Mengelola Pikiran Dan Perhatian Dalam Meditasi

Sederhananya, meditasi adalah seni untuk membuat pikiran stabil. Untuk menjelaskan dalam istilah awam,
dengan meditasi seseorang memasuki satu keadaan pikiran tanpa
bentuk-bentuk pemikiran

~ Ed. Viswanathan ~

PAKAH PIKIRAN ITU?

Ini suatu pertanyaan sulit yang lain untuk dijawab. Pikiran mempunyai ribuan definisi dan bila Anda membaca mereka semua, Anda akan lebih bingung lagi. Definisi yang paling mudah adalah : Pikiran (mind) adalah satu ruang di dalam mana bentuk-bentuk pemikiran (thoughts) berada, berdiam. Jadi, bila kita katakan pikiran telah menjadi tenang, itu artinya pikiran telah memasuki satu keadaan tanpa-pemikiran (a thoughtless state).

Bagian tulisan di atas adalah bagian tulisan yang dikutip dan disunting dari "Am I a Hindu?" karya Ed. Viswanathan, terjemahan N.P. Putra, yang dimuat secara berseri di maillist Hindu-Dharma Net. Bagian tulisan ini sengaja saya sunting, sadar akan betapa urgennya pikiran dalam meditasi.

Dalam meditasi, pikiran dapat dikatakan sebagai objek sekaligus subjek. Inilah seni olah-batin meditasi itu. Manakala kita bukan seorang meditator, dapat dipastikan kita akan gagal didalam menjelaskannya secara menyeluruh. Meditator memahami betul pikirannya, apakah itu menyangkut masalah prilaku, kemampuan, keterbatasan, hingga bagaimana memberdayakannya.

Tapi jangan salah, pemahaman sang meditator bukan diperoleh dari buku-buku maupun mata kuliah psikologi. Melainkan secara langsung dengan mencermati pikirannya sendiri. Bilamana saya yang harus menjawab pertanyaan tersebut misalnya, maka boleh jadi jawaban yang saya berikan adalah: "Anakku, yang kamu gunakan untuk mempertanyakannya itulah pikiranmu dan pikiran ayahlah yang menjawabnya kini". Kita semua dibekali pikiran (manah, mano), oleh karenanya pula kita disebut sebagai manusia yakni makhluk hidup yang diperlengkapi dengan pikiran, bisa menggunakan dan memberdayakannya.

Kembali pada urgensinya dalam meditasi, ada baiknya dikemukakan konstelasi batin kita secara keseluruhan terlebih dahulu. Untuk sederhananya, ijinkanlah saya meminjam stuktur yang dijelasakan menurut ajaran Buddha. Secara ekstrim, kita dibeda dalam dua kelompok yakni jasmani/lahir dan batin. Nah, batin inilah yang dapat dibedakan lagi menjadi 4 kelompok: perasaan, pikiran, pencerapan dan kesadaran. Secara berjenjang pun dalam berfungsi, hierarkinya juga seperti itu.

Perasaan adalah lapisan terluarnya; disusul oleh pikiran, pencerapan dan kesadaran (vijnana) menempati posisi tertinggi. Dalam pustaka-kuno Wrhaspati Tatwa, perasaan dapat dipersamakan dengan 'ambek'. Ialah yang pertama berinteraksi dengan stimulan yang masuk melalui gerbang indria saat terjadi kontak. Stimulan yang masuk, umumnya difiltrasi dan atau dinilai oleh perasaan. Nah, penilaian inilah yang membangkitkan suka atau tak suka. Secara jasmaniah, kita umumnya juga bereaksi sesuai perintah dari perasaan itu. Bila tak suka, ia kita hindari atau kita tolak; bila suka, ia kita gandrungi bahkan kita buru. Umumnya demikianlah kita menilai maupun bereaksi.

Dalam bidang IPTEK misalnya, penilaian serupa disebut penilaian subjektif. Ia tidak murni, ia telah terkontaminasi oleh penilaian subjektif yang menggunakan perasaan kita itu. Kembali saya tekankan, kebanyakan dari kita umumnya seperti ini didalam menanggapi suatu fenomena yang dialami. Namun tetap disadari kalau selalu ada pengecualian.

MENGANGKAT STRATA BATIN
Marilah kita anggap masing-masing kelompok batin sebagai suatu strata dengan hierarki seperti telah disebutkan tadi. Dalam bermeditasi, secara prinsipil kita mengangkat strata batin secara berjenjang menuju yang lebih tinggi. Dengan memperhatikan saja gerak-gerik perasaan saat ia bekerja, kita secara tak langsung telah menempatkan strata batin kita pada si pikiran. Selanjutnya, dengan memperhatikan saja pikiran itu sendiri, secara tak langsung pula kita menempatkan strata batin pada pencerapan. Demikian seterusnya secara berjenjang. Kita mengangkat strata melalui memperhatikannya. Kita memperhatikan yang lebih kasar, lebih rendah dengan secara otomatis memposisikan titik pandang pada yang lebih halus dan lebih tinggi atau lebih dalam. Oleh karenanyalah, perhatian atau atensi menempati posisi sangat fundamental disini.

