Mendambakan Kematian yang Indah

Nikrtta-paksam rudhiravasiktam
Tam grdharajam parigrhya raghavah
Kva maithili prana-sama gate'ti
Vimucya vacam nipapata bhumau
(Val. Ramayana III.67.29)

"Sri Rama memeluk Jatayu yang sayapnya terpotong dan seluruh tubuhnya berlumuran darah, ditanyakan tentang keberadaan belahan jiwanya Sri Rama, Dewi Sita, yang sudah pergi (dilarikan Rahvana), lalu Jatayu terjatuh ke atas tanah."

Orang menginginkan kematian indah tetapi tidak semua beruntung mendapatkannya. Jatayu, sang raja burung yang mencoba menyelamatkan Dewi Sita dari tangan Ravana merupakan salah satu yang beruntung mendapatkan kematian indah. Ia melepaskan nyawanya di hadapan Rama dan Laksamana, bahkan dipeluk oleh Rama dalam keadaan berlumuran darah. Pelukan Sri Rama bukanlah sembarang pelukan, dan itu merupakan pesan rama kepada Hanuman bahwa pelukannya adalah harta berharga bagi Rama. Pelukan tersebut didapatkan oleh Jatayu sekaligus menjadi "pengantar" pulang ke alam pembebasan. Moksa. Jatayu beruntung memperoleh kesempatan meninggal di jalan sangat indah.

Kematian menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan orang. Sepertinya kematian adalah kecelakaan besar dalam hidup. Kematian seolah-olah menjadi kegagalan hidup. Ketika orang bersuluh pada ajaran Veda maka kematian akan dilihat tidak sebagai sesuatu yang menakutkan karena kematian merupakan bagian dari perjalanan putaran hidup.

Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami menyebutkan kematian sebagai kebenaran pasti. Keberadaan Tuhan barangkali masih bisa diperdebatkan namun tidak perihal kematian. Semua dapat melihat kematian terjadi setiap hari di sana-sini dan terhadap semua mahluk. Kematian adalah kepastian yang pasti terjadi. Tidak ada mahluk hidup di dunia ini yang bebas dari kematian.

Orang bijaksana melihat kematian dalam pandangan kebenaran Veda dan juga mengusahakan agar diizinkan oleh Hyang Paramakawi untuk mendapatkan kematian yang tidak menyakitkan. Bagi para Jnani terpelajar dan para bhakta yang menginginkan pembebasan dari kesengsaraan duniawi, mereka menempuh jalan yang ditunjukkan oleh sastra Veda, antara lain dengan mengucapkan mantra seperti Maha-mrtyunjaya, mempraktikkan Jnana-yoga, Bhakti-yoga, dan lain-lain.

Masyarakat umum memilih berdoa prarthana dengan cara sederhana. Mereka "bercakap-cakap" dengan Tuhan, memohon untuk meninggal dalam keadaan tenang damai tanpa kesakitan dan tanpa menyakiti yang lain dan/atau memberikan kesakitan pada yang lain. Doa prarthana yang sangat sederhana tetapi indah.

"Bhasmantam Sariram" - mereka menginginkan agar pada detik-detik kematian tiba mereka bisa meninggalkan badannya untuk lebur menjadi abu dengan cara tenang damai. Belakangan umat tidak banyak yang menerapkan hal itu karena semuanya sudah berubah dan menjadi serba nyaman dan damai. Mereka tidak lagi memikirkan bahwa suatu saat nanti kematian akan tiba. Tidak ada dan belum ada yang mampu melepaskan diri dari kekuasaan Sang Mrtyu (Penguasa Kematian). Dewa Surga tertinggi Satya Loka pun masih berada dalam tanggapan Hyang Mrtyu (a-brahma-bhuvanallokah punaravartinah).

Zaman dahulu, setiap orang bersembahyang di tempat sembahyang, di Sanggah Pemrajan, di Pura atau di depan altar di rumah setiap hari, mereka menutup atau mengakhiri sembahyangnya dengan doa prarthana: "anaya Sena maranam vina-dainyena jivanam, dehante tava sannidhyam dehi meparame Svara" - Doa prathana yang terdiri dari empat baris tersebut dipercayai menjadi doa prarthana yang selalu diucapkan oleh Arya Vidura dan Drona Acarya.

