Mendulang Generasi Emas di Jaman Selaka, Mungkinkah?

Terminologi generasi emas, boleh jadi hanya otopia belaka jika belum terumuskan dengan indicator yang terukur. Dan masalah ini bukan ‘barang baru’ karena diskusi tentangnya sudah lama berlangsung. Menjadi bias ketika batasan waktu untuk memetakannya juga samar. Pembabakan sejarah dengan hanya bertumpu pada angka tahun belumlah tepat, apalagi memakai periode putaran Catur Yuga.

Di Amerika dan Eropa misalnya, pencapaian mereka, terutama di bidang teknologi, ekonomi, dan sumber daya manusia, mungkin dianggap sebagai golden age saat temuan-temuan muktahir menjadi standar bagi negara lain untuk mengikutinya. Pada saat yang sama, kebajikan dari timur mengangap kecemerlangan dunia barat hari ini mendekati sandhyakalaning, saat kebatilan ikut pula menjadi penyebab berbagai kejahatan tingkat tinggi. Gejala terorisme yang main canggih, konflik berdarah, drama konspirasi, termasuk hoaxisme yang merajalela dituduh sebagai simpul datangnya pralaya, kiamat. Justri Kali Yuga, bukan jaman emas.

Pembagian jaman dan pemaknaan atas lintasan generasi mungkin bukan lagi pokok masalah. Jauh lebih penting bagaimana mempersiapkan generasi kita menjadi lebih baik, sehingga siap memikul banyak harapan di masa depan. Untu itu, perlu pemetaan data tentang komposisi jumlahnya, usia produktifnya, tingkat pendidikannya. Dari data ini, strategi bisa disiapkan, laiknya prajurit yang akan bertempur di medan perang. Jangan sampai membunuh tikus dengan nuklir.

Menyiapkan ‘generasi emas’, jika terpaksa menggunakan istilah ini, harus pula melihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Mengapa? Generasi muda Hindu adalah bagian integral dari IPM Indonesia. Artinya, jika generasi muda Hindu berkualitas maka mereka juga menyumbang untuk naiknya posisi IPM Indonesia.

IPM adalah cara untuk melakukan pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua Negara seluruh dunia. IPM telah digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah Negara itu maju, berkembang atau terbelakang, dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup. IPM juga dimaksudkan untuk mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia, yaitu (1) hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran; (2) pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua pertiga) dan kombinasi pendidikan dasar, menengah, atas gross enrollment ratio (bobot satu pertiga); dan (3) standar kehidupan yang layak diukur dengan logaritma natural dari produk domestic bruto per kapita dalam paritasi daya beli.

Dengan mencermati IPM, kita dapat mengambil hikmahnya karen: (1) IPM merupakan indicator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk); (2) IPM juga dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/Negara; (3) bagi Indonesia, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU). Berdasarkan IPM ini, kita menemukan fakta bahwa angka IPM Indonesia meski sejak 2009 (0,593) sudah berada pada angka 0,600 (2010), 0,617 (2011), dan 0,629 (2013) tetapi masih jauh dari Norwegia yang sudah menyentuh angka 0,965. Begitu juga ditingkat Asia, kita harus bekerja keras menyamai Jepang yang sudah sampai angka 0,649.

Jika mengacu pada tiga dimensi dasar IPM di atas, maka harus ada grand strategy dan grand design untuk menyokong persiapan mendukung generasi emas Hindu. Pendek alasan, kita harus lebih focus pada masalah-masalah krusial seperti kesehatan, pendidikan, dan standar hidup yang layak. Jika minimal tiga dimensi ini dapat dipenuhi, generasi emas Hindu di jaman selaka ini, mungkin akan menjadi berita baik. Masalahnya, sudahkah kita memiliki rencana seperti ini?

Mari kita koreksi beberapa cara kita yang selama ini ternyata masih konvensional dan tradisional dalam membina umat. Di bidang pendidikan, khususnya keagamaan karena pendidikan agama sudah menjadi ranah Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, kita masih belum memiliki Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang terukur, sehingga pekerjaan mempersiapkan generasi emas melalui pendidikan menjadi terbaik: menyiapkan berbagai macam bumbu, bahkan base genep, tapi tidak tahu akan membuat makanan apa. Di bidang kesehatan, kita malah belum memiliki strategi khusus karena hanya menyerahkan sepenuhnya kepada instansi terkait, Kementerian Kesehatan. Pengobatan gratis dan pemeriksaan kesehatan yang banyak dilakukan untuk umat lebih bersifat formalistik dan temporer. Seperti lebah, mengrunyugan, setelah itu menghilang. Bagaimana dengan budaya sehat di Pura, budaya bersih untuk kegiatan keagamaan, masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Lalu, bidang ekonomi?

Setali tiga uang dengan dua bidang sebelumnya. Ekomoni kreatif Hindu, sebagaimana pernah penulis singgung di majalah ini, tidak memiliki formulasi, bahkan cenderung tumpang tindih dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi dan UKM. Ekonomi berbasis keumatan dengan nilai kehinduan menjadi minor. Sayangnya, pola pembinaan kesejahteraan umat tidak bersifat praktis dan konkrit, misalnya sembari memberikan dharmawacana dan mendistribusikan buku dan kitab suci, kenapa umat tidak diberikan sumber-sumber daya yang membuatnya hidup lebih lama. Tidak memberi ikan, tetapi memberi kail, misalnya bibit ikan, kambing betina, pohon-pohon produktif.

Selama nirstrategi dan program yang jelas untuk mempersiapkan generasi muda Hindu, rasanya agak berat mendulang generasi emas yang celakanya bukan pada jaman emas, tapi perak, selaka.

Oleh: I Nyoman Yoga Segara l Antropolog IHDN Denpasar
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017