Memuja Tuhan untuk Keseimbangan Jiwa dan Raga

Salah satu ciri beragama Hindu yang paling substansial adalah percaya atau Sraddha dan Bhakti pada Tuhan. Tuhan itu Maha Sempurna tidak membutuhkan apa-apa dari siapapun. Dalam pemujaan pada Tuhan ini bukan Tuhan yang membutuhkan dipuja, tetapi manusialah yang membutuhkan pemujaan pada Tuhan itu. Ibarat matahari bersinar terus menerus dan tetap tinggal dan berputar di tempat. Itulah Rta atau hukum alam yang ditetapkan oleh Tuhan pada matahari.

Manusialah membutuhkan sinar matahari dan unsur-unsur alam lainnya. Dalam Rgveda. VIII. 102.9 dinyatakan bahwa : Ayam visva abhi sriyo agnir devesu patyate. Artinya: Agni sebagai Surya memiliki semua jenis zat yang mengandung khasiat kehidupan. Mantram Yajurveda XXV. 17 menyatakan : Ton maataa perthivi tat pita dyauh. Artinya: Tuhan menciptakan bumi dan langit sebagai ibu dan ayah.

Di langit Agni yang disebut Surya itu dikemas dengan Sapta Loka, sepanjang kemasan itu tidak dirusak susunannya maka matahari akan memberikan semua zat kehidupan pada semua makhluk hidup yang ada di bumi ini. Sayang karena kelobaan manusia, langit dengan kemasan Sapta Loka sudah banyak dikotori oleh polusi yang menyebabkan langit menjadi terganggu eksistensinya memancarkan zat-zat kehidupan ke bumi. Demikian pula kalau manusia membutuhkan sinar matahari, janganlah sinar itu ditutupi, biarkan matahari bersinar secara alami memberi kehidupan.

Demikian juga dalam beragama Hindu pemujaan pada Tuhan untuk membangun keseimbangan hidup baik jiwa dan raga. Hal ini dinyatakan dalam Mantram Rgveda X. 121.2. yang menyatakan : Ya atmada balada yasya visva. Artinya : Tuhan memberikan kekuatan jiwa atau spirtual dan badan raga. Sinar suci Tuhan itu disebut Deva yang berfungsi untuk memancarkan karunia-Nya pada semua ciptaan-Nya. Karena itu Bhagawad Gita XIII.23 menyatakan : Orang yang memahami dan memadukan secara harmonis Jiwa atau Purusa dengan badannya atau Predana serta Tri Guna atau sifat-sifatnya akan mencapai kebahagiaan yang abadi.

Nampaknya apa yang dinyatakan dalam Rgveda X.121.2 dan Bhagawad Gita XIII.23 itu sudah diimplementasikan dalam tradisi kehidupan beragama Hindu di Bali. Di Bali ada dua pura besar yang disebut Pura Purusa dan Pura Predana. Pura Besakih, pura sebagai Pura Purusa dan Pura Batur sebagai Pura Predana. Purusa dalam bahasa Sansekerta artinya Jiwa dan Pradana artinya badan raga. Kedua pura itu disebut Pura Rwa Bhineda yaitu dua hal yang berbeda tetapi saling melengkapi. Untuk memuja Tuhan dengan tujuan menguatkan eksistensi jiwa atau spiritual pemujaan pada Tuhan diarahkan pada Pura Besakih.

Dalam Lontar Padma Bhuwana Pura Besakih disebut: Pinaha Huluning Bali Rajya. Artinya sebagai hulunya Pulau Bali. Sedangkan untuk membangun mengeksistensikan badan raga yaitu badan jasmani dan indrianya pujalah Tuhan di Pura Batur. Ini artinya beragama Hindu di Bali ini bukan beragama hanya untuk memuja Tuhan untuk membangun kerohanian saja. Tetapi pemujaan itu wajib dilakukan juga untuk membangun eksistensi fisik material seperti menjaga kelestarian alam lingkungan dan kesehatan badan raga. Karena eksistensi jiwa dan raga itulah disebut hidup seimbang. Dapat dibayangkan kalau jiwa kita tenang berilmu dan terampil. Tetapi kalau badan raganya ini sakit-sakitan maka tidak mampulah badan raga itu mewujudkan ketenangan jiwa, kemampuan menguasai ilmu maupun keterampilan mengerjakan tugas-tugas mulia.

