Memahami Dharma Gita Dalam Sistem Nilai Agama Dan Budaya Hindu [2]

(Sebelumnya)

Pemahaman teoritis tentang Tuhan sebagai "gita-abadi" menjadi makin jelas jika disimak seperti pada contoh ritmis "ucapan/sabda suci" A-U-M (OM), dalam hal mana pelafalan aksara suci tersebut merefleksikan aspek-aspek gita; suatu nada cosmik dalam suatu irama estetik. Dengan kata lain, prinsip gita disini - dengan meminjam istilah Immanuel Kant— menjadi "perpusiveness" yakni 'sesuatu yang tiada menjadi ada (karena) adanya citraan yang diberikan'.

Dengan demikian dari konsep ini barangkali dapat kita pahami, mengapa dalam ritualia Hinduisme yang brahmanaistis itu Panca Gita (suara sang Yajamana, Bajra/Genta, mantra, kidung pujian, dan suara gong/gamelan) menjadi bagian yang integral, bahkan secara religius, Panca Gita menjadi unsur yang paling kudus dari tindakan cipta ritual keagamaan bersangkutan.

Pandangan teoritik Weda yang melihat "wajah" Tuhan sebagai "Dharma Tertinggi" dalam "Gita Abadi" jika dikaitkan dengan suatu pemikiran estetika (filsafat keindahan) dari Schopenhaur, ternyata ada relevansinya. Secara hirarkis Schopenhaur menempatkan seni suara (musik) sebagai "genre" seni yang paling tinggi, yakni lebih tinggi dari puisi, karena ia berada pada tataran ide, bersifat heptik dan secara akurat mampu mengobyektifikasikan kehendak. Makna dapat direduksi, pengertian gita di sini dapat dimaksudkan mampu mengobyektifikasikan "kehendak Kudus" atau religius.

Pandangan yang jauh lebih "adavanced" dari apa yang dikatakan Schopenhaur dalam masalah ini adalah suatu paradigma yang disebut Nawawidhabhakti dari Bhagavata Purana. Dari ke-9 jenis paradigma tersebut yang cukup relevan disebut bekenaan dengan konsepsi gita di atas adalah Kirtanam dan Vadanam. Tindak kebhaktian kepada Brahman sebagai suatu "rumusan suci" dapat dilakukan dengan "mengidungkan" (kirtanam) rumus-rumus suci tersebut sebagai "kidung" (gita) dan Ia sesungguhnya adalah kidung itu sendiri, demikian juga dengan Vadanam, pemujaan dengan menceritakan citraan Dirinya dalam cerita-cerita itu (seperti dalam Itihasa dan Purana), dalam hal mana cerita-cerita itu bagian dari Dirinya sendir.

Konsepsi tersebut lebih lanjut dapat disimak dalam suatu representasi seperti yang dikemukakan oleh para kawi Jawa Kuno dan Bali, yang memuja-Nya sebagai Dewi Tutur-kata dan Aksara yang sekaligus bermatra Tutur dan Aksara itu sendiri sebagai representasi-Nya, sandhi ning lango (tersublim di dalam keindahan), yang memungkinkaan sang kawi untuk lungsuran lango, sekaligus silunglung (senyawa, monistis) dalam suatu candi pustaka, yang senantiasa present yan hana wioang amuter tutur pinahayu. Teori gita tersebut dalam konteks "Dharma Gita" (gita dharma) memiliki signifikasi 'kredo eksistensialistis' dari para manu di dalam Maha Manu - seperti meminjam istilah Rene Descrates; 'cagito ergo sum' - yakni yang secara otologis dapat bermatra " meng-ada-hadir-kan" Supernatural Being dalam suatu "Ada-Nya" yang ter-Ada.

