Lantunkan Gita untuk Kesejahteraan Rohani

Bernyanyi merupakan kodrat manusia untuk mengekspresikan kegembiraan hatinya dan juga untuk mengatasi kesedihan. Hidup senang dan tenang merupakan dambaan manusia yang normal pada umumnya. Hidup bersenang-senang tanpa kendali bisa berbalik menjadi hidup susah menderita. Karena itu hidup senang yang dikendalikan dengan jiwa tenang itulah yang lebih utama. Agar bisa hidup senang dengan tenang itu salah satu dari banyak cara adalah dengan bernyanyi untuk mendapatkan vibrasi keheningan.

Yang dibahas dalam hal ini adalah nyanyian keagamaan. Nyanyian kegamaan itu disebut giita, bhajan, kiirtan atau kidung itu untuk memuja Tuhan dan mengagungkan kesucian dan kemuliaan sabda-Nya. Nyanyian keagamaan itu untuk meraih budhi yang cerah. Dengan budhi yang cerah itu sebagai media mengekspresikan kesucian Atman mengendalikan kecerdasan pikiran. Kalau pikiran dikuasai oleh ekspresi indera atau hawa nafsu, maka orang yang cerdas akan semakin cerdas berbuat jahat atau adharma.Tetapi kalau kesadaran budhi yang kuat menguasai pikiran, maka orang yang cerdas akan semakin cerdas dan bijak berbuat benar, baik dan tepat sesuai dengan arahan rta dan dharma.

Dalam Manawa Dharmasastra VII. 14 disebutkan bahwa nyanyian keagamaan itu sebagai pelumas unsur-unsur jiwa dan raga agar terstruktur secara ideal dan normatif. Kalau unsur-unsur yang membangun jiwa dan raga itu dapat berfungsi sebagaimana normanya, maka manusia akan dapat hidup aman, damai, sehat, segar, bugar dan sejahtera. Itulah yang dapat disebut hidup bahagia lahir batin. Ini artinya kedudukan giita dalam pengamalan ajaran Hindu demikian penting, tentunya harus disinergikan dengan kegiatan lainnya.

Strategi yang tepat adalah menanamkan pengertian dan pemahaman yang benar, baik dan tepat pada Dharma Gita tersebut. Dengan pengertian dan pemahaman yang benar, baik dan tepat itu umat akan mengerti dan memahami tentang kegunaan melakukan Dharma Gita itu bagi kemajuan hidup untuk mencapai hidup yang aman, damai, adil, sejahtra dan bahagia. Untuk mencapai hal itu tanamkanlah di dalam lubuk hati umat tentang kedudukan dan manfaat Dharma Gita itu sesuai dengan sastra agama Hindu yang tercantum dalam pustaka suci Weda dan sastra-sastranya.

Dalam menanamkan arti dan makna Dharma Gita itu harus ditempuh metode yang sesuai dengan sastra Hindu yang memang sudah dinyatakan dalam pustaka suci Hindu. Menyosialisasikan Dharma Gita yang benar, baik dan tepat harus dilakukan terus menerus sesuai dengan dinamika sosial.

Weda Diaplikasikan dengan Gita

Dari sumber pustaka suci Hindu melantunkan gita sebagai kegiatan beragama Hindu memang diajarkan dalam sumber pustaka Hindu. Melakukan pemujaan pada Tuhan dengan gita atau kidung suci bukan hanya merupakan tradisi beragama Hindu tanpa merujuk pada pustaka suci Hindu. Acuan bukan lagi sastra Weda seperti pustaka Smrti dan pustaka Sila saja, tetapi bersumber dari pustaka Sruti sabda Tuhan. Ini artinya melakukan Dharma Gita bukan bernuansa seni semata, tetapi menyangkut pengamalan ajaran Hindu yang bersifat amat substantif. Seni itu hanya media tujuannya adalah nilai religiusitasnya. Beberap mantra Weda Sruti yang ngajarkan tentang Dharma Gita atau melantunkan mantra Weda dan sastranya sebagai berikut.

Gaaye sasasravartani (Saamaveda 1829). Artinya: Nyanyikanlah mantra-mantra Samaveda dengan ribuan cara. Ubhe vaacau vadati saamaga iva, Gaayatram ca traistubham caanu raajati (Rgveda 11.43.1). Artinya: Burung bernyanyi dalam nada-nada berbeda, seperti seorang perapal Samaveda yang mengidungkan mantra dalam irama Gayatri dan Tristubh. Sakhaayaaa ni sidata, punaanaaya pra gaayata (Rgveda IX. 104,1). Artinya: Ya duduk bersamalah nyanyikan kidung-kidung dalam paduan suara untuk memuja dewa manifestai Tuhan.

Pemujaan pada Tuhan untuk terus menerus menguatkan pikiran agar terus menerus mengingat nama Tuhan diajarkan juga dalam Sarasamuscaya 260 sebagai berikut. Dhyana ngarania ikang Siwasmaranam. Artinya: Dhyana (konsentrasi) namanya senantiasa mengingat nama Tuhan Siwa.

