Makna Arah Timur Laut

Dalam perjalanan Lubdhaka di hutan mengarah ke arah timur laut (lunghang lampahika angawetan angalor). Tentu memuat gagasan yang sarat dengan makna. Seperti juga perjalanannya yang memburu binatang-binatang besar atau raja binatang (pasupati) seperti harimau, babi hutan, gajah, dan badak (anghing lot maburu gawenya, mamating mong, wok, gaja, mwang warak). Pada puncak perburuannya, setelah memanjat pohon bila yang manaungi telaga (irika tikang nisaddha mamanek panging maja teher manongi taiaga), ia menemukan sebuah siwalingga yang abstrak (siwalingga nora ginaway).

Pemanjatan pohon bila meragakan proses pendakian dalam pencapaian Siwalaya. Dari alam Siwa yang semarak (ramya) menuju alam Siwa yang sunyi (sunya). Dari manifestasi Dewa Siwa yang ramya sebagai Pasupati menuju manifestasi Dewa Siwa yang sunyi (sunya) sebagai Siwanirmala atau Siwalingga nora ginaway. Pemanjatan pohon bila menggambarkan proses pendakian secara vertikal. Sedangkan perjalanan menuju arah timur laut menggambarkan proses pendakian secara horizontal. Arah timur laut (ersanya) adalah arah yang menuju alam sunyi (sunya), sedangkan kebalikannya, arah barat daya (neriti) adalah arah menuju alam rame (ramya). Tampak dalam penempatan para dewa dalam konsep arah mata angin.

Konsep pertama dewa dalam asta wara yang terdiri atas: SRI (ersanya), INDRA (purwa), GURU (aghneya), YAMA (daksina), LUDRA (neriti), BRAHMA (paschima), KALA (wayabhya), UMA (uttara). Kosep kedua dewa dalam Dik Widik yang terdiri atas: ISWARA (purwa), MAHESWARA (aghneya), BRAHMA (daksina), RUDRA (neriti), MAHADEWA (paschima), SANGKARA (wayabhya), WISNU (uttara), SAMBHU (ersanya); KALA (aghneya-daksina), MRETYU (daksina-neriti), KRODHA (neriti-paschima), WISWA (paschima-wayabhya), KAMA (wayabhya-uttara), PASUPATI (uttara-ersanya), SATYA (ersanya-purwa), DHARMA (purwa-aghneya).

Jika kita menarik garis dari wayabhya menuju aghneya sebagai batas antara krura desa dengan sunya desa, maka Kala sebagai dewa asta wara dan dik widik berada di krura desa bersama dengan dewa-dewa yang berkarakter angker (dengen) lainnya: Mretyu, Krodha, Wiswa-karma, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara.

Sementara dewa-dewa yang berkarakter halus (sunya) berada di sunya desa, seperti: Wisnu, Sambhu, Iswara, Kama, Pasupati, Satya, Dharma. Sedangkan Siwa ditempatkan di sunya desa karena karakternya yang sunyi (sunya).

Dalam pelaksanaan agama Hindu di Bali ada pemahaman tentang dua kutub yang memiliki perbedaan dalam perpaduan. Kutub yang satu memiliki karakter angker (ugra/raudra/krura) yang di Bali disebut dengen; sedangkan kutub yang lain memiliki karakter halus (santa/somya/sunya/ inang) yang di Bali disebut dengel.

Jika garis yang menghubungkan kedua kutub diletakkan vertikal maka karakter angker (ugra/raudra/krura) dipetakan menghuni kutub bawah (nadir/sor), sedangkan karakter halus (santa/somya/sunya) menghuni kutub atas (zenith/sanggar).

Jika garis penghubung diletakkan horizontal maka karakter angker didenahkan menghuni kutub laut-barat (kelod-kauh/neriti) sebagai krura desa. Sedangkan karakter halus menghuni kutub gunung-timur (kadya kangin/ersanya) sebagai sunya desa.

Penerapan peta karakter secara horizontal tampak pada pemetaan konsep tri mandala dengan uttama mandala mengarah ke daerah sunya desa, sedangkan kanistha mandala mengarah kepada krura desa. Sedangkan penterapan karakter secara vertikal tampak pada pemetaan konsep tri angga dengan uttama angga mengarah ke bagian kepala, sedangkan kanistha angga mengarah ke bagian kaki.

Jika pendeta selesai menyucikan tangan dengan bunga sebagai sarana penyucian maka bunga bekas penyucian dilemparkan ke arah krura desa. Jika orang meragakan penerimaan (natab) penyucian dari Banten Byakala maka gerakan tangan di arahkan ke arah kanistha angga. Jika menerima berkah dari Bhuta Kala melalui campuran (ramesan) unsur Banten Gelar Sanga maka disentuhkan pada bagian kaki. Baik kaki bangunan suci (bataran palinggih) maupun kaki manusia (suku).

Perburuan Lubdhaka pada awalnya yang mendapatkan Pasupati sebagai manifestasi Dewa Siwa dalam watak yang lebih ramya. dan pada akhirnya menemukan Siwalingga (nora ginaway) sebagai manifestasi Dewa Siwa dalam watak yang lebih sunya. Jadi ada gambaran tentang proses pendakian dari alam semarak (ramya) menuju alam sunyi (sunya). Dalam cerita Lubdhaka diragakan dengan pemanjatan pohon bila, dan perjalanan menuju arah timur laut (ersanya).

Source : I Putu Gede Suata l Wartam Edisi 11 - Januari 2016