Makna Ritus Yama Raja dalam Upacara Bhuta Yadnya

Hindu di tanah kelahirannya di lembah Sapta Sindu India, sejak awal telah menekankan tiga dasar kerangka ajaran yaitu : Sraddha atau Tatwa Dharsana (Filsafat atau iman), Etika atau Sila Sasana (Budi pekerti), dan upacara. Sraddha adalah Sanatana (abadi) yang universal, demikian juga Etika, sementara yang berbeda dan berubah adalah Ritual atau Yadnya Upacara. Itulah sebabnya di dalam praktek kehidupan sehari-hari di dalam pelaksanaan ajarannya berbeda. Hindu Tengger tidak akan sama dengan Hindu yang ada di Kaharingan (Kalimantan). Tidak sama pula dengan Hindu yang ada di Bali. Demikian pula ritual yang ada, tidak harus sama persis dengan upakara yang ada di Bali atau dengan ritual yang ada di India.

Hindu memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk memilih jalan menuju kelepasan abadi menghadap kepadaNya sesuai kemampuan masing-masing. Tiap umat dengan bebas dan ikhlas memilih jalan yang diinginkan sesuai dengan kamampuan tanpa paksaan serta tidak memaksakannya kepada orang lain. Atas pertimbangan keharmonisan serta energi yang dipentingkan segala tindakan yang bertujuan untuk menyeragamkan pada hakekatnya adalah tindakan yang sangat mahal, karena tindakan ini mempercepat tercapainya KEHANCURAN ALAM SEMESTA.

Orang-orang Suci Hindu juga memahami hal tersebut sehingga ajarannya banyak mempertimbangkan Desa Kala Putra yang berlandaskan Tri Hita Karana. Ajaran filsafat yang terakhir ini tidak memaksakan "keseragaman", tetapi justru "keharmonisan" yang MENGHARGAI ADANYA PERBEDAAN DAN KEANEKARAGAMAN. (I.W. Suja. Cakra Sang Kala WHD. No. 391.1999.36).

Keliru apabila ada yang bermaksud mem-Bali-kan tengger maupun Kaharingan. Demikian pula akan sangat keliru apabila ada yang bermaksud meng-India-kan Bali. Sebab Hindu itu sangat elastis, fleksibel, dapat dan mampu berkorelasi, beradaptasi, bersingkritisme, menyerap berbagai ajaran dan aliran namun bukan asal serap, sudah tentu dengan berbagai filter agar Sraddha (iman) tetap Sanatana (abadi). Biarlah pelaksanaan Ritual atau yadnya Upacara BERBHINEKA (Bhineka Tunggal Ika tan hana Dharma Mangrwa berbebeda namun tetap satu jua, tidak ada Tuhan yang mendua), sesuai Desa Kala Patra (tempat, waktu, dan keadaan) yang terpenting inti ajaran Hindu tetap abadi.

Janganlah heran apabila di dalam pelaksanaan Yadnya upacara di Bali yang dilakoni umat Hindu, antara satu desa dengan desa lainnya tedapat perbedaan. Hal ini merupakan salah satu refleksi perkembangan agama Hindu sejak awal di Bali sampai dengan apa yang kita warisi sekarang, sehingga melahirkan Hindu yang penuh TAKSU dan KEUNIKAN.

Hindu di Bali adalah agama yang diwarisi oleh para leluhur demikian sangat mapan, dianut oleh masyarakat dengan taat dan baik secara turun-temurun. Apakah pelaksanaanya dengan gugon tuwon anak mulo keto? Dengan tegas dijawab tidak. Betapa tidak, Hindu di Bali dilaksanakan berpedoman kepada Weda, Purana, Itihasa dan isi Rontal lainnya. Kita sebagai pewaris sudah pada tempatnya berbangga hati menerima kenyataan ini dengan rasa tanggung jawab dalam arti luas, mempertahankan, melestarikan, menerapkan, meluruskan yang perlu diluruskan, sudah tentu dalam tuntunan dharma sebagai sarana di dalam mencapai kebahaiaan lahir bhatin (Dwijendra Tatwa). Apabila terjadi pemerkosaan dan pemaksaan terhadap tradsisi tata krama umat yang sangat menopang agama, maka tradisi tersebut akan tercabut dari akarnya sehingga taksu dan keunikan Hindu di Bali akan sirna. Seluruh dunia akan merasa kehilangan peradaban spiritual yang satu-satunya masih tertinggal di dunia ini.

