Mencari Kebenaran Sang Diri

Sebelum membahas "Kebenaran Sang Diri" dari dimensi Hindu, nampaknya menarik untuk mempelajari makna keberadaan manusia di dunia ini dari pemikiran-pemikiran Sartre. Filsuf Perancis, yang berdiri tegak mengusung teori filsafat eksistensialis. Apa yang menarik dari pemikirannya? Banyak, namun dalam sketsa dari "Sebuah Teori Emosi" tentang filsafatnya, manusia dihadapkan pada suatu realitas antara "ada dan ketiadaan". Ruang pemikiran yang sering berhadapan dengan sebuah ulasan mengenai ide Tuhan yang mengalami kontradiksi dalam diri seorang manusia. Ketika kondisi itu terjadi, manusia sebenarnya secara tegas sering menolak eksistensi Tuhan itu sendiri. Disinilah titik kritis pemikiran Sartre, yang hadir memberikan perbedaan sangat radikal antara realitas manusia sesungguhnya (l'etre-pour-soi, ada bagi dirinya sendiri) dengan sifat bawaan atau bawah sadar (l'etre-en-soi, ada dalam dirinya sendiri).

Di titik itu, kesadaran bersifat "intensional" seakan tak terbantahkan, yaitu sesuatu makna yang menyiratkan bahwa kesadaran itu memiliki sebuah obyek. Dengan kata lain misalnya, jika orang benar-benar sadar, maka orang tersebut sadar akan sesuatu yang ditangkapnya berbeda dari dirinya sendiri.

Pada bagian terkahir ini seakan ada kemiripan, walaupun tidak mirip benar, paling tidak bersinggungan di sebuah jalan, dalam menapaki kesadaran, seperti yang disodorkan oleh kitab suci "Kena Upanishad", sebuah kitab suci Hindu yang nafasnya berpusar dari kitab "Sama Weda". Betapa tidak? Seloka pertama upanisad itu, hadir dengan sebuah pertanyaan yang sungguh fundamental dalam alam fikir filsafat dilontarkan oleh sadaka. Seorang peminat rohani, yang memburu kesadaran dari seorang guru. Sistem dialektika itu, memang selalu mengejewantah dalam kultur upanisad, dimana seorang sisya duduk dekat dengan guru. Namun menjadi sungguh sangat berbeda bila pertanyaan itu secara substansi mengupas tentang obyek yang bukan saja berada diluar dirinya namun juga berada di dalam dirinya.

Pertanyaan yang membutuhkan jawaban atas kegelisahan pemikiran-pikirannya. Kaya imajinasi dan renungan, semua itu bisa jadi adalah proses gugatan atas gerak pikirannya sendiri untuk masuk ke ruang "Wedanta Wijnanam" (kebijakan Weda). Pertanyaan yang muncul sebagai sebuah keinginan memaknai dirinya diantara konstelasi alam semesta yang sangat luas adalah inti sari pemikiran filsafat Wedanta. Sehingga bentuk pertanyaannya hadir sebagai gambaran yang sangat esensial dalam kajian kesadaran manusia. Inilah pertanyaan itu. Siapa yang memberi penerangan pada benda yang disebut dengan pikiran itu?. Pertanyaan pun melebar. Siapa yang memerintahkan pertama kali sehingga mulai adanya hidup ini? Dan, Oleh siapa kata-kata ini terucapkan? Dewa apa yang menggerakkan mata dan telinga itu?

Kehadiran pertanyaan yang berpredikat 'intensional' itu terjadi dalam proses pengidentifikasian diri sang sadaka bahwa dirinya dan pikirannya seakan berjarak dalam besaran fisik. Pertanyaan-pertanyaan yang esensial itu, pada akhirnya berhujung pada sebuah pertanyaan besar yang lebih menyiratkan wujud keindahan yang melebihi "kesadaran posisional" atau thetic misalnya, karena ketinggian filsafatnya dalam menguraikan kebenaran tertinggi, pertanyaan itu adalah: Siapa pengendali yang sesungguhnya pada diri pribadi ini?

Pertanyaan itu adalah ciri-ciri dari sebuah kajian filsafat. Disitu memang sangat kental mewarnai perjalanan pemikiran di jalan-jalan pencerahan yang diberikan dalam koridor sistem filsafat Hindu, yang pada hujungnya berakhir pada keindahan kehidupan di samudera kasih yang tiada bertepi. Samudera kasih dan abadi, "Sat Cit Ananda" memang menjadi kerinduan yang tak pernah surut dalam hati dan pemikiran mereka yang gelisah (jignasur) dalam ziarah untuk menggapai kebenaran tertinggi. Kerinduan itu adalah ciri sadaka yang ingin mendapatkan sekeping harapan tentang hakekat Tuhan yang maha luas.

