Mahardhika dalam Manajemen

Mahardika atau merdeka dapat diartikan terbebas dari segala macam belenggu, aturan, dan kekuasaan dari pihak tertentu. Merdeka merupakan sebuah rasa kebebasan bagi setiap orang untuk mendapatkan hak dalam melakukan apapun. Dalam sebuah negara, merdeka berarti bebas dari belenggu, kekuasaan dan aturan bangsa lain (penjajah).

Dalam kaitan ini, mereka dapat dibagi menjadi dua: (1) merdeka tanpa syarat, yaitu merdeka secara mutlak (penuh) dan tidak dibatasi oleh syarat atau aturan-aturan tertentu yang dibuat oleh negara bekas penjajahnya. Jenis merdeka ini biasanya diperoleh dari perjuangan bangsa itu sendiri dan bukan pemberian dari penjajah maupun pemberian negara lain; dan (2) merdeka bersyarat, yaitu merdeka yang masih dibatasi oleh syarat atau aturan-aturan tertentu yang diibuat oleh negara bekas penjajahnya. Negara yang merdeka bersyarat bebas menentukan, memutuskan, ataupun melalukan apa saja asalkan tidak melanggar aturan-aturan tertentu yang dibuat oleh negara bekas penjajahnya tersebut.

Merdeka bersyarat ini biasanya diberikan oleh penjajah setelah melalui perundingan-perundingan yang dilakukan sebelumnya. Negara yang memperoleh kemerdekaan bersyarat biasanya akan didikte dan selalu meminta ijin kepada negara bekas penjajahnya jika hendak memutuskan maupun melakukan apapun berdasarkan aturan-aturan tertentu yang dibuat oleh negara bekas penjajahnya. Namun jika ada gangguan maupun permasalahan yang muncul di negara tersebut, biasanya negara bekas penjajahnya akan turun tangan untuk membantu. Kemerdekaan juga dapat diartikan saat suatu negara meraih hak kendali penuh atas suatu wilayah bagian negaranya, serta saat seseorang mendapatkan dak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan tidak bergantung pada orang lain lagi.

Sementara itu, dalam manajemn dikenal yang namanya pemimpin (manajer), yang merupakan suatu jabatan yang memiliki peranan penting dalam sebuah organisasi. Pemimpin bertanggung jawab untuk membuat rencana, mengatur, mengkordinasi, memimpin dan mengendalikan pelaksanaan untuk mencapai tujuan organisasi serta menangani dan menghadapi berbagai situasi kondisi yang muncul di dalam organisasi. Para pemimpin akan menggunakan gaya manajemen mereka masing-masing dalam menangani berbagai situasi dan kondisi yang terjadi, sehingga munculah berbagai gaya manajemen yang berbeda-beda berdasarkan karakter masing-masing manajer tersebut.

Gaya manajemen itu sendiri adalah gaya kepemimpinan (leadership style) yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam menangani permasalahan atau situasi kondisi yang dihadapinya. Menurut Psikolog terkenal yang bernama Kurt Lewin, terdapat tiga gaya kepemimpinan utama dalam menangani permasalahan dan pengambilan keputusan yaitu Gaya Kepemimpinan Otokratis, Gaya Kepemimpinan Demokrasi, dan Gaya Kepemimpinan Laissez-faire.

Gaya Kepemimpinan Otokratis atau Otoriter adalah gaya seorang pemimpin yang tidak memberikan wewenang pengambilan keputusan kepada bawahan. Pengambilan keputusan dengan gaya kepemimpinan ini biasanya tidak melakukan konsultasi atau mendengarkan gagasan dari bawahan terlebih dahulu. Gaya ini sangat berguna pada saat keputusan harus diambil cepat (quick decision) atau ketika keputusan tersebut tidak memerlukan masukan ataupun kesepakatan dengan tim atau bawahannya. Pemimpin yang menggunkan gaya otokratis harus memiliki keahlian pada bidang dimana dia harus mengambil keputusan dan kemampuan dalam mempenaruhi anggota tim ataupun bawahannya untk bekerjasama agar tercapainya tujuan yang dikehendakinya. Namun sisi negatifnya, bawahannya akan merasa tidak dihargai sehingga berkurangnya motivasi kerja dan mengakibatkan tingginya tingkat absensi dan pertukaran karyawan.

Gaya Kepemimpinan Demokratis biasanya meminta pendapat atau nasihat dari anggota tim atau bawahannya sebelum mengambil keputusan. Anggota tim ataupun bawahannya didorong untuk lebih kreatif dan diberi kesempatan untuk menyampaikan saran atau gagasan mereka meskipun keputusan terakhir masih berada di tangan manajernya. Keputusan terakhir yang diambil pada dasarnya merupakan kesepakatan dari anggota tim dengan pemimpinnya atau bawahan dengan manajernya. Anggota tim yang bekerja di bawah gaya kepemimpian manajemen demokratis cenderung lebih bersemangat dan memiliki kepuasan kerja dan produktivitas yang tinggi. Sisi negatif kepemimpinan demokratis adalah akan kurang efektif jika dihadapi dengan permasalahan atau situasi yang mengharuskan pemimpin atau manajernya mengambil keputusan yang cepat.

Sedangkan gaya yang memberikan kemerdekaan penuh kepada anggota tim atau bawahan adalah Gaya Kepemimpinan Laissez-faire. Dalam gaya ini, pemimpin akan memberikan kebebasan penuh dalam mengambil keputusan kepada bawahan yang berkaitan dengan tugas yang dikerjakan, dan tentunya dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh pemimpin mereka. Para pemimpin akan memberikan pendapat dan bimbingan ataupun sumber daya lainnya jika diperlukan. Gaya kepemimpinan ini menghasilkan motivasi dan kepuasan kerja karyawan yang tinggi, namun akan berdampak negatif bagi bawahan yang tidak dapat mengatur waktunya dengan baik, dan begi mereka yang tidak memiliki keahlian serta pengetahuan yang cukup dalam mengerjakan tugasnya.

Dengan demikian, ‘mahardika’ dalam manajemen adalah ketika seorang pemimpin menerapkan gaya kepemimpinan laissez-faire, sebab gaya ini memberikan kebebasan penuh dimiliki setiap orang ang ada dalam suatu organisasi untuk melakukan aktivitas sesuai tugas dan kemampuannya dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Oleh: Prof Raka Suardana
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017