"Manusa Yadnya", Menciptakan Lapangan Kerja untuk Rakyat

Manusa Yadnya ngarania maweh apangan ring kraman
(Lontar Agastia Parwa)

Dalam Manawa Dharmasastra III.70 menyatakan ada istilah Nara Yadnya yang dinyatakan sebagai berikut: Nara Yadnya atithi pujanam. Maksudnya: Nara Yadnya adalah beryadnya pada manusia atau nara dengan menghormati atau pujanam pada para tamu. Itulah rumusan Manusa Yadnya menurut teks pustaka sastra Hindu. Namun, dalam pengertian umum di kalangan umat Hindu di Bali yang dimaksud manusa yadnya itu adalah upacara yadnya yang mengupacarai manusa secara lansung seperti nelu nulanin atau nyambutin, otonan, metatah, masakapan dan seterusnya.

Sesungguhnya upacara tersebut adalah upacara yadnya untuk meningkatkan status kesucian yang disebut Upacara Sirara Samskara dalam Sastra Weda. Menyimak teks Manusa Yadnya yang dinyatakan dalam Agastia Parwa yang berbahasa Jawa Kuno dan teks Manawa Dharmasastra yang berbahasa Sansekerta tersebut meskipun berbeda tetapi tidaklah bertentangan. Tujuan upacara yadnya yang tergolong Sarira Samskara itu substansinya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Hindu baik keluhuran moral, ketangguhan mental sebagai dasar yang mendukung keterampilan atau profesinya maupun keahlianya. Peningkatan kualitas umat Hindu sebagai SDM juga untuk menopang hidupnya mencapai kehidupan yang sejahtera lahir batin.

Agar umat dapat membantu sesamanya untuk mendapatkan kesejahteraan tentunya umat harus memiliki keterampilan atau keahlian. Dengan keterampilan/keakhlian yang didukung oleh moral yang luhur dan mental yang tangguh itu orang akan dapat memberikan sesuatu pada sesama manusia sebagai bentuk yadnya. Teks Agastia Parwa dan Manawa Dharmasastra tersebut jangan dipahami secara sempit, hanya memberi makan pada sesama dan menyambut tamu dengan ramah. Ada kata-kata bijak menyatakan "lebih baik memberikan pancing daripada ikan". Kalau kita mampu membuat orang memiliki keteramplilan dan sikap hidup yang produktif itu sesungguhnya dapat tergolong manusa yadnya. Tentu dengan keterampilan dan sikap hidup yang produktif itu mereka mampu meraih kehidupan yang sejahtera. Karena upacara yadnya yang tergolong Sarira Samskara itu semuanya bertujuan untuk memotivasi agar manusia dalam dinamika hidupnya terus membangun jiwa dan raganya agar selalu maju seimbang sehingga mampu menopang kehidupannya.

Pengertian manusa yadnya yang maksudnya untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera itu sudah masuk di Nusantara ini sejak lama. Terbukti rumusan manusa yadnya dalam Agastia Parwa itu dalam bahasa Jawa Kuno. Meskipun rumusan manusa yadnya dalam teks Jawa Kuno, teks Sansekerta dan pengertian manusa yadnya dalam tradisi Hindu di Bali berbeda tetapi maknanya sama yaitu manusa yadnya itu untuk "memanusiakan manusia". Semua itu sejalan dengan apa yang diajarkan dalam Mantra Atharvaveda VIII.2.25 yang menyatakan: Yatredam brahma kriyate paridhir jivanaya kam. Maksudnya: Tuhan Yang Maha Esa dipuja dengan teguh untuk kemakmuran yang adil bagi semua. Tujuan upacara manusa yadnya yang dilakukan umat Hindu di Bali pada hakikatnya mendekatkan umat pada Tuhan agar manusia dapat mengeksistensikan aspek yang tersuci dalam diri manusia itu yang disebut Atman.

Dalam Rgveda VI.9.6. ada dinyatakan Vidam Atman jyotir hrdaya ahitam yat. Artinya : Atman selalu memancarkan sinar sucinya dalam hati nurani manusia. Kata "upacara" dalam bahasa Sansekerta artinya "mendekat". Ini artinya tujuan upacara manusa yadnya adalah mendekatkan Atman yang bersemayam dalam diri setiap manusia dengan Brahman yang menjadi jiwa alam semesta. Dengan demikian sinar suci Atman akan senantiasa dominan dalam diri manusia. Kalau kesucian Atman selalu mendominasi kesadaran budhi, kecerdasan pikiran dan kepekaan indria, maka manusia akan senantiasa hidup di jalan Dharma. Penguasaan budhi, manas dan indria oleh kesucian Atman itu memang diajarkan dalam Bhagawad Gita III.42. Kalau hidup di jalan Dharma maka artha dan kama pun akan diperoleh dengan benar, baik dan tepat. Manusia yang demikian itu akan berhasil menjadi manusia yang sejati. Hakikat manusia bukanlah badan tetapi Atman.

Badan dengan segala kelengkapannya itu adalah alat Atman. Manusia yang manusiawi itulah yang akan mampu berguna bagi manusia lainnya termasuk berguna bagi semua ciptaan Tuhan isi alam ini. Dengan demikian manusa yadnya itu idealnya mampu menghasilkan manusia yang berguna bagi manusia lainya memelihara kelestarian alam dan mampu menciptakan lapangan kerja untuk bisa bersinergi dengan sesamanya.

Suatu penelitian oleh Universitas Zurich di Swis yang menggabungkan data kematian di 63 negara dari th 2000-2011 yang menyatakan ada sebanyak 233.000 orang yang bunuh diri setiap tahunnya. Dari jumlah itu di antaranya ada 45.000 orang bunuh diri karena alasan nganggur tidak punya pekerjaan. Ini artinya kalau kita terjemahkan secara lebih nyata bahwa dengan menciptakan lapangan kerja bagi sesama manusia itu artinya kita telah melakukan manusa yadnya. Ini artinya, upacara manusa yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali dapat diberikan penguatan lebih dalam dengan membangun jati diri manusia agar memiliki kemampuan yang lebih manusiawi dengan membangun lapangan kerja bagi sesamanya.

Apalagi dalam Manawa Dharmasastra III.75 menyatakan hakikat pelaksanaan yadnya itu adalah untuk menunjang berlangsungnya kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan. Ini artinya dewasa ini jumlah penduduk dunia semakin melaju. Jumlah angkatan kerja semakin meningkat dengan upaya yang dilakukan secara bersama-sama untuk menciptakan lapangan kerja dan itulah salah satu substansi manusa yadnya. Seperti adanya upacara manusa yadnya di Bali yang menggunakan beberapa jenis banten. Di balik banten manusa yadnya itu ada nilai-nilai tatwanya yang seyogianya dijabarkan lebih lanjut dalam kehidupan empiris. Misalnya, adanya Banten Dapetan yang menggunakan tumpeng, raka-raka, Sampian Naga Sari Gede dengan Sampian Penyeneng. Banten Dapetan ini simbol alam lingkungan yang wajib diindahkan oleh manusia.

Banten ini umumnya digunakan setiap otonan. Ini artinya manusa yadnya untuk mengingatkan agar manusia senantiasa menjaga kelestarian alam. Karena alam yang lestari itu sumber kehidupan. Banten Penyeneng itu artinya hidup itu harus seimbang lahir batin (Kaki Penyeneng Nini Penyeneng) untuk mencipta (utpati), memelihara (sthiti) dan melakukan pralina berdasarkan Dharma, itulah hidup yang sesungguhnya.

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Kliwon 13 September 2015