Makna Sesajen dalam Ma'toratu

Agama Hindu Alukta memandang upacara keagamaan, diantaranya, sebagai suatu upaya untuk membangun dan melestarikan hubungan yang harmonis, tidak hanya dengan Puang Matua (Tuhan), Dewata (Dewa), Bombo Tomate (Leluhur), Tomasagala (Roh halus), dengan alam, tetapi juga dengan sesamanya. Keharmonisan dengan sesama manusia diwujudkan dalam upacara keagamaan yang disebut ma'toratu atau ma'tosae. Upacara ini dilaksanakan tatkala ada tamu yang pertama kali berkunjung ke suatu keluarga tertentu atau ke suatu kampung. Selain itu, juga tatkala ada bayi baru lahir.

Upacara ini menyimpan makna yang sangat dalam, baik dalam aspek spiritual maupun dalam aspek sosial. Namun seiring dengan interaksi umat Hindu Alukta dengan non-Hindu Alukta akhirnya timbul beberapa penafsiran yang terkadang berujung pada "kekeliruan". "Kekeliruan" tersebut muncul dalam hemat penulis karena beberapa hal:

Pertama, karena alasan mereformasi sistem religi yang dianggap penuh feodalisme. Hal ini biasanya muncul dari kalangan internal etnis Toraja Barat yang sudah bersentuhan dengan kebudayaan luar. Kedua, karena ketidaktahuan akan hakekat upacara tersebut, tetapi berupaya menjelaskan secara dangkal dengan ukuran tradisi mereka sendiri. Berdasarkan fakta yang penulis temukan di lapangan dan terkadang berlangsung dalam sebuah forum formal, hal ini biasanya datang dari non etnis Toraja Barat. Ketiga, Kekeliruan yang selama ini muncul disamping karena faktor penafsiran yang kurang tepat dari yang mencoba menafsirkan, juga karena faktor "ketidakmampuan" umat Hindu Alukta dalam menjelaskan kepada pihak yang hendak mengetahui dan memahami hakekat upacara tersebut.

Tulisan ini "hendak berupaya" mendudukkan ma'toratu atau ma'tosae yaitu upacara yang ditujukan kepada pemuliaan tamu bukan bayi baru lahir pada makna yang "sebenarnya" terutama aspek sesajennya menurut keyakinan umat Hindu Alukta, Upaya ini dapat dijelaskan dengan pemahaman akan makna yang terdapat di dalamnya. Makna tersebut dapat berbentuk konotatif maupun denotatif melalui simbol-simbol berupa sesajen, bahasa dan upakara lainnya.

Istilah ma'toratu terdiri dari perfiks ma yang mengandung makna aktivitas, melaksanakan kegiatan tertentu, yaitu melaksanakan upacara. Prefiks ma' kemudian diikuti kata ganti to yaitu menunjukkan orang, dalam hal ini tamu atau bayi yang baru lahir. Sedangkan kata dasar "ratu" menurut hemat penulis sama artinya dengan "ratu" dalam bahasa Indonesia. Jadi kata "ratu " adalah orang yang dimuliakan, dijunjung tinggi. Oleh karena itu, secara etimologi ma 'toratu berarti upacara yang bertujuan untuk memuliakan seseorang. Seseorang yang dimuliakan dalam konteks aluk banne tau adalah orang yang baru pertama kali berkunjung ke salah satu keluarga atau ke suatu kampung, desa dan sejenisnya, dengan kata lain adalah "tamu" yang bayu. Bayi yang baru lahir juga dianggap tamu yang baru. Hal ini sangat jelas bila kita perhatikan istilah dari ma'toratu yaitu ma'tosae. Arti perfiks ma' dan kata ganti to dalam istilah ma'tosae sama dengan sebelumnya dalam istilah ma'toratu. Sedangkan kata "sae" artinya datang atau tiba. Jadi jelaslah bahwa kata tosae artinya orang yang baru datang, baru tiba, atau lebih jelasnya adalah tamu. Pengertian ini juga semakin jelas dari moment pelaksanaan upacara. Upacara ini hanya dilaksana-kan bagi tamu yang baru pertama kali berkunjung di suatu keluarga, kampung, desa dan sejenisnya, sedang-kan kunjungan-kunjungan berikutnya upacara tidak dilangsungkan lagi.

