Memaknai Hari Raya Keagamaan

Hari raya keagamaan seyogianya dijadikan momen meningkatkan daya spiritual untuk meningkatkan kualitas prilaku sehari-hari. Memaknai hari raya keagamaan kita berusaha menekan angka-angka negatif dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam keadaan hari raya angka pelanggaran lalu lintas diupayakan agar menurun dengan meningkatkan kepatuhan umat akan peraturan dan etika berlalu lintas. Dengan demikian angka kecelakaan akan menurun. Berusaha menekan marah sebagai wujud memaknai hari raya keagamaan.

Tidak berjudi, mengurangi hidup berhura-hura sebagai wujud memaknai hari raya keagamaan. Kebersihan lingkungan lebih mendapatkan perhataian sebagai wujud memaknai hari raya keagamaan. Jangan justru sebaliknya akibat hari raya keagamaan lingkungan lebih kotor, seperti sampah sisa-sisa upakara justru semakin berserakan menumpuk disana-sini termasuk di areal tempat pemujaan.

Setiap hari raya ditandai dengan menanam pohon di sekitar wilayah desa tempat kita bermukim. Dalam rangka hari raya fakir miskin lebih mendapatkan perhatian dari umat yang lebih berpunya. Orang-orang sakit lebih mendapatkan perhatian sehingga beban derita sakitnya lebih tertanggulangi. Berusahalah melakukan hal-hal yang dapat menekan angka-angka negatif sebagai wujud memaknai hari raya keagamaan. Umat Hindu memiliki beberapa hari raya keagamaan yang di Bali disebut rerahinan seperti tanggal 8 Desember 2010 ini merayakan hari raya Galungan dan sepuluh hari selanjutnya akan dirayakan hari raya Kuningan.

Awal tahun 2011 ini umat Hindu merayakan hari raya kesadaran rohani (Pajagran) yang disebut dengan hari raya Siwa Ratri. Demikianlah datangnya hari raya keagamaan itu beruntun. Umat Hindu di Bali menyebutkan hari raya keagamaan itu dengan rerahinan. Istilah ini kemungkinan besar berasal dari kata rarahina. Kata ra dalam kata rarahina itu artinya sangat terhormat. Seperti kata ra dalam kata "raja" yang artinya kelahiran yang terhormat. Sedangkan kata rahina artinya hari. Dari ra-rahina terus menjadi rerahinan dalam bahasa lisan.

Dalam istilah Indonesia disebut hari raya artinya hari besar. Kata "raya" artinya besar. Mengapa setiap agama memiliki hari raya atau hari yang dibesarkan. Dalam hal inilah umat beragama seyogianya secara terus menerus melakukan proses evaluasi dalam merayakan hari besar keagamaannya. Sudahkah tepat cara kita merayakan hari besar keagamaan. Sejauh mana hari besar keagamaan itu dapat didayagunakan oleh umat untuk memajukan taraf hidupnya. Sudahkah hari besar keagamaan itu berfungsi untuk melakukan proses tranformasi rokhani dalam mewujudkan nilai-nilai keagamaan itu dalam hidup ini.

Sebelum hari besar keagamaan itu datang umat beragama seyogianya melakukan penajaman ulang dalam memahami makna utama hari besar keagamaan tersebut. Proses penajaman ulang itu dilakukan secara individual maupun melalui kelompoknya masing-masing. Proses tersebut sangat penting agar jangan terjadi secara terus menerus kesalahpahaman dalam memaknai hari besar keagamaan. Karena selama ini merayakan hari besar keagamaan masih lebih menonjol dirayakan dengan pesta pora yang bernuansa duniawi dari pada nilai rohaninya. Terutama bagi umat Hindu merayakan hari besar keagamaan itu memang harus dilakukan dengan konsep sekala-niskala. Harus ditradisikan suatu sistim kontrol di kalangan umat agar konsep sekala-niskala dalam merayakan hari besar keagamaan itu dapat berjalan secara tepat.

Kalau perayaan itu tidak sesuai dengan teksnya sebagaimana dinyatakan dalam sastra sucinya maka lama kelamaan perayaan hari keagamaan itu akan kehilangan makna utamanya. Keadaan seperti itu sudah cukup banyak terjadi. Umatpun menjadi mubazir atau lebih banyak sia-sianya dalam merayakan hari besar keagamaan. Padahal merayakan hari besar keagamaan adalah suatu momentum untuk menanamkan nilai-nilai suci keagamaan yang universal pada umat. Saat hari raya keagamaan itulah nilai-nilai tersebut ditanamkan lebih dalam pada lubuk hati nurani umat. Karena itu perlu ada pembenahan terus menerus atau Nutana Dharma pada sistim beragama.

Pembenahan tersebut untuk mendapatkan sistim yang selalu sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan jzman. Dengan demikian sistim beragama tidak pernah terlambat menyiapkan kekuatan moral dan daya tahan mental dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang demikian dinamis dan multidimensi. Sistim beragama harus selalu dinamis menyajikan nilai-nilai spiritual Agama sabda Tuhan dalam menghadapi perubahan zaman yang demikian cepatnya. Kehidupan manusia akan terus menerus mengalami ketidakseimbangan kalau sistim beragama terlambat menanamkan niali-nilai Agama pada lubuk hati sanubari manusia.

Merayakan hari besar agama harus dilihat sejauh mana hari besar itu didayagunakan untuk membesarkan kekuatan spiritual dalam diri setiap umat. Persoalan akan menjadi terbalik apa bila hari besar agama itu dijadikan momentum untuk membesarkan gejolak hawa nafsu dan egoisme keagamaan. Dalam kemajuan zaman ini, hal ini semestinya menjadi perhatian kita bersama. Kalau benar hari besar keagamaan menjadi suatu momentum untuk membesarkan kekuatan spiritual maka aparat keamanan justru pada hari besar keagamaan akan berkerja secara santai. Karena kekuatan spiritual agama yang besar dalam diri manusia akan mengekspresikan prilaku mulia dan daya tahan mental yang tangguh.

Kekuatan spiritual agama yang besar itu akan berfungsi mencegah kebut-kebutan, mabuk-mabukan, sombong-sombongan pada hari raya. Demikian juga tidak akan terjadi pengumbaran nafsu pada hari raya keagamaan itu. Umat pun tidak perlu memaksakan diri mengeluarkan biaya besar dalam merayakan hari besar keagamaan. Apa lagi sampai berhutang. Kalau yang dibesarkan pada hari raya keagamaan itu penampilan kehidupan yang keduniawian maka hari raya keagamaan justru akan menjadi beban yang memberatkan berbagai pihak. Justru dekat-dekat hari raya semakin banyak orang kehilangan. Konon pencurinya mencari biaya untuk merayakan hari besar keagamaannya. Rumah sakit kadatangan pasien kecelakaan meningkat tajam, karena kebut-kebutan saat hari raya. Seyogianya hari raya keagamaan lebih banyak mendatangkan nilai rokhani.

 

Source: I Ketut Wiana l Bali Post, Senin, 5 Desember 2010