Gita dalam Konsepsi sebagai Sastra-Yantra dan Sastra-Niti

Kata yantra, berarti "bantuan" atau "korban", secara khusus dipakai sebagai nama bantuan yang digunakan oleh para yogi seperti bantuan untuk meditasi, dan yang dapat juga dalam beberapa kasus digunakan sebagai wadah (pemujaan) untuk Istadevata. Tapi pott menambahkan, dalam wacana pada umumnya, kata yantra juga dipakai untuk menunjukkan suatu kategori di dalam sebuah kelompok yang menyebut bantuannya tersebut diacu sebagai diagram-diagram mistik (mystical diagrams), seperti yang disebut oleh Zimmer (1926) sebagai objects of meditation. Ungkapan yantra sebagai suatu mystical diagrams yang disebut Zimmer, terdapat secara melimpah di dalam teks-teks Tantris seperti yang dipublikasikan Avalon.

Dalam kaitannya dengan prinsip dasar oleh pemusatan pikiran (meditasi) dalam yoga, yantra dapat memiliki arti penting sehubungan dengan obyek tertentu yang dijadikan alat bantunya. Beberapa prinsip yang dikenal, antara lain: Sawitarka, adalah prinsip pemusatan pikiran melalui benda kasar, Sawicara ialah prinsip meditasi melalui tanmatra, Sananda ialah pemusatan melalui rasa indria, dan Samita adalah meditasi yang dipusatkan pada anasir jiwa-atma.

Para ra kawi (pengarang) Jawa Kuno Pertengahan pada umumnya terlebih lagi dengan Rsi penerima Wahyu Weda adalah seorang yogi yang terasah dalam suatu laku tapa-brata paling tidak bukan orang sembarangan dan dalam banyak hal mereka merupakan kelompok yang cukup terpelajar. Bagi para ra kawi Jawa Kuno-Pertengahan, karya sastra-terutamanya sastra kakawin merupakan suatu obyek meditasi secara total, yakni memadukan kelima prinsip di atas dengan aksara dan atau serta-merta Dewi Aksara/Tutur-Kata sebagai Istadewata-nya. Karya sastra yang dihasilnya pada dasarnya merupakan representasi dari suatu percerapan estetik yang diramu atas dasar pengalaman religius/spiritual dan pengalaman estetik. Yoga memberi andil dalam meraih pengalaman religius. Sedangkan pengayaan pengalaman estetik (aesthetic experience) dalam dunia Jawa Kuno diperoleh konsep yang disebut sagara-giri, yaitu suatu tulang keindahan (anglanglang kalangwan, andon lango) ke gunung dan laut.

Berdasarkan konsep terjabar di ataslah, maka karya-karya sastra Jawa Kuno-Pertengahan pada dasarnya adalah sebuah yantra, media meditasi atau ibadah estetis bagi para kawi. Dengan demikian, maka karya-karya tersebut juga disebut sebagai candi-pustaka, yakni tempat yang disucikan untuk melakukan suatu pemujaan kepada Tuhan sebagai Keindahan Tertinggi, yang kemudian di dalam tradisi sastra Islam dikenal dengan tauhid. Oleh karena itu, kegiatan angiket lango (menggubah keindahan) pada akhirnya adalah suatu cara bagi para ra kawi untuk mencapai kebebasan, baik sakala (duniawi) maupun niskala (akhirat) yang disebut "Kelepasan" (silunglung), yakni senyawanya "kawi dengan Kawi" dalam suatu Pembebasan tertinggi.

Di samping itu, pentingnya (sentralnya) fungsi karya sastra Jawa Kuno-Pertengahan salah satunya juga disebabkan oleh esensial konsep niti di dalam karya-karya tersebut. Istilah niti berarti 'kelakuan, pedoman hidup, ilmu tata negara/pemerintahan, (kebijaksanaan) politik, perintah, bimbingan, (ke) tangkas (an), kewaspadaan, memperlihatkan (meneliti)'. Arti kata niti yang paling relevan dalam kaitan ini barangkali, ilmu tata negara dan pemerintahan, (kebijaksanaan) politik, pedoman atau bimbingan hidup'.

