Mahardikaning Kakawin

Sejenak, mari heningkan cipta bernostalgia, bercengkrama dan menunggal dengan karya sastra gita kakawin masa lampau. Dalam laku menemukan dan menghayati hakekat mahardika yang konon disamakan dengan kata merdeka. Menyebut kata merdeka atau mahardika, tentu sebagai manusia sadar yang hidup pada negara berdaulat, sebagai bangsa Indonesia, imajinasi terngiang bulan Agustus, bulan penuh suka cita memperingati hari kemerdekaan RI.

Untuk lebih memahami dan mendarahdagingkan makna-makna mahardika, alangkah baiknya sembari meneladani kisah-kisah kepahlawanan para pendahulu dan menelisik kembali apa sejatinya makna merdeka dan mahardika di dalam ajaran Hindu, utamanya yang tertuang dalam naskah-naskah kakawin. Kakawin merupakan karya sastra adiluhung yang menjadi salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Sepenggal Kakawin Ramayana misalnya, sebuah kakawin yang mengisahkan kehidupan Rama sebagai Awatara Dewa Wisnu menyelamatkan dunia dari angkara murka raja raksasa Rawana, dengan jelas penulisnya menyuratkan kata mahardika, seperti: Hana rajya tulya kendran, kakwehan sang maharddika susila, ringayodhya subhageng rat, yeka kadhatwannirang nrepati. Kakawin Ramayana I.11 (ada istana seperti surga, kebanyakan orang Mahardika dan berbudi luhur, di Ayodya sungguh terkenal di dunia, itu istana raja).

Mahardika ala Kakawin Ramayana dapat diartikan makmur, sempurna, berkualitas istimewa, luar biasa, unggul, berbudi luhur, bijaksana. Semuanya itu adalah merupakan sifat-sifat manusia utama. Manusia seperti inila yang dapat mewujudkan kemahardikaan atau kesempurnaan, keunggulan, kebijaksanaan, dan kesucian di muka bumi. Ia adalah manusia yang telah melampaui kerasnya perjuangan. Manusia yang dapat menimbang-nimbang dualism dalam diri maupun menghadapi masalah kehidupan. Manusia tang telah mengenal jati diri dan memerdekakan diri dari belenggu musuh-musuh dalam diri.

Tidak hanya tersurat dan tersirat seperti dalam Kakawin Ramayana di atas, di dalam naskah-naskah kakawin yang lain banyak pula tersirat unsur-unsur mahardika. Karya-karya yang menjadi inspirasi kemerdekaan penghayatnya. Kakawin banyak memuat cerita-cerita refleksi diri. Inilah dijadikan media memupuk kesadaran jiwa untuk merdeka manunggal dengan sumber dari segala jiwa.

Kakawin Bharatayudha misalnya, mengisahkan perseteruan Pandawa dan Korawa, para Pandawa dengan segala cobaan dan rintangan berhasil memperoleh kemerdekaanm tidak hanya kemerdekaan atas hak-haknya akan Astina Pura, namun dengan dharma mereka memerdekakan jiwa menyatu dengan asalnya, seperti ketika Bima bertemu Dewa Ruci, ketika Dharmawangsa menggapai surga.

Kakawin mengajarkan cara bagaimana manusia mampu merdeka, utamanya merdeka dari belenggu yang menjajah dalam diri. Jikalau manusia bebas dari musuh-musuh dalam diri, alangkah damainya alam ini. Semua akan merdeka, peperangan terhentikan. Jika demikian, apakah saat ini kita sungguh-sungguh mahardika? Mari renungkan dalam diri mengingat kisah yang ada di dalam kakawin merupakan salah satu refleksi bagi umat Hindu untuk menjalani kehidupan utamanya sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara.

Kakawin juga dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui bagaimana kehidupan dan pemikiran-pemikiran maju pada jaman itu masih relefan diterapkan hingga kini. Karya-karya unggul seperti ini membuktikan bahwa kakawin merdeka mengarungi samudera waktu. Bebas mengikuti alunan waktu yang berbeda dan bertahan hinggi kini. Terbukti makna-maknanya masih digali, dikaji, didiskusikan, direnungkan dan diimplementasikan dalam kehidupan kini.

Kemerdekaan yang tersirat di dalam naskah kakawin dapat digapai dengan perjuangan penuh yang dilandasi dharma yang mengakar dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dharma yang dimaksud adalah kebenaran atau bisa juga menegakkan dan menjalankan hokum se-adil-adilnya dengan mengabaikan kepentingan pribadi, demi terwujudnya harmonisasi dan kesejahteraan bersama. Demikian juga spirit dari kemerdekaan RI yang jatuh pada setiap 17 Agustus, yang dirayakan dengan gegap gempita.

Puncak mahardika ala kakawin mengalahkan musuh, namun ia mampu bebas dari belenggu musuh dalam diri, seperti keinginan tak terkendali, ketamakan, amarah yang membabibuta, kemabukan, iri hati, kebingungan, sehingga ia mampu mengharmoniskan diri. Diri yang harmonis dapat memupuk rasa solidaritas tinggi, gotong royong, segilik seguluk, salung-lung sabayantaka, paras paros sarpanaya di dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Andaikata banyak insan mampu seperti itu, alangkah damainya dunia. Begitu pula spirit kemerdekaan setiap saat berkumandang dalam sanubari, ucap dan laku. Manusia seperti inilah sejatinya manusia-manusia yang telah menebar benih kemerdekaan dan mampu mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pendahulu.

Oleh: I Made Arista
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017