Mengapa Hindu Indonesia Aneka Ragam?

Beberapa tahun paska Indonesia merdeka Bapak Jawaharlal Nehru Presiden India waktu itu yang sempat bertandang ke Indonesia, ketika kemudian melihat adanya Hindu versi Bali, beliau berkomentar: "I sew Hindu everywhere but lam not recognize it" (saya melihat Hindu ada dimana-mana tapi saya tidak mengenalinya). Maksud kata tidak mengenalinya ini adalah karena "praktek beracara" (meminjam bahasa hukum) dimana agama Hindu itu dalam mempraktekkan atau melaksanakan konsep-konsep ajarannya selalu membaur alias "menjelma" atau bermetamorphosis (muncul dalam bentuknya yang lain) kedalam tradisi, budaya suatu etnis dimana dia berkembang.

Namun kita, (tentu saja kalau cerdas dan seksama menelitinya) pasti akan bisa mengenalinya dari beberapa sisi kesamaan yang bersifat substantif dan hakiki dari konsep ajaran Hindu itu sendiri seperti antara lain beberapa garis besarnya saja yakni : adanya unsur air suci-nya atau Tirtha. Kemudian ada unsur api (dupa atau pedupaan. Bhs. Bali: pasepan) symbol Dewa Agni sebagai Dewa Saksi. Kemudian ada konsep Pitra Puja atau penghormatan kepada leluhur yang ternyata masih terbawa-bawa sampai sekarang oleh masyarakat Indonesia yang walaupun sudah tidak menganut agama Hindu lagi seperti budaya "Nyekar" ke kuburan walaupun acara ini kemudian sengaja dicari-carikan tafsir lain seperti katanya hanya bermaksud mendoakan sang almarhum yang tentu saja maksudnya agar tidak terkesan mengadopsi keyakinan Hindu.

Padahal jika maksudnya hanya mendoakan, mengapa tidak ditempat ibadah saja? mengapa harus dikuburkan? Kemudian berkiblat kearah gunung yang dalam mitologi Hindu dianggap sebagai stana para Dewa, dalam hal ini Dewa Ciwa di Gunung Kailasa, sehingga kalau kita lihat tradisi etnis yang ada dibeberapa wilayah negara kita dimana dalam sesajennya atau upacaranya pasti selalu ada tumpeng sebagai simbol gunung bahkan ada sesajen bernama gunungan dengan bahan buah-buahan atau hasil bumi sebagai symbol rasa terimakasih masyarakat petani kepada Sang Pencipta atas keberhasilan pertanian mereka.

Begitu, juga ada "etnis yang menaruh jasad orang yang meninggal diatas gunung atau pada tebing-tebing tinggi dengan harapan lebih cepat menyatu atau paling tidak akan lebih dekat dengan Sang Penciptanya, walaupun mungkin masyarakat awamnya tidak sampai-berfikir ke arah itu atau mungkin ada yang memberi tafsir lain. Kemudian kiblat yang lain yakni matahari terbit sebagai sumber dari segala sumber energy (makanya sulinggih Hindu selalu melakukan Surya Sewana atau hormat/ melakukan pelayanan kepada Dewa Matahari setiap pagi dengan doa Om Raditya). Atau kiblat laut dimana berstana Dewa Waruna yang diyakini sebagai pelebur segala mala. Makanya beberapa etnis dinegara kita walaupun sudah tidak mengaku lagi sebagai Hindu tetapi tetap percaya dan melaksanakan ritual "bersih diri" (istilah Bali : melukat) dilaut atau di sungai yang notabene bermuara ke laut, sebagaimana tradisi India mandi di sungai Gangga.