Demikian juga sebaliknya betapapun sehat segar dan bugarnya badan raga ini tetapi kalau jiwa tidak tenang, bingung selalu, hati tidak pernah tenteram. Emosi mudah bergejolak, cepat tersinggung, mudah putus asa, kecewa, selalu merasa gagal, lupa diri kalau sukses, gila hormat dan seterusnya. Itu semua ciri-ciri rohani tidak sehat. Semuanya itu akan membawa penderitaan bahkan kehancuran dalam perjalan hidup ini.

Karena beragama Hindu jangan diartikan dinamika hidup yang berhenti membangun Kadyatmikan semata. Karena itu Sarasamuscaya 236 menyatakan bahwa Weda itu mengandung dua ilmu yaitu Adyatmika Widya dan Lokaika Widya. Yaitu ilmu tentang Kadyatmikan atau spiritualitas dan ilmu tentang pembangunan keduniaan yang benar dan baik. Keseimbangan dan keterpaduan tersebut harus dilakukan menyeluruh karena itulah tujuan leluhur umat Hindu di Bah mendirikan Pura Besakih dan Batur untuk mengarahkan umat Hindu agar memuja Tuhan untuk membangun keseimbangan hidup rohani dan jasmani.

Bhagawad Gita XIII.23 sangat nyambung dengan konsepsi yang melatarbelakangi adanya tradisi beragama Hindu di Bali dalam hal natab Banten Penyeneng. Banten Penyeneng itu bentuknya sangat indah dibuat dari daun janur berbentuk kojong dengan tiga ruangan. Isinya menurut Lontar Prembon Bebanten ada bija, tepung tawar dan nasi segau. Reringgitan dan tetuwasanya indah. Pujastawanya para Pinandita atau Jero Mangku melantunkan Pujastawa sebagai berikut: Om kaki penyeneng nini penyeneng kajenenganing dening Brahma, Wisnu Iswara. Maksudnya : Ya Tuhan sebagai Purusa (Kaki) dan Pradana (Nini) yang menjadi sumber kehidupan kami puja Tuhan dalam hidup ini sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara. Kata "penyeneng" berasal dari bahasa Jawa Kuna dari kata "njeneng" artinya hidup.

Maksud banten penyeneng itu untuk memotivasi umat Hindu dalam hidup ini agar membangun secara seimbang dan terpadu jiwa dan raga. Kalau sudah seimbang dan terpadu untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan, dipelihara dan ditiadakan (Utapati, Stithi dan Pralina).

Pustaka Bhuwana Kosa IV.33 menyatakan bahwa Sang Hyang Tri Murti. setelah terciptanya alam semesta dengan segala isinya turun menjadi Tri Kona yaitu Utpati, Stithi dan Pralina. Ini artinya Tattwa dari Banten Penyeneng itu sangat dalam dan universal dalam mengagambarkan hidup yang benar baik dan tepat. Hidup ini harus menyelenggarakan kehidupan yang seimbang dan terpadu antara jiwa dan raga. Setelah seimbang untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang seharusnya diciptakan, dipelihara dan ditiadakan. Untuk melakukan ajaran Tri Kona itu tidak mudah karena itu mohon tuntunan pada Dewa Tri Murti.

Ya evam vetti purusam-prakerti ca gunaih saha sarvatha vartamano'pi, na sa bhuyo'bhijayate

(Bhagawad Gita.XIII.23)

Maksudnya: Orang yang memahami dan memadukan secara harmonis Jiwa atau Purusa dengan badannya atau Predana serta Tri Guna atau sifat-sifatnya akan mencapai kebahagiaan yang abadi

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Pon 20 Desember