Lungsuran Vs Prasadam

Om Swastyastu,

"Orang saleh yang memakan makanan yang sudah dipersembahkan terlebih dahulu sebagai persembahan suci, terbebas dari segala jenis dosa,
sedangkan mereka yang memasak makanan untuk kenikmatan diri sendiri sesungguhnya mereka hanya mereka hanya memakan dosa".
(Bhagavadgita III.13)

Tiap kali sehabis melakukan persembahyangan, maka kita selalu disuguhkan sisa persembahan yang disebut dengan ”Lungsuran” dimana satu hal yang kita tahu itu adalah ”sisa persembahan”.

Sejak kita mengenal saudara-saudara kita umat Hindu dari India mulai dikenal istilah ”Prasadam” yang maknanya lebih diperjelas sebagai sesuatu yang sudah disucikan lewat persembahan kepada Hyang Widhi.

Dua istilah diatas (prasadam dan lungsuran) dimaksudkan mempunyai makna yang sama namun dalam praktiknya tidak sama.

Lungsuran; istilah yang dikenal lebih dulu pengertiannya sudah kesana kemari, sehingga pakain bekas, makanan bekas, dan lainnya yang bukan hasil persembahan kepada Hyang Widldhi bisa diberi arti sebagai lungsuran.

Istilah Prasadam yang muncul kemudian seperti memurnikan kembali makna persembahan kepada Hyang Widhi ini menjadi lebih spesifik sehingga maknanya bisa dipahami lebih dalam, dengan demikian umat menjadi faham, bahwa dengan memakan prasadam, maka kita telah menikmati makanan yang sudah disucikan. Berbeda sekali dengan istilah lungsuran, yang oleh sebagian masyarakat telah diartikan keliru sejalan dengan kelirunya pengertian akan kesetaraan manusia.

Ada yang tidak mau memakan lungsuran dari persembahan di Pura keluarga orang lain walaupun itu teman baiknya karena teman itu dari keluarga yang berbeda (beda soroh). Sisa persembahan yang sudah disucikan ini menjadi dikalahkan oleh pemahaman keliru karena beda soroh tadi.

Prasadam semoga bisa menjernihkan kekeliruan ini, bahkan tidak terbatas pada makanan saja, bahkan apapun hasil persembahan adalah prasadam, seperti : sisa canang, bambu, daun kelapa, kelapa, dan lain sebagainya adalah prasadam.

Sisa persembahan yang selama ini bagi umat Hindu kurang berharga hanya berupa sampah, bisa diberi pengertian prasadam sehingga lebih bermakna.

Di Jawa seperti Solo karena kepercayaan mereka pada hal yang terkait dengan kraton, sampai-sampai kotoran kerbau milik kraton dipercaya sebagai rabuk dan bagi mereka ini adalah prasadam, juga umum terjadi rebutan ”Gunungan” yaitu nasi yang disusun berbentuk Gunung dengan sayur mayur menjadi rebutan masyarakat karena mereka percaya ini adalah prasadam.

Selanjutnya bagaimana dengan persembahan sisa ”Caru” apakah itu prasadam? Di Bali Caru ada yang mengartikan persembahan kepada Bhuta Kala sehingga jangankan prasadam, kembang saat sembahyang saja tidak boleh ditempatkan di telinga/kepala (suntingang), disisi lain ada yang mengartikan Caru yang berarti : harmonis, seimbang adalah permohonan kepada Hyang Widhi untuk keseimbangan alam sehingga sisa persembahyangan jelas adalah prasadam.

Juga contoh dimana sisa persembahyangan dari Pura keluarga (leluhur orang lain), sebagian masyarakat feodal mengatakan ini beda leluhur sehingga tidak mau makan sisa persembahyangan itu, artinya mereka menganggap ini bukan prasadam. Disisi lain para penganut sudut pandang tattwa mengartikan orang yang sudah meninggal karena: panca maha bhuta sudah lebur lewat Ngaben, dan badan astral (badan halus) sudah lebur dengan Memukur (Atma wedana) sehingga tinggal Atma yang merupakan bagian dari Paramatma dan dilinggihkan di kemulan sebagai Dewa Hyang, maka sesungguhnya sisa persembahan ini adalah prasadam juga.

Dengan penajaman makna dari lungsuran menjadi prasadam, sebenarnya ini sudah baik namun untuk di Bali hal itu belum cukup, perlu pengertian yang lebih tajam dan spesifik dan akan selalu ditafsirkan secara berbeda.

