Mencari dan Menanti

Lebih ke rasa! Demikian pendapat yang dinyatakan ketika seseorang membaca dua tulisan saya yang telah diturunkan dihalaman akhir Wartam. Siapa seseorang itu, tidak akan di terangkan disini. Saya ingin membiarkannya tetap menjadi rahasia. Tidak ada alasan khusus, keputusan itu saya ambil hanya karena ingin, itu saja. Semoga keputusan itu, tidak mendatangkan pikiran yang buruk dari segala penjuru. Pernyataan ‘lebih ke rasa' yang disarankan itu menerbitkan pertanyaan: benarkah demikian? Terus terang saya tidak tahu-menahu. Guru- guru di masa lalu pernah mengajarkan bahwa tulisan adalah anak-anak rokhani yang bebas mencari jalannya sendiri. Penilaian terhadap anak-anak rokhani itu, adalah hak tiap-tiap pembaca. Sebagai orang tua, adalah hak saya untuk memikirkan kembali, apa maksud penilaian 'lebih ke rasa’ itu? Maka beginilah jadinya.

Rasa adalah sesuatu yang dialami. Untuk tahu rasa, manusia mestilah mengalaminya. Mengetahui ialah mengadakan pengalaman-pengalaman. Manusia tidak benar-benar tahu asin, sebelum dicicipinya garam. Sayangnya bagi orang yang pernah menyicipi asin, selalu kesulitan menjelaskan arti kata asin kepada orang yang belum pernah merasakannya. Manusia yang ingin merasakan mestilah mengadakannya dengan dua cara. Pertama, ia mencari. Kedua, ia menanti. Keduanya digerakkan oleh perasaan rindu mengetahui.

Ada dua rasa, yakni rasa yang dikelompokkan menjadi enam dan rasa yang dikelompokkan menjadi sembilan. Kelompok enam rasa adalah rasa pahit, manis, asam, asin, sepat, dan pedas. Kelompok sembilan rasa yakni rasa kasih, asing, sedih, marah, berani, terancam, takut, kagum dan damai. Kelompok enam rasa, dicecap dengan menggunakan alat indra berupa lidah. Lidah dapat merasakan, sebab di dalamnya terdapat indriya yang bernama Jihwendriya. Lidah pula yang mengeluarkan air liur. Air dalam wujud apapun selalu berkaitan dengan rasa, sebab rasa adalah unsur halus [tan matra] yang ada di dalam air. Kelompok sembilan rasa, dinikmati entah dengan indriya apa. Barangkali, semua indriya yang dimiliki manusia dapat menikmati kelompok sembilan rasa ini.

Rasa itu bersifat laten, teramat halus dan berada di dalam diri manusia. Rasa bukannya datang dari luar, tapi bangkit dari dalam. Ternyata rasa yang dicari-cari, berasal dari ‘yang mencari’. Rasa kasih misalnya, ia telah ada di dalam diri manusia. Hanya saja, perlu stimulus untuk membangkitkannya. Sama halnya mencari inti bawang, ia tidak ada di dalam bawang. Inti bawang adalah air yang keluar dari mata. Serupa pula ketika hendak menikmati makanan. Makanan belum disebut dinikmati sebelum masuk ke dalam mulut dan dirasakan oleh jihwendriya. Makanan seperti ‘kulit bawang’, sedangkan rasa makanan seperti ‘air mata'. Barangkali itu juga sebabnya, mengapa menjelaskan asin begitu sulit. Asin adalah sesuatu yang timbul akibat jihwendriya menyecap garam. Sederhananya, jika ingin tahu asin, bergurulah pada garam!

Guru memang dapat ditemukan dimana saja. Syaratnya hanya satu, yakni kesiapan menjadi murid. Gunung, Laut, sampai dengan tubuh manusia pun dapat dijadikan guru. Pada gunung, belajar ketenangan. Pada laut, belajar kegelisahan. Pada tubuh, belajar kejujuran. Lalu jika ingin belajar agama, kepada siapa?

Ada pernyataan seperti ini, 'segala hal yang berhubungan dengan agama kembali kepada rasa'. Biasanya pernyataan itu dilontarkan ketika ditemuinya kesulitan-kesulitan untuk memutuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, terutama berhubungan dengan etika serta acara [upacara dan upakara]. Tentu ada kaitannya ‘kembali kepada rasa’ dengan tubuh manusia. Tubuh manusia adalah sekumpulan dari tanah, air, cahaya, udara, dan akasa. Singkatnya, salah satu komponen penyusun tubuh manusia adalah air. Karena tubuh manusia adalah air, maka manusia memiliki unsur halus yang ada di dalam air yaitu rasa. Karena rasa adalah unsur halus di dalam air, maka ‘kembali ke rasa’ artinya kembali ke tubuh. Kembali ke tubuh maksudnya, kembali kepada guru yang mengajarkan kejujuran.

Tubuh adalah peta mistik yang mesti dipelajari, dipahami, sekaligus dialami. Mengalami berarti merasakan, sebab rasa adalah sesuatu yang dialami. Tulisan saya terdahulu disebut lebih ke rasa’, mungkin karena ada hubungannya dengan keberadaan saya sebagai manusia. Sebagai manusia yang memiliki tubuh, tentu saya memiliki rasa. ‘Lebih ke rasa’ saya artikan, ‘belajar lebih dalam apa yang diajarkan oleh tubuh’.

Oleh: IGA Dharma Putra
Source: Majalah Wartam, Edisi 32, Oktober 2017