Umat Hindu di Bali mengenal dan mengamalkan apa yang disebut Panca Yadnya (lima pengorbanan suci) merupakan refleksi pelaksanaan Ritual atau Yadnya. Panca Yadnya meliputi : Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya, dan Resi Yadnya. Dalam tulisan ini, kita mengkhususkan pembahasan pada Bhuta Yadnya hubungannya dengan Yama Raja.

Kala, Buta, Yama Raja

Kala, dalam Sastra Kawi adalah personifikasi Waktu. Kala ditampilkan sebagai kekuatan yang "hidup, nyata, bergerak, halus" dan sekaligus 'seram'. Di atas semua sifat itu, Ia dipandang 'suci' sehingga disebut Bhatara Kala atau Sang Hyang Kala. Ia sejajar dengan para Dewa lainnya. Dalam hal kesaktian, Ia bahkan mengalahkan para Dewa.

Kala bukan hanya diartikan waktu, namun lebih sering diartikan Mrtyu Antaka atau kematian. Dalam hal ini kita mengenal sebutan Kalantaka dan Kalamrtyu. Sebutan Mrtyunjaya dan Jayantaka yang sama-sama berarti jaya atas kematian juga di kenal dengan sebutan SANG HYANG YAMA RAJA (raja kematian). Menyimak uraian di atas maka kematian menjadi pertanda terpenting adanya waktu. Tanpa adanya kematian termasuk proses kematian nampaknya susah mengatakan untuk apa "Waktu" itu ada serta susah membayangkan untuk apa kita hidup. Demikian pentingnya kematian dalam wacana "Waktu" dapat disimak dalam uraian berikutnya di bawah ini.

Lontar Kala Tattwa mengisahkan proses kelahiran Kala. Diceritakan Bhatara Siwa sedang berjalan-jalan dengan Bhatari Giri Putri di atas samudra. Bhatara Siwa kasmaran dan ingin bersenggama. Bhatari Giri Putri menolaknya karena ingat dengan diri dalam wujud Hyang. Belum tercapai keinginan Bhatara Siwa, keluarlah kamanya dan jatuh di atas samudra. KAMA itulah kemudian menjadi KALA dalam wujud raksasa yang sangat 'menakutkan'. Kala ingin mengetahui ayah-ibunhya. Dipandangnya samudra dan ke segala penjuru mata angin semuanya kosong. Menjeritlah Ia, bergetarlah Dunia. Maka datanglah Dewata Nawa Sanga untuk menghajarnya, tetapi mereka dapat dikalahkan oleh Kala. Akhirnya Bhatara Siwa sendiri turun dengan maksud untuk menghajar pula. Setelah tahu bahwa Ia itu anaknya dimana kekuatannya tidak dapat dikalahkan Bhatara Siwa. Akhirnya memberi petunjuk:

Umawak kita sarwaning mambekan, kapisara kita mangke,
mahyun kita mejaha wenang, mahyun sira nguripa wenang,
apan kita anak ingsun yatiki ibunta Bhatari Utna Dewi
.

Kemudian Bhatari Uma berkata:
Anusup sira ring desa pakramaan, ring dalem sira alungguh, Durga maka aranta, sangkaning ibunta bhatari karaning dadi Bhatari Durga. Bhatara Siwa iki bapanta asung maka sanjnyanta Hyang Kala, ri kalanya syungira kapunggel. Mangkana arane kita dadi kita dewaning watek Kala, Durga, Pisaca, Wil, Danuja, Kingkara, Raksasa mwang gring, sasab, merana kabeh, sahananing sarwa wisya sarwa mandi, nghing ring desa yogya pangrehta ring sarwa mangsa kita kunang kalaning ulun tumamah ing Dalem dadya ulun Bhatari Durga Dewi. Kita ring pinggir, maka aran kita Kalika, Kita ring Bale agung maka aran kita Juti Srana.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa Bhatara Kala dinobatkan sebagai Dewanya Kala dan buta yang jumlahnya ribuan bahkan puluhan ribu. Selanjutnya Bhatari Uma Dewi menjelaskan apa saja yang boleh menjadi santapannya. Dijelaskan adalah "orang salah masa" atau "salah ruang" misalnya tidur sampai sore , bangun setelah matahari terbenam, demikian pula orang yang berjalan saat tepat tengah hari atau sandya kala, orang yang membacanya jnana di tengah jalan dan lain-lain. Bagaimana nasib orang yang salah waktu berkenaan dengan menjadi santapan Bhatara Kala?. Konsep salah waktu dalam teks itu memang nampak dipersempit yaitu dibatasi pada perbuatan di luar kebiasaan dan aturan.

