Memaknai Hari Raya Galungan

Hari raya Galungan yang meru­pakan hari raya besar bagi Umat Hindu diperingati setiap 210 hari berdasarkan perhitungan pawukon yakni jatuh pada hari Rabu pancawara Kliwon, wuku Dungulan. Peringatan hari raya dalam agama Hindu menggunakan perhitung­an sebagai berikut:

1. Berdasar sasih, melihat peredaran bulan di langit jatuh setiap tahun seperti hari-hari raya Nyepi, Siwalatri bila dihitung kurang lebih setiap 365 hari.

2. Berdasarkan pawukon, yang diperingati setiap 210 hari seperti hari raya Galungan, Kuningan, Pagerwesi dan Saraswati.

Hari raya Galungan mempunyai makna memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma, secara rohani manusia mengendalikan hawa nafsu yang sifatnya mengganggu ketentraman batin yang nantinya berekpresi dalam kegiatan sehari-hari baik secara individu maupun kelompok. Hawa nafsu dalam diri kita dikenal dengan nama Kalatiga yakni tiga macam kala secara bersama-sama dimulai sejak hari Minggu sehari sebelum penyajaan, hari Senin dan berakhir hari Selasa (Penampahan Galungan). Yang dimaksud tiga kala yakni:

1. Kala Amangkurat yakni nafsu yang selalu ingin berkuasa, ingin menguasai segala keinginan secara batiniah dan nafsu ingin memerintah bila tidak terkendali tumbuh menjadi nafsu serakah untuk mempertahan­kan kekuasaan sekalipun me­nyimpang dari kebenaran.

2. Kala Dungulan yang berarti segala nafsu untuk mengalahkan semua yang dikuasai oleh teman kita atau orang lain.

3. Kala Galungan yakni nafsu untuk menang dengan berbagai dalih dan cara yang tidak sesuai dengan norma maupun etika agama.

Hari raya Galungan memang dirayakan sebagai hari raya kemenang­an Dharma melawan Adharma, kalahnya keangkaramurkaan yang oleh Mpu Sedah disebut sebagai "Kadung gulaning parangmuka" lebih jauh dije­laskan musuh yang dimaksud adalah musuh-musuh yang ada pada diri manusia yang terlebih dahulu harus dikalahkan. Musuh dimaksud adalah: kenafsuan (kama), kemarahan (kroda), keserakahan (mada),'irihati (irsya) atau semua tergolong dalam sadripu maupun Satpa Timira.

Sebagaimana kita ketahui kisah tersebut telah tertuang dalam kitab mahabharata yang termasuk Itihasa sangat utama dalam sastra Hindu. Dalam kitab tersebut tertulis betapa perjuangan Pandawa dalam memerangi Adharma untuk menegakkan dharma. Sang Darma Wangsa adalah keluarga yang selalu menegakkan dharma beliau bekerja, berjuang dan berkeyakinan bahwa kebenaran akan selalu menang (Satyam eva Jayanti).

Lain halnya dengan maha kawi Danghyang Nirartha, beliau melahirkan sebuah karya kekawin Maya Danawan-taka. Dalam ceritanya dikisahkan seorang pertapa yang teguh melaksana­kan tapa di punggung gunung Ksiti-pogra dan pusat pemerintahannya diseputaran danau Batur daerah Kinta-mani, Bangli di Bali. Setelah dia mendapat anugrah dalam pertapaannya ternyata kelobaannya menjadi-jadi, sehingga rakyatnya di wilayah pemerintahannya menjadi ketakutan, Si Mayadanawa tidak hanya mengum­pulkan emas, kekayaan, dia melarang melakukan yadnya, bersama tentaranya merusak, mengacau, menyakiti, meng­hina sastra dan ajaran agama. Oleh karena kejahatannya, diutuslah Dewa Siwa untuk memeranginya. Maka terja­dilah pertempuran yang sangat hebat antara pasukan Dewa Siwa dengan Mayadenawa. Karena kesaktiannya Mayadanawa menciptakan tirte cetik, sehingga pasukan Desa Siwa yang sedang kehausan meminumnya, semua pasukan Dewa Siwa Mati. Singkat cerita Dewa Siwa mengetahui kejadian tersebut sehingga Dewa Siwa mencipta­kan tirta empul (pengurip) yang seka­rang disebut tirta empul, diperciki pasukan yang mati hidup kembali. Peperangan harus berlanjut sehingga Mayadanawa terkepung tentaranya mati, dia lari tunggang langgang segala macam taktik tipu muslihat diperguna­kan. Mayadanawa lari agar tapak kakinya tidak dilihat, dia lari dengan tungkai yang miring namun tetap diketahui oleh Pasukan Dewa Siwa sehingga sebagai bukti tempat itu sampai sekarang disebut desa Tapak Sir­ing asal kata dari telapak kaki miring. Kemudian Maya Danawa lari bersem­bunyi di pohon kelapa pada kuncup/ pada busung kelapa tetap dapat dilacak oleh pasukan Dewa Siwa sampai sekarang tempat itu dinamakan desa Blusung. Akhir cerita karena Mayade­nawa dipihak yang salah peperangan dimenangkan oleh Pasukan Dewa Siwa dan Mayadenawa mati. Demikian sejarah hari Galungan.

