Manajemen Cerdas, Tuntas, dan Ikhlas

Manajemen pada dasarnya sebagai suatu seni untuk mengelola atau mengarahkan orang lain agar dapat mencapai tujuan utama organisasi (main purpose of organization), meialui proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling) sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

Sedangkan peran manajemen dapat diartikan sebagai tindakan atau kegiatan yang harus dilakukan oleh pimpinan (manajer) dalam melaksanakan tugasnya untuk memastikan bahwa tujuan organisasi dapat tercapai. Dalam pencapaian tujuan itu, maka diperlukan implementasi manajemen meialui kerja secara cerdas,, tuntas, dan ikhlas.

Namun umumnya selama ini dikenal adalah kerja keras, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh, sekuat daya dan tenaga, penuh semangat, pantang menyerah, untuk mencapai hasil terbaik, fokus pada pekerjaan, dan biasanya mengandalkan otot. Konsep kerja keras dalam agama Hindu tertuang Atharvaveda XX.18.3: “Icchanti devah sunvantam, Na svapnaya sprhayanti. Yanti pramadam atandrah. ”(Para dewa menyukai orang-orang yang bekerja dengan sunguh-sunguh. Para Dewa tidak menyukai orang-orang yang gampang-gampangan dan bermalas-malas. Orang-orang yang selalu waspada mencapai kebahagiaan yang agung).

Juga dapat ditemukan dalam sloka Rg veda VII.32.9: “Ma sredhata somino daksata make, Krnudhvam raya atuje, Taranir ij jayati kseti pusyati, Na devasah kavatnave. ” (Wahai orang-orang yang berpikiran mulia, janganlah tersesat, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras untuk mencapai tujuan-tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk memperoleh kekayaan. Orang yang bersemangat (tekun sekali) berhasil, hidup berbahagia dan menikmati kemakmuran. Para dewa tidak pernah menolong orang yang bermalas-malas).

Sementara bagi mereka yang memiliki pendidikan tinggi, kerja keras sudah agak ditinggalkan. karena yang diutamakan adalah manajemen dengan kerja cerdas. kerja tuntas dan kerja ikhlas. Kon-sep ini seringkali dipakai sebagai pedoman yang dituntut kepada seseorang dalam menjalankan organisasi modem. Sebagai seorang professional, tentu wajib melakukan kerja dengan cerdas sampai tuntas dengan hasil yang baik. Kerja Cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot, namun menggunakan otak serta berpikir kreatif dan inovatif untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan waktu yang efektif, sehingga masih memiliki waktu dan energi untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan yang lainnya. Jadi, bekerja cerdas adalah pandai melihat peluang, memperhitungkan risiko dan mampu mencari solusi dalam penyelesaiannya.

Di sisi yang lain, kerja tuntas adalah bekerja tidak setengah-setengah, dan mampu mengorganisasikan usahanya secara terpadu dari awal sampai akhir untuk dapat memperoleh hasil yang baik. Dari awal sampai akhir harus bekerja dengan sebaik-baiknya. Namun yang menjadi pertanyaan dalam dunia professional seperti dewasa ini, dengan tetap memperhatikan aspek spiritual dan religi, bagaimana cara memaknai bekerja dengan manajemen ikhlas?

Ikhlas dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) berarti bersih hati, tulus hati, memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati atau merelakan. Jika diartikan, maka kerja ikhlas menjadi kerja dengan bersih hati atau mengerjakan dengan tulus hati. Artinya jika kita kerja secara ikhlas, maka kita akan kerja lembur namun tidak dibayar, ya tidak apa-apa. Jika kita bekerja mati-matian, kemudian berhasil mencapai target, tapi orang lain yang dipromosikan sebagai hasil kerja keras yang kita lakukan, maka tentu kita akan dituntut untuk mengikhlaskan diri.

Namun dalam kehidupan sosial, kerja dengan manajemen ikhlas tentu merupakan hal yang lumrah, sebab pekerjaan yang dilakukan memang tidak menuntut adanya imbalan. Kalau di Bali kerja ikhlas disebut dengan ngayah. Secara harfiah ngayah berarti melakukan pekerjaan tanpa mendapat upah (kamus Bali-Indonesia, 1990). Istilah ini dari segi etimologis diadopsi dari konteks politik dan kultur feodal dari zaman raja-raja Bali, yakni dari akar kata “ayah” yang terpancar dari budaya Purusaisme atau Patrilineal, terutama berkaitan dengan sistem pewarisannya. Maka kemudian menjadi “ayah- an” yang secara sangat spesifik ialah mengacu pada tanah ayahan desa (sebagai bagian integral tanah adat) dan konskuensinya.

Refleksi ethos ngayah dalam kontek manajemen saat ini dapat dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan catatan, bahwa segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia Hindu itu dilandasi ”Jiwa Dasyam” yang tulus dan ikhlas kepada Ista Dewata (Hyang Widhi dalam segala perwujudannya sebagai Saguna Brahman, atau pun dalam ketidakberwujudannya sebagai Nirguna Brahman yang dipuja/ puji sebagai satu-satunya perlindungan). Bentuk pemahaman, penghayatan, dan implementasi ngayah dalam arti luas ini, antara lain dapat direfleksikan melalui kegiatan tolong menolong, seperti yang dilakukan para relawan yang membantu para pengungsi Gunung Agung tanpa memikirkan upah. Mereka bahu membahu dengan iklhas membantu masyarakat yang terpaksa mengungsi menghindari bencana jika Gunung Agung meletus tanpa memikirkan imbalan bagi dirinya.

Nah, kalau dicermati secara umum, aktivitas ngayah yang masih melekat dalam budaya manusia Hindu di Bali pada hakekatnya berpegang pada suatu rumusan filosofis “kerja sebagai ibadah” dan “ibadah dalam kerja”. Dalam disiplin kerja relegius manusia modern (barat) pemahaman demikian tertuang salam motto “ora et labora” (bekerjalah sambil berdoa). Paham kerja tersebut dengan jelas ditahtakan dalam kitab Bhagawadgita 11.47, seperti yang dinyatakan dalam kutipan berikut: “Karmany evadhikaras te ma phalesu kadacana ma karma phala hetur bhur ma te sanggostava akarmani” (Hanya berbuat untuk kewajiban bukan hasil perbuatan itu (kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala menjadi motifmu bekerja, jangan pula tidak bekerja (sebab tak berharap pahala).

Semua paparan di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi manajemen kerja cerdas, tuntas, dan ikhlas dalam dunia yang sudah sangat maju seperti sekarang ini, menuntut profesionalisme yang baik. Manajamen dengan konsep kerja cerdas menekankan kepada kepandaian untuk memperhitungkan risiko, memanfaatkan peluang, serta mampu mencari solusi yang tepat. Kerja tuntas mengisyaratkan bekerja sampai akhir dengan hasil sebaik-baiknya, dan kerja iklhas menekankan kepada konsep ngayah, yang artinya ketulusan dalam bekerja tanpa melihat hasil yang akan diperoleh.

Oleh: Prof. Raka Suardana
Source: Majalah Wartam, Edisi 32, Oktober 2017