Bila direnungkan lebih lanjut nampaknya semua orang semestinya berusaha membebaskan diri dari dari cengkraman Kala. karena begitu lahir orang sudah ada di cengkraman Kala. Lontar Kala Tattwa menyebutkan sapta Yadnya sebagai sarana keselamatan bhuwana sarira dan bhumi mandala (diri sendiri dan jagat raya). Apabila Yadnya ini telah dilakukan maka Kala akan menjadi harmonis atau somya rupa.

Lebih spesifik tentang "salah waktu" ini dijelaskan dalam rontal Kala Purana. Diceritakan Sang Hyang Panca Kumara yang lahir pada waktu yang salah karena itu secara teoritis ia boleh menjadi santapan Bhatara Kala, dimana Bhatara Kala adalah kakak dari Panca Kumara. Bhatara Kala tahu benar keadaan ini sehingga Ia meminta ijin kepada Bhatara Siwa untuk memakan adiknya sendiri. Dengan perlindungan Bhatara Siwa, Panca Kumara akhinya dapat terselamatkan dari kejaran Bhatara Kala karena bersembunyi di bawah pelawah gender orang yang sedang mementaskan wayang. Inti dari penyelamatan diri ini adalah penyucian seperti yang di uraikan di atas pada fragmen pertunjukan wayang Sapu Leger yang berhasil melindungi Panca Kumara. Kata Kumara berarti penyucian.

Hubungan bhatara Kala dengan upacara yadnya Tawur. Di tengah-tengah tempat TAWUR PANCA BALI KRAMA maupun EKA DASA RUDRA di Besakih terdapat lukisan/rerajahan penting, di samping RERAJAHAN YAMA RAJA juga terdapat lukisan / gambar BHATARA SIWA berdiri di atas mulut Kala dan Dewi Uma berdiri di atas mulut Kali. Keduanya terlukis di atas batu atau bata kecil segi empat. Ada hal penting yang dicatat dari peristiwa itu dalam hubungannya dengan pembicaraan kita tentang Kala. Bagaimana kita membaca atau dapat membaca peristiwa dalam gambar tersebut?

Telah dimaklumi bahwa Tawur adalah Upacara bhuta Yadnya tujuannya agar unsur-unsur Panca Mahabhuta (Pretiwi, Apah, Teja, Bayu, Akasa) yang terbentuk oleh Panca Tantnatra (ganda, rasa, rupa, sparsa, sabda) menjadi somya atau harmonis. Karena unsur-unsur itulah yang membentuk Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Persis ditengah-tengah tempat terjadinya peritiwa inilah kikisan tersebut dibuat. Mulut Kala dan Kali menganga lebar seperti menelan apa saja, tapi Bhatara Siwa dan Bhatari Uma berdiri di atas mulut Batara Kala, sudah jelas bahwa Batara Siwa dan Bhatari Uma bebas dari kala. Siwa adalah Maha Kala. Merekalah yang mengendalikan kala. Dalam lontar Kala Tatwa ada tersurat: Kunang ikang bhuta yadnya maka ngaraning tawur, kweh preting-kahnia, agung alit sarupaning tawur ya bhuta yadnya ngaranya. Ika maka tadahane kite pareng lan wadwa kala nira makabehan. (Kala, Waktu dan Kematian, IBM. Dharma Palguna. WHD No. 391. 1999.29).