Ma'toratu atau ma'tosae (selanjutnya disebut saja: Ma'toratu) merupakan salah satu jenis upacara yajna yang tergolong Rambu Tukak yaitu salah satu bagian dari aluk banne tau (di Bali : manusa yajna). Aluk Rambu Tukak berdasarkan obyek pemujaan terdiri dari : (1) Aluk Banne Tau (Pemala Banne Tau); yaitu upacara tentang manusia selama masih hidup. (2) Aluk Pandanan Lettong (Pemala' Pandanan Lettong); yaitu upacara tentang perumahan dan berbagai permasalahannya. (3) Aluk Paktaunan (Pemala' Paktaunan); yaitu upacara tentang pertanian. (4) Aluk Manuk A'pak (Pemala' Manuk A'pak); yaitu upacara yang ditujukan kepada Puang Matua dan para Dewata : 28). Ma'toratu dilaksanakan dalam suasana hati yang penuh suka. Tamu dianggap sebagai suatu anugrah dari Puang Matua. Karena itulah maka dikategorikan sebagai aluk rambu tukak. Disamping itu, sebagaimana dijelaskan di atas bahwa ma'toratu adalah upacara memuliakan seseorang atau sekelompok orang sebagai tamu maka merupakan salah satu bagian dari aluk banne
tau. Untuk lebih jelasnya berikut disebutkan beberapa upacara yang tergolong aluk banne tau, antara lain :

1. Bayi baru lahir, terdiri dari tiga ritual yang dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama Mattaktak Mata dan tahapan kedua yaitu Maktomatua dan Maktoratu. Mattaktak mata, yaitu pemujaan kepada Dewata Tomak-pakasakke atau Toliu Bongi, bisa diidentikkan dengan Bhuta Kala, dengan mempersembahkan seekor ayam. Ayam ini bersama dengan beras dalam keadaan mentah dipersembahkan kepada Toliu Bongi dan dilaksanakan di serambi rumah (Tanggo'Banua). Maktomatua, yaitu pemujaan kepada Tolenduk Membali Puang (Roh Leluhur). Adapun sarana yang dipergunakan yaitu : seekor ayam betina bulu hitam (Manuk Bolong) atau yang berbulu Rame. Maktoratu, yaitu pemujaan kepada Dewata Tomepatama Lino (Dewa Pencipta).

2. Mattokek Ondoan; terdiri dari kata mattokek artinya menggantung dan ondoan artinya buaian. Jadi secara harfiah berarti menggantung buaian. Ritual ini ditujukan kepada Dewa Tomerandanan (Dewa Pemelihara). Sarananya : Seekor ayam atau babi. Salah satu bentuk upakara yang pokok adalah bombong, dibuat dalam janur sebagai tempat sesaji yang digantung pada ondoan. Upacara ini dilaksanakan pada pagi hingga siang hari. Tempatnya di atas rumah. Pada saat ini pula dilakukan pemotongan rambut bayi yang pertama kalinya.

