Mahardika Namaskara

Vyadhi styana samshaya
Pramada alasya avirati bhranti-
Darshana alabdhabhumi-
Katva anavasthitatva chitta
Vikshepa te antaraya
(Yoga Sutra Patanjali, I.30)

Sakit, apatis, keraguan, kecerobohan, kemalasan, hedonism, khayalan, kurangnya kemajuan, dan ketidakstabilan adalah Sembilan jenis gangguan yang menguasai kesadaran dan betindak sebagai penghalang dalam meraih keheningan.

Menurut Yoga Sutra Patanjali ada Sembilan jenis penghalang yang menjadikan seseorang tidak mampu mencapai kemerdekaan atau kebebasan. Kesembilan jenis itu sepenuhnya berhubungan dengan kualitas diri. Sepanjang itu semua masih bercokol di dalam diri, maka dipastikan bahwa upaya meraih mahardika atau kebebasan akan terhambat. Mengapa demikian? Karena kesemuanya ini akan menjadi seperti sebongkah batu yang menghalangi aliran air. Maka dari itu, untuk meraih kebebasan, seseorang harus mampu menghilangkan kesembilan jenis ritangan ini.

Rintangan pertama adalah sakit fisik. Saat badan sakit, aliran energi akan tidak seimbang. Energi yang tidak seimbang mengakibatkan aura tubuh menjadi lemah. Aliran energi yang tidak seimbang ini menjadikan tubuh tidak lagi terpusat, tidak menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam konidisi ini, pikiran juga akan dipengaruhi dengan sendiriyta, sehingga dengan demikian masalah kesehatan merupakan masalah yang harus diperhatikan. Kedua, apatis atau orang memiliki niat untuk mencapai tujuan, tetapi kurang bertenaga, tidak memiliki cukup energi untuk bergerak guna mencapai tujuan itu. Gangguan ini menyebabkan seseorang tidak bisa efisien dalam menuntaskan pekerjaannya. Dengan cara yang sama, gangguan ini pula yang menjadi penghalang terbesar orang mencapai kebebasan.

Ketiga, keraguan. Jenis keraguan yang dimaksud oleh Patanjali adalah keraguan akan kepercayaan dirinya. Apapun yang dilakukannya dia merasa ragu. Orang yang penuh ragu tidak akan mampu mengambil keputusan. Biasanya di dalam pikiran kita selalu terjadi perdebatan. Jika kita memberikan energi untuk itu, maka keraguaan yang timbul akan semakin besar. Oleh karena itu, memutuskan sesuatu merupakan sebuah keharusan agar tidak terjadi keraguan. Orang yang ragu tidak akan pernah mencapai kebebasan. Keempat, kecerobohon. Ini artinya kita sering tidak teliti terhadap sesuatu. Kita sering terjebak oleh sesuatu yang bukan otentisitas diri kita. Kita seolah-olah terhipnotis, bergerak tetapi bukan atas kesadaran kita. Slogan bisa membuat kita terhipnotis, berndera, mantra, dan yang lainnya menjadikan kita lupa akan diri dan bergerak sesuai kemampuan orang yang menghipnotis. Inilah kecerobohan. Dalam yoga, orang yang ceroboh seperti ini tidak akan pernah mencapai kebebasan.

Kelima, kemalasan. Orang malas tidak akan mampu meraih apapun yang diinginkannya. Bagaimana kemalasan ini muncul? Kita menjadi malas oleh karena kita sering gagal, frustasi, tidak pernah meraih apapun yang diinginkan. Merasa gagal adalah salah satu penyebab rasa malas itu muncul. Bagaimana menghilangkannya? Tidak ada jawaban yang pasti. Tetapi jika kita menyadari bahwa sebenarnya apapun yang kita lakukan tidak akan mengantarkan kemana-mana, maka kita akan melakukan sesuatu penuh dengan kebahagiaan, seperti halnya anak kecil yang senantiasa aktif penuh energi. Keenam, hedonisme, sensual. Mengapa sensual? Karena kita terus menerus mengumpulkan energi, tetapi kita tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan energi tersebut. Satu-satunya release atas energi tersebut adalah seks. Melalui penyaluran ini, energi yang bubbling di dalam tubuh release. Namun ini akan menjadi rintangan sebab orang tidak akan bisa meningkatkan spiritualnya jika seperti ini. Melalui meditasi yang mendalam, aliran energi tersebut akan mengarah ke arah yang lebih tinggi, sehingga menjadikan seseorang mencapai kebebasan.

Ketujuh, khayalan. Pada prinsipnya khayalan ini dipentingkan dalam kehidupan manusia. Orang biasa akan gila jika tidak menghayal, bermimpi. Hanya saja mereka akan selamanya di dalam mimpi. Mereka tidak pernah menyentuh realitas. Oleh karena itu, Patanjali menekankan akan pentingnya mengkis sedikit demi sedikit hayalan tersebut dan kembali menyentuh realitas yang sejati sehingga kemerdekaan bisa diraih. Kedelapan, kurang kemajuan, impoten. Seseorang sering merasa bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan, sehingga dirinya tidak pernah berani bergerak maju. Rasa ketidakberdayaan ini merupakan rintangan besar di dalam meraih kebebasan.

Kesembilan, ketidakstabilan. Ini yang sering kita lakukan. Kadang kita mengerjakannya, kadang tidak. Beberapa hari bersemangat melakukan latihan sadhana tetapi beberapa hari berikutnya tidak melakukannya. Hal ini tentu tidak akan membawa dampat yang signifikan. Agar mencapai tujuan yang maksimal seseorang harus stabil, tetap berada dalam prosesnya sehingga kemajuan dapat diukur dengan baik. Demikianlah kesembilan rintangan yang harus dihadapi sehingga cita-cita untuk meraih kelepasan dapat dicapai.

Oleh: I Gede Suwantana
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017