Arya Vidura adalah Perdana Menteri kerajaan Hastinapura, adik tiri dari raja Pandu dan Drstarastha. Sedangkan Drona Achrya merupakan mahaguru hebat dalam kemiliteran yang menjadi guru dari para Pandawa dan Kaurava. Drona berasal dari garis keturunan Resi Angirasa dan putra dari Resi Bharadwaja, kelahiran Drona disebutkan melalui teknik "bayi tabung" dan reinkarnasi dari Resi Brhaspati. Drona pernah satu sekolahan di Gurukula bersama putra mahkota kerajaan Pancala bernama Drupada. Mereka berteman sangat baik. Saking akrabnya berteman, pada suatu ketika Drupada berjanji akan membagi setengah kerajaannya pada Drona.

Drupada menjadi raja, dan ia melupakan janjinya. Drona datang ke istana mengingatkan Drupada akan janjinya itu. Ternyata raja Drupada bukan hanya mengingkari janjinya tetapi juga menghina Drona.

Kekecewaan disertai dendam serta tekad balas dendam mengisi jiwa Drona. Pada akhirnya Drona menjadi Guru Besar bagi Pandava dan Kaurava. Dari semua siswanya, Arjuna menjadi siswa terbaik dalam ilmu kemiliteran yang diajarkannya. Banyak pula ilmu-ilmu rahasia yang diajarkan oleh Drona hanya kepada Arjuna. Tiba waktunya Drona meminta Guru Daksina, yaitu persembahan kepada Guru atas pelajaran-pelajaran yang diberikan. Drona meminta agar Pandava membawa Raja Drupada ke hadapannya.

Tanpa bantuan bala tentara, Pandava menyerang Raja Drupada dan berhasil membawa Drupada ke hadapan Drona. Disitulah Drona membalaskan dendam dan penghinaan terhadap Drupada. Drona memberikan kembali kepada raja Drupada setengah kerajaannya dan setengahnya lagi milik Drona.

Sekarang, bekas wilayah Drona tersebut diyakini bernama Dehradon (Don dari Drona), sedangkan daerah lain yang diberikan oleh raja Drstarastha kepada Drona sekarang diyakini ada di dekat ibu kota India, New Dehli bernama Gurgaon atau desa Guru (Drona).

Drona Acarya diyakini selalu berdoa agar mendapatkan 3 hal dalam hidupnya: 1. anayaSamaranam (kematian yang tanpa kesakitan), 2. agar dalam hidupnya tidak di bawah belas kasihan orang lain, dan 3. agar Tuhan hadir pada detik-detik kematian.

Tiga itulah doa dari Guru Drona yang selalu di-"prarthana"-kan pada setiap sembahyang dan meditasinya. Kata prarthana perlu lebih banyak dipergunakan oleh umat mengingat ia mempunyai arti dan makna yang sangat indah dan mendalam. Prarthana berasal dari kata arthana berarti keinginan, penambahan kata pra di depan memberikan arti penegas yaitu sangat keras. Prarthana berarti penyampaian permohonan keinginan yang sangat keras kepada Tuhan.

Tiga butir di atas disebutkan selalu mengisi doa prarthana Arya Vidura dan Drona. Tradisi tersebut juga tradisi umat Hindu Dharma setiap mereka mengakhiri sembahyangnya. Umat yang melupakan tradisi doa prarthana ini, sebaiknya mulai menambahkan dan menerapkan kembali serta mewariskan tradisi mulia ini kepada keturunannya. Umat tidak akan pernah menghentikan sembahyang dan meditasinya sebelum mengucapkan prarthana ini. Umat tidak akan meninggalkan Pura sebelum menyampaikan dan menjadikan doa prarthana ini sebagai penutup "nangkil" ke Pura.

Oleh: Darmayasa
Source: Bali Post Minggu Kliwon, 15 April 2018