3. Mangngattak; Upacara ini bertujuan untuk memuja Dewata To Masagala. Upacara ini boleh dilakukan dalam satu keluarga dan bisa juga dilakukan secara bersama-sama (kolektif/ massal). Setiap orang yang di-attak menyediakan tidak kurang dari 12 ekor ayam untuk dipersembahkan kepada para dewata. Upacara yang dilaksanakan secara massal biasanya dilaksanakan secara priodik dengan memperhatikan jumlah anak yang akan di-attak. Adapun rangkaian upacaranya : (a) Pada hari pertama, dilaksanakan upacaraMattoke'-tokek'; dari kata 'toke' artinya gantung. Yang dimaksudkan adalah menggantung segala sarana ritual yang terdiri dari : ketupat, telor, padi ladang, sirih/ pinang, kalung emas (rarar), manuk-manuk (ketupat berbentuk ayam, sebanyak satu pasang, satu mentah dan yang satunya lagi sudah dimasak), bawang daun, sebutir ba'tan/tarwe (gandum). Untuk menggantung sarana tersebut dibuatkan tempat yang disebut Para Puang. Para Puang terdiri kata para artinya bale yang dibuat dari bambu yang kemudian digantung di ruang depan di atas rumah (ba'ba) tepatnya di dinding sebelah barat sehingga ujungnya mengarah utara selatan. Sedangkan Puang artinya Tuhan dengan segala manifestasinya. Jadi para Puang mengandung makna tempat menstanakan Para Dewata yang diharapkan hadir selama upacara mangngattak. Di atas Para Puang ditempatkan nasi dan alat bunyi-bunyian misalnya ; seruling, gesok-gesok, gongga', dan yang lainnya, yang harus dibunyikan siang dan malam untuk menghibur Para Dewata. Pada saat itu, sebutir telur dfpararwfc (disajenkan) di depan pintu yang mengandung makna menyambut Para Dewata naik ke rumah dan berstana di atas para puang. (b) Pada hari kedua, membuat sumur sebagai tempat Pathirtan, tempat mencari air suci untuk keperluan: memasak nasi sesajen, memandikan anak-anak yang diattak dan dipakai sebagai wai palewaran (sejenis Tirtha untuk sembahyang). Dua buah telur yang sudah matang dipararuk (disajen-kan) masing-masing ditujukan kepada Dewata Wai dan Dewata Litak. Upacara dipimpin oleh Toma'raka' (Sebutan Toummammang atau orang suci dalam upacara Mangngattak). Mulai pada saat ini, semua anak yang akan di-attak diantar ke sumur tersebut dan dimandikan sekaligus mengawali rangkaian prosesi pemandian anak, selanjutnya yang akan dilakukan di rumah. Setelah itu, air di sumur dibawa ke rumah dan disimpan dengan menggunakan "perian" yang didalamnya telah diisi : marudindin, daun paria, ra'pak-ra'pak, balunuk tau (pakasakke) dan bulawan (emas). Secara sekala sarana tersebut merupakan ramuan tradisional yang berfungsi sebagai obat (pencegah) penyakit terutama cacar. Setiap pagi dan sore anak dimandikan dengan air tersebut sampai upacara puncak mangngattak yaitu pada hari keempat (c) Pada hari ketiga, pattoke'-toke' yang digantung itu diturunkan ke lumbung (mattoana) dan dipersembahkan sesajen, yang upakaranya terdiri dari sebutir telur yang dipergunakan ditujukan kepada Dewata Tomasagala. Pattoke'-toke' diinapkan di lumbung selama satu malam bersama-sama dengan anak yang di-attak. (d) Pada hari keempat merupakan puncak ritual mangngatak. Pelaksanaannya mengambil tempat di pinggir kampung atau di luar halaman rumah. Upacara ini dimulai pada pagi hari dengan memindahkan pattokek-tokek ke tempat upacara dengan digantung pada seutas tali. Begitu juga alat-alatmusik dibawah dan dimainkan di tempat tersebut. Pada saat inilah disembelih banyak ekor ayam untuk dipersembahkan kepada Puang Matua dan Para Dewata; yaitu : 1) Satu ekor ayam jantan merah (malea) ditujukan kepada Puang Matua. Sesajen nasi adalah nasi yang terbuat dari ba'tan (tarwe). 2) Satu ekor ayam betina berbulu rame yang ditujukan kepada Dewata Wai. 3) Satu ekor ayam betina berbulu hitam (bolong) yang ditujukan kepada To Matua (roh leluhur). 4) Satu ekor ayam betina berbulu rame yang ditujukan kepada Dewata Sangbasse. 5) Satu ekor ayam betina berbulu putih (busa') ditujukan kepada Dewata Sangtawan Mana'. 6) Satu ekor ayam betina berbulu rame dipersembahkan kepada Dewata Wai. 7) Satu ekor ayam betina berbulu hitam (bolong) dipersembahkan kepada Garoang. 8) Satu ekor ayam betina berbulu hitam dipersembahkan kepada Dewata Runduk. 9) Satu ekor ayam betina berbulu hitam dipersembahkan kepada Dewata Tomakpakasakke. 10) Satu ekor ayam jantan berbulu hitam dipersembahkan kepada Dewata Puang Pangngalak, dewata yang menguasai hutan. 11) Satu ekor ayam betina berbulu rame yang dipersembahkan kepada Dewata Appupadang. 12) Satu ekor ayam jantan berbulu merah (malea) yang dipersembahkan kepada Dewata Buttu. 13) Satu ekor ayam betina berbulu rame yang dipersembahkan kepada Dewata Totiboyong/Dewata Pare (Dewi Sri). 14) Dua ekor ayam yaitu Satu ekor ayam betina berbulu rame dan Satu ekor ayam jantan berbulu merah (malea) nakayun pea (secara harfia berarti dipegang dengan cara diselipkan dipinggang snak{pea}), ayam betina berbulu rame di sebelah kiri dan ayam jantan berbulu merah di sebelah kanan. Kedua ayam ini dipersembahkan kepada Dewata Tomasagala. Nampaknya, kedua ayam ini melambangkan hakekat manusia yang terdiri dari unsur purusa dan pradhana dengan makna penyucian diri dari unsur mala (segala hal yang kotor) dan siap tumbuh menjadi manusia yang dewasa.

