Memelihara Kebudayaan Bali dengan Sastra

Kebudayaan Bali sudah dinyatakan sebagai kebudayaan yang benapaskan agama Hindu. Hal itu dinyatakan sejak tahun 1970 saat dimulainya Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Tahap Pertama di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Sebagai kebudayaan yang bernapaskan agama  Hindu, tentunya dinamika kebudayaan Bali tolok ukurnya Sastra Hindu yang menjadi sumber acuan keberadaan dan dinamika kebudayaan Bali tersebut. Terutama budaya, idenya tentunya harus Sastra Hindulah yang menjadi sumber acuan kegiatan kebudayaan Bali tersebut.

Kalau kita jadikan pandangan Prof. Dr. Koentjaraningrat melihat sistem kebudayaan Bali, maka dapat dilacak tentang sistem religinya, sistem sosialnya, sistem ilmu pengetahuan, sistem bahasa, sistem seni, sistem mata pencaharian dan sistem teknologi. Semua sistem kebudayaan Bali itu hendaknya sumber acuanya adalah sastra atau ajaran Hindu. Misalnya, kebudayaan Bali itu kita amati dari sistem religinya atau sistem beragama Hindu yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Sudahkah sistem religi Hindu yang dilaksanakan sesuai dengan Sastra Hindu. Misalnya dalam melakukan upacara yadnya Hindu sudahkan dilakukan menurut sastra Hindu yang semestinya dijadikan acuan melangsungkan upacara yadnya tersebut.

Kata upacara dalam bahasa Sansekerta artinya mendekat. Upakara dalam bahasa sansekerta artinya melayani. Sudahkan dalam melakukan upacara yadnya tersebut berproses untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan dengan asih, mendekatkan diri dengan sesama umat manusia dengan punia. Asih dan punia itulah  sesungguhnya bentuk bhakti umat Hindu pada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu upacara yadnya di Bali diwujudkan dengan uacara yang menggunakan sarana yang disebut banten. Lontar Yadnya Prakerti adalah sastra Hindu yang menyatakan bahwa banten itu memiliki tiga makna. Yaitu, banten pinaka ragan ta tuwi. Artinya, banten lambang diri manusia itu sendiri. Banten, pinaka warna rupaning Ida Bh-atora. Artinya, banten itu lambang Kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan banten pinaka anda bhuwana. Artinya, banten itu lambang alam atau bhuwana agung.

Kalau sastra Hindu ini yang dijadikan acuan membangun sistem religi oleh umat Hindu di Bali akan ada aktivitas yang serius untuk membangun diri yang berkualitas, agar senantiasa melakukan yadnya atau korban suci dalam bentuk asih demi lestarinya alam itu sendiri. Demikian juga dengan yadnya melakukan pengabdian atau punia untuk meningkatkan nasib sesama manusia. Bentuk bhakti pada Tuhan beryadnya pada alam dan pada sesama manusia itu.

Dalam Canakya Nitisastra VIII. 10 menyatakan: Na ca daanam bina kriyaah. Artinya Upacara, yadnya tanpa disertai dengan dana punia akan sia-sia. Kalau sastra ini dilakukan oleh umat Hindu dalam melaksanakan upacara yadnya dapat diyakini tidak ada umat Hindu yang kemiskinan di Bali. Apalagi Slokantara 2 menyatakan bahwa jauh lebih mulia mendidik seorang anak menjadi suputra dari pada seratus kali upacara yadnya. Hal ini tentunya jangan dibuat berdikotomi. Upacara yadnya harus tetap dilakukan, namum dalam upacara yadnya itu juga dijadikan media untuk melakukan dana punia untuk disalurkan pada para anak-anak didik yang kurang mampu.

Demikian juga penggunaan flora dan fauna sebagai sarana upacara hendaknya dijadikan media untuk memelihara dan mengembangkan kuantitas dan kualitas flora dan fauna tersebut. Karena dalam Manawa Dharmasastra V.40 menyatakan bahwa penggunaan flora dan fauna tersebut sebagai sebagai sarana upacara hendaknya dijadikan media untuk memelihara dan mengembangkan kuantitas dan kualitas flora dan fauna tersebut. Karena dalam Manawa Dharmasastra V.40 menyatakan bahwa penggunaan flora dan fauna tersebut sebagai sarana upacara yadnya adalah untuk melestarikan flora dan fauna tersebut, semoga kelak dalam penjelmaan berikutnya flora dan fauna tersebut meningkat. Ini artinya umat Hindu dimotivasi agar melestarikan flora dan fauna tersebut sehingga terus dapat dimanfaatkan untuk melangsungkan kehidupan ini termasuk untuk sarana upacara yandya.

Dengan demikian, beragama Hindu di Bali akan meningkatkan budaya beragama Hindu yang melestarikan alam lingkunga dan juga meningkatkan kesejahteraan yang adil. Kalau benar-benar sastra Hindu dijadikan dasar memelihara kebudayaan Bali, eksistensi alam dan manusia Bali akan selalu berkembang sesuai dengan rta dan dharma seperti yang diajarkan dalam Manawa Dharmasastra VII. 14. Dengan tegaknya rta itu berati alam Bali akan terpelihara dengan baik menjadi alam yang bhuta hita atau alam yang lestari. Dengan demikian, alam Bali akan menjadi sumber kehidupan sepanjang zaman. Demikian juga dengan tegaknya dharma, eksistensi manusia Bali akan selalu dinamis, harmonis menjadi manusia yang jana hita dan jagat hita.

Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (Gubernur Bali tahun 1978-1988) menyatakan, kemajuan Bali harus berangkat dari kepribadian sendiri atau dari jati dirinya, tetapi dari kepribadian itu Bali bisa hidup. Kalau tidak demikian, Bali akan sangat tergantung pada kekuatan luar. Karena itu, tingkatkan kesadaran umat untuk mendalami sastra Hindu. Ini artinya, memelihara kebudyaan Bali harusnya paham secara benar dan baik latar belakang sastra dari keberadaan kebudyaan Bali. Karena sastra Hindu itulah jiwa kebudayaan Bali. Kalau jiwanya tidak dipahami, maka perkembangan kebudayaan Bali akan semakin menjauh dari jiwanya. Kalau diamati sistem religi Hindu di Bali masih ada kontek beragama Hindu yang tidak konek dengan teks sastra Hindu yang seharusnya menjadi acuan pelaksanaan beragama Hindu. Misalnya, mengendalikan dinamika kebudayaan Bali menghadapi perubahan zaman yang semakin, fluktuatif ini seharusnya dijadikan pegangan kuat ajaran Tri Kona sebagaimana diajarkan dalam Lontar Bhuwana Kosa IV.33.

Di Bali, sejak abad ke-11 Masehi sudah memiliki pura kahyangan tiga untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Tri Murti. Dengan pemujaan itu berarti dinamika perubahan Kebudayaan Bali selalu mengarah pada perubahan yang menuju arah spiritual Hindu mewujudkan ayuning sila dan ayuning acara sebagaimana diajarkan dalam Sarasamauscaya 177. Ayuning sila artinya prilaku individu yang semakin benar, baik dan tepat. Sedangkan ayuning acara artinya prilaku dalam tradisi kebersamaan yang semakin benar, baik dan tepat atau semakin rahayu menjaga alam dan manusia Bali. Kalau sistem religi sebagai salah satu sistem kebudayaan ini tidak membuat alam dan manusia Bali menjadi semakin benar dan baik, artinya ada sesuatu yang wajib dibenahi dalam membangun kebudayaan Bali.

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Wage, 23 Agustus 2015