Memang mudah untuk mengatakan seperti itu, namun untuk dapat memahami proses tersebut dengan baik, kita mesti mengamatinya langsung, mesti rajin dan tekun berlatih. Dianjurkan untuk mengawali latihan dengan memperhatikan fenomena atau perilaku jasmani terlebih dahulu. Ini akan sangat bermanfaat dan membantu di dalam mengkonsentrasikan pikiran-bila dianggap perlu dan membiasakan mengarahkan perhatian ke dalam diri, sebelum melanjutkan kejenjang-jenjang selanjutnya.

MENGELOLA PERHATIAN

Perhatian atau atensi di dalam psikologi adalah pemusatan kesadaran pada sebentuk fenomena dengan mengesampingkan rangsangan lain-yang tak ada relevansinya dengan yang diperhatikan itu. Atensi juga dikatakan sebagai kesadaran yang intens akan 'kekinian' kita. Di dalam 'kekinian' terkandung pengertian: ruang, waktu, dan segenap pengkondisi eksternal dan internal yang ada.

Mereka yang bisa memperhatikan dengan baik, akan bisa juga menyelaraskan diri dengan lingkungan dengan tepat. Dan mereka yang bisa menyelaraskan diri dengan lingkungan dengan tepat, akan bisa peka menerima manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungannya, dimanapun ia hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari dapat dirasakan kalau atensi punya dua besaran utama yakni: arah dan intensitas. Kita akan menerima manfaat yang optimal hanya dengan mengarahkan perhatian pada suatu fenomena tertentu dengan tanpa mengerahkan perhatian dalam intensitas yang cukup. Demikian juga sebaliknya, pengerahan intensitas yang tinggi tanpa arah yang pasti hanyalah penghambur-hamburan enerji mental dan waktu secara sia-sia saja. Memperhatikan dengan benar adalah mengarahkan perhatian dengan benar serta mengerahkan intensitas yang memadai terhadapnya, selama kurun Waktu yang dibutuhkan hingga tercapainya tujuan dari pengarahan dan pengerahan perhatian itu. Kalau kita hendak melatih perhatian, maka dua hal inilah yang perlu dilatih.

ARAH PERHATIAN

Memperhatikan sesuatu atau seseorang untuk melihat cacat-celanya atau kesalahan serta kekurangannva, bukanlah memperhaikan dengan benar. Pemborosan ini bukan saja tidak ada manfaatnya buat kita, namun ia cenderung memunculkan bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan negatif-seperti: pencelaan, peremehan, antipati hingga kebencian. Oleh karenanya, ini sama sekali tidak dianjurkan bagi seorang penekun spiritual. Savangnva, ini telah menjadi kebiasan kebanvakan dari kita.

Kalaupun kita perlu mengarahkan perhatian ke luar, maka semestinyalah ia bermanfaat. Manfaat cacat-cela atau kesalahan serta kekurangan seseorang sekalipun misalnya, bila bukan untuk mencela atau meremehkannya, melainkan sebagai pembelajaran buat kita agar tidak berbuat atau melakukan hal yang serupa, boleh jadi bermanfaat.

Namun tak banyak orang yang bisa benar-benar menarik menfaat daripadanya. Sebaliknya, mengarahkan perhatian ke dalam diri sendiri, memperhatikan cacat-cela, kelemahan dan kekurangan diri sendiri lebih mungkin memberi manfaat dalam perbaikan diri.

INTENSITAS PERHATIAN JANGKA-WAKTU MEMPERHATIKAN

Perhatian yang hanya sepintas, yang arahnya terpencar, berpindah-pindah dengan cepat, tidak disertai dengan intensitas yang memadai. Kita mesti mengarahkan perhatian pada suatu objek- baik di luar maupun di dalam- dengan intensitas tertentu dan dalam jangka waktu tertentu, agar bisa benar-benar menarik manfaat dari pengarahan perhatian ini.

Kita tak akan tertarik untuk memperhatikan sesuatu yang tidak kita minati bukan? Sebaliknya, tanpa perlu disuruh-suruh, kita akan memperhatikan apa yang kita minati atau gandrungi. Kendati mengarah ke luar, para seniman pencipta, para pencipta dan penemu di dunia sains, dilengkapi dengan kemampuan memperhatikan dengan benar- terarah, dalam intensitas yang memadai serta jangka waktu secukupnya. Ini memang erat kaitannya dengan minat dan bakat mereka, namun tetap saja pengelolaan perhatian mengambil peran yang sangat menentukan sehingga karya-karyanya menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan dinikmati banyak orang. Memperhatikan dengan baik dan benar inilah yang memberi manfaat.

Namun, terkait dengan meditasi ini, yang benar-benar bermanfaat secara batiniah adalah perhatian vang sepenuhnya mengarah ke dalam- dalam intensitas dan jangka waktu secukupnya itu. Disinilah tampak perlunya pengendalian arah perhatian, atau pengelolaan perhatian secara menyeluruh yang tak mungkin dilakukan tanpa hadirnya kesadaran yang mantap.

