Maja dan Mada

Majapahit dan Gajah Mada begitu dikenal luas. Majapahit adalah kerajaan besar yang menyatukan Nusantara, sementara Gajah Mada adalah patih kerajaan Majapahit dengan sumpahnya yang terkenal, sumpah Palapa, sumpah yang dimaksudkan untuk menyatukan Nusantara pula.

Maja adalah nama sebuah pohon, disebut juga wilwa, sebuah pohon yang berhubungan dengan Siwa Puja. Pada malam Siwaratri dibuat berbagai bentuk upakara dari daun maja, dan pemujaan kepada Siwa juga bersaranakan daun maja. Kakawin Siwaratrikalpa menyuratkan : semining majarja sulasih nanekaraning angarcane sira (pucuk daun maja yang indah serta bunga selasih sebagai sarana menyembah Dewa Siwa).

Mada sebenarnya berarti mabuk, namun mengapa sang patih memakai nama Gajah Mada?. Adakah nama ini sebuah kiasan, bahwa sang patih akan menggunakan semua kekuatannya untuk menyatukan Nusantara?.

Mpu Prapanca di dalam kakawin Nagarakretagama ada menyuratkan sebagai berikut: wetan lor kuwu sang gajahmada patih ring tiktawilwadika; mantri wira wicaksaneng naya matangwan satya bhaktyaprabhu; wagmi wak padu sarjjawopasama dihotsaha tan lalana; raja dyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawarttin jagat. (Disebelah timur laut adalah ramah patih Majapahit bernama Gajah Mada; beliau adalah ksatria yang pemberani, bijaksana, setia dan bhakti kepada negara; beliau pasih berbicara, teguh dan tangkas, tenang dan tegas, pandai lagi jujur; beliau adalah tangan kanan sang Maharaja sebagai penggerak roda pemerintahan). Demikian Mpu Prapanca melukiskan posisi rumah sang mahapatih ditengah kota Majapahit sekaligus dengan karakter dan keluhuran budinya.

Pada bagian lain Mpu Prapanca yang memang bermaksud menguraikan kebesaran kerajaan Majapahit juga menyuratkan secara khusus kepergian sang mahapatih. Prapanca menulis sebagai berikut : Pada tahun Saka 1253 (1331 M) Gajah Mada mulai memikul tanggung jawab sebagai mahapatih; dan pada tahun Saka 1286 (1364 M) beliau mangkat, yang menyebabkan Sang Raja gundah, terharu bahkan putus asa; sungguh kebesaran jiwa Sang Gajah Mada, beliau cinta kepada sesama tanpa pandang bulu; beliau sungguh sadar hidup ini tidak abadi oleh karena itu beliau setiap hari melakukan amal kebajikan.

Digambarkan pula bahwa sepeninggal Gajah Mada, Sang Raja tidak mencari penggantinya. Sang Raja menyatakan tanggung jawab atas keputusan itu. Hal ini menandakan bahwa betapa beratnya mencari pengganti Gajah Mada, untuk menjadi patih disebuah kerajaan besar seperti Majapahit. Maka nama Mada, sebuah nama besar tak tergantikan di sebuah negeri yang mengambil nama Maja.

Demikianlah Gajah Mada begitu tersohor diseluruh Nusantara, teristimewa di Bali, karena Sang Mahapatih pernah melakukan ekspedisi ke Bali pada tahun 1343 M, dan di pulau ini konon disimpan berbagai pusakanya. Majapahit dengan Gajah Madanya memang bukan mitos, namun adalah kenyataan sejarah yang parut mendapat pemahaman kita dengan sebaik-baiknya. Dari kenyataan sejarah itu kita melihat masa kini dan menghadapi masa datang.

Source: KI Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 506 Pebruari 2009