Mencintai Tanah Air dari Teropong Hindu

Munculnya berbagai riak-riak jecil yang mencoba merusak keutuhan NKRI, mendegradasi rasa cinta tanah air menjadi permasalahan yang awet dari jama dulu hingga saat ini, namun permasalahan tersebut mendapatkan kemasan yang berbeda. Sudah menjadi makanan pokok bahwa nasionalisme menjadi lem perekat perbedaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu tidak secara langsung menjadi jaminan bahwa krisis kebangsaan dapat yang terjadi belakangan ini dapat dilalui dengan mudah. Apa yang dapat kita lakukan? Menurut Prof Notonegoro dalam Pancasila empat sila akan bermuara dalam sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Menjadi solusi yang baik ketika pemahaman terhadap Pancasila bukan hanya dimaknai secara superfisial. Pendalaman masing-masing sila dapat mengantarkan kita ke dalam pemahaman bahwa semua yang dilakukan adalah untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa.

Konflik belakangan inipun banyak sekali yang berisi muatan agama dan keyakinan. Di Indonesia memang agama adalah menu utama dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi sangat disayangkan ketika agama tidak mampu lagi menjadi solusi dari perpecahan. Dalam paradigma piramida terbalik dimana Ketuhana Yang Maha Esa dijadikan muara dari seluruh sila, dapat menjadi persamaan pandangan bahwa secara esensi kita memiliki kesamaan, untuk apa memperuncing perbedaan? Kesamaan visi ini seharusnya selalu digali dan disebarkan ke seluruh masyarakat. Bahwa kita meyakini Tuhan yang satu dan kita hidup di tanah air yang satu, Indonesia.

Kewajiban-kewajiban bernegara dan beragama dalam Hindu dapat kita sebut dengan Dharmaning Negara dan Dharmaning Agama. Dharma Agama merupakan wujud bhakti umat Hindu terhadap kemahakuasaan Tuhan dalam memerankan ajara agama yang inovatif, kreatif, dan integrative disamping meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia yang pluralistik. Sedangkan Dharma Negara adalah hak dan kewajiban serta tanggung jawab umat Hindu untuk senantiasa membela, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, sekaligus mencintai tanah air.

Dalam kitab Shanti Parwa disebutkan dharanad dharma ityahur, dharmena widharta prajah. Kata dharma berasal dari kata dhr, yang berarti memangku, mengatur, mengayomi, memelihara. Selanjutnya disebut loka samgraha samyuktah, widrata wihitam, suksma dharmarta niyatam, satam sariram uttaman. Artinya, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia diawali dari perilaku dharma, berfikir tulus ikhlas dan selalu memikirkan kedamaian di muka bumi, bukan hasil dari berperilaku. Itulah hakikat dharma yang sesungguhnya. Keutamaan dharma sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuccaya Sloka 14 disebutkan:

ikang dharma ngaranya, henuning mara ring swarga ika kadi gatining parahu, an hetuning banyaga nentasing tasik

Artinya:
Yang disebut dharma adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu, merupakan alat bagi pedagang untuk mengarungi lautan.

Meningkatkan kualitas iman dan amal berdasarkan Dharma, merupakan akhlak mulia dan moral luhur, disamping sebagai upaya pengendalian diri sebagai umat Hindu yang imanen dan permanen. Kongres nasional pertama agama-agama di Indonesia, yang diselenggarakan di Yogyakarta bulan Oktober 1993 menyadari, bahwa agama di satu sisi menjadi kekuatan bagi gerakan kemanusiaan dalam mewujudkan perdamaian. Namun disisi lain saudara kita semangat keagamaan yang sangat tendensius dapat menyebabkan perpecahan, kekerasan bahkan kehancuran.

Jika disadari, sesungguhnya kehadiran agama-agama di negeri ini, merupakan rahmat Tuhan yang patut disyukuri. Sebagaimana disebutkan dalam Kekawin SutasomaBhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Konsep yang mengakar di negeri ini, dengan beragam keyakinan merupakan lahan subur bagi spiritualitas dan juga sangat memungkinkan bagi agama-agama untuk tumbuh dan berkembang.

