Meneguhkan Jalan Peradaban

Hari raya Nyepi pada hakikatnya adalah peristiwa budaya dengan diakuinya tahun Saka pada 78 Masehi oleh Raja Kaniska I di India Utara. Hal itu seiring dengan perubahan strategi perang sang raja: menjadi diplomasi dan persahabatan.

Raja Kerajaan Gandhara dengan pusat pemerintahan di Purudapura (Peshawar) itu telah berhasil membentangkan pengaruhnya, mulai dari Afganistan sampai India, sebelum akhirnya dia menempuh jalan perdamaian.

Oleh karena itu, umat Hindu di Indonesia, khususnya Bali, merayakan pergantian tahun Saka itu dengan mawas diri, sambil menerapkan empat pantangan (caturbrata penyepian): tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), tidak bersenang-senang (amati lelanguan), dan tidak menyalakan api/lampu (amati geni).

Hari itu, Bali pulau seluas 5.600 kilometer persegi sepenuhnya akan menjadi sepi, tenang, dan nyaman, serta gelap gulita di malam hari. Hanya tempat-tempat tertentu yang diizinkan menjalankan aktivitas rutin secara terbatas, seperti rumah sakit, hotel, dan tempat penting lainnya.

Sebagai peristiwa budaya, konsep mawas diri berlaku bagi setiap orang, setiap organisasi, dan setiap bangsa. Dengan jalan demikian, umat manusia berusaha meneguhkan jalan peradaban melalui pergantian zaman.

Peradaban dalam pengertian kemampuan manusia mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Peradaban yang berhubungan dengan suatu perbaikan yang bersifat kualitatif dan menyangkut kondisi batin manusia, seperti dikemukakan Albion Small (dalam Supratikno Rahardjo, 2011).

Kita pun sebagai bangsa sedang melakukan ”mawas diri” dalam usaha melanjutkan pembangunan bangsa untuk meningkatkan kualitas kehidupan, lahir dan batin. Dan, jalan yang ditempuh adalah jalan peradaban. Meskipun tidak mudah, program Nawacita haruslah bisa terwujud melalui kekuatan ”revolusi mental” yang terus menghadapi banyak tantangan. Sebutlah seperti korupsi, kolusi, nepotisme, serta penyebaran narkotika dan obat-obatan berbahaya yang kini makin menyebar ke berbagai kalangan.

Bersamaan dengan itu, muncul pula radikalisme yang merebak di kalangan mahasiswa, guru, dan pelajar. Mengutip hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kompas (19/2/2016) memberitakan, paham radikal telah menguasai kampus. Sejumlah 76,2 persen guru dan 84 persen siswa menginginkan peraturan berdasarkan agama, dan 52,3 persen siswa mendukung kekerasan untuk solidaritas agama, serta 14 persen siswa membenarkan aksi peledakan bom. Sungguh angka-angka yang sangat mengkhawatirkan bagi negara yang berdasarkan Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika-nya.

Krisis eksistensial
Apakah kita sedang ikut hanyut dalam krisis global yang disebut krisis eksistensial? ”Krisis ini merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia. Untuk pertama kalinya kita dihadapkan pada ancaman kepunahan ras manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini,” tulis Fritjof Capra dalam bukunya, Titik Balik Peradaban (2000).

Tampaknya, dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual itulah yang sedang kita hadapi sekarang ini. Perbedaan dan keanekaragaman yang menjadi ciri keindonesiaan kita tidak lagi menjadi rahmat seperti yang pernah menyatukan pandangan para pendiri bangsa pada masa lalu. Dalam banyak hal kita telah gagal merajut kebinekaan sehingga menjadi musibah bagi kaum minoritas. Mereka dilanggar haknya, bahkan terusir dari kampung halamannya sendiri, meskipun konstitusi menjamin hak-hak kaum minoritas itu.

Di bidang intelektual, mayoritas dosen kita ternyata belum tersertifikasi sehingga kompetensi mereka belum terjamin. Sementara di bidang spiritual, banyak kekayaan budaya dan agama-agama lokal kita yang masih terpinggirkan menuntut perhatian pemerintah. Padahal, justru kebudayaanlah yang menjadi faktor penting untuk mewujudkan cara beragama yang saling memahami sehingga agama benar-benar mampu menjadi rahmat bagi semesta alam.

Khusus di bidang pendidikan agama, dapatkah kita mengalirkan pemahaman kepada para siswa bahwa perbedaan itu hanyalah cara dan ”baju” luar agama-agama untuk menunjukkan kekayaan wahyu Tuhan kepada manusia? Misinya tetap sama, yaitu cinta kasih kepada sesama dan alam semesta.

Misi wahyu itu telah banyak ditunjukkan dalam laku dan karya para nabi, sufi, dan para maharesi dari berbagai agama. Hasil renungan, syair-syair dan karya tulis mereka perlu kita tanamkan di hati para pelajar dan mahasiswa sehingga keindahan dan keluasan pemikiran mereka dapat ikut kita nikmati untuk memperdalam saling pengertian antar-umat beragama.

Oleh: Raka Santeri l print.kompas.com