Sarasamuscaya 260 menjelaskan Dasa Niyama Brata. Salah satu dari Dasa Niyama Brata itu adalah Dhyana. Pelaksanaan dhyana inilah sering disebut meditasi. Sesungguhnya meditasi itu adalah samadi sebagai hasil dari dhyana dimana jiwa sudah menetap pada kesadaran Brahman. Ini artinya yang sering disebut latihan meditasi dewasa ini sesungguhnya baru konsentrasi yang tiada lain terjemahan dari dhyana. Melakukan Siwasmaranam atau mengingat-ingat nama Tuhan Siwa dengan melantunkan gita secara berulang-ulang.

Dalam pustaka Smrti juga dinyatakan melakukan pelantaian mantra Weda dengan Dharma Gita atau kidung amat dianjurkan. Demikian juga apa tujuan dan manfaat yang akan didapatkan secara rohani dari pelantaian atau Dharma Gita tersebut. Dengan pemahaman yang mendalam dari kegiatan melantunkan mantram dan sloka itu umat akan merasakan bahwa Dharma Gita itu adalah suatu kebutuhan. Pernyataan pustaka Smrti itu misalnya yang dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra 11.78 dan 79 sebagai berikut:

Ekadaksaram etamca
Japan wyahrti purwakam
Samdhyayor weda widwipro
Weda punyena yujyate

Artinya:
Seorang Brahmana yang ahli dalam Weda yang merapalkan mantra itu pada kedua fajar dan kata-kata yang didahului Wyahtri itu akan memperoleh pahala kebajikan pemberian Weda karena mengidungkannya.

Selanjutnya Manawa Dharmasastra 11.79 menegaskan juga sebagai berikut.

Sahasra rtawas twabhyasya
Bahiretatrikam dwijah
Mahato pyemaso mosat
Twacewahir wimucyate

Artinya:
Bagi mereka yang berdwijati merapalkan mantram Savitri dengan Metrum Gayatri itu berkali-kali ketika itu sampai seribu kali di luar desa, akan terbebaskan dari dosa-dosanya setelah sebulan walaupun dari dosa besar sekalipun, laksana ular melepas kulitnya.

Merapalkan mantram dengan mengulang-ulang itu juga dapat di golongkan melakukan gita atau kidung suci karena didorong oleh hasrat dan niat suci. Seperti dalam Utsawa Dharma Gita melantunkan Sloka-Sloka Bhagawad Gita. Sloka Manawa Dharmasastra yang dikutip di atas menekankan keutamaan Savitri Mantram dengan Metrum Gayatri. Dengan demikian mantram tersebut lebih populer dengan istilah Gayatri Mantram.

Banyak orang yang dengan sungguh-sungguh melantunkan Mantram Savitri atau Gayatri ini merasakan manfaatnya baik untuk memajukan kehidupan rohani maupun kehidupan duniawi terutama untuk mendapatkan hidup sehat dan rasa damai dan tenang. Keberhasilan itu sangat tergantung pada kuat dan tulusnya keyakinan dan tepatnya cara melakukan pelantaian mantram tersebut. Hasil berupa ketenagan jiwa dari melantunkan mantram dan sloka tersebut dijadikan aktor untuk menggerakan segala dinamika kehidupan baik yang menyangkut penguatan pikiran, ucapan dan perilaku.

Di samping itu yang juga sangat menentukan adalah Purwa Karma seseorang yang menyertai kelahirannya. Purwa Karma itu adalah Karma-Karma pada penjelmaan yang lalu. Karena Purwa Karma itu masih sangat berpengaruh pada kehidupan dewasa ini. Karena kalau Purwa karma kita sudah sempurna tentunya tidak akan menjelma lagi kedunia ini.

Selanjutnya pahala melantunkan Mantram Rgveda seperti juga Savitri (Gayatri) Mantram itu ditekankan lebih dalam seperti dinyatakan dalam pustaka Manawa Dharmasastra II.80 sebagai berikut.

Etayarca visamyuktah
Kale ca kriyayasvaya,
Berhmana Ksatriya Vaisya
Nirgarman yati sad-husu

Maksudnya:

Brahmana, Ksatriya,Vaisya yang lalai merapalkan mantram Rgveda dan pelaksanaan Yadnya pada waktu yang ditetapkan ia akan dicemoohkan di depan orang banyak.

Selanjutnya Manawa Dharmasastra II.82 menyatakan sebagai berikut.

Ata evaha;
Yo 'dhite 'hanya hanya tam
strini varsanya tandri-tah,
sa brahman praramabhyeti
vayubhutah kharmurti
vayubhutah svamurtir mam.

Maksudnya: Demikianlah: Ia yang setiap harinya melantunkan mantram-mantram itu dengan rajin selama tiga tahun, setelah meninggalnya akan mencapai Brahman yang tertinggi, bergerak leluasa laksana udara dan mencapai keadaan yang kekal abadi.

Source: I Ketut Wiana l Majalah Raditya Edisi 221, 2015