Melawan Penjajah Baru

Era baru politik dunia pasca kolonialisme dan imperialisme Barat menunjukkan bahwa penjajahan tidak lagi menjelma dalam bentuk penaklukan dan penindasan terhadap suatu kaum atau bangsa. Hal ini seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dunia mengenai hak asasi manusia, kebebasan, kemanusiaan, dan kedaulatan negara-bangsa se-hingga segala bentuk penjajahan melalui kekuatan politik dan militer merupakan musuh bersama. Walaupun demikian, penjajahan tidak pernah lenyap dari muka bumi ini karena faktanya masih banyak bangsa-bangsa di dunia yang belum sepenuhnya merdeka dan ber-daulat dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kata lain, penjajahan menjelma dalam berbagai bentuk ketergantungan suatu bangsa terhadap bangsa lain di dalam percaturan politik dunia.

Penjajahan merupakan wacana kekuasaan yang memosisikan hubungan antar-bangsa dalam konteks dominasi dan hegemoni yang demikian kompleks. Bangsa penjajah tidak lagi teridentifikasi sebagai bangsa yang menaklukkan bangsa lain, tetapi mereka yang memiliki kekuasaan lebih besar untuk menghegemoni bangsa lain. Kalangan orientalis umumnya mendikotomikan "Barat" dan "Timur" dalam kerangka kultural untuk melihat hubungan hegemonik di antara keduanya. Sulit disangkal bahwa hegemoni Barat terhadap Timur (dan seluruh katagori negara Dunia Ketiga lainnya) memang begitu kuat seiring dengan modernisasi yang bergulir ke segenap penjuru dunia. Bagi masyarakat atau bangsa yang telah menerima modernisasi, niscaya akan menerima budaya Barat dalam kehidupannya.

Modernisasi yang digerakkan oleh etos kerja kapitalistik dapat dikatakan sebagai saluran utama penyebaran dan perluasan hegemoni budaya Barat. Implikasinya bahwa seperangkan nilai yang menyertai budaya Barat seperti rasionalisme, materialisme, individualisme, dan hedonisme juga turut menyebar ke dalam masyarakat yang telah termodernkan. Mengingat nilai tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan budaya Timur sehingga keterjajahan masyarakat Timur karena hegemoni budaya Barat merupakan keniscayaan yang senantiasa membayang. Apalagi modernisasi memiliki serdadu ampuh bernama ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang siap menjadi gerbong raksasa untuk mengantarkan milyaran umat manusia ke rumah budaya Barat.

Memosisikan IPTEK sebagai alat hegemoni budaya Barat tentu bukanlah simpulan yang prematur. Faktanya, IPTEK selalu dimanfaatkan oleh Dunia Barat untuk menjajah bangsa lain, baik melalui kekuatan militer maupun hegemoni budaya. Perang Dunia telah membuktikan bahwa perlombaan teknologi persenjataan di Dunia Barat telah memakan jutaan korban nyawa dan penderitaan masyarakat. Setelah keadaan damai, juga IPTEK menjajah intelektualitas dan kedirian manusia sehingga melahirkan manusia-manusia yang teralienasi dari lingkungan alam dan sosialnya. Pada kenyataannya, pendewaan rasionalitas dengan mengabaikan moralitas dan spiritualitas dalam pengembangan IPTEK telah melahirkan era kegelapan intelektual dan barbarisme etik (Radhakrishnan, 2003).

Sebuah era dimana ilmu pengetahuan yang demikian mulia ternyata tidak sepenuhnya mampu memuliakan kehidupan manusia dan semesta alam. Eksploitasi alam dan manusia terjadi begitu rupa, tanpa batas, tanpa mengindahkan lagi kaidah-kaidah moral. Kemanusiaan telah berada pada level terendah sehingga manusia modern kerap gagal mengenali dirinya sendiri, apalagi menemukan jati dirinya.

Alih-alih menemukan Aku-Sang Diri-realitas suci nan sempurna, justru manusia modern lebih suka bermain-main dengan 'ke-aku-annya'. Jawaban manusia atas pertanyaan "Siapa Aku?" yang begitu sarat makna spiritual, akhirnya terdegradasi maknanya menjadi persoalan material belaka "Aku adalah segala yang kumiliki". Wirya (kekuasaan), artha (kekayaan), dan wasis (pengetahuan) yang sepatutnya 'hanya' sebagai sarana kehidupan agar hidup manusia lebih bermakna, ternyata malah kehilangan makna karena menjadi tujuan hidup. Realitas semu (maya) ini, bahkan terus diburu dan diperjuangkan dalam setiap hembusan nafas manusia modern sehingga moralitas dan kemanusiaan pun kerap dikorbankan demi pemenuhan hasrat berkuasa.

