Makna Ritus Yama Raja dalam Upacara Bhuta Yadnya [2]

(Sebelumnya)

Dari sekian banyak jumlah pelaksanaan Upacara Tawur yang merupakan rangkaian Upacara Bhuta yadnya tersebut di atas, seluruhnya dilengkapi dengan rerajahan seperti rerajahan Padma Pusuh, Padma Kembang, sebagai sarana acara Padudusan melengkapi upacara Tawur. Kemudian rerajahan Senjata Yama Raja atau Senjata Dewata Nawa Sanga, digunakan mulai tingkatan Caru Manca Kelud sampai tingkatan terbesar sekalipun, sedangkan rerajahan Yama Raja digunakan mulai tingkatan Tawur Labuh Gentuh sampai tingkatan Tawur yang terbesar sekalipun. Dapat disimpulkan bahwa Yama Raja digunakan apabila Upacara Tawur telah menggunakan kebo/kerbau. Apakah Yama Raja, hubungannya dengan keseimbangan perputaran Bhuana Agung, siapa saja yang muput, ngurip serta memutar (mitehang/mencerang) Yama Raja? mari kita simak pada uraian berikut.

Ngurip dan Mincerang Yamaraja Mahayu Gumi

Pada uraian di depan telah dijelaskan apa tujuan dilaksanakan Upacara Tawur  (Bhuta Yadnya). Menurut isi rontal Lebur Sangsa dan Purwaka Weda menyebutkan tiada lain untuk menetralisir atau menyeimbangkan interaksi alam antara alam atas, tengah dan bawah (Bhur, Bwah, Swah).

Apabila gerak harmoni ketiga alam ini terganggu maka menimbulkan bahaya atau malapetaka. Bagaiman kalau planet satu dengan lainnya bertabrakan. Contoh kecil saja, apabila pada rel kereta api pada lintasannya ada bus yang nyelonong maka terjadi tabrakan. Justru itu interaksi perputaran kehidupan atau siklus kehidupan perlu dinetralisir/diseimbangkan atau diselaraskan agar terhindar dari gangguan kala dan bhuta dengan kata lain bahwa tujuan pelaksanaan Tawur (Bhuta Yadnya) untuk MAHAYU JAGAT.

Bhuta dan Kala yang jumlahnya ribuan, kecuali Bhatara Kala adalah makhluk yang derajat kehidupannya lebih rendah dari manusia. Mereka diciptakan oleh Ida Sanghyang Widhi untuk menganggu kehidupan di desa pakraman apabila tidak mendapat perhatian, Hal ini penting agar siklus lahir, hidup, mati berjalan dengan harmonis. Agar gangguan mereka tidak berlebihan (berjalan sesuai kodratnya) maka kala dan bhuta perlu mendapat perhatian yaitu diberikan upah atau sajen/sesaji pepanganan dalam bentuk segehan, caru, dan tawur sesuai tingkatan dan tempatnya, disertai perilaku manusia sesuai tata krama di tuntun ajaran agama sebagai wujud kepedulian kita kepada alam lingkungan.

Di depan telah diuraikan, caru apa saja yang menyertai tatkala ngurip Yama Raja, Padma Pusuh, padma Kembang, dan rerajahan Yama Raja. Makna Yama Raja (Ya di tengah) berarti Yama dan Siwa saat bertindak selaku Rajanya Dunia. Di dalam pelaksanaan Upacara Tawur yang dilengkapi dengan pemakaian Yama Raja demikian sangat rumit, tidak boleh kurang atau keliru. Fase demi fase pelaksanaannya diantar dengan Puja Astawa Mantram Weda yang berbeda pula. Tentang Puja Astawa Weda ini terangkum dalam Weda Purwaka Weda, Rontal Purwaka Bhumi Kamulan.

Di Besakih (Pura Besakih)yang merupakan pusat (zenitnya) pulau Bali telah sempat dilaksanakan Upacara Tawur Eka Dasa Rudra sebanyak dua kali yaitu tahun 1963 dan 1978. di samping itu juga telah pernah dilaksanakan Upacara Tawur Eka Bhuwana, Tri Bhuwana, Candi Narmada dan berkali-kali Upacara Tawur Panca Bali Krama. Menurut Rontal Lebur Sangsa, Itihasa dan beberapa Purana diantaranya Purana Pura Besakih, sementara ini yang muput upacara besar hubungannya dengan Upacara Tawur (Bhuta Yadnya) adalah Pedanda Siwa dan Buddha serta Bhujangga (Tri Sadaka). Ketiga Sulinggih ini di dalam muput Upacara Tawur memiliki tugas masing-masing. Yang muput di tengah untuk NGURIP DAN MINCERANG RITUS YAMA RAJA adalah Ida Pedanda Buddha.