Ada suatu renungan bagi kita, bahwa dengan mempersembahkan diri kita kepada Hyang Widhi dengan menjaga kesucian (Tri Kaya Parisudha), melakukan fungsi sesuai dengan ”Guna (bakat)” dan ”Karma (laku/perbuatan) sesuai dengan ajaran Catur Warna, juga melakukan tapa-brata-yoga-samadi (pengendalian diri), dan bentuk pensucian lainnya, sesungguhnya kita telah menyiapkan diri menjadi prasadam bagi orang lain.

Kehadiran kita akan dinantikan orang, bukan karena kita rajin memberi uang pada orang lain, atau bantuan pamrih lainnya, tetapi karena kehadiran kita memancarkan kedamaian bagi orang lain. Hal ini tidak mudah, tetapi harus diperjuangkan oleh kita semua sehingga seru sekalian alam memperoleh manfaat yang baik karena keberadaan kita. Di era perpolitikan di negeri kita sering kita dengar kumandang para calon legislatif sampai calon presiden yang mengatakan ”mereka bekerja untuk rakyat” bahkan dengan berbagai cara sampai kepada pemberian materiil dilakukan untuk menarik simpati rakyat, bahwa mereka melakukan semua ini untuk rakyat, padahal seharusnya yang perlu menjadi pegangan mereka adalah ”Mereka seharusnya melakukan segalanya untuk Tuhan/Hyang Widhi”.

Orang yang mempersembahkan dirinya untuk Hyang Widhi sesungguhnya telah memberi kebaikan pada orang lain dan dalam sekala besar adalah kebaikan buat rakyat, kenapa ? karena orang seperti ini akan tumbuh empati pada sesama karena telah menyadari hakikat dirinya dan hakikat rakyat yang sama.

Para motivator modern dari Andri Wongso, Mario Teguh, Gede Prama, Erbe Sentanu, dan lain-lain menterjemahkan makna prasadam ini dalam komuniukasi modern, sehingga sering kita dengar kalimat: Kita adalah apa yang kita pikirkan, Succes is my right (sukses adalah hak saya), dan sebagainya dimana semuanya bertumpu kepada pikiran yang positif (positif thinking) yang juga berarti pikiran yang suci, kesucian baru bisa diperoleh jika kita masuk kepada kesadaran Tuhan dengan menjadikan diri kita sebagai ”persembahan” melalui penyerahan diri yang utuh kepada Hyang Widhi, inilah makna lain dari ”Prasadam”.

Kembali ke topik tentang Prasadam. Bahwa perlu difahami bahwa  segala hal yang ada di semesta ini merupakan Yajna yang dilakukan oleh Hyang Widhi, yang kemudian kita kenal Beliau sebagai Sang Pencipta. Sebagai insan yang diciptakan melalui Yajna, kita kemudian diwajibkan melakukan Yajna, agar Cakra Dharma kehidupan ini berlangsung terus menerus. Segala hal tanpa kecuali yang kita nikmati wajib hukumnya kita haturkan kepada satu-satunya SANG PEMILIK yakni Hyang Widhi, dan setelahnya baru layak kita nikmati, agar kita tidak bertindak sebagai seorang pencuri.

Jika kita mendapati ada saudara kita yang mempersembahkan Daging, itu dikarenakan ia masih memakan dan menikmati daging. Namun ada juga saudara kita yang hidup vegetarian, entah karena anjuran gurunya, kesadarannya.... maka ia tidak perlu mempersembahkan daging, cukup menghaturkan apa-apa yang ia makan atau nikmati. Bahkan kalau ada yang sudah bisa hanya makan setangkai kembang, sehelai daun, sebiji buah dan seteguk air, maka sudah cukup baginya untuk mempersembahkan daun, bunga, buah dan air saja. Disinilah Keluasan dan keluwesan Hindu yang diajarkan melalui Veda.

Jadi mari kita fahami sastra Veda tidak secara farsial atau sepotong-sepotong. Ingat..... tidak ada satu hal pun yang menjadi milik kita seutuhnya, selain balutan karma-karma kita. Satu renungan sebelum saya akhiri tulisan singkat ini:

"Engkau persembahkan bunga~bunga ciptaanKu
Engkau persembahkan buah~buah ciptaanKu
Engkau persembahkan hewan~hewan ciptaanKu
Engkau persembahkan mantra~mantram ciptaanKu
Bahkan tatkala engkau mempersembahkan dirimu sekalipun~dirimu adalah ciptaanKu".
(Vedanta)

Semoga pemahaman singkat ini, bisa memberi kita cahaya dan ruang yang lebih leluasa dalam memahami Hindu lebih jernih. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Jro Mangku Danu (I Wayan Sudarma)
Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal Pengurus Harian PHDI Pusat