Manajemen ‘Sampat’

Ada tiga alasan penting kenapa kita perlu mempelajari organisasi dan manajemen, yaitu untuk mampu memaknai hidup masa kini (Wartamana), membangun masa depan (Nagata) dan mengingat masa lain (Atita). Hidup masa kini berarti kita harus memberikan kontribusi yang baik bagi kehidupan manusia di dunia. Membangun masa depan, artinya kita sebagai manusia harus dapat membangun masa depan yang lebih baik, sedangkan mengingat masa lain berarti kita sebagai bagian dari mahluk sosial haruslah dapat membantu menghubungkan manusia masa kini dengan masa lalu. Semua itu akan dapat tercapai jika kita berada dalam suatu ikatan/ kumpulan yang disebut dengan organisasi, baik organisasi formal maupun informal, baik organisasi sederhana maupun organisasi modern.

Selama ini kita mengenal organisasi adalah merupakan wadah satu atau berbagai macam kegiatan. Akan tetapi, bukan hanya sebagai wadah semata-mata, melainkan organisasi juga memberikan kejelasan tentang fungsi, tugas, wewenang, dan tanggung jawab setiap orang yang terlibat dalam kegiatan. Ketika sebuah kegiatan masih terbatas pada skala kecil, kebutuhan pembagian fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab belum demikian dirasakan, karena masih dapat dilakukan sendiri.

Namun ketika kegiatan semakin meningkat dan berkembang serta ragamnya pun semakin meluas, maka pembagian fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab menjadi sebuah kebutuhan. Kita tidak bisa menjalankan organisasi seorang diri. Sangat naif jika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya bisa hidup seorang diri. Sebagaimanapun ia membatasi dirinya dengan orang lain, hidupnya tak akan lepas dari peran orang lain. Baju yang kita pakai adalah berkat dari peran orang lain, yaitu orang yang menanam kapas, orang yang memanen kapas, orang yang mengolah kapas menjadi benang, orang yang memintal benang menjadi kain, orang yang menjahit kain menjadi baju yang kemudian kita pakai sehari-hari. Begitu pula organisasi.

Sebuah tim yang terdiri dari banyak orang dalam mencapai tujuan yang sudah ditentukan, maknanya bukan hanya sekedar kumpulan individu, tapi merupa-kan kumpulan individu yang’ mau bekerja sama dan memiliki tujuan yang sama sehingga layak dikatakan sebagai organisasi. Dalam kumpulan individu yang disebut tim ini, jika salah seorang dari banyak orangnya memiliki sikap yang berbeda dan berpotensi merusak citra organisasi atau menghancurkan motivasi berprestasi organisasi, maka ia layak disebut oknum.

Sebagai pemimpin, mengatasi keberadaan oknum adalah sebuah tantangan tersendiri. Mengapa disebut sebagai tantangan? Karena pemimpin harus mampu menghadapi orang yang sudah berbeda cara berpikirnya dengan tujuan organisasi. Seorang pemimpin dalam organisasi seperti tongkat yang ada dalam sebuah sapu lidi, sedangkan individu-individu yang ada dalam organisasi ibarat batang-batang lidinya. Satu batang lidi tidak akan bisa dipergunakan secara maksimal, namun jika ia digabungkan menjadi satu, maka fungsinya akan berjalan baik, dan semakin baik jika ada tongkat di tengahnya sebagai pemersatu dan berguna memaksimalkan fungsinya sebagai sapu.

Batang sapu lidi berasal dari daun kelapa yang hijau dan kuat, kemudian satu persatu dikerat dan dihaluskan dari sisa daun yang menempel menjadi lidi-lidi kokoh dan halus. Lidi-lidi itu disusun rapi menyerupai barisan yang rapat. Batang yang besar ada di atas, batang yang merancing ada di bawah. Ada yang kekar, namun ada pula yang kurus. Lidi-lidi itu harus diikat menjadi satu kesatuan solid agar dapat menjadi kumpulan lidi yang kuat, berubah bentuk guna menjadi sapu lidi untuk membersihkan sampah-sampah di kebun. Untuk memudahkan penyapu, sapu lidi dilengkapi dengan sebatang tongkat yang diselipkan di tengah-tengah kumpulan lidi.

