Manusia Dadu

Kama adalah dewa. Dewa Kama tidak memiliki tubuh. Karena itu ia disebut Anangga. A berarti tidak. Angga berarti tubuh. Tanpa tubuh, maka ia tidak kelihatan. Dalam bahasa sekarang ia adalah energi. Energi Kama mengembara ke sana ke mari di alam bebas. Tujuannya mencari tubuh untuk dimasukinya. Pada waktunya, tubuh yang dicari ditemukannya. Kama masuk ke dalam tubuh melalui pandangan mata. Caranya masuk sangat rahasia sehingga tidak terdeteksi. Mula-mula ia hinggap di ujung pandangan [tungtunging panon]. Lalu bergerak melalui tengah pandangan menuju pangkal pandangan [bungkahing panon]. Selanjutnya ia menetap di anak-anakan mata. Wujudnya seperti bayangan anak kecil.

Nama lain dari Kama adalah Smara. Itulah sebabnya kedua mata dinamakan Smaralaya. Selama di Smaralaya status Kama masih sebagai Dewa. Ia diasuh oleh dewa atasannya, yaitu Indra. Dewa pengasuh itu tinggal di pertengahan mata kanan dan mata kiri. Itulah sebabnya pertengahan kedua mata disebut Indra Bhawana. Bagaimana cara dari Smaralaya menuju Indra Bhawana? Kedua ujung pandangan dipertemukan. Begitulah caranya. Bagaimana cara dari Indra Bhawana kembali ke Smaralaya? Kedua ujung pandangan dipisahkan.

Dari Smaralaya Kama turun ke Taman Bagenda. Maksudnya, dari mata turun ke hati. Hati adalah teritori Dewa Brahma. Di sana ada sebuah taman sangat indah. Namanya taman Bagenda. Di tengah taman itu Kama menikmati keindahan rasa cinta. Karena bercampur dengan rasa cinta, maka kualitas dewanya merosot menjadi kualitas manusia. Para sastrawan melukiskan keindahan cinta dengan berbagai ekspresi. Salah satu ekspresi yang tidak umum, rasa cinta disamakan dengan rasa “sakit yang indah”.

Kama turun lagi dari hati ke bawah pusar. Di bawah pusar kualitasnya turun lagi menjadi bhuta. Wujudnya semakin nyata. Warnanya semakin jelas. Hawanya panas. Ketika di bawah pusar laki-laki, ia berwarna putih. Karena itu ia dinamakan Kama Petak. Petak artinya putih. Sedangkan ketika di bawah pusar perempuan ia berwarna merah. Karena itu ia disebut Kama Bang. Bang artinya merah.

Karena asal mulanya adalah satu, maka keduanya saling merindukan pertemuan. Karena melalui pertemuan itulah mereka berdua akan kembali menjadi satu. Menurut para sastrawan, kerinduan Kama itu sangat dahsyat. Dahsyatnya kerinduan itu dilukiskan dengan berbagai cara. Menurut Mpu Dharmaja, pengarang Smaradhahana, Dewa Shiwa sendiri tidak sanggup menahan dahsyatnya kerinduan itu.

Pertemuan Kama Petak dan Kama Bang adalah dasar penciptaan manusia. Ada banyak versi cerita tentang pertemuan keduanya. Salah satu versi menyebutkan seperti berikut ini. Kama Petak merindukan pertemuan dengan Kama Bang. Kerinduan itu menyebabkan Kama Petak ke luar dari tempat pertapaannya. Tujuannya meninggalkan tempat pertapaan adalah mencari jalan agar bisa mendekat ke Kama Bang. Tujuannya mendekat ke Kama Bang tidak lain untuk bercampur dengannya. Tujuannya bercampur adalah untuk melebur kerinduannya dan sekaligus melebur dirinya sendiri. Versi cerita ini menggarisbawahi bahwa Kama Petak adalah pelaku sesungguhnya.