4. Massapan (Ma'timbu'); merupakan rangkaian akhir dari upacara mangngattak. Upacara ini bisa dirangkaikan langsung dengan upacara mangngattak yaitu dilaksanakan pada sore hari atau bisa juga dilaksanakan beberapa hari kemudian. Tempat dilaksanakan upacara ini adalah di rumah yang dipergunakan mattoke-toke selama upacara mangngattak. Upacara ini bisa dilakukan oleh masing-masing keluarga yang anaknya di-attak bisa juga secara massal, beberapa anggota keluarga yang anaknya diattak melaksanakan secara bersama-sama. Rangkaian inti dari upacara ini adalah, menorehkan darah segar babi yang dipersembahkan, yang sebelumnya ditaruh dalam seruas bambu, pada dahi dan tapak tangan atau di kening anak-anak yang di-attak (disapan). Hal ini dilakukan setelan Toummammang merafalkan f^' mantra pemujaan kepada Dewata Tomasagala.

5. Mattoding; adalah suatu ritual yang hampir sama dengan Massapan. Perbedaannya, kalau Massapan dilaksanakan dalam rangkaian mangngattak, maka mattoding dilaksanakan oleh seseorang yang massa-maya (bernasar). Misalnya, orang yang baru sembuh dari sakit, berhasil dalam pekerjaan, dan sebagainya. .Sehingga, Dewata yang dipuja pun berbeda. Dewata yang dipuja dalam upacara massapan adalah Dewata Tomasagala sedangkan dalam upacara Mattoding adalah Dewata Tomepatama Lino (manifestasi Puang Matua sebagai Pencipta). Persamaannya adalah prosesi . pelaksanaannya, dimana darah segar babi yang dipersembahkan dicerat-kan pada dahi dan tangan atau di kening orang yang ditoding. Upacara ini hanya dilakukan secara individual.

6. Aluk banne tau yang lain, yaitu :a) Perkawinan, b) Sumorong; setinya permohonan pada tolenduk membali puang dan para dewata. Pada saat ini dipotong seekor ayam atau babi. Tempat menyajikan sesajen, menggunakan tongo'; sejenis tapis, c) Ma'kisala; artinya mengakui kesalahan atas perbuatan tercela yang pernah dilakukan terhadap roh leluhur atau kepada Para Dewata. Istilah "ma'kisala" berasal dari kata dasar sala artinya salah, tidak benar atau keliru; setelah mendapat imbuhan ma'fa'-artinya menjadi mengakui kesalahan, kekeliruan, d) Umbaba'Pernah; merupakan upacara yang dilakukan oleh orang yang dianggap melakukan pelanggaran berat terhadap sukaran aluk. Misalnya, melakukan persinahan dengan kerabat yang terdekat yang masih dalam ruang lingkup incest. Umbaba' pemali terdiri dari kata umbaba' dan pemali. Umbaba' artinya memulai kembali, membangun kembali, menegakkan kembali' sedangkan pemali artinya larangan menurut sukaran aluk. Dalam upacara ini terkandung suatu makna penyucian atau pembersihan secara niskala, menetralisir kekuatan-kekuatan yang tidak baik sehingga tercipta keseimbangan, baik bagi yang melakukan pelanggaran (buwana alit) maupun bagi lingkungan alam dan lingkungan sosial (buwana agung)- Upakara umbaba' pemali, kemungkinan sangat tergantung pada jenis pelanggaran terhadap sukaran aluk. Misalnya, bersinah dengan kerabat dekat, upakaranya: seekor ayam atau anjing berbulu merah. Mengorbankan anjing artinya membersihkan atau menyucikan sifat-sifat anjing atau binatang pada diri manusia. Menurut etika Hindu Alukta orang berhuat sinah tanpa mengenal batas-batas yang dibenarkan oleh agama tidak ubahnya binatang termasuk anjing, dan masih banyak lagi.

