Majapahit: Catatan Emas Hindu Nusantara

Kerinduan pada masa lalu seringkali mengemuka tatkala masa kini terasa gamang, rancu tidak beres. Keinginan untuk berada dalam ruang memori boleh jadi terobati oleh fragmen-fragmen kisah-kisah zaman kerajaan. Kita dibawa kealam impresionistik wacana tentang situasi dan kondisi kerajaan, terutama kisah tokoh-tokoh istana atau punggawa kerajaan-kerajaan masa lalu yang jumawa menghadapi segala tantangan hidup. Di India ada kisah Ramayana dengan tokoh sentral Sri Rama dan Mahabharata dengan Panca Pandawa dan Krishna. Seiring perantauan masyarakat masa lampau, kisah-kisah itupun sampai di Nusantara. Perlahan namun pasti karya-karya besar itu sangat khusuk dikagumi dan membhatin dalam peradaban Nusantara.

Ramayana dan Mahabharata adalah cacatan emas peradaban Hindu. Karya sastra jelas lahir bukan dari kekosongan, namun sebagai perekam dinamika dan fenomena sosio-religio-kultural masyarakat. Tentu saja, peran Maharsi Walmiki dan Wyasa dengan pena bertinta emasnya sangatlah sentral. Kisah-kisah epit itu menghadirkan tokoh-tokoh pujaan yang bahkan perlan dikultuskan oleh masyarakat Nusantara (terutama di Jawa dan Bali) bagai Ista dewata.

Tokoh-tokoh dalam Itihasa hidup abadi mengisi ruang estetis dan etis pembacanya dari zaman ke zaman. Karya-karya sastra itu tidak hanya dibaca sebagai karya satra tapi juga tuntunan perenungan akan diri sejati maupun sebagai kode etik bermasyarakat dan bernegara. Ruang menung itu menjadi ruang antara yang mempertemukan anak zaman dengan para tokoh inspiratif dalam cerita-cerita itu. Tiada kekosongan bathin sastra-sastra itu telah mengisi dahaga akan hiburan, pendidikan, dan tuntunan. Bahkan, ia mengisi ruang kreatif adab Nusantara (pertama-tama di Jawa) yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra baru yang digubah berdasarkan karya-karya itu transformasi menjadi berulang kali, yang sering kali disebut sebagai pen-Jawa-an (lih. Wiryamartana, 1990) karya-karya Sanskerta.

Adab susastra itu juga membawa masyarakat pada budaya baru, yaitu baca dan tulis. Budaya baca tulis melahirkan kesusastraan Jawa Kuna yang pada awalnya sebagian besar berbentuk kekawin, di samping bentuk lainnya seperti kidung, diantaranya Kekawin Ramayana (di Jawa Tengah pada abad ke-9 oleh beliau yang disebut-sebut sebagai Sang Yogiswara) dan Kekawin Arjunawiwaha (di Jawa Timur abad ke-11 oleh Mpu Kuturan). Selanjutnya, Kekawin Bharatayudha (di Jawa Timur pada abad ke-12) dikarang oleh Mpu Sedah yang diteruskan oleh Mpu Panuluh yang kemudian juga mengubah dua kekawin, yaitu Hariwangsa dan Gatotkacasraya. Lalu, pada abad yang sama hadir karya berjudul Krsnayana oleh Mpu Triguna. Setelah itu, pada abad ke-13 dikarang Smaradahana oleh Mpu Dharmaja dan Sumanasantaka oleh Mpu Monaguna, juga Bomantaka yang tidak diketahui pengarangnya. Sebagain besar karaya-karya itu menyeritakan tentang tokoh-tokoh dalam epos Ramayana dan Mahabharata. Karya-karya itu juga menandakan begitu kuatnya pengaruh Hindu India di Nusantara kala itu.