Versi lain begini. Kama Petak tidak menyadari dirinya ditarik oleh kekuatan maya yang ada di dalam diri Kama Bang. Jadi, pelaku sesungguhnya adalah Kama Bang. Ia menebar jaring maya ke segala penjuru mata angin. Jaring itu halus, tidak kelihatan, dan rahasia. Dalam tradisi jaring itu disebut jaring sutra. Tujuan jaring itu ditebarkan tiada lain untuk menjerat Kama Petak. Jeratan itu ternyata berhasil. Lilitan jaring maya itu menyebabkan Kama Petak mengalami sakit yang tidak ada obatnya, kecuali bercampur dengan si penebar jaring. Sepintas lalu kelihatan Kama Petak yang merindukan Kama Bang. Sesungguhnya ia yang dirindukan. Kelihatannya Kama Petak yang mencari Kama Bang. Sebenarnya ia yang dinantikan. Semua itu aktor intelektualnya adalah Kama Bang. Semua itu dilakukannya, karena didorong naluri alamiah mengembangbiakkan diri. Demi pemenuhan naluri purba itu, ia harus dimasuki oleh Kama Petak. Agar Kama Petak datang memasukinya, maka ia menebar jaring sutra. Versi ini memberitahu kita bahwa pelaku sesungguhnya adalah Kama Bang.Yang mana versi benar menurut tattwanya? Tidak mudah memutuskan benar salahnya. Karena tattwa yang ada juga berlapis-lapis. Konflik Kama Petak dengan Kama Bang menurut tattwanya adalah konflik penciptaan. Menurut teori penciptaan Samkhya, maya selalu berusaha memasuki purusha. Maya diartikan ketidaksadaran. Purusha diartikan kesadaran. Dengan lain perkataan, ketidaksadaran itulah yang selalu berusaha memasuki kesadaran. Semakin jauh ketidaksadaran itu memasuki purusha, maka semakin menurun kualitas kesadaran itu. Jadi menurut pandangan Samkhya, ketidaksadaran atau maya adalah pelaku sesungguhnya. Maya ada di dalam Kama Petak dan Kama Bang. Seperti disebutkan sebelumnya, pada mulanya Kama adalah dewa. Dari dewa ia berubah menjadi manusia. Pada akhirnya Kama adalah bhuta. Status bhuta yang disandang keduanya menunjukkan mereka adalah maya. Jadi, pelaku sesungguhnya adalah maya.
 
Tidak perlu diperpanjang siapa pelaku siapa korban, atau siapa aktif dan siapa pasif. Lebih baik kita bicarakan apa yang terjadi setelah keduanya bertemu, dan apa pula hasil dari pertemuan itu. Singkat cerita, terjadilah pertemuan antara yang merindukan dengan yang dirindukan. Terjadilah pergulatan antara yang memasuki dengan yang dimasuki. Pergumulan berlangsung sedemikian indahnya. Ada sastrawan melukiskannya seperti ombak menabrak-nabrakkan dirinya pada batu karang. Ombak pecah, batu karang bolong. Keduanya lebur dalam upacara yang entah apa namanya. Bunyi ombak adalah mantranya. Uap yang membubung adalah asap du- panya. Jeritan burung camar adalah kidungnya.
 
Sastrawan yang lain menggambarkan Kama Bang seperti bunga yang mekar oleh musim. Bunga itu membuka kelopaknya satu persatu sehingga siap dimasuki celah-celahnya. Terbuka untuk disentuh sisi-sisinya. Leluasa untuk diendus bau-baunya. Menganga untuk diisap serbuk-serbuknya. Sedangkan Kama Petak seperti air hujan yang turun deras dari langit menyusup ke dalam tanah. Begitulah Kama Petak masuk ke dalam diri Kama Bang. Berlomba-lomba Kama Bang dan Kama Petak melepaskan warna masing-masing. Yang berwarna putih memberikan warnanya pada yang merah. Yang berwarna merah mencampurkan warnanya dengan yang putih. Percampuran kedua warna pun terjadi entah dipandu oleh apa atau siapa. Maka terciptalah warna yang baru. Dadu.
 