Terkait dengan rasa cinta tanah air (nasionalisme) sebagai umat Hindu dalam membangun masa depan bangsa dan Negara, adalah upaya yang patut terus menerus dilakukan. Kualitas amal hanya dapat dipahami melalui tingkah laku dan kepribadian seseorang, yang pada hakikatnya mengantarkan manusia kepada sifat kedewataannya (Madawa) dari sifat keraksasaannya (Danawa). Sifat demikian merupakan hakikat dari pengejawantahan Dharma Agama dan Dharma Negara.

Dalam Dharma Negara perlu juga dipahami beberapa hal, yakni:

1. Dharma Karya: melalukan kerja dengan baik dan benar
2. Dharma Tattwa: memahami esensi hukum yang hakiki.
3. Dharma Dharsana: pengetahuan filsafat tentang hukum.
4. Dharma Yudha: memperjuangkan kejujuran dan keadilan.
5. Dharma Sabda: sidang untuk menegakan keadilan.
6. Dharma Yadnya: mempersembahkan kerja sebagai sebuah yadnya secara ikhlas.
7. Dharma Wijaya: menangnya keadilan dan kebajikan.

Hakikat hidup untuk melaksanakan visi dan misi suci di medan Dharma (Dharmaksetra) dan sujud bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan kasih sayang (prema) kepada seluruh ciptaannya, serta menegakkan dharma dalam rangka memperbaiki perbuatan buruk menjadi baik. Sebagaimana diungkapkan dalam Bhagawadgita.

The world is Dharmaksetra, the bettle ground for a moral struggle. The decisive issue lies in the hearts of men where the battles ar fought daily an hourly. The ascent from earth to heaven, from suffering to spirit, is trought the practice or Dharma, we can reach up to safety where every difficulty culminates in joy. The world is Dharmaksetra, the nursery of saints where the flame of spirit is never permitted to go out. It is said to be Karmabhumi where we work out our karma and fulfill the purpose of soul making.

Bila rasa nasionalisme kita terjaga, maka perilaku keseharian seseorang tidak akan jauh dari hakikat Dharma atau agama yang dianutnya. Agama apapun itu, senantiasa akan memancarkan kasih sayang dan kemuliaan. Toleransi dan saling menghargai antar umat beragama.

Sebagaimana Hindu, saudara-saudara Muslim Nahdatul Ulama juga memiliki ketakinan kuat bahwa cinta tanah air juga bagian dari pada iman. Para kiai da ulama di bawah Rais Akbar KH. Hayim Asy’ari menggerakkan rasa cinta tanah air pada seluruh elemen masyarakat muslim, para kiai dan santri. Hal tersebut diakibatkan rasa garamnya Ulama Nusantara terhadap penjajahan yang tak kunjung usai di Nusantara. Menurut Prof. KH. Said Aqil Sirodj, slogan cinta tanah air Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman kepada Allah) merupakan fatwa dari KH. Hasyim Asy’ari ketika menerima ajudan dan Presiden Soekarno, yang mempertanyakan hokum warga membela bangsanya. Beliau menambahkan bahwa hubbul Wathon Minal Iman adalah bentuk nasionalis religious Islam Nusantara, para ulama NU tetap melestarikan kebudayaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, dan ketika semangat Nasionalisme keluar dari hati yang beriman silahkan era apapun globalisasi, pasar bebas asia yang masuk melalui media sosial, kita akan tetap memiliki jati diri kepribadian budaya bangsa.

Konsep perbedaan dalam persamaan yang melahirkan rasa seiya-sekata dalam persaudaraan yang amat kental, yang kita sebut Vasudaiva Kutumbhakam. Cinta terhadap tanah air menjadi lebih besar terasa jika dilandasi Dharma Agama (iman) sebagai inner power, yang dapat mengalirkan kebahagiaan sebagaimana dalam Rgveda disebutkan “Madhuvate ntayate madhu ksaranti sindhuvah, madhwirnah sanvosadih”, yang berarti untuk dia yang menuruti Rta (hukum alam) angina akan penuh rasa manis, begitu pula banyak pohon yang terasa manis untuk kita. Inilah yang menurut saudara-saudara muslim disebut sebagai rahmatan lil’alamin. Artinya, karena rahmat Islam tidak hanya untuk umat muslim, maka perjuangan Islam bisa diperluas ke dalam konteks kebangsaan yang tentunya melampaui sekat-sekat keagamaan.

Oleh: Cahyadi Surya DP
Source: Majalah Wartam, Edisi 29, Juli 2017