Sejarah telah membuktikan saat Tawur Eka Dasa Rudra tahun 1963 yang muput di tengah adalah Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik dari Geria Tegeh Budakeling. Demikian pula saat pelaksanaan Tawur Eka Dasa Rudra tahun 1978 yang muput di tengah adalah Ida Pedanda Gede Made Banjar dari Geria Kawan Budekeling (almarhum). Sejarah juga telah membuktikan bahwa Ida Danghyang Astapaka (Pedanda Buddha) yang pertama kali datang ke Bali atas undangan Raja Watur Enggong di Puri Gelgel (atas saran Danghyang Nirartha) dalam muput Upacara Homa (sejenis Upacara Tawur Agung).

Ida Danghyang Astapaka menurunkan semua pedanda Buddha (Brahmana Buddha) yang ada di Bali dan Lombok. Beliau membangun Pasramaan di Taman Tanjung Budekeling. Beliau pertama kali datang ke Budekeling. Hal ini dibenarkan oleh Ida Pedanda Gede Wayan Datah dari Geria Krotok Budekeling dan Ida Pedanda Gede Made Gianyar dari Geria Kawan Budekeling (Putra dari Ida Pedande Gede Made Banjar). Mengapa harus Ida Pedanda Buddha?

Weda pengantar Puja Astaua Yadnya Tawur adalah terdapat dalam Rontal Parwaka Weda, sedangkan rontal ini merupakan agem-ageman (pegangan pokok) para Pedanda Buddha. Sudah tentu para Pedanda Buddha sangat mendalami masalah ini. (Balinese Bauddha Brahmans. C.Hooykaas). Tidak sembarang Sulinggih yang mau dan mampu melaksanakan/puput Upacara Tawur (Muput di tengah) seperti ini, sebab isi Wedanya demikian sakral dan rumit, harus dipelajari tiga bulan sebelumnya agar jangan sampai keliru. Sebab kalau terjadi kekeliruan akan membawa bencana bukan hanya bagi Pedanda yang muput juga bagi pelaksana dan masyarakat seluruhnya kata Ida Pedanda Gede Wayan Datah saat diminta daging pekayunannya (wawancara) di Geria Krotok Budekeling. Beliau sudah beberapa kali muput Yadnya Tawur, baik di Pura Besakih maupun di seluruh Bali.

Di bawah ini akan diuraikan/dipaparkan secara singkat proses/urutan/undangan pelaksanaan Upacara tawur, merupakan hasil pedek tangkil nunas daging pekayunan (wawancara) dengan beberapa Ida Pedanda Buddha diantaranya Ida Pedanda Gede Wayan Datah, dari Geria Krotok Budakeling, Ida Pedanda istri Mas dari Geria Alit Budekeling dimana beliau merupakan Manggala Tapani (tukang banten) pada setiap Upacara Yadnya besar di Pura Besakih. Ida Pedanda Gede Made Gianyar dari Geria Kawan Budekeling, Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Duaja dari Geria Jelantik Anyar Budekeling, Ida Pedanda Gede Kerut Telaga dari Geria Demung Culik. Atas Panugraha/paswecan Ida Pedanda semoga tidak kancakra dening wibawa Ida dan juga tidak kasisipang antuk Ida Hyang Weda, maka dapat diuraikan sebagai berikut:

........ Pada awal Upacara Ida Sang Pandita/Sulingih ngarga Tirta. Setelah itu Ida Peadanda Buddha tedun saking bale pawedayan ngarya rerajahan Yama Raja dan sarana Padudusan berupa rerajahan Padma Kembang dan Padma Pusuh. Selanjutnya Ida Pedanda Buddha ngurip Rerajahan Yama Raja. Setelah selesai Ida Pedanda Buddha kembali ke Bale Pawedayan untuk selanjutnya Ngastawa. Ida Pedanda Siwa ngastawayang bebanten ring Sanggar Tawang dan Menstanakan Ida Bhatara Siwa. Ida Sang Hyang Widhi Wasa di sanggar Tawang. Ida Pedanda Buddha ngastawayang Tawur mengundang semua Kala, Bhuta, katur tetadahan/Sega/Tawur manut, sedangkan Reshi Bujangga ngastawayang caru ring sor. Ribuan Bhuta, kala yang diharapkan hadir, beberapa di antaranya Kala Amangkurat, Ka. Amangkurat, Ka. Wisesa, Ka. Dasamuka, Ka. Tahen, Ka. Enjer-enjer, sangkala sami, Ka. Undar-andir, Ka. Samantara, Ka. Temenggung, Ka. Banaspati Raja, Ka. Makarya, Ka. Mercu, Ka. Galungan, Ka. Dangdang Acucuk mas, Ka. Dungulan dan lain-lain. Sedangkan beberapa bhuta diantaranya: Bhuta Guna, Bu. Presta, Bu. Pisaca, Bu. Raksasa. Bu.Kala, Bu. Grawi-grawe, Bu. Bria, Bu. Wil, Bu. Pisaca, Bu. broksa, Bu. Geni, Bu. Wisnu, Bu. Rudra, dan lain-lain.