Selanjutnya ada lagi ciri Hindu lain yang masih sangat kental diwarisi dan masih taat dilaksanakan oleh berbagai etnis di tanah air adalah yang tidak bisa lepas dan upacara "selametan" yang menggunakan sarana sesajen. Terutama sekali upacara sedekah laut atau apapun istilahnya sebagai tanda terimakasih kepada Dewa Waruna atau Dewi Gangga yang kemudian bermetamorphosis kedalam tradisi lokal sebagai "Penguasa Laut Selatan" oleh para nelayan di Jawa atau ada upacara selametan kepada Dewi Sri (sakti Dewa Wisnu) oleh para petani padi ini suatu pertanda pengakuan secara tidak langsung terhadap konsep Ketuhanan Patheisme Hindu, yang sebenarnya juga sangat dilarang oleh kelompok agama-agama Abrahamik tapi kenyataannya tidak mampu mereka bendung.

Jika anda atau siapa saja umat Hindu melihat gejala atau kriteria ini dilakukan oleh masyarakat atau etnis-ei.iis dimana saja di Nusantara ini maka yakinlah bahwa mereka itu adalah saudara anda, saudara kita mantan-mantan penganut Hindu sejak era Kutai hingga Majapahit yang tercerai berakibat situasi politik dengan runtuhnya Majapahit sebagai pelindung dan kordinator Hindu se-Nusantara disusul masuknya agama baru yang nota bene agama mission yang bukan saja sangat pro-aktif tetapi juga repressive.

Keadaan ini bukan saja membuat "ketakutannya" umat untuk menampakkan identitas dirinya sebagai penganut Hindu tetapi juga membuat terputusnya komunikasi diantara kelompok-kelompok Hindu yang satu dengan yang lain lebih-lebih dengan kondisi geografis negara kita yang terdiri dari pulaupulau yang terpisah. Belum lagi dengan kedatangan penjajah Barat yang juga didomplengi oleh agama mission baru yang lain. Sementara lembaga Parisada sebagai koordinator atau mediator pemersatu persepsi sesama umat Hindu sebagaimana fungsinya sekarang, relative baru saja ada sekitar tahun 50-an itupun masih berbau lokal satu etnis.

Ini berarti beratus-ratus tahun lamanya umat Hindu dari era Kutai, Tarumanegara, Pajajaran hingga era Majapahit tidak terbina. Mereka menafsirkan ajaran Hindu sesuai kemampuan tokoh-tokoh lokal di masing-masing daerah secara apa adanya. Faktor inilah yang mempengaruhi mengapa umat Hindu di Nusantara ini nampaknya seperti berbeda-beda alias ber-metamorphosis kedalam budaya etnis-etnis setempat (loka drsta). Lihat saja bentuk candi di India yang tidak persis sama dengan Pura di Bali lebih-lebih dengan budaya Sanggah yang mungkin tidak ada di Jawa apalagi di India.

Kemudian perbedaan sebutan nama-nama Tuhan (Hyang Widhi di Bali dan Jawa, Nenek Kaji di Lombok, atau ada lagi Nining Batara atau Debata, atau Ranying Hatala Langit dsbnya). Begitu juga dengan perbedaan nama, jenis dan istilah upacaranya namun kalau dicari maknanya pasti akan bertemu dengan intisari yang diklasifikasikan dalam Panca Yadnya. Kemudian pakaian sembahyangnya termasuk kitab-kitab suci agama versi /tafsir lokalnya (kalau di Bali dengan berbagai jenis Lontar-nya atau di Jawa dengan istilah : Serat) ini lahir di masing-masing etnis dimana Hindu itu berkembang dengan istilah atau judul yang mungkin berbeda-beda pula, termasuk sebenarnya kita tidak perlu heran apalagi mempersoalkan jika umat Hindu Kaharingan punya juga kitab suci sendiri yang bernama Kitab Panaturan. Begitu juga nama "agamanya" atau nama keyakinan lokalnya seperti: Kejawen, Sunda Wiwitan, Alok Todolo atau ada juga yang memberikan sebutan sesuai dengan nama etnisnya.