PENGENDALIAN DAN PERLUNYA PELATIHAN

Makanya, setidak-tidaknya ada dua bentuk pengendalian yang dibutuhkan guna dapat memperhatikan dengan baik dan benar: (i) pengendaian arah, (ii) pengendalian jangka-waktunya. Namun jangan salah, pengendalian yang dimaksud disini tidak harus berupa pemaksaan- yang nyaris tak pernah tidak menghadirkan konflik internal, betapa kecilpun intensitasnya. Jadi, ia bukan pemaksaan, melainkan lebih pada pengelolaan dengan benar sesuai dengan peruntukannya. Kalaupun ada sementara orang dan untuk sementara hal tertentu yang diminati seakan-akan telah mampu mengarahkan perhatian dengan baik dan benar serta tetap mempertahankannya selama jangka-waktu tertentu yang dibutuhkan, namun pada kebanyakan dari kita masih perlu berlatih untuk itu.

Bagi mereka yang menaruh minat yang besar pada sesuatu misalnya, malah akan merasa sangat sulit untuk memperhatikan perhatiannya kepada yang lainnya. Apalagi kalau yang lainnya ini adalah sesuatu yang tidak diminatinya. Mengarahkan perhatian ke luar misalnya, telah menjadi kebiasaan yang terus kita lakukan setiap hari. Kita seolah-olah tak punya pilihan lain, hanya lantaran ia terlanjur dibiasakan. Oleh karenanya, kita perlu latihan yang cukup serius hanya agar bisa mengarahkan perhatian ke dalam, disamping selalu awas terhadap kecenderungan untuk selalu mengarahkan perhatian ke luar.

Jadi, kembali mesti dikatakan lagi kalau, agar bisa benar-benar menarik manfaat dari setiap pengalaman hidup, kita mesti bisa memperhatikan dengan baik dan benar. Dan untuk itu, kita perlu berlatih mengendalikan perhatian. Ini semualah yang kita sebut dengan "mengelola perhatian dengan baik dan benar".

SEBUAH TIPS LATIHAN RINGAN

Bernafas selalu kita lakukan, dimanapun kita berada dan kapanpun itu adanya. Ia sangat dekat dengan kehidupan dan hidup itu sendiri. Menjadikannya objek meditasi, objek untuk diperhatikan merupakan sebentuk pelatihan yang sangat praktis, mudah dan murah. Anda tak perlu alat-bantu luar- seperti tasbih atau japa-mala, atau apapun; tak perlu menarik perhatian banyak orang dengan memainkan bulir-bulir tasbih Anda dimana-mana misalnya. 'Tasbih nafas' selalu kita bawa kemanapun tubuh ini membawa kita. Jadikanlah keluar-masuknya nafas sebagai butir-butir tasbih anda.

1. Duduklah dengan santai- di suatu tempat yag kondusif bagi ketenangan Anda. Pastikan kalau Anda tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak perlu- seperti lapar, haus, mengantuk, pakaian yang terlalu - sempit, aroma yang menusuk hidung, nyamuk, sengatan panas matahari, angin yang terlalu kencang, keributan yang berlebihan dan sebagainya- sebelum benar-benar duduk berlatih.

2. Pejamkan mata dan lepaskan semua bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan yang selama ini memenuhi benak Anda, kecuali niat berlatih. Biarkan hanya hasrat berlatih ini saja yang tersisa di benak Anda.

3. Mulai arahkan perhatian Anda hanya pada keluar-masuknya nafas. Ketika menarik nafas, cacat dalam hati 'masuk'; ketika menghembuskan nafas, cacat dalam hati 'keluar'. Hanya itu. Jangan hiraukan suara-suara yang terdengar atau apapun yang terlihat dan tercium.

4. Segera tarik nafas agak dalam bila perhatian mulai menyimpang lagi, atau bila muncul-muncul bentuk pemikiran atau perasaan yang tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang Anda lakukan, tahan nafas sejenak dan hembuskan perlahan. Bila pikiran sedikit membandel, Anda bisa  juga tambahkan bantuan perafalan suku-kata 'hang' saat menarik nafas, dan merafal suku-kata 'sah' saat menghembuskannya. Itu cukup di dalam hati saja. Dengan begitu, secara tidak langsung, And jga telah menyebut nama-Nya pada setiap tarikan dan hembusan nafas Anda.

5. Tetap pertahankan kondisi  itu semampunya.

Bila Anda bisa memanfaatkan waktu senggang Anda- disela-sela kesibukan sehari-hari Anda dan menjadikannya aktivitas rutin Anda, seperti: seperti sedang antre karcis, saat menunggu tibanya makanan yang Anda pesan di kantin, saat menunggu bus dan di dalam perjalanan pulang kerja dan sebagainya- dengan cerdik dan benar-benar berguna seperti ini, Anda bisa merubah kebiasaan mengarahkan perhatian ke luar selama ini dengan relatif cepat, disamping manfaat lain seperti ; ketenangan, kejernihan, kewaspadaan dan yang lainnya yang boleh jadi tak pernah Anda duga sebelumnya.

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 522 Juni 2010