Setelah selesai Ngastawayang, Ida Pedanda Budha kembali tedun MINCERANG (memutar) rerajahan/Ritus Yama Raja. Ada empat Mantram Puja Astawa Weda dalam prosesi ini (Versi Budekeling, sebab ada lagi versi Kaba-Kaba Tabanan). Mantram Puja Astawa dimaksud adalah:
YA MA RA JA SA DO ME YA YA
YA MA DO RO DHA YO DHA YA

YA MA YA NI NI RA MA YA
YA SANCA YA NI RA MA YA
Mantram Puja Astawa ini merupakan pembacaan isi Aksara Rerajahan Yama Raja atau dengan kata lain memutar (mincerang/mitehang) rerajahan Yama Raja dimaksud.

Dalam uraian di atas jelas bahwa Batara Siwa dalam wujudnya sebagai Batara Yama (Ya di tengah) sebagai zenit (poros) sangatlah mengerikan/menakutkan. Betapa tidak, dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Trimurti beliau adalah Pamrelina/Pembunuh, mengembalikan ke tempat asal segala makhluk yang ada di bhuana ini. Sehingga makna Yama Raja (ritus) dalam satu acara Mc gumi sangatlah besar, sangat erat kaitannya dengan keharmonisan perputaran Bhuana Agung serta isinya. Makhluk hidup yang namanya manusia yang ditakdirkan memiliki akal dan budi amatlah kecil bagaikan setitik embun di bandingkan dengan hamparan samudra luas, kalau manusia dibandingkan dengan kemahakuasaan Tuhan maka manusia hanya mampu memohon kehadiratNya melalui bebrapa jalan dan cara sesuai dengan kemampuan dan keyakinan, salah satu diantaranya dengan jalan melaksanakan yadnya upacara.

Proses selanjutnya dari rentetan upacara yadnya Tawur adalah Mrelina. Seluruh isi Tawur dicampuh (dicampur) menjadi satu diiringi dengan mantram Puja Astawa. Kemudian campuhan Tawur ini dibagi lima bagian di antara dengan mantram Puja Astawa Weda Panca Giri. Selesai nguncarang Weda Mantam ini maka seluruh isi Tawur kembali dicampuh untuk selanjutnya dibagi lagi menjadi empat bagian dengan diantar Puja Astawa Weda Nyatur Desa. Selanjutnya setelah sempat dicampuh, kembali dibagi menjadi tiga bagian dengan diantar Mantra Puja Astawa Weda Tri Buana. Kemudian setelah mengalami proses pencampuhan, kembali dibagi kembali menjadi dua bagian dengan diantar mantra, Puja Astawa Weda Dwi Loka. Terakhir, setelah dicampuh kembali menjadi satu bagian diantar dengan mantram Puja Astawa Weda Eka Bumi.

Tawur ini kemudian ditempatkan pada sebuah Pane besar selanjutnya Kaprelina dengan Puja Astawa Pamerelina, Kalinggihan pada Bale Lahapan (Bale Agung) untuk di urip kembali dengan Mantram Puja Astawa Pangurip, bersamaan dengan itu para kala Bhuta tersebut menjadilah Batara, awor dengan Ida Batara Kala, menempati seluruh penjuru mata angin. "Tinanggap kita de batara", isi salah satu mantram Puja Astawa pangurip. Setelah Kala Bhuta menjadi Batara, baru amat diperkenankan muspa ngaturang bakti sebagai rasa bakti kepada ciptaanNya, perwujudan dari rasa asah, asih, asuh (Tatwamasi), sudah tentu dikala muspa didahului dengan Muspa ke Surya/Siwa sesuai tatanan muspa panca sembah.

Setelah dilaksanakan Upacara Mabuu-buu (ngetiasang lis) Ida Pedana sudah selesai ngastawayang terakhir maka acara dilanjutkan dengan upacara ngeluarang, meka, daging/isi tawur dibagi-bagikan kepada umat untuk dibawa ke masing-masing Desa Pakraman untuk sebarkan dari tingkat desa sampai pekarangan Rumah masing-masing di tiap Desa Pakraman. Penaburan isi Taur ini tiada lain kembali demi keseimbangan alam, karena kala dan buta ada dimana-mana.

Peresapan Santhi (Damai)

Dalam Rontal Agastya Parwa dinyatakan: Buta yadnya ngaranya tawur khapujan ing tuwuh, yang artinya, Buta yadnya adalah Tawur (persembahan Tawur) untuk kesejahtraan mahluk hidup (yang bertumbuh). Disamping itu upacara buta yadnya bertujuan untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan/Ida Sang Hyag Widhi, manusia dengan sesama, manusia, dan manusia dengan alam linkungannya,. Tidaklah berlebihan kalau upacara buta yadnya merupakan upacara pembersihan jagat atau Mahayu jagat demi keseimbangan segala kehiduan, perputaran alam dan siklus kehidupan, dengan demikian makna upacara ini bukan hanya untuk diri sendiri atau untuk umat sedarma saja, melainkan untuk semua di dunia ini. Betapa muliannya upacara ini. Hal ini patut direnungkan, dimaknai, diresapkan dan dilestarikan oleh kita semua Sedharma. Angayu bagia dan paramasuksme, Om santhi, santhi, santhi Om.

Oleh: Ida Made Giur Dipta
Source: Warta Hindu Dharma NO. 519 Maret 2010