Manusia Air Mata

Jadi, "masuk akal" kalau dikatakan dari matahari yang panas muncut air yang dingin.
Ada sloka mengatakan, "tidak ada lebih dingin daripada panas matahari".
Tafsirnya, dari panas api yang membakar segala mala akan muncul air penyejuk batin.

Air punya mata, namanya mata air. Hari punya mata, namanya matahari. Apakah di dalam mata air bisa kelihatan bayangan matahari? Jawabannya "bisa", kalau mata air itu hening dan jernih. Bukan hanya bayangan matahari, bahkan bayangan orang yang memandang bayangan matahari itu juga bisa kelihatan. Bayangan dilihat dengan dua mata. Kesejatian dilihat dengan satu mata, atau mata tunggal. Jnana itulah yang dimaksud mata tunggal. Mata tunggal itulah yang disebut mata ketiga. Begitulah, di dalam mata air ada matahari berupa bayangan. Sebaliknya, apakah di dalam matahari ada mata air?

Jawabannya terus terang tidak tahu. Saya tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan luar angkasa, sehingga tidak punya data apakah para peneliti matahari sudah atau belum menemukan mata air di matahari. Saya punya sedikit data dari sumber shastra. Keterangan shastra yang sampai pada saya masih terbatas pada kata-kata bersayap. Barangkali karena punya sayap, kata-kata itu selalu terbang menjauh setiap hendak saya tangkap maknanya. Sejujurnya saya tidak benar-benar paham maksud shastra. Yang saya pahami bahwa ada sejumlah pengertian yang terting-gal di dalam pikiran sendiri setelah seharian atau semalaman menggauli tubuh shastra.

Contoh pengertian yang tertinggal di dalam pikiran, misalnya, dalam bahasa Bali matahari disebut ai atau wai. Sedangkan kata ai atau wai dalam bahasa Jawa Kuno berarti air. Dari keterangan kedua bahasa itu, pikiran saya menduga-duga bahwa ada hubungan antara matahari dengan mata air. Hubungan itu tidak sederhana untuk bisa dijelaskan agar sesuai dengan nalar manusia modern. Karena hubungan keduanya ternyata oleh shastra diletakkan pada level mistis. Masuk ke dalam level mistis tidak mudah kalau belum terlatih melihat adanya hubungan halus dari segala yang ada.

Misalnya teori Samkhya mengatakan bahwa dari udara yang diam muncul angin. Dari angin yang bergerak muncul api. Dari api yang panas muncul air. Dari air yang basah muncul tanah. Demikian seterusnya sampai ada manusia dan segala isi bumi. Matahari adalah api. Sifat api adalah panas. Jadi, "masuk akal" kalau dikatakan dari matahari yang panas muncul air yang dingin. Ada sloka mengatakan, "tidak ada lebih dingin daripada panas matahari". Tafsirnya, dari panas api yang membakar segala mala akan muncul air penyejuk batin.

Itulah contoh pengertian yang tertinggal di dalam pikiran setelah menggauli tubuh shastra. Walaupun mendapatkan pengertian, tetap saja saya tidak tahu apakah ada mata air di dalam matahari. Samkhya menun-jukkan secara tidak langsung bahwa di dalam matahari ada mata air. Pandangan Samkhya ini melatar-be-lakangi sejumlah pemikiran di dalam Shastra Jawa Kuno dan Bali. Di dalam shastra itu ditunjukkan bahwa di dalam matahari ada mata air. Tapi yang dimaksudkan oleh shastra itu bukanlah matahari di bhuwana agung, melainkan di bhuwana alit. Dengan petunjuk seperti itu, maka matahari yang ada mata airnya hendaknya dicari di dalam tubuh sendiri. Mengapa di dalam tubuh?

Karena bukankah shastra (dan juga agama) dipraktikkan di dalam tubuh untuk menolong manusia itu sendiri. Manusia perlu pertolongan. Sedangkan matahari sama sekali tidak perlu pertolongan dari manusia untuk terbit dan untuk tenggelam. Bumi pun menurut penjelasannya memutar dirinya mengelilingi matahari tanpa butuh pertolongan manusia, tanpa agama, tanpa mantra dan upacara. Jadi, mata air di matahari hendaknya dicari di dalam tubuh sendiri.

Matahari ada di langit. Yang dimaksud langit adalah dahi atau kening, atau rongga yang ada di dalam batok kepala. Sedangkan yang dinamakan matahari tidak lain adalah mata. Manusia memiliki dua mata, kiri dan kanan. Kedua mata itu disebut surya kembar. Ada pula sumber menyebutnya surya candra. Mata kanan surya dan mata kiri candra. Candra adalah nama lain dari bulan. Tentang surya candra kita bicarakan lain kali. Sekarang khusus surya kembar.