Tongkat itu memanjang menyembul keluar memberikan arah bagi sapu lidi kepada daerah yang ingin dibersihkan. Selain sebagai penguat kumpulan lidi, tongkat menjadi tempat bergantung bagi kumpulan lidi agar dapat bertahan dari benturan dan gesekan gerakan menyapu. Caranya dengan mengikat kumpulan lidi dengan ikatan kuat di sekeliling tongkat. Sebuah ikatan yang membuat lidi-lidi memiliki kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan. Maka menyapu kebun luas tidak menjadi masalah, membersihkan sampah berserakan adalah pekerjaan mudah. Menghardik ularpun dapat dilakukan demi menjaga keamanan kebun. Ketika menyapu ada beberapa lidi yang patah, ada beberapa lidi yang copot dari ikatan. Itu merupakan hal wajar karena pekerjaan menyapu akan mengorbankan beberapa lidi sebagai bukti betapa besarnya tugas untuk menyapu kebun yang luas.

Dalam menjalankan fungsinya, kadang-kadang beberapa lidi berasaha memisahkan diri dari ikatan. Mereka tercerai membentuk kesatuan lidi barn di luar ikatan besar. Walau hanya terdiri dari beberapa lidi, ikatan-ikatan kecil itu mengklaim bahwa merekalah kumpulan lidi yang paling kuat, memiliki keinampuan untuk menggantikan tugas ikatan besar dalam menyapu kebun. Ikatan-ikatan kecil lidi saling bangga terhadap ikatan barunya, mengaku sebagai titisan dari ikatan sapu lidi besar, tetapi merasa bahwa ikatan yang besar dahulu sudah tidak mampu lagi untuk dapat membenahi kebun luas. Mereka mengatakan bahwa menyapu dengan ikatan besar sudah tidak cocok lagi dengan tuntutan zaman dan metode menyapu mutakhir.

Walau lidi-lidi adalah batangan yang lebih banyak kuat dan elok, tetapi jika tidak bersatu, maka itu hanya akan menghasilkan ikatan-ikatan kecil bam yang saling bangga dengan ikatannya. Jika demikian, maka fungsi lidi bukan lagi menjadi pembersih kebun luas, bukan lagi sebagai penyapu handal, tetapi hanyalah sebatas kumpulan yang mudah dipatahkan, mudah ditindas oleh lidi lain yang lebih kuat, dan hanya akan menjadi sampah baru dalam kebun yang ingin dibersihkan.

Ibarat seperti itulah sebuah organisasi. Dalam aktivitas menjalankan fungsinya, pasti ada saja individu yang kuat, ada pula yang lemah, serta ada individu yang mau menonjol sendiri, bahkan melepaskan diri dari organisasinya. Di sinilah diperlukan sebuah kepemimpinan (tongkat) yang kuat, agar bersatunya individu-individu dalam organisasi itu bisa bertahan lama dan masing-masing berfungsi secara maksimal sehingga tujuan organisasi dapat tercapai.

Pentingnya bersatunya manusia sebagai individu-individu dalam organisasi untuk mencapai tujuan, tercantum dalam Sloka Rg. Veda (X. 191.2-4) yang menyatakan “Sam gaccha dvam sam vada dvam, sam vo manamsi janatam, deva bhagam yatha purve, sam janana upasate. ”(artinya: kamu seharusnya berjalan bersama-sama, berbicara bersama-sama dan berfikir yang sama, seperti hanya pendahulumu bersama-sama membagi tugas-tugas mereka, begitulah kamu mestinya memakai hakmu). “Samani va akutih, samana hrdayani vah samanam astu vo mano, yatha vah susaha sad. ” (Artinya: Wahai umat manusia, semoga kamu maju dalam niat-niat yang sama, semoga dan pikiranmu sama satu sama lainnya sehingga anda bisa di organisir secara seragam).

Oleh: Prof Raka Suardana
Source: Majalah Wartam, Edisi 34, Desember 2017