Manusia Tri Guna

Dalam kitab Tantri Kamandaka ada cerita seekor macan berguru pada sapi. Akhirnya macan ikut-ikutan vegetarian seperti gurunya. Lama kelamaan macan kehilangan jatidirinya sebagai macan. Tidak juga ia berhasil menjadi sapi. Oleh karena itu, maka dengan sangat mudah pemburu menangkapnya. Karena sudah tidak lagi ada macan, akhirnya hutan tidak lagi angker. Para penebang kayu seenaknya membabat pohon-pohon. Lama kelamaan hutan itu pun musnah. Tanpa hutan hancurlah jagat.

Itulah cerita yang sudah lumrah diketahui orang. Sekarang mari kita ajukan beberapa pertanyaan sederhana. Pertanyaan pertama, mengapa jagat hancur? Jawabannya, karena salah memilih guru. Siapakah yang salah memilih guru? Jawabannya adalah macan. Dalam tafsir kekinian, macan itu adalah calon murid. Mengapa si calon murid salah memilih guru? Jawabannya, bukan karena ia tidak tahu siapa calon gurunya [sapi], tapi karena ia tidak ingat siapa dirinya [macan]. Sampai di sini, sekarang kita simpulkan, kesalahan memilih guru bisa terjadi karena orang salah menduga siapa dirinya. Salah menduga diri terjadi karena kesalahan cara memandang.

Cerita macan berguru sapi sebenarnya tidak sederhana. Di dalam cerita itu ada diskusi terselubung antara rajas dan sattva. Macan adalah representasi dari rajas. Sapi adalah representasi dari sattva. Hutan adalah perlambang tubuh kita ini. Pesan moral dalam cerita di atas, bahwa rajas mesti dijaga agar tidak sampai mati. Sebab kalau rajas sampai mati, maka tubuh ini akan rusak. Dalam tubuh yang rusak, sattva tidak akan bisa tumbuh. Apakah sebenarnya rajas itu?

Dalam bahasa yang sederhana, rajas adalah keinginan. Dalam terminologi agama, keinginan itu disebut iccha. Istilah iccha shakti dalam Tantra dapat diartikan adanya keinginan yang keras, atau keinginan yang kuat. Keinginan adalah dasar kebangkitan spiritual. Dalam cerita di atas diperlihatkan bahwa rajas itu lemah. Menurut hukumnya, yang lemah akan ditarik oleh yang kuat. Jiwa macan ditarik oleh kuatnya pesona sapi, sehingga macan ingin menjadi seperti sapi. Di sinilah letak fatalnya, rajas tidak mungkin menjadi sattva. Jadi, pesan cerita di atas, kuatnya tarikan sattva menyebabkan rajas mati. Kalau rajas mati, semuanya akan selesai. Sattva pun akan hilang.

Ada cerita sangat berbeda dalam Tantri Kamandaka tentang warga ikan satu telaga yang salah memilih guru. Guru yang dipilihnya adalah seekor bangau. Bangau menyulap dirinya sehingga kelihatan seperti sulinggih. Para ikan [umat] pun tergoda berguru kepadanya. Ajaran yang dijanjikan guru bangau adalah pindah menuju telaga abadi di atas gunung. Yang dimaksud telaga abadi adalah sumber air yang tidak akan ada habis-habisnya. Telaga abadi itulah katanya sorga dengan amerta melimpah ruah. Karena air adalah sorganya para ikan, maka tujuan hidup umat ikan adalah menuju telaga abadi itu. Umat ikan yang terlanjur percaya, akhirnya mengikuti wacana guru. Singkat cerita, umat ikan itu pun habis dimakan oleh si pendeta bangau. Yang tersisa hanya tulang-tulang berserakan di atas batu kering. Memilukan sangat! Bukannya berenang di telaga suci, akhirnya mati terkapar di atas batu kering. Isi habis, kulit habis, sisik habis. Tersisa hanya tulang.