Berkenaan dangan hal inilah karya sastra Jawa-Kuno-pertengahan merupakan satu alat yang cukup efetif untuk pembelajaran tentang nilai-nilai yang dipedomani, sehingga karya sastra adalah sebuah niti, seperti salah satunya kita kenal dari kakawin Nitisastra. Terkait dengan konsep tersebut, maka karya sastra Jawa-Kuno-Pertengahan serta merta pula menjadi media pembelajaran tentang dharmasastra (hukum). Sehingga seorang raja sebelum bertahta 'wajib' membaca, mempelajari, dan memahami karya sastra, dengan didampingi para ra kawi terutama yang telah diangkat menjadi kawirajaya, atau purohito.

Berdasar konsep sastra-niti, maka penciptaan suatu karya sastra Jawa Kuno-Pertengahan tentu bukan serampangan, tetapi pasti memiliki pertimbangan-pertimbangan yang matang; untuk tujuan apa suatu karya sastra tersebut digubah ra kawi. Sebagai seorang kawi, meski memiliki kebebasan kretif, tetapi tanggung jawabnya yang paling penting adalah bagaimana karya yang digubah tersebut dapat berguna dalam : (1) pembelajaran berbagai seluk-beluk tata negara/ pemerintah, (2) pembelajaran bagi kerabat keraton dalam hal norma-norma dan nilai-nilai kehidupan yang dipedomani, (3) upaya mewujudkan kesejahtraan masyarakat dalam kebersamaan (paras paros sarpanaya, salunglung sabayantaka; serta agawe suka nikang rat). Sebagai salah satu contoh, kita dapat menyebut kakawin ramayana, terutama misalnya dengan konsep Asta Brata.

Dari pemahaman itu, jelas bahwa kegiatan religius-kultural dari dharma gita yang juga disebut sebagai "pentas seni baca Weda", yang di dalamnya terdiri atas komponen pembacaan/ apresiasinya bersumber: Sloka dan Sruti Weda, karya-karya sastra kakawin, karya-karta parwa, karya-karya kidung, dan karya-karya geguritan pada prinsipnya dimarkahai oleh kedua konsep dasar diatas, yakni tindak kegiatan pembacaan sebagai yantra (arcanam, vadanam dan kirtanam).

Gita dalam Konsepsi sebagai Metode Pembelajaran Weda dalam Sistem Pendidikan Hindu

Dari sudut sosiologi pendid ikan Hindu, dharma gita dapat dipandang sebagai sebuah paradigma pendidikan tradisional Hindu, dalam hal mana dharma gita merupakan salah satu media dalam usaha internalisasi, edukasi, transformasi berbagai nilai religius dan budaya dari kitab suci Weda. Beberapa konsepsi mendasar di atas sudah mereorientasi bagaimana dharma gita menjadi landasan untuk tahap (first step) untuk memasuki dunia yang berupa sistem nilai dan pemikiran (knowledge system) dari agama dan budaya Hindu dalam arti luas, dengan suatu metode pencerapan estetik. Karena sesungguhnya Tuhan itu indah, wahyu itu juga indah hidup dan kematian itu sendiri juga indah; dan karena itu estetika, baik filsafat seni maupun objek keindahan itu sendiri menjadi wahana yang sangat penting dalam sistem pendidikan Hindu.

Dalam pandangan masyarakat Bali konsepsi ini dinyatakan dalam wacana dialektis yartg secara dinamik terumus dalam ungkapan kultural : "Melajah sambil megending, megending sambil melajah". Sebagai sebuah proporssi filsafat seni dan filsafat pendidikan, ungkapan budaya ini memiliki signifikasi kemanusiaan yang sangat mendasar, yakni sutu konsep berpikir harmoni dalam dua oprsi biner itu: "belajar - bernyanyi". Konsepsi edukasi yang sangat humanis dari sistem pendidikan Hindu dapat pula sebagai sebuah refleksi dari sosiokultural Hindu yang dipancari oleh Weda. Meski dapat kita pahami bahwa Weda pada dasarnya menganut azas "Purushaism" akan tetapi lebih lebih tepat bila disebut sebagai "Puruhaismeharmoni" karena ia tidak mendiskriminasi "Pradana" tetapi menempatkannya sebagai "esensi-nya" sehingga menjadilah salah satu unity (Kesatuan, kebutuhan, kesempurnaan) yang disebut Ardhanareswari.