Dadu adalah warna dari persatuan Kama Petak dengan Kama Bang. Karena berwarna dadu, maka hasil persatuan keduanya dinamakan Kama Dadu. Istilah lainnya adalah Smara Dadu. Statusnya tetap bhuta. Wujudnya adalah gumpalan darah yang mengental. Tempat tinggalnya di rumah Kama Bang. Kama Dadu itulah yang kemudian berevolusi menjadi tubuh manusia. Ada kepala, ada dada, ada kaki, lengkap dengan lubang-lubang dan bulu-bulunya. Itulah asal diri kita. Pada mulanya warna kita adalah dadu. Namun demikian, warna dadu tidaklah sesederhana itu. Cerita di atas baru sekelumit kecil dari kedaduan kita.
 
Apakah warna dadu hanya berhubungan dengan Kama? Jawabannya ternyata tidak! Ada dadu yang berhubungan dengan dewa. Penjelasannya terdapat di dalam konsep Padma Mandala. Yang dimaksud Padma Mandala, bahwa jagat ini dibayangkan seperti bunga teratai mekar. Kelopak teratai yang mekar itu menunjuk ke seluruh penjuru mata angin. Konsep Padma Mandala diterapkan baik di bhuwana agung maupun di bhuwana alit.
 
Seperti berikut ini kalau di bhuwana agung. Timur tempat matahari terbit dihubungkan dengan warna putih. Dewanya adalah Ishwara. Selatan sebagai kirinya bhuwana agung dihubungkan dengan warna merah. Dewanya adalah Brahma. Kalau Ishwara berjalan dari timur menuju selatan, dan pada waktu bersamaan Brahma juga berjalan dari selatan menuju timur, maka kedua dewa itu akan berpapasan di satu titik yang bernama tenggara. Karena Ishwara membawa serta warna putihnya, dan Brahma membawa warna merahnya, maka terjadilah percampuran warna di tenggara. Putih bercampur dengan merah menjadi dadu. Jadi, warna tenggara adalah dadu.
 
Kalau di bhuwana alit, seperti berikut ini keterangannya. Putih adalah warna yang dihubungkan dengan jantung. Dalam pandangan mistis, jantung menempati posisi timur. Dewanya adalah Ishwara. Merah adalah warna yang dihubungkan dengan hati. Dalam pandangan mistis, hati menempati posisi selatan. Dewanya adalah Brahma. Kalau Ishwara yang berwarna putih bergerak dari jantung menuju hati, dan bersamaan dengan itu Brahma yang berwarna merah bergerak dari hati menuju jantung, maka kedua dewa itu akan berpapasan di paru-paru. Maka akan terjadi percampuran warna putih dengan warna merah di paru-paru. Warna hasil percampuran itulah kemudian menjadi warna paru-paru. Warna paru-paru dengan demikian adalah dadu. Bisa pula dikatakan warna paru-paru adalah putih kemerah-merahan, atau merah keputih-putihan. Dalam pandangan mistis, paru-paru ada di tenggara. Di sana ada dewa berwarna dadu. Dewa itu bergelar Maheshora.
 
Seperti itulah penjelasan sederhananya. Ada penjelasan yang tidak sederhana. Seperti berikut ini. Kalau jantung disebut padma petak atau tunjung putih, dan hati dinamakan padma bang atau tunjung merah, maka menurut sumbernya paru-paru bukannya disebut padma dadu, melainkan dinamakan puspa tan alum. Puspa berarti bunga. Tan berarti tidak. Alum berarti mekar. Jadi, dengan demikian, paru-paru adalah sekuntum bunga yang tidak mekar. Kalau jantung adalah padma putih yang mekar, dan hati adalah padma merah yang mekar, maka paru-paru adalah bunga yang tidak mekar.
 
Mengapa paru-paru dikatakan bunga tidak mekar? Apa hubungan Kama Dadu yang ada di bawah pusar dengan Dewa Dadu yang ada di paru-paru? Jawaban dari dua pertanyaan itulah yang tidak sederhana. Tidak sederhana untuk dipahami. Tidak sederhana untuk dituliskan. Barangkali lain kali.

Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Media Hindu, Edisi 170, April 2018