Cerita bangau si sulinggih palsu di atas juga sudah sangat lumrah di masyarakat. Kembali kita ajukan beberapa pertanyaan sederhana. Mengapa bangsa ikan mati mengenaskan di atas batu kering? Jawabannya, karena mereka salah memilih guru. Mengapa mereka salah memilih guru? Jawabannya, bukan karena calon murid tidak tahu siapa diri mereka [ikan], tapi karena kelihaian si calon guru [bangau] melebihi rata-rata kemampuan calon muridnya. Penyamaran si sulinggih palsu nyaris sempurna, baik dari segi busana, tutur kata, maupun gerak-gerik. Kesimpulannya, kesalahan memilih guru bisa terjadi karena tipu daya si guru yang memang diniatkannya.

Cerita ikan dan bangau juga tidak sederhana. Di dalamnya ada diskusi terselubung tentang tamas dan sattva. Pesan yang disampaikan cerita itu, bahwa sattva menjadi lemah dan bahkan mati karena rongrongan dari tamas. Ikan adalah representasi dari sattva. Sulinggih bangau adalah representasi dari tamas. Mengapa si ikan sattva menjadi lemah dan lengah? Karena yang hadir di hadapannya adalah seorang sulinggih yang identik dengan sifat-sifat sattva. Mengapa tamas bisa menipu sattva? Karena itu memang keahliannya. Jadi, waspadailah tamas walau sekecil apa pun.

Dua cerita di atas, macan dan ikan, adalah dua contoh kasus kesalahan berguru. Macan salah berguru karena salah menduga siapa dirinya. Sebaliknya, ikan tahu siapa dirinya, tapi tidak sanggup mengalahkan kuatnya daya tipu sulinggih palsu. Itulah perbedaannya. Persamaannya, si macan maupun ikan akhirnya sama-sama menemukan kehancuran. Sapi dan bangau juga mengalami nasib yang serupa tapi tidak sama. Sapi mengungsi ke hutan yang lain. Bangau mati dicekik kepiting.

Apa pesan moral cerita di atas? Kepada kita diingatkan agar memeriksa calon guru sebelum menjadi muridnya. Begitu pula calon guru supaya memeriksa calon muridnya sebelum menyanggupi menjadi guru. Pesan tersebut sangat relevan untuk direnungkan oleh kita yang hidup pada jaman serba “memutih” ini. Karena sekarang banyak orang mencari guru spiritual. Banyak pula orang mengiklankan dirinya sebagai guru spiritual. Dorongan mendapatkan guru spiritual dalam tempo yang singkat, membuat orang tidak seksama. Bukan tidak mungkin pocong kuburan diihat dari jauh dikira sulinggih. Karena si pocong berbusana serba putih dari kepala sampai kaki. Tapi kalau seksama mengamati dari dekat, orang akan tahu beda keduanya. Kalau pocong berjalan loncat-loncat, sulinggih berjalan membawa tongkat. Tidak ada pocong membawa tongkat. Demikian pula, tidak ada sulinggih loncat-loncat. Syukurlah sulinggih Hindu tidak ada menjadi pocong sesudah mati. Karena jasadnya dibakar menjadi abu.

Begitulah contoh cerita bertema kesalahan memilih guru. Tidak mudah memutuskan salah dan benar dalam sebuah cerita. Karena cerita sering dibuat untuk mengatakan sesuatu, tapi yang dimaksudkannya adalah sesuatu yang lain. Jangankan di dalam cerita, di dalam tattwa pun salah dan benar itu masih terus diperdebatkan. Jangankan di dalam tattwa yang berbeda, bahkan di dalam satu tattwa yang sama pun bisa berbeda pandangannya tentang salah dan benar.

Hubungan sattva, rajas, dan tamas dalam cerita di atas tidak sesederhana penjelasan buku dan guru. Menurut Samkhya, triguna tattwa adalah evolusi pertama dari pertemuan purusha dan pradhana. Oleh karena itu segala tattwa yang ada di bawahnya dipengaruhi oleh triguna. Dengan lain perkataan, triguna lebih dahulu ada daripada indriya, pikiran, ego, bahkan buddhi sekali pun. Oleh karena itu, triguna yang menyusup di seluruh tubuh tidak bisa dikendalikan oleh indriya maupun pikiran. Yang bisa mendeteksi triguna adalah tattwa yang ada di atasnya, yaitu purusha tattwa. Dalam bahasa yang sederhana, purusha itu adalah kesadaran. Hanya kesadaran tingkatan purusha yang bisa mengamati gerak-gerik triguna di dalam tubuh.

