Manajemen Bhinneka Tunggal Ika

Sebagai salah satu cabang ilmu sosial, teori manajemen telah menyentuh keseluruh jenis organisasi dan seluruh aspek kehidupan, dari yang sifatnya pribadi hingga urusan ketatanegaraan.

Daya aksesibilitas dari manajemen itulah yang menyebabkan perkembangan teori manajemen bergerak sedemikian pesatnya, mulai teori manajemen saintifik atau klasik, manajemen prilaku, manajemen kuantatif hingga change management. Banyak orang mengira, bahwa manajemen adalah suatu hal yang baru dipraktekkan dan timbul di abad ke 18 atau 19. Kenyataan membuktikan bahwa manajemen adanya sudah lama sejak ada kehidupan pergaulan manusia itu sendiri. Telah lahir sejak dahulu sewaktu manusia mulai berkelompok, berkerja sama mempertahankan hidupnya. Sebagaimana menurut Wiriadiraharja (2007) bahwa sejarah peralihan manajemen menempuh enam tahapan, yakni: Manajemen otoriter, manajemen ilmiah (1900–1920); manajemen berdasarkan pada hubungan manusia (1920–1960); manajemen berorientasi pada hasil (1960–1970); manajemen berdasarkan tanggung jawab social (1970–1980) dan manajemen untuk kepentingan umat manusia.

Seiring dengan perkembangan ilmu manajemen tersebut, maka selayaknya Indonesia memiliki gaya manajemen sendiri, namun dalam perkembangan ilmu manajemen yang dijalankan di Nusantara tidak serta merta dapat merumuskan gaya manajemen Indonesia. Christiananta (1994) menyatakan bahwa manajemen gaya Indonesia adalah manajemen Pancasila dan sebagainya yang rumusannya hampir sama sedangkan “warna” dan definisinya yang berasal dari Barat masih tampak kental yang tetap berkaitan dengan fungsi-fungsi manajemen seperti planning, organizing, leading, dan controlling untuk organisasi apapun, sehingga sulit memberi rumusan untuk manajemen yang dipakai oleh para manajer Indonesia. Hal itu dikarenakan manajemen yang kita kenal dewasa ini adalah hasil produk Barat yang sifatnya individualis, kapitalistis dan profanes. Sifat individualistis tercermin dalam usaha manajemen menempatkan kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri sebagai hal yang paling utama atau paling primer sedangkan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama ditempatkan dalam posisi kepentingan sekunder.

Sifat kedua dari manajemen Barat adalah bersifat kapitalis yang berarti proses manajemen lebih mengejar dan mengutamakan efisiensi untuk mencapai keuntungan setinggi-tingginya dan bahkan terkadang cenderung menghalalkan segala cara demi efisiensi dan keuntungan itu sendiri. Kecenderungan ini muncul karena sifat ketiga dari manajemen Barat, adalah profanes yakni sifat yang meninggalkan nilai-nilai religious. Jadi sikap dan perilaku berdasarkan hubungan antara manusia dan Tuhan cenderung terabaikan.

Untuk Indonesia, perkembangan dan proses sejarah manajemen diawali pada awal tahun 1945 telah secara jelas ditetapkan filosofi bangsa Indonesia, yang terdiri dari 5 prinsip dikenal sebagai Pancasila. Kelima prinsip tersebut adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa. Perisasi hitam dengan sebuah bintang emas berkepala lima menggambarkan agama-agama besar di Indonesia, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan juga ideology sekuler sosialisme.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Rantai yang disusun atas gelang-gelang kecil ini menandakan hubungan manusia satu dengan yang lainnya yang saling membantu; gelang yang lingkaran menggambarkan wanita, gelang yang persegi menggambarkan pria.

3. Persatuan Indonesia. Pohon beringin adalah sebuah pojon Indonesia yang berakar tunjang, sebuah akar tunggal panjang yang menunjang pohon yang besar tersebut dengan bertumbuh sangat dalam ke dalam tanah. Ini menggambarkan kesatuan Indonesia. Pohon ini juga memiliki banyak akar yang menggelantung dari ranting-rantingnya. Hal ini menggambarkan Indonesia sebagai negara kesatuan namun memiliki berbagai akar budaya yang berbeda-beda.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Binatang banteng atau lembu liar adalah binatang social, sama halnya dengan manusia cetusan Presiden Soekarno dimana pengambilan keputusan yang dilakukan bersama (musyawarah), gotong royong, dan kekeluargaan merupakan nilai-nilai khas bangsa Indonesia.

5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas (yang menggambarkan sandang dan pangan) merupakan kebutuhan pokok setiap masyarakat Indonesia tanpa melihat status maupun kedudukannya. Hal ini menggambarkan persamaan social dimana tidak adanya kesenjangan social satu dengan yang lainnya, namun hal ini bukan berarti bahwa negara Indonesia memakai ideology komunisme. Prinsip seperti yang tersebut di atas adalah dibangun ke dalam setiap institusi dan organisasi Indonesia, sebagaimana prinsip-prinsip dan praktek-praktek dari manajemen dalam setiap aspek dari masyarakat Indonesia.

Di sisi yang lain, Bhinneka Tunggal Ika merupakan sesanti nasional Indonesia yang berasal dari istilah Sanskerta karangan Mpu Tantular yang berarti “walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu” yang menggambarkan keadaan bangsa Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam suku, budaya, adat-istiadat, kepercayaan, namun tetap adalah satu bangsa, bahasa, dan tanah air.

Sementara itu, Ki Hajar Dewantara, seorang pendiri system pendidikan di Indonesia merumuskan karakteristik gaya kepemimpinan yang merupakan intisari manajemen di Indonesia adalah sebagai berikut: Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, yang kemudian ditetapkan sebagai asas-asas kepemimpinan Pancasila yang mengandung sifat, watak dan perangai sebagai berikut: (1) Taqwa, yaitu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya; (2) Ing Ngarsa Sung Tulada, yaitu memberi suri teladan kepada bawahannya; (3) Ing Madya Mangun Karsa, yaitu ikut bergiat serta menggugah semangat ditengah-tengah bawahannya; (4) Tut Wuri Handayani, yaitu mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada bawahannya; (5) Waspada Purba Wisesa, yaitu selalu waspada, mengawasi serta sanggup dan berani memberi koreksi kepada bawahannya. Manajemen sebagai suatu disiplin imu tidak pernah dipelajari oleh Ki Hajar Dewantara, tetapi apa yang telah dijelaskan di atas adalah memberikan hal yang penting untuk kita semua untuk mempunyai pandangan sebagai gaya manajemen Indonesia.

Manajemen dalam masyarakat Indonesia secara tradisional, umumnya dicirikan oleh konsep musyawarah, mufakat dan gotong royong, dengan orientasi hirarki yang kuat. Karakteristik “ikut memimpin” atau paternalism adalah sebuah ekspresi yang sangat dikenal untuk menghormati orang yang lebih tua dan status yang lebih tinggi karena mereka dipertimbangkan untuk punya aturan dari “ayah” dalam suatu organisasi. Paternalism adalah didasari kepada pertimbangan: umur, kelas, dan loyalitas kepada atasan. Dalam organisasi, loyalitas adalah lebih penting daripada konsep Barat. Untuk orang dalam organisasi, kerja adalah tidak semata-mata berarti pencapaian tujuan, tetapi juga membentuk dan menyusun suatu keserasian atau keharmonisan. Perpaduan berbagai hal itulah dapat dikatakan sebagai Manajemen Bhinneka Tunggal Ika.

Oleh: Prof. I.B. Raka Suardana
Source: Majalah Wartam, Edisi 28, Juni 2017