Di dalam surya kembar ada sepa-sang lubang. Satu lubang di mata kiri, satu lagi di kanan. Dari kedua lubang itu keluar air mata. Sentuhan air mata di pipi terasa hangat. Kalau menetesi ujung lidah rasanya asin. Dalam bahasa Jawa Kuno, air mata disebut luh. Dalam bahasa Bali kata luh berarti perempuan. Tidak ditemukan hubungan perempuan pada umumnya dengan air mata pada khususnya. Tidak diketahui apa jenis kelamin air mata.

Ada seorang tokoh perempuan bernama Dyah Jayawaspa. Ia adalah pendamping setia Indumati, tokoh utama dalam cerita Sumanasantaka yang sarat ilmu mati. Arti nama "dyah jaya waspa" sangatlah dalam kalau hendak diselami. Lautan arti lebih dalam daripada lautan asin. Kata pepatah, kalau menyelam di air dangkal maka pantat akan kelihatan menyembul ke luar. Tapi kalau menyelam di air yang sangat dalam malah tidak akan kelihatan. Karena sinar matahari tidak menembus sampai ke dasar sana. Maka dari itu, leluhur berpesan kepada keturunan-nya agar menyelam sampai di dasar perut. Mengapa perut?

Secara mistis perut adalah samudera. Di dasar samudera ada sumber api. Di samudera itu orang menyelam mencari amerta kamandalu. Salah satu pengertian kamandalu adalah air yang ke luar dari dalam api. Contoh air dari api adalah air mata. Air mata disebut waspa. Orang yang berhasil mendapatkan amerta air mata dinamakan Sang Jayawaspa. Kata jaya berarti menang. Kata dyah adalah sebutan terhormat untuk perempuan. Jadi, Dyah Jaya Waspa adalah perempuan yang menang melawan air mata.

Apa makna menang melawan air mata? Apakah dalam hidup ini air mata mesti diperangi dan dikalahkan? Dan apa pula yang akan didapatkan oleh seseorang setelah menang melawan air matanya sendiri? Masih banyak lagi pertanyaan berkaitan dengan air mata. Tapi kepandaian bertanya tidak ada artinya kalau tidak tekun mencari jawaban.

Ketekunan saja belum cukup, kalau tidak dilengkapi kepekaan. Kepekaanlah yang memberitahu orang rahasia pertanyaan dan jawaban. Kalau pertanyaan terbit di manah, maka jawaban tersedia pada saat manah terbenam. Kalau pertanyaan muncul di permukaan buddhi, maka jawaban ada di dasarnya.

Manah yang tekun akan mengantarkan orang pada mata air. Yang dimaksud mata air adalah kedua lubang mata. Lubang mata itu diibaratkan sumur kembar yang dalam. Karena sangat dalam, maka dasar dari sumur kembar itu tidak kelihatan. Maksudnya, orang tidak bisa melihat dasar dari sumur kembar itu dengan mata kepalanya sendiri. Tapi kalau ada orang mempergunakan Jnana, maka ia akan melihat bahwa dasar sumur itu terletak di perbatasan hati dan nyali. Menurut ajarannya, Brahma ada di hati. Wishnu ada di nyali.

Seperti itu dilihat oleh para yogi yang mengarahkan Jnana ke dasar. Namun kalau Jnana diarahkan ke atas, maka kelihatan matahari kembar. Matahari kembar itu terbit dikala terjaga, dan terbenam pada saat tidur. Ada dua buah lubang di kedua matahari pribadi itu. Kedua lubang itu disebut sumur kembar. Dari sumur kembar ke luar air bernama air mata. Karena berasal dari surya, maka air mata itu terasa hangat. Karena berasal dari dasar sumur yang dalam, maka air mata itu terasa asin. Air mata atau air matahari disebut amerta. Karena berasal dari matahari maka dinamakan surya amerta. Fungsi amerta memberi kehidupan dengan cara menyucikan. Yang suci itulah yang hidup. Sebaliknya, ketidaksucian itulah yang mati.

Tentu tidak setiap air mata disebut surya amerta. Karena ada air mata tidak lebih limbah biologis saat menangis, atau tertawa, atau terharu biru. Lalu air mata yang bagaimana disebut surya amerta?

Oleh: IBM Dharma Palguna

Source: Media Hindu, Edisi 152