Banyak orang setelah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi akhirnya jatuh. Sebab kejatuhannya karena pengaruh triguna. Seperti macan dan ikan di atas, orang cenderung tidak menyadari dirinya dikelabui oleh triguna. Bhagawan Wrehaspati mengilustrasikan tipuan triguna seperti berikut ini. Dalam meditasinya yang khusuk, orang melihat dengan mata terpejam cahaya terang menyerupai sosok yang suci. Karena tidak tahu bahwa penampakan itu adalah sisa-sisa sattva yang belum dibersihkan, orang mengira dirinya didatangi oleh Dewa-dewa. Dalam kitab Wrehaspati Tattwa, juga dicontohkan tipuan rajas dan tamas. Ketika badan terasa berat menempel di tanah, itu adalah permainan sisa-sisa tamas yang belum dibersihkan. Kalau merasa ada tenaga kuat mendorong-dorong dari dalam tubuh, itu adalah permainan sisa-sisa rajas yang belum dibersihkan.

Lebih pelik lagi adalah tipuan triguna tattwa dalam kisah berikut ini. Diceritakan ada tiga ekor ikan di sebuah telaga yang hampir kering. Tanpa air maka kehidupan akan berakhir. Ketiga ikan itu lalu berupaya mencari solusi. Ikan pertama berpandangan bahwa hidup ini harus dilanjutkan sampai ke anak cucu. Karena itu ia memutuskan mencari telaga baru dengan cara mengikuti sisa aliran air yang masih ada.

Ikan kedua berpandangan bahwa nasib bisa diakali dengan kepintaran. Karena seperti itu pandangannya, maka ia menunggu datangnya orang yang akan menangkap dan membawanya pergi. Rencananya, ia akan meloncat saat menyeberangi sungai. Ikan ketiga berpandangan sangat ekstrem. Karena di telaga itu ia dilahirkan dan di telaga itu ia mendapatkan penghidupan, maka di telaga itu pula ia memilih mati. Oleh karena itu ia akan bertahan di telaga itu sampai mati. Seperti itulah pandangan ketiga ikan. Ketiganya merasa benar sesuai dengan pandangannya sendiri-sendiri.

Apa yang kemudian terjadi? Ditemukanlah oleh ikan pertama telaga baru yang melimpah airnya. Di sana ia melanjutkan kehidupannya turun temurun. Ikan kedua berhasil mengelabui pencari ikan dengan berpura-pura mati sehingga dimasukkan ke dalam dungki. Seperti rencananya, saat menyeberangi sungai ia meloncat. Ikan ketiga mati dengan sendirinya ketika telaga itu benar-benar kehabisan air. Ikan manakah yang benar? Tidak mudah memutuskannya.

Ikan pertama tidak tahu pandangannya dipengaruhi oleh sifat sattva. Sifat sattva itu menggerakkannya secara alamiah menuju kehidupan baru. Ikan kedua tidak sadar pandangannya dipengaruhi sifat rajas. Sifat rajas itu memutar pikirannya mencari akal. Ikan ketiga tidak ngeh pandangannya lahir dari sifat tamas. Sifat tamas itu menyebabkan ia bersikukuh dengan pendiriannya yang super bengkung. Begitulah tafsirnya, apabila cerita tiga ekor ikan tersebut ditempatkan dalam konteks triguna.

Menurut Bhagawan Basubhaga, pengarangnya, yang benar adalah ikan pertama. Alasannya karena cerita itu ditempatkannya dalam konteks kematian. Tubuh diibaratkan sebuah telaga. Seperti telaga kering kehabisan air, tubuh pun akan berakhir masa berlakunya. Sebelum masa berlaku tubuh berakhir, orang semestinya mencari jalan untuk membebaskan atmanya. Jalan pembebasan itulah yang dicari oleh ikan pertama.

Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Media Hindu, Edisi 168, Februari 2018