Sekali lagi, kecanggihan IPTEK telah menyediakan arena yang menyenangkan bagi para hedonis pemuja maya tersebut. Sebuah "dunia maya" berhasil dikonstruksi untuk memuaskan hasrat dan libido manusia modern dalam membangun eksistensinya. Melalui teknologi informasi, dunia maya melipat semesta yang demikian besar nan luas ke dalam tas laptop dan kantung handphone, serta menyatukan masyarakat dunia dalam satu komunitas yang menyatakan diri sebagai 'masyarakat informasi'. Dunia maya mengambil-alih seluruh batas negara-bangsa dan mentransformasikannya menjadi dunia tanpa batas (borderless). Di dalam dan melalui dunia inilah manusia modern membangun eksistensinya pada berbagai ranah kehidupan, bahkan untuk sekadar menyatakan dirinya eksis.

Waktu, tubuh, dan perjumpaan yang konon merupakan simpul realitas sosial kini tidak penting lagi, karena dalam dunia maya semua sudah terwakili oleh ekspresi dan interaksi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dunia maya menjadi arena eksistensialisme baru, yakni dunia eksistensi yang semata-mata menjadi persoalan ekspresi dan representasi dalam lingkup konsumsi media. Nyaris tidak ada lagi pembedaan antara urusan privat dan publik sejauh itu dapat dijadikan komoditas yang layak dikonsumsi oleh para pengguna dunia maya dan menjadikannya eksis dalam dunia ini. Mengumbar aib sendiri atau aib orang lain, memajang kemolekan tubuh dan aurat, mengekspresikan perasaan suka atau duka, seluruhnya dapat dijadikan komoditas yang patut dipertontonkan dalam dunia maya. Tidak ada nilai yang membatasi kebebasan tersebut karena setiap keputusan untuk menilai patut dan tidaknya informasi tersebut sepenuhnya berada di tangan konsumen. Lihat saja misalnya, ungkapan rasa sedih dan berduka saat seseorang meninggal dianggap sebagai ekspresi persahabatan yang paling niscaya, walaupun kebenaran di balik itu tiada siapapun yang tahu.

Duni maya memang menyediakan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menampilkan atau menyembunyikan kebenaran tanpa adanya keharusan untuk memberikan pertanggungjawaban moral. Segala informasi yang telah dilempar ke publik sepenuhnya menjadi milik konsumen untuk memaknai kebenarannya karena karena kebebasan berekspresi adalah legitimasi moral yang utama. Walaupun demikian, dunia maya juga dapat bertransfrmasi menjadi kekuatan penggerak sosial yang begitu dahsyat pengaruhnya pada masyarakat. Tidak sedikit persoalan kemanusiaan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial yang sebelumnya tidak pernah diketahui publik, akhirnya terungkap jelas dan terang kerana peran serta dunia maya. Dunia maya sebagai produk budaya modern memang menciptakan berbagai problematika kehidupan, tetapi pada saat bersamaan juga dapat menjadi solusi atas berbagai problematika tersebut.

Demikian besarnya ketergantungan dan keterikatan masyarakat modern pada informasi kian memperkokoh posisi dunia maya sebagai "penjajah baru"yang sulit dibendung kekuatannya. Ia menjajah masyarakat melalui suguhan informasi dengan aneka paradoks yang menantang intelektualitas dan moralitas individu untuk menemukan sendiri kebenarannya. Kegagalan dalam menyaring informasi yang paling merugikan akan menjadi serangan berbahaya terhadap intelektualitas dan moralitas manusia. Sebaliknya, juga dunia maya dapat dijadikan serdadu untuk melawan berbagai bentuk penindasan dan penjajahan melalui gerakan intelktual dan moral yang sarat pencerahan. Di sinilah kebijaksanaan (wiweka jnana) menemukan panggilannya untuk membangun kesadaran masyarakat tentang manfaat dan keguanaan dunia maya bagi kehidupan. Keberadaan dunia maya harus direspons secara positif sebagai media pencerahan bagi peningkatan kualitas intelektual, moral dan spiritual manusia. Rahayu!

Oleh: Nanang Sutrisno
Source: Wartam Edisi 18