Konsepsi Ardhanareswari ini bila kita lihat dari teori kritik posmodernism yang berpahamam dekontruksi (dengan tokoh Jacques Derrida), maka sesungguhnya Weda menematkan asas teori negativa yang disebut neti-neti. Dengan demikian, dharma gita sebagai sebuah komponen dalam sistem pendidikan Hindu ini ternyata memiliki daya relevansi yang jauh ke depan dalam menjelajahi milenium ketiga ini.

Sebagai sebuah paradigma didaktik, dharma gita secara kreatif dan dinamik menjadi media pembelajaran yang mendasar tentang etika Keutamaan dan etika Kewajiban. Istilah pertama berasal dari Soekratesistoteles, bahwa pada prinsipnya etika Keutamaan menekankan pada be-ing manusia sebagai mahluk yang memiliki manu/manah, sehingga rumusannya: what kind of person should I be!. Sedangkan istilah yang kedua berasal dari David Hume-Immanuel Kant, yang menyatakan bahwa etika Kewajiban pada dasarnya menekankan pada doing manusia, dengan rumusan: "What should I do !".

Kedua rumusan etika yang mendasar dari dunia Barat itu pada dasarnya hampir sama dengan rumusan etika didaktik Weda-terutama dalam Bhagawadgita, yang dirumuskan sebagai dharma (etika Keutamaan) dan karma (etika Kewajiban), kedua prinsip ini bukan saja sebagai landasan pembelajaran hidup duniawi, tetapi juga landasan bagi hidup abadi, yang lebih jauh diterjemahkan oleh pengarang besar Bah abad ke-20 yakni Ida Pedanda Made Sidemen di dalam Geguritan Salampah - Laku menjadi suatu rumusan filsafati yang inward-looking, yaitu : "karang awake risakin, karang awake tandurin" rumusan yang juga dikembangkan oleh pengarang besar Prancis yang bernama Voltaire; demikian juga ungkapan estetik dari Kidung Mituturin Awak (Nyeling) dari Anak Agung Gede Pameregan, yang menyatakan : "enyen tuah beber, tuahnya awak padidihan". Hakikat ini lebih jauh ditegaskan kembali olleh Ida pedanda Made Sidemen di Singhalang-gyalaparwwa, dalam rumusan "tan hana ng wastu tan palalayan" (tiada anugerah tanpa suatu usaha untuk mencapai anugerah itu).

Apresiasi berbagai nilai melalui kegiatan "seni baca Weda" atau dharma gita ini berdasarkan teks-teks dari beragam sumber itu pada prinsipnya juga merupakan refleksi dari pemahaman kita berkaitan dengan konsep-konsep di atas .Pemahaman atas nilai-nilai yang terungkap, seperti: nilai teologis, kefilsafatan, kemanusiaan, sosial - kemasyarakatan, etik-didaktik dan sebagainya, adalah bagian dari suatu sistem yang saling kait mengait nyaris "seameness" dalam sebuah kesadaran unity antara individu masyarakat jagad raya, yang oleh para pemikir dirumuskan menjadi "in-der-welt-sein", "etre au monde" (sebuah rwalitas makrokosmos-mikrokosmos) dan gita-lah yang mengandung dan melahirkan kita dalam hidup kemanusiaan sesosok "manu" untuk menggapai "Manu Abadi".

Oleh: I Made Suparta
Source: Warta Hindu Dharma NO. 530 Pebruari 2011