Mencari Tuhan Sebagai Sebuah Pendakian Spiritual

Walaupun menurut tattwa Tuhan itu berada dimana-mana/meresap dimana-mana (wiapi-zuiapaka.... ) namun kita tetap dan selalu mencari Tuhan. Dewasa ini kecendrungan (trend) berdharma yatra atau bertirta yatra cukup semarak adanya. Umat Hindu secara perseorangan atau berkelompok bepergian sampai jauh keluar daerah untuk mecari Tuhan, yang berada di Pura yang terletak di kaki gunung, sekitar lautan, danau dan sebagainya. Kenapa sampai demikian? Apakah mungkin kita bisa menemukan Tuhan disitu? Ada 2 (dua) hal esensiil yang patut mendapat perhatian kita.

Pertama, adanya srada (kepercayaan, keyakinan) terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai salah satu bagian dari Panca Srada (keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, percaya terhadap roh leluhur, percaya kepada Purnarbawa, percaya kepada hukum karma dan yakin akan adanya moksa).

Kedua, Tujuan agama Hindu : Moksartham jagadhita. Dalam proses pencapaian tujuan ini, sangat berperan adanya Catur asrama, Catur purusa-artha.

Memperhatikan kedua unsur penting diatas ini, memang unsur pencarian Tuhan, atau pendekatan diri terhadap Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sangat besar peranannya. Tujuan yang tertinggi dari kehidupan beragama adalah ditujukan untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa demikian? Karena pemujaan kepada Tuhan merupakan tujuan hidup yang paling utama dan paling mulia (parama artha = paramartha).

Ingatkah anda bait kedua keji kawin Arjuna-Wiwaha, karya sastrawan Mpu Kanwa yang berbunyi: Kate-munte mereka sitan ketemu dan seterusnya. Paramartha Ciwatattwa nirawarana.

Kenapa demikian? Karena, kalau seluruh jiwa diresapi oleh rasa Ketuhanan yang dalam, maka gerak pikiran perkataan dan perbuatan akan selalu berada pada garis dharma. Jika pikiran, perkataan dan perbuatan seseorang selalu berada pada dharma, maka orang itulah yang akan mendapatkan kehidupan bahagia, baik didunia maupun di akhirat. Dalam membangun rasa ketuhanan yang dalam perlu ada perpaduan antara rasa dan pikiran.

Bersatunya pikiran dan perasaan dapat mengarahkan indria sesuai dengan kadar pikiran dan kadar perasaan yang terjadi. Menumbuhkan perasaan yang mendalam kepada ketuhanan tidaklah mudah. Kegiatan ini harus dilakukan terus-menerus dengan bermacam-macam methode antara lain dengan mengadakan tirtha yatra, sembahyang, membaca kitab suci, melantunkan kidung Dewa Yadnya dan sebagainya. Setiap kegiatan yang kita lakukan agar Tuhan selalu dekat kita rasakan. Mampukah anda mencapainya? Semuanya tergantung pada anda sendiri. Bila anda mendalami penjelasan Bhagavadgita halaman 30, disebutkan intinya sebagai berikut:

"Anda dapat mencapai Tuhan Yang Maha Esa, walaupun anda seorang buruh sekalipun, atau manusia pada tingkat hidup yang paling rendah, atau seorang wanita yang sudah merosot sederajatnya, asalkan anda memberikan cinta kasih (bhakti) anda kepada Tuhan Yang Maha Esa didasari dengan kesucian dan terhindar dari kecemaran material."

Bhakti yoga adalah salah saru jalan yang paling mungkin bagi siapapun. Pada Siwatattwa juga dise-butkan bahwa nirmala, suddha (kesucian) merupakan hakikat yang paling penting. Mpu Kanwa dalam kekawin Arjuna-Wiwaha tentang bayangan bulan "Sasi Wimba", menjelaskan sebagai berikut:

Sasi wimba haneng gata mesi banyu Ndart asing suci nirmala mesi wulan Iwa mangkana rakwa kiteng kedadin Ring angambeki yoga kiteng sekala Bayangan   bulan   terlihat   dalam tempayan yang berisi air Setiap yang (berisi air yang) suci hening berisi bulan.

Demikianlah Engkau Tuhan, berada dalam setiap mahluk. Pada orang yang melakukan yoga Engkau menampakkan diri.

Demikianlah Mpu Kanwa meya-kinkan kita tentang "kehadiran" Yang Maha Kuasa pada diri manusia. Dia benar-benar akan hadir pada orang yang suci dan melaksanakan yoga, bagaikan hadirnya bayangan bulan dalam air yang hening bening.

Source : A.A Gede Raka Mas l Warta Hindu Dharma NO. 510 Juni 2009