Memaknai Siwalatri di Zaman Globalisasi

Umat Hindu setiap tahun merayakan hari raya Siwaratri sebagai malam perenungan dan pemujaan kepada Sang Hyang Siwa. Siwaratri (malam Siwa) yang jatuh pada Panglong Ping 14 Sasih Kapitu menjadi momentum intropeksi diri dan penyadaran. Tetapi banyak terjadi salah pemaknaan tentang Siwaratri (malam Siwa) sebagai malam peleburan dosa. Sesungguhnya dosa dari setiap manusia tidak bisa dilebur, tetapi mampu dinetralisir dengan perbuatan baik.

Ibarat dalam sebuah wadah yang telah terisi larutan yang berwarna gelap (dosa), maka untuk mengurangi dominasi warna gelap tersebut, maka harus terus diisi dengan larutan yang berwarna bening (perbuatan baik), sehingga secara tidak langsung warna gelap (dosa) tersebut dinetralisir oleh larutan berwarna bening (perbuatan baik), tetapi warna gelap itu tetap ada dalam wadah tersebut sama seperti dosa yang tidak bisa dilebur atau dihilangkan akan selalu terbawa sebagai karma wasana.

Di zaman globalisasi ini tantangan dan pergulatan manusia tentang pengendalian diri sangat diperlukan. Mengingat zaman tanpa batas, tanpa sekat ini membawa pengaruh yang sangat luar biasa. Bila manusia tidak mampu membatasi diri dan mengendalikan diri, maka manusia terbawa arus, sehingga terhempas dan tersesat. Pada momen perayaan Siwaratri (malam siwa) inilah manusia diharapkan kembali mendekatkan diri kepada hakikat kebenaran yang mutlak dalam wujud Dewa Siwa.

Pada hari Siwaratri, Dewa Siwa melaksanakan Yoga Samadhi untuk mendoakan alam semesta beserta isinya, sehingga di malam (ratri) yang paling gelap inilah manusia melaksanakan sujud bhakti memuja dan memohon anugrah Dewa Siwa. Jangan sampai hari Siwaratri dijadikan waktu untuk bergadang (jagra) melakukan kegiatan yang justru menambah dosa, seperti berjudi, pesta miras, pesta narkoba, bahkan kesempatan untuk melakukan seks bebas ataupun berzina.

Dalam perayaan Siwaratri (malam siwa) dalam kitab Siwaratri Kalpa digambarkan sosok tokoh Lubdaka yang sesungguhnya adalah manusia itu sendiri. Lubdaka digambarkan sebagai seorang pemburu yang dalam kehidupan secara nyata sesungguhnya manusia itu sendiri. Sifat manusia yang sesungguhnya pemburu dalam hidup ini. Manusia selalu memburu apa yang diinginkannya, terlebih harta benda dan kekuasaan.

Bila semua itu telah tercapai, maka terkadang manusia lupa tentang hakikat diri dan tujuannya diberikan kesempatan hidup menjadi manusia. Apalagi manusia telah dibutakan dengan materi (materialistik) dan selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa rasa peduli (kapitalis). Bila hal ini terjadi, maka hati nurani dan jiwa insani manusia telah rusak dan hancur.

Penggambaran manusia sebagai homo economicus yaitu makhluk bersaing/pencari keuntungan tidak terbantahkan. Inilah yang terjadi bila materialisme dan kapitalisme telah merasuk kedalam sendi-sendi kehidupan manusia. Paham inilah sesungguhnya telah menjangkit dalam kehidupan manusia di zaman globalisasi.

Penggambaran tokoh Lubdaka dalam perayaan Siwaratri (malam siwa) sebagai pemburu yang melakukan aktifitas di tengah hutan belantara secara filosofi sesungguhnya adalah manusia yang melaksanakan aktifitas/perbuatan di dunia ini (marcapada). Binatang yang diburu adalah babi hutan yang merupakan simbol kerakusan (loba) yang mesti dikalahkan.

Adapula binatang buas yaitu harimau yang merupakan simbol ego (keakuan/kesombongan) yang harus ditaklukan. Jika dikaitkan dengan kehidupan yang sesungguhnya merupakan pergulatan Lubdaka (diri manusia) dalam mengalahkan segala bentuk sifat loba, keakuan dan kesombongan. Manusia (Lubdaka) diharapkan mampu mengalahkan sifat loba (rakus) untuk mengumpulkan harta kekayaan (materialistik) dan menaklukan keakuan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya (kapitalis).

Paham materialistik dan kapitalis inilah yang perlu dikalahkan dalam melaksanakan swadharma sebagai pemburu. Dalam perburuannya Lubdaka mempergunakan senjata panah sebagai simbol dari ketajaman pikiran melalui pengetahuan (widya) yang mampu mengalahkan segala bentuk sifat-sifat yang menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. Panah (manah) adalah senjata yang paling ampuh yaitu berupa kecerdasan/ketajaman pikiran.

Dalam perayaan Siwaratri (malam siwa) sesungguhnya manusia diharapkan mampu melakukan pengendalian dalam bentuk jagra, upawasa dan monabrata. Pengendalian dalam bentuk jagra (tidak tidur, terjaga) sesungguhnya bentuk penyadaran pada diri untuk selalu terjaga, ingat/eling, tidak lupa (tertidur) dan selalu sadar akan hakikat hidup menjelma menjadi manusia. Selalu terjaga (ingat) akan kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan.

Pengendalian dalam bentuk upawasa (tidak makan dan minum), sebagai bentuk pengendalian untuk tidak makan sembarangan, tidak rakus terhadap makanan, bisa berbagi makanan, selalu bersyukur atas anugrah makanan yang telah dinikmati. Pengendalian dalam bentuk monabrata (berdiam diri tidak bicara) merupakan bentuk pengendalian kata-kata, agar tidak berkata kasar, berbohong, memfitnah, mencaci-maki atau menghina.

Semua bentuk pengendalian tersebut dilakukan dengan penuh rasa bhakti kepada Tuhan dalam wujud Dewa Siwa untuk mendapatkan anugrah-Nya. Inilah sesungguhnya makna yang perlu diwujudkan dalam setiap perayaan Siwaratri. Bagaimana kita sebagai manusia yang digambarkan sebagai Lubdaka mampu melakukan swadharma (kewajiban) sebagai pemburu dalam memenuhi kebutuhan hidup yang selalu berlandaskan pada kebenaran (Dharma).

Oleh: I Nyoman Agus Sudipta, S.Pd., M.Si l Staf Pengajar di STKIP Agama Hindu Amlapura
Source: Balipost.com