'Manajer' Pasraman "Sumbangan Pemikiran"

Tujuan pendidikan agama Hindu tidak terbatas pada transfer ilmu pengetahuan (knowledge transfer) semata-mata, karena sejalan dengan tujuan pendidikan nasional seperti disebutkan dalam UU Sisdiknas no. 20/2003, yakni untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, keceroasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat membangun manusia-manusia yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab terhadap pembangunan bangsa, sehingga jelas bahwa arah dan strategi pendidikan nasional adalah terbinanya manusia-manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan memperhatikan aspek-aspek kecerdasan, keterampilan dan keahlian.

Pendidikan agama Hindu adalah upaya sadar dan terencana, menyiapkan siswa dalam mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Hindu dari sumber utamanya kitab suci, yaitu Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastusti, yang menghendaki perubahan tingkah laku secara menyeluruh, utuh, dan integral yang meliputi seluruh aspek (potensi) yang ada pada diri manusia. Hal itu dikarenakan manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna diantara makhluk hidup ciptaan Tuhan lainnya, seperti tertuang dalam kitab Sarasamuccaya Sloka 2 dan 4 sebagai berikut:

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wincing gumawayaken ikang subhdsubha karma,
Kuneng panentasakena ring subhakarma juga ikang aaeubhakarma phalaning dadi wwang.
Apan ikang dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenangya tumulung awaknya sangkeng sangsdra,
Makasddhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

(Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah kedalam perbuatan baik segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia. Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama, sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia).

Tempat yang selama ini dipakai untuk mendidik generasi muda Hindu untuk lebih memahami agamanya adalah pasrarnan. Pendidikan di pasraman umumnya menekankan pada disiplin diri, mengembangkan akhlak mulia dan sifat-sifat yang rajin, suka bekerja keras, pengekangan hawa nafsu dan gemar untuk menolong orang lain. Konsep pasraman yang berkembang sekarang banyak mengadopsi sistem pendidikan Hindu jaman dahulu di India, sebagaimana disuratkan dalam kitab suci Veda dan hingga kini masih tetap terpelihara. Sistem ashram yang digunakan menggambarkan hubungan yang akrab antara para guru (acarya) dengan para sisyanya, bagaikan dalam sebuah keluarga. Oleh karena itu, sistem ini dikenal pula dengan dengan para nama sistem pendidikan gurukula. Beberapa anak didik tinggal di pasraman bersama para guru sebagai anggota keluarga dan para guru bertindak sebagai orang tua siswa sendiri. Proses pendidikan di pasraman dari masa lampau itu masih tetap berlangsung sampai saat ini.

Hampir sebagian besar pasraman saat ini menggunakan model pembelajaran sad dharma, yaitu (1) Dharma Tula (bertimbang wirasa atau berdiskusi) yang bertujuan agar siswa lebih aktif, dengan harapan para sisya nantinya mampu dan memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat, berargumentasi dan berbicara di depan publik; (2) Dharma Wacana (ceramah) yang dapat digunakan untuk mendiskripsikan materi pembelajaran kepada sisya; (3) Dharma Gita (dalam bentuk nyanyian-nyanyian spiritual) yang bernilai ritus sehingga yang menyanyikan dan yang mendengarkannya sama-sama dapat belajar menghayati serta memperdalam ajaran dharma; (4) Dharma Yatra (meakukan perjalanan suci), yaitu dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengalaman pembelajaran melalui persembahyangan langsung ke tempat-tempat suci; (5) Dharma Sadhana (realisasi ajaran dharma dalam diri) dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk selalu taat dan mantap dalam menjalankan ajaran agama Hindu dan dilaksanakan melalui catur yoga marga yakni: Bhakti, Karma, Jnana dan Raja atau Yoga Marga secara terpadu, bulat dan utuh; (6) Dharma Santi (kebiasaan saling memaafkan) yang bertujuan pula untuk mewujudkan perdamaian diantara sesama umat manusia.

Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sebuah pasraman, akan sangat bergantung kepada manajemen yang digunakan dalam pasraman yang bersangkutan. Manajemen tersebut akan efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoprasikannya, serta adanya kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan karakteristik siswa, serta dimilikinya kemampuan dan komitmen tenaga pendidik yang handal, dilengkapi sarana-prasarana yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, adanya dana yang cukup untuk menggaji staf sesuai dengan fungsinya, disertai adanya partisipasi masyarakat yang tinggi. Bila salah satu hal diatas tidak sesuai dengan yang diharapkan dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka efektifitas dan efisiensi pengelola pasraman tersebut kuranglah optimal.

Mengelola sebuah pasraman dewasa ini tidaklah boleh asal-asalan, haruslah memiliki profesionalitas, keseriusan, transparan dan akuntabel. Di masa lalu, ma-najer (pengelola) pasraman seringkali menerapkan pola manajemen yang hanya berorientasi pada penanaman jiwa ketulusan, keiklasan dan kesukarelaan saja. Konsep tersebut menjiwai hampir semua aktivitas pada pasraman. Tentu, konsep tersebut pada masa lalu banyak memiliki kelemahan karena tidak diimbangi dengan kemampuan manajemen modern, sehingga tampak kurang beraturan dan kurang efisien.

Konsep pengembangan manajemen pasraman yang lebih baik, haruslah lebih akomodatif terhadap perubahan yang serba cepat dalam era TIK (teknologi, informasi dan komunikasi) saat ini. Oleh karena itu idealism yang sekedar meyadnya dalam pengelolaan harus dibalut dengan profesionalisme yang baik, sehingga dapat mengha-silkan kombinasi yang ideal dan utuh yaitu idealism-profe-sionalisme. Dengan kombinasi konsep manajemen yang ideal tersebut diharapkan akan tetap dapat mempertahankan eksistensi pasraman di satu sisi, serta dapat meningkatkan daya kompetitif pasraman dalam era global di sisi lainnya. Kombinasi tersebut dapat menghasilkan konsep manajemen pasraman dengan karakteristik baru yang ideal atau boleh kita katakan pengelolaannya dinamakan sebagai manajemen berbasis pasraman. Dengan manajemen berbasis pasraman, diharapkan akan dapat menghasilkan karakteristik pengelolaan pasraman yang lebih efektif.

Karakateristik manajemen berbasis pasraman baru tersebut dapat dilaksanakan dengan pendekatan sistem, yaitu dari sisi input-proses-output. Hal itu didasari atas pemikiran bahwa pasraman merupakan suatu sistem sehingga menguraikan karakteristik manajemen berbasis pasraman juga didasarkan pada ketiga hal tersebut, dimulai dari output dan diakhiri dengan input mengingat output memiliki level kepentingan tertinggi, sedangkan proses memiliki level kepentingan saru level lebih rendah dari pada output, dan input memiliki tingkat lebih rendah dari pada output.

Penerapan pola manajemen modern saat ini dalam mengelola pasraman bukanlah semata-mata suatu tuntutan, tapi suatu keharusan. Untuk itu, maka prinsip-prinsip dasar manajemen berupa POAC (planning, organizing, actuating dan controlling) dalam mengelola, penerapan sistem akuntansi yang standar dalam pengelolaan pendanaan {funding management) sehingga prinsip transparan dan akuntabel dapat tercipta, penggunaan analisis SWOT (strength, weaknesses, opportunity dan threat) dalam strategi, serta diimplemen-tasikannya seluruh sistem berbasis ICT (information, communication and technology). Intinya, pengelolaan manajemen pasraman saat ini memerlukan seorang manajer yang baik dan professional dengan kompetensi yang lebih dari memadai. Jika itu terwujud, maka pasraman-pa-sraman kita tiak akan kalah dengan lembaga pendidikan agama dari agama lainnya.

Oleh: Prof. I B Raka Suardana
Source: Wartam, Edisi 21, Nopember 2016