Penulispun waktu kecil tidak tahu nama agama yang penulis anut. Para orang tua waktu itu menyebutnya: Game Bali atau Game Tirte. Alasannya sederhana saja yakni karena kita etnis Bali dan selalu dalam sembahyang menggunakan air suci atau Tirta, namun kalau kita renungkan TATTWA-TATTWA atau filosofinya akan ketemu pada makna yang sama. Kalau didalam agama non-Hindu barangkali fenomena ini tidak mungkin atau malah dianggap aliran sesat yang membahayakan agama alias harus dibasmi atau bisa juga sebaliknya jika populasinya relative cukup banyak maka "terpaksa" diterima dengan dicari-carikan tafsir lain misalnya dengan di "dihakimi" secara sepihak sebagai budaya alias bukan agama.

Tapi di Hindu fenomena seperti ini bukan saja mungkin tapi dianggap hal biasa. Mengapa? Karena faktanya dari segi sistem per-kitab sucian kita saja sudah bisa kita lihat adanya peng"halal"an tafsir tsb dengan adanya 2 (dua) pengelompokan besar kitab suci kita yakni kitab-kitab Sruti (Wahyu) dan Smerti (Tafsir). Bahkan pola pikir Hindu yang sangat terkesan lebih "merdeka dan demokratis" adalah dimana sang penafsir kitab suci tidak mutlak "HARUS" menjadi otoritas satu Maharsi saja apalagi harus Maharsi dari India saja, karena faktanya penafsir-penafsir kitab suci Hindu banyak juga orang-orang suci atau para leluhur yang dianggap suci oleh umatnya dimasing-masing daerah yang notabene adalah orang Indonesia asli dengan kwalitas "SDM" yang tidak kalah memadai juga.

Sebenarnya fungsi hakiki kitab-kitab tafsir ini secara logika "common sense" adalah untuk mengatur masalah kemasyarakatan yang notabene bersifat dinamis  atau berkembang terus. Sehingga tidak ada keharusan dalam Hindu di mana aturan atau hukum yang diterapkan dizaman "kuda makan besi" harus tetap diterapkan di zaman tekhnologi canggih seperti sekarang. Kalaupun barangkali masih ada tradisi yang dianggap "menyimpang" dari konsep Weda sebagai kitab suci induknya, hal ini biasanya tidak bersifat wajib dengan kata lain masih bisa direvisi bahkan dihapus asal yang penting ada kesepakatan bersama atau Atmanastuti, contoh: tradisi MESATYA yakni istri (biasanya istri raja) yang gugur dalam perang). Walaupun ironisnya adalah dimana dalam kasus-kasus "penyimpangan" terhadap Weda ini adalah justru yang berani melakukan/ mengoreksi adalah pemerintah jajahan dan bukan lembaga umat Hindu.

Faktor inilah yang menyebabkan Hindu itu bisa bersifat fleksibel, bisa menyesuaikan diri dengan zaman apa saja, bisa berkembang dimana saja, bisa menyesuaikan diri dengan budaya dan pola pikir masyarakat yang mana saja dengan tidak "merusak" tatanan budaya setempat apalagi menganggap sebagai "musuh" atau "saingan" sehingga faktanya tidak pernah kita dengar penyebaran Hindu lewat jalan perang. Kalaupun dalam sejarah kerajaan-krajaan Hindu ada perang, itu lebih disebabkan karena motif politik atau perebutan kekuasaan dan bukan dalam hubungan penyebaran agama.

Mungkin karena itulah mengapa dalam sejarah proses penyebaran agama-agama lain. Malah dalam kenyataan, "rohnya" Hindu bukan saja bisa diterima tapi bahkan bisa menyatu dengan jiwa penganut Hindu itu sendiri dimana dia berkembang dan menganggap agama yang dianutnya itu sebagai "agama asli" miliknya sendiri, padahal sebagaimana kenyataan yang kita ketahui bersama bahwa semua agama yang diakui di Indonesia ini adalah "barang" import.