Menyambut hari Raya Galungan umat Hindu hendaknya benar-ben dapat mengendalikan tiga nafsu : in = berkuasa, ingin mengalahkan, ingi menang sehingga di hari Rabu/di h Galungan dapat menegakkan da mengibarkan panji-panji kemenang dan kemerdekaan spiritual. Kita dap melepaskan pikiran kita dari kesusah sehingga merasa tenang, tentra gembira baik secara individu, keluarg serta seluruh umat agar dapat menatap merencanakan hari depan semaki cerah. Sebagai simbul kemenangan kegembiraan, rasa syukur sehari sebe­lum Galungan umat Hindu menancap­kan Penjor-penjor di pitu gerbang/jalan masuk halaman rumah yang mem­punyai makna segala sumber kehidup­an disediakan di bumi, penjor sebagai lambang gunung yang merupakan segala sumber kemakmuran yang diperlukan oleh seluruh mahluk. Gunung sebagai sumber sandang, pangan dan papan, penghasil udara dan air oleh karena itu disimbulkan dengan penjor dengan segala hiasan sesuai seni dan budaya umat Hindu masing-masing, dilengkapi dengan hasil bumi pala bungkah (umbi-umbian) dan pala gantung (buah-buahan) dan juga dilengkapi dengan kain putih kuning yang melambangkan panji-panji keheningan ketulusikhlasan dan kesucian rohani.

Hari Galungan juga merupakan hari Pewedalan Jagat/hari ulang tahunnya Jagat raya. Oleh karena itu umat Hindu dihari Galungan melaksa­nakan upacara, menghaturkan sesajen sesuai peruntukannya yang ditujukan sebagai ungkapan perasaan bakti, sujud, kagum dan bersyukur terhadap Jagatraya yang diciptakan oleh Tuhan. Kita pahami Jagatraya sebagai tempat untuk hidup, memberikan segala sumber penghidupan untuk itu dihari Galungan sangat baik melakukan dana punia baik berbentuk materail, maupun berupa pengabdian/jasa. Karena dalam bentuk apapun dana punia itu diberikan yang tujuannya untuk kesejahteraan umat, ketenangan nilainya sangat tinggi bila diberikan secara tulus ikhlas. Seperti dikatakan dalam Slokantara sloka ke 33 yaitu :

"Jika diwaktu bulan purnama dan bulan mati para dermawan memberikan danapunia akan diterima kembali balas­annya satu lawan sepuluh oleh Hyang Widhi. Kalau waktu gerhana bulan dan gerhana matahari akan dikembalikan seratus kali, jika pengorbanan dilakukan pada hari-hari pemujaan arwah leluhur balasannya seribu kali, kalau dilakukan pada akhir zaman Kaliyuga akan dikem­balikan dalam jumlah yang tidak terhingga".

Yadnya dan dana mempu­nyai makna hampir sama yadnya lebih condong pada upacara sedangkan dana pemberian berupa materi. Bila kita berdana untuk pemeliharaan atau perkembangan Pura berarti kita sudah bakti kepada Tuhan, karena pura meru­pakan tempat pemujaan maha Pencipta. Pemberian dana yang ditujukan kepada kegiatan sosial seperti membantu orang miskin, memberi pertolongan kepada orang yang sedang dilanda kesusahan merupakan juga bentuk Dana yang sangat tinggi nilainya. Dana yang diberikan dalam bentuk ilmu pengeta­huan sehingga orang menjadi pinter, trampil sehingga bisa hidup sendiri nilainya lebih tinggi pula. Karena itu umat Hindu dimana saja berada kita hendaknya dapat berperan dan mengambil bidang masing-masing untuk beryadnya, berdana punia sesuai kemampuan dan kapasitas kita, diberi­kan kepada siapa saja yang memerlukan yang dilandasi denganketulus-ikhlasan. Jangan beryadnya menyusahkan diri sendiri atau memaksakan diri, karena dana yang demikian tidak bermanfaat. Kita sadari tujuan hidup Umat Hindu adalah untuk mencapai kesejahteraan rohani dan jasmani, kesejahteraan di dunia dan ahirat.

 

Source: I D.K Budirata l Warta Hindu Dharma NO. 429 November 2002