Ma'toratu dilaksanakan pada malam hari. Walaupun demikian bukan berarti bahwa ma'toratu termasuk Aluk Rambu Solok, ritual yang menggambarkan kedukaan. Yang menandakan bahwa upacara ini tergolong Aluk Rambu Tukak adalah bahan pokok sesajen berupa nasi dari beras. Berbeda dengan Aluk Rambu Solok, nasi yang digunakan sebagai sesajen terbuat dari bahan-bahan yang bukan berasal dari beras, termasuk tepung beras, tetapi berasal dari bahan misalnya, ubi-ubian, jagung, gandum dan sebagainya.

Makna Sesajen : Meluruskan Tafsir Yang Keliru

Pelaksanaan upacara agama yang menonjol dan bisa diamati oleh panca indera adalah sesajen. Sesajen dalam Hindu Alukta disebut pararuk. Sesajen dalam pandangan Hindu Alukta memiliki tata aturan yang berlandaskan pada sukaran aluk (kitab suci), bukan didasarkan pada keinginan manusia semata, dengan mengandalkan indiria terutama mata dan pikiran. Agama tidak bsia dijelaskan hanya berdasarkan logika ilmiah semata.

Sesajen yang menonjol dan disaksikan langsung oleh orang-orang yang hadir pada ma'toratu adalah tawa todi tarotu yaitu makanan yang disuguhkan kepada tamu. Kalau tamu itu rombongan, sesajen itu diberikan kepada ketua atau yang dianggap paling senior. Istilah tawa todi toratu terdiri dari kata tawa artinya jatah, bagian bagi daging; dalam konteks ritual tersebut mengandung arti jatah berupa suguhan makanan. Todi adalah kata penghubung yang berarti untuk, sedangkan kata toratu sebagaimana dijelaskan di atas adalah tamu yang dimuliakan, dijunjung tinggi oleh tuan rumah.

Sesajen tawa todi toratu terdiri dari nasi, lauk pauk yang diambil dari bagian-bagian tertentu pada hewan korban berdasarkan aturan yajna dalam sukaran aluk. Sebagai wadah sesajen dipakai dulang yaitu sejenis piring yang terbuat dari kayu. Piring ini alasnya tinggi maka dulang sering juga bahkan secara umum dikenal dengan istilah kandean lakka'; kandean artinya piring dan lakka' artinya tinggi. Hewan korban yang digunakan yaitu ayam atau babi, tergantung pada tingkatan ma'toratu.

Jika ma'toratu yang tergolong kecil yaitu tamu itu hanya satu orang dan merupakan tamu dalam satu keluarga maka. hewan korbannya adalah seekor ayam. Yang tergolong menengah adalah tamu yang lebih dari satu orang yang merupakan tamu dalam satu keluarga maka hewan korban adalah ayam yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah orang yang dianggap patut mewakili sebagai yang dimuliakan (toratu). Sedangkan yang tergolong besar adalah tamu dalam satu komunitas masyarakat tertentu, apakah itu kampung, dusun atau desa maka hewan korbannya adalah hanya seekor babi. Kalaupun babi yang dipotong lebih dari satu ekor maka itu hanya dianggap sebagai lauk semata untuk menjamu orang yang terlibat atau hadir pada upacara, dengan kata lain hanya untuk memenuhi jumlah orang yang hadir pada jamuan saat itu.

Sesajen diatur pada sebuah dulang (kandean lakka') sedemikian rupa sesuai dengan etika jamuan ma'toratu. Pertama-tama, nasi diletakkan mulai dari garis tengah dulang hingga pinggir, sedangkan ke atas berbentuk setengah lingkaran yang tingginya sedikit di bawah pinggir dulang. Kemudian setengah dari dulang lagi, diletakkan daging yang diambil dari bagian tertentu hewan korban, antara lain, potongan paha bagian kanan, irisan leher yang berbentuk kalung dan beberapa potongan bagian hewan korban lainnya. Kemudian di atas nasi diletakkan bagian "jeroan" dari hewan korban seperti hati, darah yang sudah dimasak matang dan lain-lainnya.

