'Mahardika' Spirit Manajemen Hindu

Setiap menjelang hari kemerdekaan selalu diperingati dengan ajakan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, khususnya mengisi dengan ajakan membangun bangsa sesuai dengan kompetensi masing-masing, paling tidak pembangunan diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Seperti menghargai perbedaan, menjunjung tinggi persatuan, toleran terhadap orang lain, saling membantu antar sesama, dan hal-hal positif lainnya. Kemerdekaan dengan kata induk merdeka atau Maharddhika, berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya berkuasa, bijaksana, orang berilmu.

Dalam Kekawin Nitisastra IV. 19 dijelaskan konsep "mahardhika" amat nyata. Ada tujuh penyebab orang bisa mabuk. Tetapi barang siapa yang tidak mabuk atau dapat menguasai tujuh penyebab mabuk itu dialah yang disebut hidupnya "merdeka". Dialah orang bijaksana bagaikan Sang Pinandita. Ini artinya perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan itu adalah perjuangan untuk membangun tujuh hal yaitu surupa, guna, dhana, kula, kulina, yowana, sura, kasuuran. Yang penting ketujuh hal itu tidak membuat mabuk atau dapat menguasai tujuh penyebab mabuk itu.

Dalam Nitisastra, IV. 19 dikatakan : "Lwirning mangdadi madaning jana surupa guna dhana kula kulina yowana lawan tang sura len kasuran agawe wereh manahikang sarat kabeh yan wwanten wang sira sang dhaneswara surpa guna dhana kula yowana, yan tan mada maharddhikeka panggarannia sira putusi sang pinandita," yang artinya hal yang dapat membikin orang mabuk adalah keindahan rupa, kepandaian, kekayaan, kemudaan, kebangsawanan, keberanian dan air nira, Barang siapa tidak mabuk karena semuanya itu dialah yang dapat disebut merdeka (mahardika), bijaksana bagaikan Sang Pinandita.

Merdeka itu harapan dan cita-cita setiap orang dan setiap bangsa serta memiliki dimensi yang amat luas dan kompleks. Merdeka tidaklah dapat disamakan dengan hidup bebas tanpa batas dan tanpa tanggung jawab. Merdeka itu kebebasan yang dibatasi oleh norma-norma agar kebebasan itu diarahkan untuk menegakan kebenaran dan kebaikan disertai dengan tanggung jawab. Kemerdekaan itu hak setiap bangsa. Namun hak timbul karena kewajiban. Kemerdekaan itu tidak diperoleh tanpa melakukan kewajiban.

Dalam agama Hindu, merdeka memberikan spirit dalam manajemen, baik secara individu maupun secara organisasi. Sebab dengan adanya kemerdekaan, maka pengelolaan apapun akan dapat berjalan sesuai dengan tujuan. Inti dari manajemen adalah kepemimpinan. Hal itu sesuai dengan pepatah mengatakan "Tidak ada suatu yang besar tercipta tanpa orang besar dan menjadi besar karena mereka menginginkannya besar". Ungkapan itu dapat dimaknai: untuk mewujudkan tujuan besar suatu organisasi membutuhkan pemimpin dan kepemimpinan yang memiliki kemauan dan kemampuan besar. Karenanya pemimpin sebagai orang yang mengarahkan organisasi dalam melihat dan merancang masa depannya. Makin besar tujuan yang hendak dicapai, makin besar pula potensi kepemimpinan yang dibutuhkan.

Dalam Nitisastra terdapat nilai-nilai kepemimpinan yang universal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, baik laki-laki ataupun perempuan. Oleh karena itu akan selalu relevan untuk tempat dan waktu dimana saja dan kapan saja. Nilai-nilai kepemimpinan dalam Nitisastra lebih dari sekedar sumber filsafat (tattwa), etika/moral (susila), karena di dalamnya terkandung pula nilai-nilai spiritual untuk mencapai kebahagiaan yang tertinggi (moksartam jagadhitaya ca itu dharma).

Seorang pemimpin sebuah organisasinya tidak lepas dari kepemimpinan handal yang ada pada dirinya sendiri. Tak bisa lepas dari pengendalian diri atau kontrol panca indrianya sendiri baik jasmani maupun rohani. Betapa pun pandainya, jika tanpa pengendalian diri, tanpa keseimbangan jiwa dan memiliki kecerdasan spiritual, maka dipastikan berdampak merosotnya tujuan organisasi. Kita bisa belajar menjadi pemimpin dari para tokoh masa lampau yang diuraikan dalam kitab-kitab Suci Veda ataupun naskah-naskah kuno. Sebut saja Yudistira dalam Mahabharata, merupakan pemimpin yang menjalankan manajemen pengelolaan negara sesuai ajaran Agama Hindu yang dianutnya. Yudistira seorang raja yang baik, terbukti kehidupan rakyat Indra Prasta yang makmur. Benteng pertahanan Indra Prasta yang kuat dan ia memiliki para pendamping yang siap membantu jalannya pemerintahan, seperti Bima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, dan para Resi Bhagawan sebagai penasehat.

Suatu ketika Yudistira pernah kehilangan kontrol diri, ia kehilangan pengendalian diri dan keseimbangan jiwa serta spiritualnya. Pada saat ia diundang untuk bermain dadu, melawan, raja Gandara Sakuni, Yudistira menerimanya dengan cepat. Sudah beberapa kali ia kalah, dan harta yang dipertaruhkan sudah banyak pula. Itu sudah cukup menjadi petunjuk. Namun semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ia mempertaruhkan kerajaannya. Hanya karena pengendalian (controll) dan pengendalian diri, terburu nafsu menggebu dan hilangnya keseimbangan jiwa serta kehilangan kecerdasan spiritualnya, maka Yudistira kehilangan Indra Prasta di meja judi, atas akal bulus raja Gandara Sakuni.

Cerita tersebut mengandung makna bahwa hendaknya pemimpin tidak kehilangan kontrol diri dan keseimbangan serta harus kuat spiritualitas pada dirinya dalam memimpin. Di atas pundak seorang pemimpin terletak tang-gung jawab yang berat. Ditangan pemimpin tergenggam nasib semua orang yang ada dalam organisasi, jika pemimpin gagal dalam memimpin, maka organisasi bisa akan menjadi hancur, dan anggota organisasi bisa menjadi sengsara. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV, 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang ideal. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4 yang diubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia.

Jika mensitir dari Asta Brata dapat disimpulkan bahwa jika seorang pemimpin mampu mengamalkan ke delapan ajaran kepemimpinan yang ada di dalam kitab suci veda maupun di dalam Nitisastra, maka organisasi akan bisa menjadi maju dan seluruh anggota organisasi akan bisa sejahtera. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin, "sakanikang rat kita yan wenang manut, manupadesa prihatah rumaksa ya, Ksaya nikang papa nahan prayojana, Jananuragadi tuwi kapangguha," yang artinya: tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra), usahakan pegang hilangnya penderitaan itulah tujuannya orang tentu akan kita jumpai.

Jika petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra-sastra nitisastra dan di dalam sastra-sastra Jawa Kuna, yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin, meskipun memiliki kebebasan (merdeka) dalam memimpin, dia tidak boleh bertindak sesuka hatinya saat ia memegang kekuasaan.

Oleh: Prof. IB Raka Suardana
Source: Wartam Edisi 18, Agustus 2016