Tuhan membiarkan kita kena hina atau dikecewakan orang. Dapat dipastikan karena kita pernah menghina atau mengecewakan orang entah kapan atau mungkin pada penjelmaan yang lampau. Sampai ada orang yang mengecewakan atau menghina kita, itu dapat diyakini bahwa Tuhan telah membiarkan orang kena hina atau dikecewakan untuk membersihkan dari dosa di masa lampau. Cuma sayangnya orang yang menghina atau mengecewakan itu mengambil dosa-dosa kita. Tuhan membiarkan orang itu mengambil dosa kita karena dia mau juga. Dengan wawasan dan sikap seperti itu kita akan tidak dendam pada siapapun. Dendam dapat menjadi beban mental yang merusak hidup kita.

Dhrtih artinya tabah dan ulet dalam menghadapi dinamika dan fluktuasi kehidupan ini. Pertama harus memiliki keyakinan pada ajaran karma phala sebagaimana diajarkan dalam Sarasmuscaya 74 yang menyatakan: Si mami tuhwa ri hananing karmaphala. Artinya orang yang amat yakin akan kebenaran ajaran Karma phala. Kedua ketabahan dan keuletan itu timbul karena yakin akan kebenaran yang sedang dilakukan. Karena yakin bahwa perbuatan yang benar dan baik pasti akan memberi pahala yang benar dan baik. Karena yakin akan kebenaran itu tidak mudah mewujudkan. Dari dua hal itulah muncul sikap tabah dan ulet.

Saucam artinya suci lahir batian. Suci lahiriah memiliki badan fisik yang sehat, segar dan bugar secara alami. Sedangkan suci rokhaniah adalah suci perasaan pikiran dan budhinya karena mampu menjadi media mengimplementasikan kesucian Atman. Pustaka Wreshaspati Tattwa 61 menyatakan: Sauca ngarania nitya majapa, maradina masarira. Artinya setiap hari melakukan Japa Mantram dan setiap hari memenjaga kesehatan badan.

Dengan melakukan Japa yaitu mengulang-ulang Mantram tertentu atau mengulang-ulang nama Tuhan itu dapat menguatkan pikiran atau yang disebut Brainwave Entertaiment atau terapi gelombang otak seperti yg dikemukakan oleh Roger Sperry tahun 1960. Hal itu salah satu dari cara menguatkan fungsi otak kanan mengimbangi otak kiri. Otak kanan menguatkan daya spiritual dan otak kiri menguatkan logika rationalitas. Kedua hal ini eksistensinya harusnya senantiasa seimbang saling memperkuat. Karena logika rational itu analisa sedangkan budhi dengan daya spiritualnya memutuskan. Kalau kerjasama otak kanan dan otak kiri terpadu orang akan cerdas dan bermoral yang luhur dan bermental yang tangguh.

Adroha artinya bebas dari dendam dan benci. Orang yang disebut memiliki kecenderungan Dewi Sampad atau kecenderungan kedewataan adalah tidak bisa dendam dan benci. Kalau ada orang marah itu sih manusiawi saja. Tapi kalau marah itu penuh dengan petuah yang memberi arah membuat jiwa cerah hidup menjadi bergairah. Dengan jiwa yang cerah bergairah itu meraih kehidupan yang penuh anugrah. Marah yang demikian itu sih marah hanya nadanya saja tapi dibaliknya ada manfaat yang dapat membawa hidup berma-tabat terhindar dari maksiat hidup sesat.

Natimanita artinya tidak angkuh. Sikap yang eksklusif itu sering membawa orang bersikap angkuh dalam pergaulan. Keangkuhan itu sering didorong oleh nafsu distinksi yaitu nafsu yang mendorong manusia untuk berbeda dan lebih dari yang lain. Kalau ini eksistensinya positif orang akan berbuat baik dan menunjukan prestasi secara positif. Tetapi kalau nafsu distinksi itu dinamikanya kearah negatif orang pun akan angkuh. Angkuh seperti itu tidak dimiliki oleh mereka yang memiliki kecenderungan kedewataan.

Membangun sifat-sifat agar semakin tumbuh kecenderungan Kedewataan dibutuhkan berbagai pelajaran dan latihan yang sesungguhnya sudah banyak tersedia teorinya dalam ajaran Hindu. Cuma dalam keadaan minat baca umat yang demikian rendah dan minat dan tekad melatih diri juga masih kurang, inilah penyebab kontek beragama Hindu masih banyak yang tidak konek dengan teks sastranya di pustaka suci.

Source: Ketut Wiana l Koran Bali Post Minggu Kliwon, 27 Desember 2015