Akhirnya, pada abad ke-14 berulah ada gebrakan oleh Mpu Prapanca dengan karya besarnya, Nagarakrtagama. Pokok isinya sangat berbedadari karya-karya besar sebelumnya, yaitu tentang kehidupan istana dan negara Majapahit di bahwa pemerintahan Rajasanagara, atau lebih dikenal dengan nama Hayam Wuruk, dengan Mahapatih Gajah Mada. Kehadiran Negarakrtagama menjadi penanda pendobrakan terhadap dominasi karya-karya besar yang datang dari India, yang boleh jadi penanda zaman keemasan Hindu Nusantara (bukan Hindu India).

Sejak Negarakrtagama, karya-karya sastra di Nusantara tidak lagi terlalu banyak berbau Itihasa. Seperti Mpu Tantular misalnya, walaupun beliau juga mengarang Arjunawiwaha, tetapi magnum opus beliau adalah Sutasoma. Dengan kehadiran karya Tantular itu, Hindu di Nusantara direduksi menjadi Siwa-Budha.

Kemudian, Kekawin Sutasoma juga diketahui menjadi inspirasi dari Siwaratrikalpa yang bernuasan Yoga Siwa oleh Mpu Tanakung, yang diperkirakan dikarang antara tahun 1466 sampai 1478. Melalui Kekawin Siwaratrikalpa, Tanakung memberi nuansa baru pada sastra Jawa Kuna dengan tokoh Lubdaka. Bahkan tokoh dari kalangan istana, seperti pada karya-karya sebelumnya, digantikan oleh kalasangan Nisadha (sedikit mirip dengan tokoh Ekalawya). Sekitar abad itu (abad ke-14 sampai 15) juga hadir kisah epik dengan tema keagamaan, yaitu Kunjarakarna Dharmakathana.

Selama enam abad itu (ababd ke-9 sampai 15) karya-karya besar Jawa Kuna lahir satu persatu. Tradisi nyastra mulai memudak sejak awal abad ke-16 seiring kekuasaan Majapahit mulai berkurang sampai hilang sama sekali yang disebabkan tidak menentunya suksesi raja-raja Majapahit dan menguatnya pengaruh Islam di Pulau Jawa, terutama di pesisir (Prdotokusumo, 1986:4). Ini boleh jadi karena tradisi nyastra hanya ada dilingkungan istana dan para elitnya, masyarakat biasa hanya sebagai penikmat sehingga mudah terpengaruh ajaran dari luar, selain Hindu.

Hal ini dibuktikan dengan hanya kalangan bangsawan Jawa dan rohaniawan Majapahit (Jawa) saja yang paling banyak adalah ke Pulau Bali, sedangkan masyarakat jelata memilih pasrah menerima gempuran peradaban semitik. Majapahit seolah-olah dipindahkan ke Pulau Bali. Bukan kerajaannya, melainkan ruh Hindu Nusantara melalui tradisi nyastra-nya. Catatan emas kejayaan Hindu Nusantara memudar di Jawa, namun tertoreh semakin terang di Bali.

Perpindahan tradisi ini sangat didukung oleh Kerajaan Gelgel pada abad ke-16 sampai akhir abad ke-17 dan Kerajaan Klungkung dari abad ke-18 sampai abad ke-19. Di Bali, karya-karya itu di-Bali-kan oleh masyarakat dalam bentuk beragam, seperti kidung dan geguritan. Uniknya, penempatan karya-karya sastra itu tidak dipusatkan di satu tempat, melainkan di rumah-rumah penduduk yang tersebar di seluruh Pulau Bali. Oleh karena itu, sastra-satra itu menyatu dengan kehidupan masyarakat Bali karena seringkali dibaca atau dinyanyikan pada peristiwa-peristiwa adat maupun dalam pertemuan-pertemuan pada anak nyastra. Oleh karena itu, dapat disaksikan di berbagai tempat sampai sekarang, Hindu tetap menjadi ruh yang mengejewantah menjadi nafas sebagian besar kebudayaan Bali. Sehingga, kini dari Bali, ruh Hindu Nusantara kembali dihembuskan ke sluruh plosok Nusantara.

Oleh: Sindhu Gitananda
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017