Dari Ngejot hingga Ritus Yama Raja

Menurut rontal Widhisastra dan Lebur Sangsa, Kanda Pat, Rontal Purwaka. Bumi, Rontal, Purwa Bhumi Kamulan, Rontal Purwaka Wedha, bahwa undagan (urutan) atau ungkad-ungkadan Upacara Segeh dari Tawur dalam Bhuta Yadnya dari yang terkecil untuk di pekarangan rumah sampai yang terbesar berpusat ditengah wilayah negara (Besakih) adalah sebagai
berikut:

a. Ngejot (Yadnya Sesa)
b. Mesaagan (Nasi kepelan atau segeh nasi, nasi warna, nasi wong-wongan).
c. Segeh Eka Sata/satu ekor bayang-bayang ayam, lengkap runtutan bebanten secukupya.
d. Segah Panca Sata/ ayam lima ekor dengan warna bulu sesuai pengider jagat (mata angin) lengkap dengan bebanten secukupya. (Segeh kinucap karya ika).
e. Caru Manca Kelud. Terdiri dari 7 jenis caru meliputi ayam lima ekor ditambah dengan satu ekor itik (bebek) bulu sikep dan asu (anjing) bulu bang bungkum lengkap reruntutan bebanten secukupnya.
f.  Caru Manca Sanak. Terdiri dari 9 jenis caru terdiri dari seluruh caru manca kelud ditambah dengan satu ekor angsa dan satu ekor kambing dilengkapi dengan banten secukupnya.
g. Caru Balik Sumpah. Terdiri dari 11 jenis caru terdiri dari seluruh jenis caru manca sanak ditambah dengan satu ekor sapi dan satu ekor bawi butuhan, dilengkapi dengan bebanten secukupnya.
h. Tawur Labuh Gentuh. Terdiri dari 13 jenis caru terdiri dari seluruh cam Balik Sumpah ditambah dengan satu ekor kerbau dan satu ekor petu (kera hitam), dilengkapi dengan bebanten secukupnya dan rerajahan Yama Raja.
i. Tawur Tabuh Gentuh. Terdiri dari 15 jenis caru dimana seluruh jenis caru Labuh Gentuh ditambah lagi dengan seekor kidang, menjangan, dileng-
kapi dengan bebanten secukup-nya, dan rerajahan Yama Raja.
j. Tawur Agung. Terdiri dari 16 jenis caru, diantaranya seluruh jenis caru Tawur Tabuh Gentuh ditambah dengan satu ekor kerbau lagi, dilengkapi dengan bebanten secukupnya serta Ritus Yama Raja.
k. Tawur Pamiligia Bumi Sesapuh. Terdiri dari 19 jenis caru dimana seluruh jenis caru Tawur Agung ditambah lagi 3 ekor caru kerbau dilengkapi dengan bebanten secukupnya serta Ritus Yama Raja.
1. Tawur Panca Bali Krama. Terdiri dari 24 jenis caru yaitu seluruh isi caru Tawur Pamiligia Bumi Sesapuh ditambah lagi dengan 5 ekor caru kerbau dan beberapa isi hutan dan burung.
m. Eka Dasa Rudra. Terdiri dari 50 jenis caru yaitu seluruh jenis caru Panca Bali Krama ditambah lagi dengan 26 ekor caru kerbau dan beberapa isi hutan/binatang hutan, beberapa burung, binatang melata, binatang tak beruas, pendek kata dari hewan terkecil (nyinyik) sampai terbesar sehingga berjumlah 99 jenis caru dilengkapi dengan bebanten dan rerajahan Yama Raja.
n. Di samping Tawur Eka Dasa Rudra , ada lagi tingkatan Upacara yang besar yaitu Eka Bhuwana, Tri
Bhuwana, Candi Narmada dan yang terbesar adalah Tawur Baligia Rebu Bhumi. Jenis caru yang digunakan seluruh caru yang digunakan pada Tawur Eka Dasa Rudra ditambah dengan caru binatang warak/badak, ditambah lagi 46 ekor caru kerbau. Upacara seperti ini belum pernah dilaksanakan di Bali karena besarnya Upacara dan banyaknya hewan yang di pentingkan untuk korban suci serta sangat rumitnya pelaksanaan Upacara Tawur ini. (Selanjutnya)

Oleh: Ida Made Giur Dipta
Source: Warta Hindu Dharma NO. 519 Maret 2010