Pada saat jamuan makan malam sudah tiba, maka pertama kali disuguhi adalah todi toratu, tamu. Kalau rombongan , maka yang dianggap mewakili, baru diikuti tamu yang lain dengan memperhatikan kriteria senioritas. Oleh karena itu, koodinator pelayan jamuan adalah orang yang sudah memahami tata krama jamuan makan bersama. Setelah itu, baru diikuti dengan tuan rumah dengan tetap memperhatikan kriteria senioritas.

Sampai saat ini jamuan pada acara-acara keagamaan adalah jamuan bersama atau kolektif dalam arti waktu jamuan dilakukan bersamaan. Karena jamuan makan malam pada ma'toratu kolektif dengan tata krama yang ketat, maka posisi tempat duduk pun sudah diatur menurut tata krama dalam menyambut tamu. Posisi tempat duduk selalu memperhatikan arah yang dianggap dan diyakini sakral atau suci, yang sama dengan konsep hulu teben, kaj'a kelod, kangin kauh di Bali. Jadi tamu selalu ditempatkan di hulu dengan didampingi perwakilan tuan rumah. Dengan posisi tempat duduk yang demikian, memudahkan bagi pelayan untuk menyuguhkan jamuan makan secara tepat dan sopan.

Kembali kepada topik utama pembahasan tentang sesajen yaitu tawa todi toratu. Dari segi bentuk penyajiannya nampak sangat berbeda dengan yang disuguhkan kepada tamu lainnya atau yang turut hadir pada acara jamuan makan bersama. Sehingga sepintas, dengan menggunakan penalaran ilmiah secara murni, tentu bisa dipahami sebagai sebuah pengkultusan individu.

Menganggap sebagai penghormatan yang berlebih-lebihan yang bertentangan dengan prinsip hakekat manusia yang sama. Atau jika dilihat dari ilmu tata boga, tentu orang bisa menilai sebagai ketertinggalan dalam cara mengolah bahan makanan yang praktis dan estetis. Semua ini, karena dalam sesajen tawa todi ratu yang disuguhkan berupa potongan paha babi yang dimasak secara utuh, kemudian disuguhkan dengan dulang.

Sebelum sampai kepada makna di balik tawa todi toratu terlebih dahulu akan dipaparkan makna ma'toratu itu sendiri. Di awal sudah disebutkan bahwa secara etimologi ma'toratu berarti upacara yang bertujuan untuk memuliakan tamu. Dalam keyakinan Hindu Alukta, memuliakan tamu sama pentingnya dengan memuliakan Puang Matua dan para Dewata. Hakekat manusia menurut filsafat Hindu tiada lain adalah atma yaitu bagian dari Maha Atman, Brahman. Jadi beragama tidak selamanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi bisa juga dengan menghormati, memuliakan sesama manusia. Menghormati dan memuliakan sesama merupakan salah satu wujud membangun hubungan yang harmonis, baik bagi diri sendiri maupun dalam hubungannya dengan orang lain di sekitar kita. Hubungan yang harmonis akan mengantarkan kita mampu menghubungkan diri dengan Tuhan. Dalam Kekawin Arjuna Wiwaha mengibaratkan dengan tempayan yang dalamnya berisi air yang bersih dan tenang akan tampak bayangan bulan. Demikian juga dalam diri yang suci Tuhan akan bersemayam.

