Memasak Diri Melalui "Kompor" Tapasya

Tama asit tamasa gulham agre'praketam salilam sarvam a idam
Tucchyenabhv apihitamyad asit tapasas tan mahinajayataikam
(Rg Veda, Mandala 10, Nasadhya Sukta 3)

"Pada awal sebelum penciptaan alam semesta, yang ada hanyalah kegelapan ditutupi oleh kegelapan, semua yang ada hanyalah air, dia yang Satu yang seharusnya datang untuk menjadi, terbungkus dalam kekosongan, pada akhirnya bangkit, terlahir dari kekuatan pemanasan."

Kebanyakan para Grhastha, yaitu orang-orang yang sudah berkeluarga, dikarenakan alasan kesibukan dan lain-lain, maka di rumah mereka menyerahkan urusan masak-memasak kepada para pembantu, tanpa memertimbangkan apakah mereka bisa memasak? Mungkin saja apa-apa yang diperlukan untuk memasak mulai dari perlengkapan memasak ada dapur, ruang makan, alat alat masak, semuanya tersedia Pertanyaannya, apakah mereka bisa memasak? Andaikan yang memasak adalah istri atau bahkan diri kita sendiri apakah kita memang benar bisa masak?

Inilah permasalahan yang semua orang hadapi. Orang menganggap diri sudah bisa memasak, dan semua berhenti di dalam teknik memasak tersebut tanpa pernah ada niat untuk mengembangkannya lebih jauh. Tanpa disadari, banyak makanan yang dimasak dan dimakan setiap hari sesungguhnya tidak kurang dan tidak lebih adalah sebuah pembunuhan diri secara perlahan. Sebuah bunuh diri secara terhormat, hanya karena jenis makanan tergolong mewah dan bahannya adalah bahan import yang harganya mahal dengan bawaan pestisida, pewarna, pengawet, dan bahan kimia lainnya.

Disebabkan oleh ketidakberadaan pengetahuan lebih jauh, maka orang menjadi berhenti di satu tempat dan/atau di satu cara, tanpa mengadakan pembelajaran, pengamatan, penelitian lebih jauh, serta pengujian yang lebih matang, sehingga menjadi terhenti pada hanya satu teknik monoton yang sudah disetting di dalam batin sebagai satu-satunya cara terbaik, orang tidak mempertimbangkan lagi keberadaan diri dan makanan apa yang diperlukan oleh dirinya lahir dan batin.

Terdapat berbagai pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam hal masak memasak, seperti ada pertimbangan makanan berdasarkan golongan darah, ada pertimbangan (berdasarkan Ayur Veda) atas Kapha (air, gabungan antara prthivi atau tanah dan apah atau air), Vata (angin, gabungan antara vayu atau angin dan akasa atau ruang), dan Pitta (api, gabungan antara agni atau api dan apah atau air), berdasarkan musim, dan lain-lain. Akan tetapi, pertimbangan paling sederhana yang dapat diperhatikan adalah pertimbangan kesehatan badan dan keberadaan kesadaran. Demi mengangkat kesadaran ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi, maka orang perlu memasak masakan-masakan yang akan memberikan kesehatan terbaik kepada tubuh dan jiwa, serta akan membantu mengangkat level kesadaran kepada kesadaran lebih tinggi. Lebih jauh, tidak cukup hanya dengan ketersediaan keperluan memasak seperti; ada dapur, ada peralatan masak, ada bahan, dan lain-lain. Pertimbangan yang tetap perlu dipertanyakan dan digaris bawahi adalah "apakah orang bisa memasak?"

Penekanannya adalah bahwa orang yang "bisa memasak". Sedangkan hampir 90% para ibu rumah tangga "tidak bisa memasak". Yang dimaksudkan di sini bukanlah memasak makanan yang serba enak dengan berbagai macam variasi menu dalam artian biasa, yang sudah barang tentu para ibu rumah tangga pasti memiliki kemampuan memasak sempurna. Memang ada pula para ibu rumah tangga tidak bisa memasak, tentu saja karena pertimbangan kesibukan dan lain-lain. Sampai saat ini penulis sudah berhasil mengajarkan sekitar 5 orang ibu-ibu yang sudah memiliki anak antara 3 sampai 5 orang putra/putri tetapi tidak bisa memasak. Melalui berbagai cara berbeda penulis ajarkan mulai dari tidak bisa memasak sampai akhirnya menjadi ahli memasak. Itu semua tentu saja kasus. Akan tetapi, lebih daripada keterampilan bisa memasak berbagai macam menu yang lezat-lezat, terdapat masak memasak di dalam pengaturan kesadaran lebih tinggi, yaitu kesadaran yang mengatasi sifat Raja dan Tama-guna (sifat kenafsuan dan kemalasan).

