Membangun Kesucian dengan Yoga

Yogaanggaanustana sudhi ksaye jnyana diptiraviveha
(Yoga Sutra Patanjali III. 28)

Maksudnya: Dengan melaksanakan berbagai bagian dari ajaran yoga., maka ketidaksucian itu akan hilang dan kesadaran rohani akan bersinar cemerlang untuk berwiweka.

Kawasan suci adalah upaya menata ruang agar masyarakat dengan ruang yang ada dalam kawasan itu termotivasi untuk melakukan halhal yang disebut perilaku suci. Yang disebut perilaku suci itu adalah perilaku berdasarkan rta dan dharma. Rta adalah perilaka yang mematuhi dinamika hukum alam sehingga alam itu tidak terganggu hak azasi alaminya. Kawasan suci itu adalah ruang yang dapat berfungsi untuk mendorong umat manusia untuk berperilaku suc; sesuai dengan dharma. Perilaku berdasarkan rta adalah perilaku yang menjaga eksistensi alam menurut hak azasi alaminya. Sedangkan perilaku berdasarkan dharma adalah senantiasa menjaga dinamika perilaku berada pada garis dharma. Misalnya tidak merusak eksistensi Tri Chanda sebagaimana dinyatakan dalam mantra Rg Weda.

Tri Chanda itu adalah udara/atmosfir, air dan tumbuh-tumbuhan. Perilaku yang paling kotor (jahat) di bumi adalah merusak eksistensi hak azasi alami dari Tri Chanda. Menurut Prof. Dr. Emil Salim dalam tulisannya yang berjudul "Meningkatkan Daya Dukung Lingkungan" pada buku "Alumni Fakultas Ekonomi UI dan Tantangan Masa Depan: Beragam Pemikiran" pada 1995, dinyatakan terjadinya sepuluh kerusakan di kulit bumi. Salah satu dari kerusakan itu, meningkatnya polusi udara dengan dampak negatifnya pada infeksi saluran pernapasan manusia.

Polusi udara menyebabkan larutan logam benat melebihi ambang batas pada darah dapat menimbulkan perilaku ekstrem atau meledak-ledak pada manusia. Dan polusi itu pula timbul makin banyak turunnya hujan asam (acid rain) sebagai hasil proses kimiawi antara butir-butin dengan bahan pencemar dan kegiatan manusia seperti karbon monoksida (CO) dan lain-lainya yang berlangsung di udara.

Hujan asam mengakibatkan matinya pohon yang dimulai dari pembusukan pucuk pohon. Polusi yang makin menjadi-jadi, bumi ini dirusak juga oleh buruknya vibrasi yang disebarkan oleh sikap hidup manusia. Orang kecewa, tersinggung, marah, dendam, putus asa, sakit hati dan sejenisnya dapat menyebabkan makin buruknya vibrasi yang menyebar mempengaruhi kondisi psikologis manusia. Perilaku tidak suci pun mudah muncul dari buruknya vibrasi yang menyebar. Perilaku kotor itu disebut Panca Klesa yang terdiri atas lima hal.

Avidya, kegelapan hati karena kebodohan. Asmita, mementingkan diri sendiri. Raga, perilaku yang senantiasa mengumbar nafsu. Dwesa, pemarah dan pendendam. Abhiniwesa, hidup penuh ketakutan dalam menghadapi dinamika zaman. Untuk melawan lima kekotoran diri tersebut, dapat ditempuh jalan yoga. Yoga adalah ajaran agama Hindu yang amat universal yang bersumber dari Weda.

Mengamalkan ajaran yoga tidaklah semata-mata mempraktikkan yoga asana saja. Untuk mewujudkan ajaran yoga itu, Pustaka Yoga Sutra 11.29 menyatakan ada delapan tahapan untuk mencapainya. Delapan tahapan yoga tersebut disebut Astangga Yoga yang terdiri atas yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana dan samadhi. Mendalami yoga mesti melalui enam tahapan tersebut secara seimbang.

Dalam kehidupan empiris masih banyak yoga itu dipahami sebagai kegiatan asana dan pranayama atau melatih sikap fisik dan pernafasan saja. Malah, ada yang menanggapi yoga itu tidak beda dengan olahraga biasa. Padahal, olahraga dan yoga asana itu amat beda. Olahraga mengenal gerakan fisik dengan sentakan, sedangkan dalam yoga asana tidak. Yoga asana itu gerakkannya halus lembut alami menurut irama tubuh dan mental.

Jadi, untuk menjaga kesucian alam agar selalu bereksistensi sesuai dengan rta dan diri manusia agar senantiasa berlaksana sesuai dengan dharma, maka ajaran yoga itulah yang seyogianya dipraktekkan secara seimbang. Mempraktikkan ajaran yoga yang seimbang tentunya dengan delapan tahapannya. Untuk mempraktikkan ajaran yoga, dibutuhkan ruang untuk mendukungnya.

Ajaran yoga itu suci karena berasal dari Weda sabda Tuhan dan untuk menuntun manusia menuju hidup yang benar dan suci dalam mewujudkan hidup yang aman damai dan sejahtera. Karena itulah ruang yang dibutuhkan berupa kawasan yang eksistensi hak azasi alaminya tidak terganggu oleh perilaku manusia. Kawasan itulah yang disebut kawasan suci. Sedangkan radius kesucian tempat suci adalah radius untuk menjabarkan lebih nyata berbagai sarana untuk mengimplementasikan konsep-konsep kesucian Weda.

Ajaran Yama terdiri dari lima tuntunan moral etik. Ahimsa artinya tanpa kekerasan, satya konsisten berpegang pada kebenaran dan kejujuran, asteya tidak mencuri seperti korupsi, brahmacari mengendalikan nafsu seks, dan aparigraha yaitu tidak loba atau rakus. Semuanya itu tergolong ajaran yoga.

Pun ajaran Niyama yang meliputi sauca hidup bersih dan suci lahir batin, santosa membina hidup tenang dan damai, tapa melatih agar kuat menahan gejolak nafsu, swadyaya mengembangkan minat belajar sendiri, iswarapranidhana adalah selalu membina diri untuk senantiasa berbakti pada Tuhan. Ajaran yoga yang lainnya seperti asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana dan samadhi juga membutuhkan prasarana dan sarana mengimplementasikannya sebagai media membangun kesucian alam dan manusia agar senantiasa berdasarkan rta dan dharma.

Dengan ajaran yoga inilah manusia menata hidup di bumi yang terbatas ini. Tidak mungkin manusia bisa hidup bebas, sebebas-bebasnya. Melalui kawasan suci dan radius kesucian itulah kita membina hidup suci dalam keterbatasan ruang dan waktu.

Source: I Ketut Wiana, Bali Post, Minggu 24 Mei 2009