Sebagai suatu bentuk ungkapan keyakinan manusia dalam memuliakan sesamanya dalam bingkai memuliakan Puang Matua, kemudian dividualisasi-kan lewat sesajen tawa todi toratu. Dulang sebagai wadah sesajen yang strukturnya lebih tinggi dari piring-piring yang biasa digunakan bagi yang terlibat dalam ma'toratu menandakan bahwa tamu sangat dijunjung tinggi oleh tuan rumah. Posisi tempat duduk tamu di hulu bahwa tamu adalah orang yang dimuliakan. Potongan paha babi bagian kanan menyiratkan keikhlasan menerima dan melayani tamu dengan penuh rasa hormat. Paha babi merupakan bagian tubuh babi terbaik karena padat daging, sehingga mengandung, makna keikhlasan juga disimbolkan dengan bagian "jeroan" (hati, darah yang sudah dimasak) sudah diiris kecil-kecil, yang khusus diperuntukkan bagi sang tamu untuk dimakan pada saat jamuan. Begitu juga dengan irisan kulit dan daging leher babi yang berbentuk kalung tanpa terputus, merupakan simbol kebulatan hati dalam menerima dan melayani tamu.

Dengan demikian sesajen tawa todi toratu, antara lain, mengandung makna penghormatan yang penuh keikhlasan, kejujuran, sopan santun, dan kebulatan hati yang dalam untuk menerima dan melayani tamu. Dalam konteks upacara yajna, makna-makna tersebut merupakan kriteria dalam mewujudkan yajna yang berkualitas, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Suci Hindu/misalnya dalam Bhagawad Gita adhyaya XVII sloka ll dan 20.

Dalam hubungannya dengan etika, tawa todi toratu mengandung makna pengendalian diri dan kebijaksanaan bagi sang tamu. Tata hidangan pada sebuah dulang sebagaimana disebutkan sebelumnya, menuntut kehati-hatian agar daging yang menjulang pada dulang itu tidak bergeser jatuh, apalagi sampai di pindahkan ke piring lain selama jamuan makan berlangsung. Dalam dulang itu sudah tersedia "tidak lebih dari seperempat bagian" yang diperuntukkan bagi tamu untuk menikmati hidangan yang disuguhkan. Kebijaksanaan seseorang salah satunya nampak dari kehati-hatiannya dalam setiap kesempatan. Dalam Kekawin Nitisastra 1.6 disebutkan bahwa jiwa ingin mengetahui dalamnya air caburlah tunjung untuk menduga, kebangsawan seseorang nampak pada tingkah laku, tabiat dan geraknya, tanda pendeta ialah kesabaran, keikhlasan, kehalusan dan ketenangan budhi, tanda orang yang sempurna ilmunya ialah tutur bahasanya yang bagaikan air penghidupan yang dapat menyenangkan semua orang.

Begitu juga tawa todi taratu yang boleh dimakan oleh tamu pada saat jamuan makan berlangsung. Yang boleh dimakan oleh tamu sebagai lauk pauk hanya irisan-irisan "jeroan" yang diletakkan di sekitar nasi. Hal ini mengandung makna agar manusia tidak lobha (keterikatan yang berlebih-lebihan pada sesuatu, termasuk dalam hal makanan). Jika seorang tamu mencicipi daging lainnya dalam sesajen, apalagi sampai menggunakan pisau untuk mengiris daging paha babi yang disuguhkan maka menyebabkan tamu itu dicela. Dalam Kekawin Nitisastra XIII.9 disebutkan bahwa pangkal kesulitan yang terbesar bagi manusia tersembunyi dalam dirinya sendiri (ring wwang wastu ng iweh hinuttama hane dehanya nityeneneb) yaitu lobha, menyebabkan hilangnya kebaikan (angalap guna) yang dicita-citakan, menyebabkan hilangnya pengetahuan (hiltfnging sakawruhika) yang dikumpulkan sejak lama, kemudian tidak dapat dicari akhirnya habis tanpa meninggalkan kesan.

Demikian sekilas tentang beberapa makna sesajen ma 'toratu, salah satu bentuk manusa yajna dalam praktek keagamaan Hindu Alukta. Yang jelas bahwa ma'toratu, terutama sesajennya mengandung makna spiritual dan makna sosial yang sangat dalam dan mulia. Tidak seperti yang dipersepsikan sebagian orang bahwa hal itu menandakan feodalisme apalagi jika dihubungkan dengan ilmu tata boga (tidak praktis dan tidak estetis). Tentu masih banyak makna lainnya, tetapi dengan gambaran yang sekilas ini diharapkan sebagai langkah awal dalam meluruskan tafsiran yang "keliru" selama ini. SEMOGA.

Source: Ferdinandus Nanduq I Warta Hindu Dharma NO. 457 Pebruari 2005