Raja-guna adalah makanan yang menumbuhkembangkan sifat kenafsuan, galak, ganas, super aktif dan lain-lain. Sedangkan Tama-guna adalah jenis masakan yang mengantarkan orang pada sifat lamban, malas, atau yang menyebabkan kecerdasan menurun dari jalan spiritual, dan lain-lain. Memasak masakan yang akan mengantarkan seseorang dapat mengatasi kedua sifat Raja dan Tama-guna tersebutlah yang perlu dikembangkan dalam masak memasak setiap hari, demi kebaikan diri dan keluarga. Makanan tersebut adalah makanan dalam sifat Satva-guna (dalam sifat kebaikan).

Perlahan dan berangsur akhirnya kesadaran kita pun diarahkan pada jenis masakan yang mampu mengangkat kesadaran seseorang kepada tingkat kesadaran murni, yaitu sebuah kesadaran yang bahkan mengatasi kebaikan. Artinya bukan hanya mengatasi Raja dan Tama, melainkan bahkan mengatasi sifat Satva/kebaikan, hingga kesadaran kita memasuki level Adhyatmika, atau Spiritual.

Bagaimana seseorang mengembangkan seni memasak yang spiritual, itulah yang diperlukan untuk diajarkan kepada para ibu, dan itulah yang akan mampu mengangkat kesadaran setiap anggota keluarga kepada tingkat kesadaran spiritual.

Dia menjadi pelajaran panjang yang memerlukan waktu sekian hari, mulai dari bagaimana seseorang ketika sejak mempersiapkan diri untuk memulai memasak sudah harus memantapkan dirinya di dalam sifat dan kesadaran yang tinggi penuh kasih, hingga sampai dengan penyajian makanan, dia dikemas dan diselimuti oleh kasih, maka makanan itu akan menjadi "divya bhojanam", atau makanan maha agung.

Akan tetapi, artikel ini tidak mendiskusikan masalah masak-memasak, melainkan memasak dalam artian lain, yaitu memasak "sang diri sejati". Ada tersedia dapur, alat memasak, dan bahan masakan, tetapi apakah orangnya bisa masak? Di sini diartikan sebagai ada tersedia badan ini, buku-buku spiritual bertumpuk-tumpuk, dan uang serta berbagai kebutuhan untuk inenunjang spiritualitas. Mungkin semuanya sudah tersedia bahkan lebih daripada yang diperlukan untuk mengangkat kesadaran spiritual. Tetapi, sekali lagi pertanyaannya, apakah orangnya bisa "memasak?"

Sebagaimana orang yang memasak perlu memperhatikan berbagai hal seperti tadi disebutkan di atas.... Mulai dengan memperhatikan golongan darah, Pitta, Vata dan Kapha dan lain-lain, maka dalam "memasak diri sejati" seseorang perlu mempertimbangkan berbagai hal yang diperlukan, demi mendapatkan "masakan spiritual" yang terbaik.

Memasak diri sejati, khususnya bagi Sadhaka yang serius dalam pencarian spiritualnya, maka ia memerlukan penguasaan berbagai pengetahuan spiritual, khususnya aturan dan peraturan yang diperlukan demi menunjang praktik spiritual. Kalau tidak. maka orang hanya akan berhasil untuk melakukan praktik pejam mata, komat-kamit membaca doa mantra, atau penyiksaan diri dengan melaksanakan teknik puasa serta pertapaan yang serba berat-berat, dan kemudian kita beranggapan bahwa kita sudah mempraktikkan spiritual dengan sempurna.

Memasak "Diri Sejati" sebenarnya adalah tugas masak bagi setiap orang. Oleh karena itu, semua Sadhaka juga hendaknya mencoba mempelajari pengetahuan-pengetahuan. serta aturan serta peraturan untuk memasak diri kita, hingga ia menjadi matang dan layak dipergunakan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah menguasai ilmu sejati tersebut, barulah seorang Sadhaka akan dapat mengenali rahasia-rahasia dunia ini lebih jauh, dan ia akan dapat melepaskan diri dari ikatan ketat dunia "Maya". Kalau tidak, dalam keadaan terikat yang amat ketat, maka seseorang akan mendeklarasikan dirinya sebagai "I am a free man" bahwa dia sudah mencapai pembebasan serta pencerahan, hanya karena ia sudah berhasil membaca buku-buku spiritual, atau hanya karena ia merasa sudah berhasil "mengcopy paste" tutur-tutur spiritual yang ditulis orang lain yang ia dapatkan misalnya dari Google, dan/atau hanya karena ia sudah berhasil memejamkan mata duduk berjam-jam.

Tapasas tan mahinajayataikam, dari proses pemanasanlah terlahir "masakan-masakan" serba enak. Dari proses pertapaan (vrata, yoga, dan samadhi)-lah bisa terlahir para Arya atau manusia-manusia pilihan yang sepenuhnya berlindung dalam jalan Veda. Proses ini hendaknya tidak di pertengahan jalan terhenti, karena nasi yang setengah matang hanya akan memberikan "bunyi ribut" di periuk masakan.

Spiritual bukanlah diskusi, spiritual bukan pula duduk berjam-jam, melainkan spiritual yang dimaksudkan di sini adalah pengalaman ke dalam sang diri yang akan didapatkan hanya melalui teknik "memasak sang diri sejati".

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Pon, 4 Desember 2016