Sang sadaka, adalah semacam murid, yang dalam dirinya telah terkon-truksi sebuah wacana kesadaran, yang sungguh berbeda dengan realitas yang dia sering hadapi dalam dunia nyata. Jurang pemisah (gap) ini sering menimbulkan kegelisahan, dan memunculkan pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir sebagai wujud keinginan "isitam", untuk membuka tabir yang menyelimuti dunia obyektif. Keinginan untuk menelaah secara rasio maupun metafisika tentang penyebab proses alam ini, semisal mengapa alam ini bisa teratur atau mengapa proses kehidupan ini mengagumkan. Jawabannya tidak hanya sekedar kata-kata dalam rangkaian kalimat. Namun lebih dari itu, petualangan dalam ranah rasa dan pikiran agaknya menghiasi henti-hentinya perjalanan itu. Dititik itu, penjelasahan itu ibarat aliran sungai yang terus menerus mengikis tebing kegelapan yang akhirnya lebur dan menyatu tanpa identitas di samudera pencerahan yang abadi.

Dalam bingkai itu. Kena Upanisad, hadir untuk memberikan gambaran akan sebuah hakekat pencarian yang muncul dari kerinduan akan energi kosmis awal yang menggerakkan seluruh ciptaan. Kena Upanisad memang diawali oleh "sebuah pertanyaan". Kena, yang berarti Oleh Siapa? adalah sebuah pertanyaan, dan wujud kegelisahan pemikiran dari seorang, murid yang ingin mencari pencerahan. Disisi itu, bisa dikatakan siswa berada di kutub pemikiran "dualitas" antara badan dengan diri sejati, masih dianggap ada ruang yang berjarak. Ini memang sering terjadi di babak-babak awal perjalanan spiritual manusia. Pada akhirnya, semua akan menyadari yang dicari tidaklah sejauh anggapan semula, semua ada di dalam diri. Namun hadirnya kegelisahan itu menunjukkan bahwa praiti yang merupakan sifat sejati manusia akan selalu melekat di garis depan penapakan spiritual, sehingga cobaan awal digaris itu sangat menentukan nuansa batin yang melekat sebagai asesoris, keluhuran budn seorang penziarah. Bagaimanapun, waktu kehidupan yang amat pendek i£ orang sering gagal untuk menghadirkan keheningan jiwa yang hakiki.

Kegagalan itu berkaitan tentang kelemahan manusia, yang menjauh dari pusat keheningan jiwa, yang kita sebut Tuhan Yang maha Pemurah, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang dengan mudah dapat dikenali karena daya tarik Beliau yang tidak terbatas. Termasuk ada dalam setiap mahluk hidup dan seluruh ciptaan. Meskipun demikian, manusia tidak melakukan usaha apapun untuk mengetahui kemampuan bawaannya itu. Dan yang sering terjadi adalah manusia hanya mengetahui kemampuan jasmaninya dan memuji-muji dirinya sendiri.

Padahal manusia bagaian dari yang banyak (samasthi). Yang banyak ini adalah bagian dari ciptaan (Sristhi). Di atas ciptaan adalah pusthi (tenaga kosmik). Yang mengatasi tenaga ini adalah Paramesthi (Diri yang Maha Tinggi). Semua manusia adalah perwujudan ketuhanan. Itu sebabnya, manusia harus maju dari yang pribadi menuju kesadaran Yang Maha Diri (Omne self).

Kembali ke pemikiran Sartre, maka sebuah upaya yang ditujukan untuk mengubah diri kita secara sadar dengan berbagai istilah filsafat adalah ciri yang menonjol dari pemikirannya. Manusia, semakin mereka sadar apa yang mereka rasakan atau miliki dengan jalan tertentu akan membuat perbedaan pada diri mereka. Misalnya, semakin mereka merasakan kemarahan, kesombongan atau pemusatan diri mereka, mereka akan merasakan semakin tidak "enak" dengan hal-hal itu, dan dengan demikian, semakin mampu mereka menerima perubahan.

Perubahan disudut kebebasan yang digelisahkan oleh Sartre itu, seakan tidak terjawab olehnya sehingga dia termasuk pengusung filsafat eksistensialis dengan atribut kekuatan moral yang ganjil dari pada kesadaran reflektif. Namun bagi pencari kesadaran di dimensi Hindu gambaran yang demikian jelas dalam kebeningan "Kena Upanisad" hadir sebagai pelengkap, ketika kita ingin menelaah pemikiran Sartre yang menggantung dan sulit dipikirkan. Di Bab IV seloka 1, sudah jelas tersirat betapa perubahan dan jawaban kegelisahan itu dipaparkan dengan sangat indah. "Ini adalah Brahman, untuk meyakininya dan dalam kejayaan Brahman, sesungguhnya, menyebabkan engkau jaya seperti itu, Hanya dengan demikianlah Ia (Indra) mengenal apa Brahman itu, Dari sini terlihat bahwa suatu pengertian Elrahman sebagai hakekat yang absolut dan untuk menca-painya manusia harus berada dalam keadaan murni. Jadi melalui kemurniainlah manusia akan bertemu dengan " Kebenaran Sang Diri" Semoga pikiran baik datang dari segala arah.

 

Source: I Nyoman Tika l Warta Hindu Dharma NO. 424 Juni 2002