Sehingga kita tidak usah kaget seandainya mendengar ada saudara kita dari masyarakat Jawa misalnya (terutama yang bukan Hindu tentunya) ngotot mengatakan bahwa kitab Ramayana atau Mahabharata itu bukan dari India, bukan milik Hindu tapi kitab asli orang Jawa katanya. Jadi paradigma berfikir agama yang konsisten mengakui eksistensi perbedaan alias bisa menyatu dengan lokal genius budaya setempat (Loka Drsta atau Acara) merupakan karakter khas dari Hindu itu sendiri sekaligus yang membedakannya dari agama-agama lain, dimana yang tersebut terakhir notabene lebih mengutamakan keseragaman, padahal perbedaan adalah hukum alam alias Hukum Tuhan (Rta) yang tidak mungkin bisa "dilawan" oleh manusia, bahkan para ilmuwan pun mengakui ini dengan teori relativenya (identik dengan filsafat Maya dalam Hindu).

Sehubungan dengan itu kita sebenarnya harus heran kalau di zaman dimana umat Hindu sudah banyak yang "membuka" ajaran agamanya, lalu kita ada mendengar (mudah-mudahan sudah tidak ada lagi) tokoh Hindu dari Bali yang mau "memaksakan kehendak" mem-Bali-kan umat Hindu yang berasal dari etnis lain. Hal ini bukan saja berpotensi melahirkan friksi diantara umat Hindu itu sendiri, tetapi juga kita umat Hindu tidak melihat "fitrah" atau watak asli agamanya yang mengakui eksistensi perbedaan.

Mengapa orang Bali tidak berkaca pada wajahnya sendiri? Dimana orang Hindu Bali sendiri dalam praktek agamanya "tidak mau sama" dengan model atau budaya Hindu di Jawa atau di India tetapi sebaliknya mau memaksakan model budayanya kepada orang lain? Beda persoalannya jika orang lain karena kesadarannya sendiri memang mau menerima. Karena main paksa atau main penyeragaman itu bukanlah watak asli pola pikir Hindu. Pembaca boleh percaya dan boleh tidak, bahwa kalau saja dulunya Indonesia ini tidak pernah punya "fondasi" beragama Hindu, yakinlah bahwa Indonesia ini tidak akan pernah mengenal atau mewarisi semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Orang Bali tidak akan mengenal istilah Mulat Sarire, begitu juga orang Jawa tidak akan mengenal istilah Tepo Seliro, karena biasanya agama mayoritas cenderung egois dan cenderung memarginalkan kelompok minoritas. Mau bukti? Waktu runtuh Majapahit dulu, mengapa umat Hindu yang masih loyal beragama Hindu harus lari terbirit-birit ke Gunung Bromo atau ke Bali menyelamatkan diri atau mengapa orang Badui harus "bersembunyi" atau mengisolir diri saat Kerajaan Pajajaran runtuh? padahal katanya agama baru yang datang kemudian itu adalah agama perdamaian (tentu menurut kata penganutnya). Oleh karena itu, menyadari fenomena semua ini, umat Hindu dimanapun berada dari ras atau emis apapun berasal : Bersatulah!!! Tidak usah membesar-besarkan identitas masing-masing. Tafsir kita boleh sempit, tafsir kita boleh parsial, tapi yang jelas konsep Hindu tidak sesempit kemampuan tafsir atau sebatas apa yang kita duga.

Dalam hal ini kiranya tidak berlebihan kalau ada buku tentang Hindu yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Media Hindu berjudul "Hindu Agama Terbesar di Dunia" dari judul aslinya: "Hinduism, The Greatest Religion In The World". Dimana tentu saja maksud kata besar disini (bhs. Inggris : Great dan bukan Big) bukanlah besar dalam arti populasi penganutnya melainkan lebih dimaksudkan besar dalam artian berjiwa besar, konsep besar atau universal. (Penulis adalah mantan Pengurus PHDI Kota Mataram-Lombok NTB)*

Source: I Ketut Panca Putra l Warta Hindu Dharma NO. 503 Nopember 2008